
Hyuna tengah duduk di sofa ruang tamunya bersama dengan Yeonjun. Pemuda itu tadi mengatakan kalau ia rindu dengan Hyuna dan ingin bertemu dengan gadis itu, itulah mengapa Yeonjun bisa ada di rumah Hyuna.
“Na, otak lu lagi terganggu?” tanya Yeonjun. Sudah sejak setengah jam yang lalu pemuda itu mencoba untuk mengajak Hyuna berbicara, namun hasilnya nihil. Gadis itu terus diam sembari menatap lurus ke arah pintu utama. “Hyuna,” panggil Yeonjun.
“Jun, gue pusing.”
Pemuda itu langsung mengubah posisi duduknya, yang awalnya menyamping, kini menghadap Hyuna. Pemuda itu juga mencondongkan tubuhnya agar Hyuna bisa dengan mudah menikmati darahnya. Namun Hyuna malah menjauh, dan mengatakan jika gadis itu tengah pusing karena banyak masalah, bukan karena lapar dan butuh darah Yeonjun.
“Ada masalah apa sih, Na?” tanya Yeonjun. Selama pemuda itu mengenal Hyuna, baru kali ini gadis itu mikirin masalah sampai pusing seperti saat ini.
“Taehyung minta gue jadi miliknya, tapi Jimin meminta gue menjauh dari Taehyung. Gue harus apa?”
“Ngapain pusing? Tinggalin aja mereka berdua, toh dari awal kita hanya berdua. Elu punya gue, dan gue punya elu. Nggak ada Jimin, Taehyung atau siapapun itu.”
“Gue serius, Jun.”
“Gue juga serius, Na. Lu pikir gue nggak sakit hati apa lihat elu dekat sama mereka? Gue sakit hati, gue cemburu.” Mendengar ucapan Yeonjun bukannya membuat Hyuna tenang, malah membuat gadis itu semakin pusing. “Na, elu bisa dekat sama mereka sekarang, itu karena mereka nggak tau elu siapa. Coba lu bayangin kalau mereka tau elu siapa, dan mereka juga tau soal asal usul elu. Mereka pasti bakalan ninggalin elu, Na. Dan lebih parahnya lagi, mereka bisa aja ngebunuh elu.”
“Dahlah, Jun. Gue mau keluar bentar.” Hyuna berjalan keluar dari rumahnya untuk sekedar mencari angin. Gadis itu berjalan ke arah belakang minimarket di mana terdapat hutan yang cukup lebat dan tidak pernah dijamah oleh manusia.
Gadis itu cukup pusing memikirkan semuanya. Taehyung yang masih belum bosan menjalin hubungan sepihak dengannya, Jimin yang tiba-tiba meminta dirinya menjauh dari Taehyung, dan yang baru saja terjadi, Yeonjun mengatakan kalau ia cemburu dan ingin Hyuna menjauh dari kedua orang itu. Rasanya Hyuna ingin tenggelam saja ke dasar bumi, agar tidak ada lagi masalah.
“Apa yang harus gue lakuin?” tanya Hyuna pada dirinya sendiri.
“Tanya hatimu, dan pastikan siapa yang bakalan lu pilih.” Hyuna terkejut dan menoleh ke arah sumber suara di mana terdapat Yoon Ki yang tengah menatapnya dari jalanan yang sepi.
__ADS_1
“Sejak kapan lu di situ?” tanya Hyuna pada Yoon Ki.
“Sejak elu datang, dan mulai mencabuti rumput liar yang tak berdosa itu.” Yoon Ki berjalan ke arah Hyuna yang masih setia duduk di kursi dekat hutan dengan pencahayaan yang temaram. “Sedang butuh bantuan?” tanya Yoon Ki.
“Entahlah.” Hyuna membuang napasnya panjang. Gadis itu tidak tau apa dia butuh bantuan atau tidak, walaupun nyatanya dia sangat butuh itu bantuan.
“Jimin pergi dari rumah,” ucap Yoon Ki tiba-tiba. Hyuna yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Yoon Ki, bertanya ke mana perginya pemuda itu. Namun sialnya Yoon Ki tidak mengatakan apa pun, pemuda itu hanya mengatakan bahwa Taehyung mendengar apa yang Jimin katakan pada Hyuna dan menghajar pemuda itu sampai babak belur. Seokjin memintanya untuk pergi menenangkan pikiran, tapi untuk pergi ke mananya mereka tidak ada yang tau.
Hyuna yang mendengar hal itu langsung berlari ke arah rumah Seokjin. Gadis itu tidak mempedulikan penampilannya yang lusuh, karena yang menjadi tujuan gadis itu saat ini hanya mengetahui di mana Jimin dan bagaimana keadaan pemuda itu.
