The Blood

The Blood
Bagian (36)


__ADS_3

Hyuna tidak pernah menyangka, jika kebaikan hatinya pada Taehyung akan membuat gadis itu kesulitan. Bagaimana tidak? Saat Hyuna tengah membasuh tubuhnya di pagi hari, tiba-tiba Taehyung datang dan mengatakan akan membawa gadis itu jalan-jalan sekalian membeli beberapa peralatan untuk Agi yang kemungkinan akan lahir sekitar dua minggu lagi.


“Buruan Hyuna, agak cepet dikit.”


Sepanjang jalan Hyuna mencari sungai yang cukup dalam agar bisa ia gunakan untuk menenggelamkan Taehyung, bersama dengan kebodohannya.


“Gue bawa bayi kalau lu lupa,” gerutu Hyuna. Tanpa belas kasih, Hyuna menggeplak kepala Taehyung dengan keras, membuat pemuda itu mengadu.


“Na, lihat di sana.” Taehyung mengarahkan tangannya ke salah satu toko yang tak jauh dari mereka, agar Hyuna bisa mengetahui pasti toko yang ia maksud. “Kayaknya di sana kita bisa belanja kebutuhan Agi.”


“Lu ke sana duluan aja.” Taehyung menggelengkan kepalanya. Pemuda itu trauma meninggalkan Hyuna seorang diri dan berakhir menyedihkan.


“Kita jalan bareng,” ucap Taehyung sembari menuntun Hyuna agar tidak terjatuh.


Beberapa kali Hyuna menatap Taehyung yang berada di sampingnya. Dapat Hyuna lihat dengan jelas raut wajah bahagia yang muncul di wajah pemuda itu saat mereka menemukan toko yang menjual pernak-pernik untuk bayi.


Taehyung menepati janjinya dengan menjaga dirinya dan juga Agi, Hyuna menjadi luluh karena itu. Tapi, untuk kembali seperti dulu lagi sepertinya Hyuna tidak akan bisa melakukannya.


Saat tengah asik berjalan sembari mengobrol tiba-tiba mereka menabrak pengunjung lain yang terlihat sangat pucat.


“Maaf, Tuan.” Taehyung membungkukkan badan kepada orang itu sebagai bentuk permintaan maafnya karena sudah menabraknya. Taehyung tidak meminta Hyuna membungkuk, karena ia tau gadis itu akan kesulitan, jadi dia memutuskan untuk membungkuk dia kali.


Orang itu tidak menjawab, atau melakukan hal lain. Dia hanya diam dengan kepala tertunduk.


“Tuan, kau pucat sekali. Mengerikan,” ucap Taehyung yang langsung dihadiahi pukulan oleh Hyuna. Gadis itu sedikit menunduk sebagai ucapan maaf pada orang yang mereka tabrak.


“Tae, coba lu beli minum di sana.” Hyuna menunjuk salah satu stand yang tak jauh dari mereka.


“Tapi, By....”


“Ya udah, gue aja yang pergi. Tolong jaga dia,” ucap Hyuna. Gadis itu berjalan menuju toko yang ia maksud tadi, untuk membeli beberapa minuman dan makanan. Sedikit gondok karena Taehyung meninggalkan orang tadi sendiri dan memilih mengangkat telfon yang entah dari siapa. “Ini Tuan, ambillah.”


Orang itu tidak menerima makanan yang Hyuna berikan, karena ia tengah fokus memandang perut gadis itu yang terlihat bergerak.


“Agi.” Hyuna yang mendengar ucapan itu langsung mengangguk dan mengusap pelan perutnya. Gadis itu memegang tangan orang berhoodie itu dan meletakkannya di atas perutnya yang membesar. “Agi yaa.”


“Iya, Tuan. Dan sebentar lagi dia akan lahir,” jelas Hyuna yang membuat orang itu mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Mata mereka saling bertemu, dan Hyuna reflek memundurkan tubuhnya agar orang di hadapannya tidak bisa menjangkaunya.


