
Megna Khan (Megna Khan) adalah seorang gadis cantik, temperamen dingin, namun memiliki wajah cantik khas seorang gadis India, merupakan satu-satunya putri dari pasangan tersukses di negeri india (Jordi Khan) dan (Richia Candha Khan). Megna saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di Amerika Serikat, dan jangan lupa bahwa dia mendapatkan beasiswa penuh dari S1 untuk bakatnya.
Di malam hari, waktu Amerika Serikat tiba-tiba, suara telepon Megner bergetar ... Drrttt drrttt , Megna menyambar benda datar yang diletakkan di atas meja. “Kenapa anak ini selalu menghubungiku? Benar-benar menyebalkan.” Saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, Megna terus mengoceh. Jika bukan karena adik laki-lakinya, Megna juga memiliki saudara laki-laki yang sangat dia cintai.
"Ya, halo, kenapa kamu selalu meneleponku?” Megna mengoceh di telepon. Menurutnya, adiknya itu sangat menyebalkan dan selalu senang mengganggunya.
Tiba-tiba, Aria menjauhkan benda datar itu dari dekat telinganya karena mendengar teriakan satu-satunya saudari yang sangat dia cintai.
Aria Khan adalah adik dari Megna Khan yang terlihat dingin dan cuek, namun berbanding terbalik dengan sifatnya yang sangat ramah dan ceroboh.
“Hei, Kak, bisakah kau menjawab telponku dengan lembut? Mendengar teriakanmu akan melukai telingaku,” protes Aria melalui telepon. Memang mereka selalu bertengkar setiap saling bertemu ataupun saling menghubungi.
“Maafkan aku Hahaha, nah, lalu kenapa kamu meneleponku di malam yang menyebalkan ini?” Jawab Megna malas.
“Jika aku tidak dipaksa, aku tidak akan repot-repot menghubungimu.” Saut Aria.
“Aku tidak ingin membantumu dengan tugas kuliah lagi. Aria, kerjakan lah sendiri.” Megna langsung menebak apa maksud adiknya. Memang selama kurun waktu tersebut, meski jaraknya jauh, Aria sering meminta Megna untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, namun berhubung otak Megna jauh lebih pintar dari adiknya, ia selalu bisa membantu Aria menyelesaikannya.
"Cih, jangan berpura-pura mengenal adikmu ini kakakku tersayang" kata Aria sambil terkekeh ringan di sisi lain telepon, membuat Megna terkejut.
"Ada apa? Cepat katakan aku sibuk," jawab Megna malas.
"ibu ingin bicara denganmu, dia bilang dia sangat merindukanmu.” Kata Aria terus terang.
Tiba-tiba sang ibu langsung meraih ponsel anaknya. “Bu, kenapa kau harus ambil ponselku? Aku belum selesai bicara dengan kakakku,” kata Arria, karena kelakuan ibunya yang membuatnya kesal
"Kamu sudah terlalu lama menggoda kakakmu aria," jawab ibu. “Pergilah sana, ibu ingin ngobrol dengan putriku,” ucap ibu sambil melangkah menjauh dari Aria, karena ingin mengobrol bebas dengan putri kesayangannya.
Pada saat yang sama, Megna mendengar debat antara ibu dan saudara laki-lakinya di telepon, dan hanya bisa tersenyum untuk mencegah keinginannya yang dalam terhadap keluarga. Ya, Megna sangat merindukan keluarganya karena setahun terakhir ini, dia tidak bisa pulang karena jam sekolah yang sibuk dan mendekati semester terakhir kuliah.
Ibu Richard berkata, "Halo, anak perempuanku Megna."
“Ibu kau sudah selesai bertengkar dengan Aria?” jawab megna, menghentikan kerinduan pada ibunya.
“Hehe, maafkan ibu, ibu lupa sedang menelponmu karena adikmu itu.” Sang ibu berkata, “Apa kabar nak? Kenapa suaramu sangat pelan?
“Iya Bu Magna baik-baik saja bu, apa kau baik-baik saja? Apa Aria mengganggumu lagi?” Magna bertanya berulang kali pada ibunya.