Dengan napas memburu Hyuna tiba di rumah Seokjin. Menggedor pintu utama dengan sangat keras, membuat semua yang ada di dalam rumah keluar termasuk Jimin yang ternyata ada di rumah bersama Seokjin dan juga Yoon Ki.
Hyuna yang melihat hal itu terkejut. Gadis itu menatap tajam Yoon Ki dan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi putih pemuda itu.
“Hyuna!” seru Seokjin. Pemuda itu tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi melihat Hyuna yang bersikap kasar dengan salah satu adeknya, hatinya jadi sakit. “Jaga sikap!” seru Seokjin.
Yoon Ki hanya diam. Pemuda itu tidak mengerti dengan arah pembicaraan Hyuna soal dirinya yang menemui Hyuna dan mengatakan bahwa Jimin dan Taehyung bertengkar. Sejak sore pemuda itu di rumah dan tidak keluar rumah sama sekali.
“Jawab gue!” seru Hyuna.
“Apa yang mau dijawab? Gue aja baru lihat elu ini. Gue nggak ada keluar rumah, Na.”
“Becanda lu nggak lucu, Yoon.”
Hyuna balik badan dan berniat pergi meninggalkan rumah Seokjin. Jimin yang melihat itu mencoba menghentikan langkah gadis itu, dan memintanya untuk tinggal dengan alasan gadis itu tidak terlihat baik.
__ADS_1
Namun, Hyuna menolak. Gadis itu memilih pergi dan Jimin memutuskan untuk mengikuti ke mana gadis itu pergi untuk berjaga-jaga kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada gadis itu.
“Yoon, tadi lu pergi?” tanya Hoseok.
“Mana ada. Gue lagi males jalan, di luar dingin pula, males kali rasanya mau keluar.” Yoon Ki menjelaskan pada Hoseok alasan dia tidak keluar. Pemuda itu bahkan lebih memilih menelfon budak darahnya dan menyuruhnya datang ke rumah, dan tidak memilih pergi berburu bersama Jimin, karena memang Yoon Ki sedang malas berjalan.
“Tapi, kenapa Hyuna bilang kalau elu nemuin dia?” tanya Seokjin. Pemuda itu masih tidak paham dengan apa yang terjadi.
“Entahlah, Hyung. Mungkin Hyuna sedang banyak pikiran, jadi dia halu kalau gue ada di tempat dia.”
Semuanya kembali ke depan televisi dan duduk bersama. Taehyung belum pulang, karena tadi dia mengatakan ingin berburu di hutan. Sementara Jungkook masih ada kelas sampai tengah malam nanti.
***
Hyuna berjalan menyusuri jalan yang gelap. Udara malam terasa semakin dingin, dan mulai terdengar sayup-sayup suara dari arah hutan.
“Na, kita balik yuk.” Jimin mencoba mengajak Hyuna pulang, karena malam ini banyak vampir yang keluar untuk berburu. Dan pemuda itu tidak mau mengambil resiko, dengan Hyuna menjadi santapan vampir lain kalau gadis itu masih berada di jalanan seperti saat ini.
“Nggak perlu khawatirin gue, Jim. Gue bisa sendiri,” ucap Hyuna.
Jimin terlihat tidak begitu sehat seperti biasa, entah karena alasan apa Hyuna tidak tau dan tidak ingin mencari tau. Gadis itu hanya butuh ketenangan untuk saat ini.
“Na, gue anter lu balik ya.” Jimin memaksa Hyuna untuk pulang, tapi lagi dan lagi gadis itu menolak.
Hyuna berpikir mungkin Jimin terlihat kurang sehat karena pemuda itu belum minum darah, dan dari sudut mata Hyuna, gadis itu melihat bulan yang sudah berwarna merah. Saking pusingnya mikirin masalah kehidupannya gadis itu sampai lupa kalau malam ini bulan purnama, dan ia harus segera pulang untuk menemui Yeonjun.
__ADS_1
“Kalau elu emang mau pergi berburu, pergi aja. Gue nggak apa-apa,” ucap Hyuna.
Gadis itu tetap melangkah melanjutkan langkahnya, tak menghiraukan Jimin yang terus memaksa untuk mengantar gadis itu sampai di rumah. Dalam hati Hyuna berpikir, akan bahaya kalau Jimin ikut dia pulang dan bertemu Yeonjun. Bisa-bisa pemuda sinting itu mengatakan yang sebenarnya pada Jimin. Tidak, Hyuna tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk saat ini dan mungkin selama beberapa waktu ke depan.