Taehyung yang melihat kekasihnya bersikap aneh langsung menghampiri. Tadi dia sedang menghubungi Seokjin, jadi dia membiarkan kekasihnya berbicara dengan orang lain.


“Baby, ada apa?” tanya Taehyung yang khawatir dengan keadaan Hyuna dan bayinya.


“Nggak apa-apa. Tadi Agi geraknya terlalu banyak, jadi sakit.” Tanpa pikir panjang Taehyung langsung duduk di lantai, menggunakan lututnya sebagai tumpuan, dan mengusap pelan perut Hyuna.


“Agi yaa, Sayangnya Appa. Jangan nakal ya, Nak. Agi yaa lihat nggak? Eomma kesakitan banget sampai keringetan. Agi sayang Eomma, kan? Gerak boleh sayang, tapi jangan terlalu aktif.” Setelah merasa gerakan Agi sedikit lebih lembut, Taehyung tersenyum manis dan mencium perut kekasihnya. “Udah nggak terlalu sakit, kan?”


Hyuna mengangguk dan tersenyum. Gadis itu mengucapkan terima kasih karena Taehyung selalu bisa menenangkan Agi di saat seperti ini.


“Sayang, gue sambung telfon bentar.” Hyuna hanya mengangguk. Sedetik kemudian gadis itu menghampiri sosok yang menundukkan kepala sejak tadi, dan berkata, “apa kabar, Park Jimin?”


Jimin tersenyum dan membuka penutup kepala yang sejak tadi menutupi wajahnya. Terlihat jelas ada jejak air mata di wajah pemuda itu, tapi Hyuna memilih untuk tidak membahas soal itu.


“Anak Taehyung?” tanya Jimin sambil menunjuk ke arah perut Hyuna yang membesar.


Hyuna menggeleng. Gadis itu mengusap perutnya dengan lembut dan berkata, “Agi yaa bukan anak Taehyung. Appanya adalah orang yang memperkosa gue di rumah dan di toilet bioskop.”


Tubuh Jimin membeku. Pemuda itu tidak tau harus berbuat apa dan harus bereaksi seperti apa, karena ia tidak pernah menyangka kalau anak yang ada di dalam perut Hyuna adalah anaknya. Namun, detik kemudian Jimin tertawa dengan sangat keras sampai air matanya mengalir. “Lu pikir gue bakalan percaya gitu aja? Sorry, tapi gue nggak sebodoh Taehyung.”


“Brengsek!” seru Jimin sambil mencekik leher Hyuna.


“Kenapa? Tumben lu ragu buat bunuh gue, Jim.” Hati Hyuna sudah mati sejak hari itu, dan dia tidak akan pernah lagi meneteskan air mata berharganya hanya untuk sesuatu yang tidak penting.


Jimin memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Pemuda itu seolah mendengar suara orang yang memintanya untuk membunuh Hyuna. “Pergi!” seru Jimin sembari mendorong tubuh Hyuna menjauh darinya. Entah kenapa tapi hatinya ingin Hyuna pergi, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan gadis itu.


Hyuna yang menyadari sikap Jimin memutuskan untuk meneruskan kalimatnya. “Kenapa gue harus pergi? Bukannya lu mau gue mati? Ayo, bunuh gue bersama Agi.”


“Tidak! Pergi bangsat!” teriak Jimin. Pemuda itu terus memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit setiap kali memikirkannya Hyuna. “Gue mohon, pergi.”


Gadis itu berjalan mendekati Jimin yang kesakitan. “Ayo, Jim. Bunuh gue!” seru Hyuna. Namun, pemuda itu menolak dan terus mendorong tubuh Hyuna menjauh.