__ADS_1
Nyonya Richa hanya menertawakan putrinya. Dia berkata, “Tenang nak, semuanya baik-baik saja disini.” Sehingga anaknya bisa tenang. “Bagaimana kuliah mu?” Tanya ibu
“Semuanya baik-baik saja, Bu, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan universitasku secepatnya agar aku bisa pulang dan bertemu denganmu segera,” jawab Magna membujuk.
Sang ibu berkata: “Itu bagus, saya senang mendengar beritanya.” Ibu Richard berkata “Oh ya, Nak, kenapa kamu tidak menjawab telpon ibu sore ini? Saya sangat khawatir dengan dirimu,"
megna menjelaskan "Ya Tuhan, maaf saya lupa menelepon ibu. Saya sedang di kelas saat itu. Maaf, telepon ibu tidak bisa dijawab."
Sang ibu tersenyum mendengar penjelasan putrinya “Kamu bisa tenang. Apa tugasmu begitu banyak belakangan ini?” Tanya ibu Richa
"Ya, saya punya banyak tugas bu," kata Magna dengan menyedihkan.
Sang ibu berkata “Iya ya, jangan melaskan suaramu seperti itu. Belajar di luar negeri sudah menjadi keputusanmu, jadi kamu harus menikmatinya sendiri tanpa bantuan kami.” Sang ibu mejelaskan. Keputusan keluarga tersebut sedikit mengecewakan, meski sebenarnya dia bangga karena Megna dianugerahi beasiswa untuk belajar di negara tersebut.
Megna berucap manja dengan ibunya dan berkata, " ibuku tetap tidak mengizinkan aku pergi ke sini bahkan setelah beberapa tahun. ''
Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang sang ibu, dan Magna mendengarnya dengan jelas. “Aria pasti berteriak, bu.” Megna marah karena kebiasaan adiknya tidak pernah berubah.
“Hehe, iya sayang, mungkin dia sedang mencari handphonenya.” Ucap sang ibu sambil terkekeh mendengar jeritan anaknya.
“Ternyata ibuku berada disini. Aku cari ibu kemana-mana. Ternyata ibu di taman belakang, kenapa ibu sangat suka dengan yang ada di sini,” ucap Arria kesal.
"Berikan telepon ku bu " ucap Aria, karena dia sangat kesal, menunggu ibunya berbicara dengan kakaknya. “Kenapa kamu jadi pelit aria?” Sang ibu juga kesal dengan sikap anaknya.
“Bu, cepat kembalikan, aria, harus pergi. Tidak mungkin kalau Aria tidak membawa ponsel, aria. nanti ibu bingung mencari-cari Aria,” jawab Aria santai.
Sang ibu menjawab "Jika kamu selalu pulang tepat waktu, ibu tidak akan mencarimu. dasar anak payah."
“Halo, apakah Megna masih di sana?” Tanya ibu, menyadari bahwa telepon belum terputus
"Ya bu, saya masih di sini", jawab Magna
“Megna, adikmu yang menyebalkan menginginkan ponselnya, dia benar-benar menyebalkan dan mengganggu,” kata ibu sambil tersenyum
"Ibuuu itu adalah ponselku, kenapa aku mengganggumu lain kali kau gunakan ponselmu sendiri", Aria kesal.
“Iya iya anakku tolong matikan dulu teleponnya. Aku kangen kamu. Cepat pulang.” Kata sang ibu, dia langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawabannya.
__ADS_1
“Ah, aku sangat merindukan mereka,” Magner bergumam dalam hatinya. Dia berkata "Saya harap saya bisa segera pulang."
Akhirnya karena telpon dari ibunya tadi, Megna melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya, yang tertunda tadi. Megna mengerjakan tugasnya hingga larut malam dan akhirnya tertidur.
***
Matahari semakin tinggi dan semakin tinggi, tetapi tidak bisa membangunkan gadis yang masih tertidur.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf ya bila author ada salah dalam penulisan dan perkataan🙏🙏 maklum ini kisah author yang pertama mohon dukungannya ya author juga sangat menunggu kritik dan saran kalian terima kasihhhh🙏🙏😍