
“Appa, hari itu Appa pernah bilang ada sesuatu yang eomma lakukan pada Hyuna. Kalau boleh Jimin tau, apa yang eomma lakukan?”
Woo Bin diam sejenak. Mencoba memikirkan kalimat yang tepat, agar tidak membuat anaknya sakit hati karena ini menyangkut keburukan orang yang mereka sayangi. “Appa pernah bilang kan, kalau eommamu pernah meracuni Tae-yaa?” Jimin mengangguk. “Sebenarnya itu bukan kali pertama Sho-hyun meracuni gadis malang itu. Kasih sayang yang Sho-hyun berikan hanya sebatas formalitas, dan dibalik kasih sayang yang kalian lihat terdapat rasa benci yang begitu besar. Apa kau ingat, Appa pernah bercerita soal eommamu yang meracuni Tae-yaa?” Jimin mengangguk sebagai jawaban. Pemuda itu tidak ingin menyela sedikitpun ucapan sang appa, karena ia ingin tau segalanya yang tidak ia ketahui selama ini.
“Sebenarnya bukan sekali saja Sho-hyun meracuni Tae-yaa. Hanya saja, dari semuanya yang paling tidak bisa kami maafkan, ketika Sho-hyun memberikan racun yang mampu melumpuhkan sistem kekebalan di tubuh Tae-yaa. Kami tidak tau pasti kapan Sho-hyun memberikan racun itu, tapi sejak itu Tae-yaa tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri seperti yang lain.”
Jimin tau jika Tae-yaa mudah sakit, dan akan sulit regenerasi jika terluka, karena hal itu juga yang mendasarinya dan semua saudaranya memutuskan untuk bermain dan menjaga gadis itu. Tapi, pemuda itu tidak pernah tau bagaimana bisa hal itu terjadi.
“Bagaimana kalian tau kalau eomma yang melakukannya?” bukannya pemuda itu tidak mempercayai ucapan appanya, dia hanya ingin tau bagaimana mereka tau Tae-yaa sakit karena racun itu? Dan bagaimana mereka bisa tau kalau Sho-hyun yang melakukannya?”
“Sho-hyun yang mengatakan semuanya. Dia mengatakan kalau dirinya sengaja membayar seorang maid untuk memasukkan racun ke dalam sup yang akan disajikan untuk Tae-yaa,”
Jimin hanya diam terpaku di tempatnya. Pemuda itu tidak pernah menyangka, jika wanita yang sangat ia sayangi, yang selalu ia anggap sebagai wanita baik, malaikat tanpa sayap, ternyata hanya seorang iblis.
Brak
Woo Bin dan Jimin memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga saat mendengar suara keributan. Woo Bin terkejut saat melihat beberapa anaknya terluka cukup parah, serta Sho-hyun yang terlihat murka tengah berdiri tak jauh dari mereka sembari membawa Nami yang menangis keras.
“Eomma! Lepasin anak Jimin!” Sho-hyun hanya tersenyum remeh melihat anak yang sangat ia sayangi, berani membentaknya hanya karena seorang bayi kecil. Menoleh ke segala arah untuk mencari kekasih hatinya, dan terbelalak saat melihat kekasihnya juga terluka.
“Kau tau wanita tua? Kau terlihat lebih menyedihkan dari terakhir kali kita bertemu. Menyandra bayi yang hanya bisa menangis? Perbuatanmu menjijikkan.” Hoseok memberi kode kepada Namjoon, Taehyung dan juga Jimin dengan ketiga jarinya yang ia arahkan ke belakang tubuhnya. “Apa kau melakukan ini karena tidak bisa mengontrol Jimin lagi? Ternyata pendapat orang-orang tentang mu salah besar. Kau bukan makin kuat, kau...” menunjuk ke arah wajah Sho-hyun. “... semakin menjijikkan.”
“Apa begini caramu bicara dengan orang yang melahirkanmu, Yoon?” Yoon Ki hanya tertawa mendengar pertanyaan wanita yang mengaku sebagai ibunya. Yoon Ki tau, Sho-hyun mencoba mempermainkan perasaannya agar wanita itu bisa mengendalikan dirinya.