Mendengar keributan dari arah Hyuna, Taehyung memutuskan untuk kembali ke tempat kekasihnya. Pemuda itu terkejut saat melihat Jimin tengah memaki Hyuna sembari memegangi kepalanya, dan Hyuna yang tengah mencoba berbicara dengan Jimin.


“Hyuna, pergi!” teriak Taehyung. Bukannya menjauh, Hyuna malah mendorong tubuh Jimin dan di saat bersamaan tubuh Hyuna juga terpental cukup jauh.

__ADS_1


“Hyuna!” teriak Taehyung dan Jimin bersamaan. Keduanya berlari ke arah Hyuna yang sudah terkapar dengan darah yang keluar dari bagian bawahnya.


“Eomma sudah memintamu untuk membunuhnya, Jim.”


Keduanya menoleh dan terkejut saat melihat Sho-hyun berdiri di belakang mereka dengan senyum yang merekah.


“Eomma!” seru keduanya.


“Eomma, kenapa Eomma melakukan ini?” tanya Taehyung. Dengan air mata mengalir pemuda itu mengusap perut Hyuna yang tiba-tiba mengeras membuat gadis itu kesakitan.


“Dia pantas mendapatkannya, Nak.” Sho-hyun mendekati Taehyung, berniat mengusap kepalanya dan membawa serta anaknya itu bersamanya. Namun, Hoseok, Namjoon dan juga Seokjin tiba-tiba datang dan menepis tangan Sho-hyun dari kepala Taehyung.


“Eomma, sudah.”


Taehyung dan Jimin yang melihat kedatangan ketiga Hyungnya cukup bingung dengan apa yang terjadi.


“Hyung, bagaimana....”


“Eomma, jangan sakiti Tae-yaa lagi, dia nggak salah. Dan kami mohon stop menjadikan Jimin pion untuk menghancurkan kami,” ungkap Seokjin. “Kita semua tau kalau Appa tidak bisa menjadi raja karena kondisinya, dan kita tidak pernah mempermasalahkan hal itu.” Seokjin mencoba berbicara dengan sang ibu. Memberi pengertian pada wanita itu, bahwa apa yang dia lakukan salah.


“Seokjin, kamu nggak ngerti apa pun. Eomma melakukan semua ini untuk kalian, demi kita semua.”


“Bohong! Eomma melakukan ini untuk Eomma sendiri.” Sho-hyun menatap tajam ke arah Seokjin.


“Jimin,” panggil Sho-hyun sambil menoleh ke arah anak bungsunya yang masih duduk di dekat tubuh Hyuna. “Bunuh gadis itu dan semua saudaramu!” perintah Sho-hyun. Mata Jimin berubah merah, kuku jarinya memanjang dan mengarah ke leher Hyuna yang masih merintih kesakitan.


“Jim, jangan!” teriak Hoseok. Taehyung segera membawa tubuh lemah Hyuna menjauh dari Jimin.


“Bawa dia pergi,” mohon Jimin dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


“Jimin.” Hyuna mencoba menjangkau Jimin yang terlihat kesakitan. Namun, pemuda itu malah melangkah mundur saat Hyuna ingin memeluknya.


“Pergi, Na!” seru Seokjin. Hyuna memilih abai dan terus mendekat ke arah Jimin.


“Bunuh dia, Jim!” teriak Sho-hyun. Seketika Jimin kehilangan kendali atas dirinya. Pemuda itu melesat ke arah Hyuna, dan menendang tepat di perut gadis itu.


“Hyuna!” teriak Taehyung. Pemuda itu mencoba menghentikan Jimin, namun gagal karena Jimin yang sekarang ratusan kali kuat dari yang sebelumnya. “Jimin, jangan sakiti Hyuna.”

__ADS_1


“Lu harus mati.” Jimin berniat menendang Hyuna untuk yang kedua kalinya, tapi terhenti saat melihat darah yang keluar dari bagian bawah gadis itu semakin banyak, dan gadis itu yang merintih kesakitan. “Agi.”


__ADS_2