“Kau memang melahirkanmu, tapi apa kau merawatku? Tidak. Kau menyayangiku seperti yang lain? Tidak. Kau membuangmu, hanya karena aku berbeda dari yang lain. Kau meninggalkanku di hutan sendirian di usiaku masih lima tahun, hanya karena aku anak dari hasil perselingkuhanmu, Bangsat!” semua orang yang ada di sana terdiam. Jae Wook, Tae-ri, Woo Bin dan juga Sho-hyun terbelalak. Mereka tidak menyangka jika Yoon Ki tau hal yang seharusnya tidak pemuda itu ketahui.
Air mata Yoon Ki jatuh untuk pertama kalinya setelah hampir dua puluh tahun pemuda itu menahannya. “Terkejut? Jangan pura-pura.” Yoon Ki melesat ke arah Sho-hyun yang masih terdiam mendengar ucapan anaknya. Melihat Yoon Ki mendekat, Sho-hyun segera menendang anaknya tepat di bagian dada, dan melempar tubuh mungil Nami ke udara.
“Sekarang!” ketiga vampir yang sudah Hoseok tugaskan langsung melesat. Namjoon dan Taehyung mengalihkan fokus Sho-hyun dengan menendang wajah serta tubuh wanita itu, Jimin langsung menangkap sang anak.
“Brengsek kalian semua!” teriak Sho-hyun yang tidak terima. Melihat Yoon Ki yang tengah terbatuk di belakang yang lain, Sho-hyun segera menghampiri pemuda itu dan mencekik lehernya. “Kau yang pertama mati.”
“Kau tidak akan membunuhku. Karena apa? Karena kau dan aku, sama.” Yoon Ki menyerang balik sang ibu tanpa rasa belas kasih.
Yoon Ki dibantu Jimin, Hyuna dan juga saudara-saudaranya yang lain melawan Sho-hyun yang hanya seorang diri. Kedelapan vampir itu menyerang Sho-hyun secara bersamaan.
Beraninya keroyokan. Apa kalian pikir mereka peduli soal itu? Setiap vampir itu hanya ingin melampiaskan semua kekesalan yang ada di hati, sebelum vampir tua itu meregang nyawa nantinya.
Sho-hyun terlihat kuwalahan melawan keenam anaknya dan dua lainnya. “Mengaku saja wanita tua. Dan, bersiap menerima hukuman.”
“Tidak akan pernah!” Sho-hyun berhasil menggoreskan pedang yang ia pakai ke lengan Yoon Ki.
“Hyung!” Jimin berlari ke arah Yoon Ki yang terluka. Para orang tua yang melihat itu langsung meminta semua anaknya mundur, dan mengambil alih pertempuran.
“Kalian bukan tandingan ku!”
__ADS_1
“Kami tidak berniat bertarung melawan orang yang terluka.” Sho-hyun mengecek tubuhnya saat Tae-ri mengatakan dirinya terluka. “Yang terluka mental dan hatimu, Eonnie.”
“Lagi pula kami terlalu berkelas untuk melawan orang rendahan sepertimu,” timpal Jae Wook.
Semuanya tengah sibuk mengobati Yoon Ki yang terkena sayatan dari pedang beracun milik Sho-hyun. Sementara Jae Wook, dan sang istri memilih berbicara dengan Sho-hyun yang terlihat lebih marah dibandingkan beberapa saat yang lalu.
Hyuna yang menyadari itu memilih bertanya pada Jungkook yang berdiri di sampingnya. “Apa lu tau apa yang mereka bicarakan? Kenapa Eommanim malah semakin marah?”
“Apa lu nggak tau kalau kedua orang tua lu terkenal dengan mulutnya yang super pedas kalau sama musuh?” Anggukan Jungkook dapatkan sebagai jawaban. Gadis itu tidak bisa memungkiri hal itu, karena memang benar adanya. Tidak sekali, dua kali mereka berkata pedas pada Tae-yaa yang notabene anak kandung mereka sendiri.
“Yeobo, entah kenapa tapi aku setuju dengan apa yang Yoon Ki katakan tadi. Wanita ini tidak pantas jadi seorang ibu, apa lagi jadi Nenek untuk cucuku yang cantik, mungil, dan menggemaskan itu. Aku tidak akan terima,” Jae Wook mengangguk setuju. Keduanya sengaja memancing emosi Sho-hyun agar wanita yang saat ini sudah tersulut itu tidak mampu menggunakan kekuatannya dengan stabil, jadi mereka bisa dengan mudah melumpuhkannya.
“Yoon, bagaimana keadaanmu Nak?”
“Lebih baik. Terima kasih,”
Woo Bin memeluk anaknya. “Kau harus ingat. Meski kau bukan darah daging ku, tapi kau tetap anakku dan saudara dari Jimin dan yang lainnya. Jangan merasa kalau kami tidak menerimamu,” Semuanya memeluk Yoon Ki, menyalurkan rasa sayang dan cinta kepada pemuda yang sudah menemani hari-hari mereka dengan sikap tsundere nya.
Hyuna mengusap air matanya yang mengalir. Terharu dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia berniat ingin kembali bergabung memeluk Yoon Ki, namun sudut matanya melihat sebuah pedang panjang yang mengarah ke jantung Jimin yang tengah fokus dengan Yoon Ki. Tanpa pikir panjang, Hyuna mendorong tubuh Jimin yang sedang menggendong sang anak hingga jatuh.
“Hyuna!”
***
Seorang gadis cantik dengan kulit putih serta bulu mata yang lentik tengah duduk di termenung di sebuah kursi sembari memainkan buku yang ada di tangannya.
“Sedang banyak pikiran?” Gadis itu menoleh dan tersenyum melihat sang appa yang berjalan ke arahnya sambil membawa dua gelas yang gadis itu yakini berisi coklat panas.
“Nothing. Cuma lagi kangen Hyuna Eomma, dan Jimin appa.” Gadis itu nampak senang saat menerima gelas yang ternyata benar berisi coklat panas. “Coklat panas buatan Appa memang yang terbaik.”
“Eommamu yang mengajari Appa membuatnya. Dia bilang, coklat panas bisa membantu menenangkan pikiran kita yang sedang rumit.” Gadis itu mengangguk dan kembali menikmati coklat miliknya. “Mau berkunjung ke rumah Hyuna eomma dan Jimin appa?”
“Boleh. Kebetulan besok Nami nggak punya jadwal, jadi kita bisa berlama-lama di rumah mereka.”
“Appa pikir kau ingin pergi sekarang? Ya udah ka....”
“Appa tunggu, nee. Nami siap-siap,” Gadis itu melesat meninggalkan sang appa bersama dengan coklat panasnya di teras rumah.
Taehyung hanya tersenyum melihat bagaimana Nami kecil yang dulu menggemaskan, kini tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang hobi membaca cerita cinta.
“Cantik sekali,” puji Taehyung saat melihat penampilan anaknya.
“Harus dong. Kita mau ketemu appa dan juga eomma, jadi harus tampil cantik.”
Keduanya melesat, membelah hutan, dan menembus gelapnya malam, menuju sebuah rumah tua yang ada di dekat danau. Tempat di mana Jimin dan Hyuna berada.
__ADS_1
“Appa! Eomma! Nami datang.” Taehyung hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang tidak berbeda jauh dari eommanya. “Selamat malam Appa, Eomma. Nami datang bawa bunga dan coklat buat kalian,” mengusap dua foto Jimin dan Hyuna yang ada di sebelah sebuah vas berukuran kecil.
“Hai Jim, Hai Baby.” Air matanya kembali mengalir setiap kali ia melihat foto dua orang yang disayanginya. Kejadian di mana Hyuna mendorong Jimin menjauh, dan membuat pedang beracun itu menembus dadanya.
“Hyuna!” teriak mereka semua. Jimin yang berada di samping kekasihnya tak kuasa menahan air matanya.
“Honey,” Taehyung mengambil alih Nami dan membawa bayi mungil itu menepi untuk ditenangkan. “Hyuna, bertahanlah.”
“Gue nggak apa-apa. Sumpah gue terlaksana, Jim.” Air mata semuanya mengalir. Jae Wook menatap murka ke arah Sho-hyun yang berani menyakiti anak tunggalnya. “Jim, gue sayang sama lu.”
“Nggak, Na. Jangan tinggalin gue sama Nami,” memohon menjadi satu-satunya cara agar Hyuna mau bertahan melawan rasa sakitnya. Pemuda itu juga terus menerus mengucapkan kata maaf, karena tidak fokus dan membuat Hyuna terluka.
Melihat kekasihnya yang sudah tidak lagi merespon kalimatnya, Jimin menatap benci wanita yang menjadi penyebab kematian kekasihnya.
“Eomma, Jimin nggak akan pernah menyesal apa lagi meminta maaf pada Eomma.” Jimin mengeluarkan sebuah pedang yang ia simpan dengan sangat lama di dalam tubuhnya.
Sho-hyun ketakutan melihat anaknya. Ditambah lagi pedang jiwa yang dibawa pemuda itu membuat nyali Sho-hyun menciut.
“Dari mana dia dapat pedang itu?” tanya Woo Bin kepada anak-anaknya. Mereka semua menggeleng, karena memang tidak tau dari mana saudara mereka bisa mendapatkan pedang tersebut.
“Jangan pakai pedang itu, Nak. Nyawamu bisa ....”
“Taehyung, gue minta tolong jaga anak gue.” Mencium kening dan pipi sang anak, sebelum akhirnya Jimin melukai jarinya sendiri untuk mengaktifkan pedang jiwa miliknya.
“Maafkan Jimin semuanya.” Jimin melemparkan pedang jiwanya, dan tepat mengenai jantung Sho-hyun, membuat wanita itu mati seketika. Pemuda itu memuntahkan darah begitu banyak, sebelum akhirnya jatuh.
“Jimin!”
Mereka berlari ke arah Jimin, namun sayangnya pemuda itu sudah tidak bernyawa.
Hari itu menjadi hari yang paling memilukan bagi keluarga Kim, karena dua vampir kesayangan mereka harus meregang nyawa karena ulah Sho-hyun.
“Taehyung Appa.” Mengusap air matanya saat sang anak memanggilnya. “Appa kangennya sama siapa? Hyuna Eomma atau Jimin Appa?”
“Pertanyaan bodoh macam apa yang kau tanyakan, Anak Nakal?” Taehyung mengusap kepala anak yang sangat ia sayangi. Ia tidak menyesal sedikit pun sudah membesarkan Nami dengan semua kasih sayangnya.
Dirasa cukup melepas rindunya, kedua vampir itu memutuskan untuk pulang. Hari sudah semakin gelap, dan mereka tidak ingin Seokjin memarahi mereka karena eprgi terlalu lama.
“Terima kasih, Appa. Terima kasih untuk semuanya.” Nami memeluk ayahnya dengan sayang. Gadis itu tau semua cerita antara kedua orang tuanya dengan Taehyung, dan gadis itu bersyukur setelah semuanya pemuda itu mau merawat Nami dengan sangat baik.
“Sudah. Sebaiknya kita pulang,”
“Aduh,” Taehyung menghentikan langkahnya saat melihat anaknya kesakitan.
“Kenapa? Mana yang sakit?” Taehyung mengecek setiap bagian kaki anaknya, tapi tidak menemukan luka di sana.
__ADS_1
“Appa, Nami osteoporosis. Tolong gendong Nami,” Taehyung memukul pelan kepala anaknya. Padahal sudah lebih dari sepuluh tahun, tapi Taehyung masih saja kena tipuan murah anaknya. Namun, meski begitu Taehyung tetap menggendong tubuh anaknya, dan melesat bersama.
Keduanya terlihat sangat bahagia. Taehyung yang menerima dan menyayangi Nami seperti anaknya sendiri, begitu juga Nami, yang menyayangi Taehyung dan menganggap pemuda itu sebagai appanya.