
Part 22
"Holla ! Azura." Sapa Valerie Blair dengan tampang datar. Apa apaan dengan wajahnya? Batin Aby. Aby tak menjawab dan hanya diam menunggu tanggapan paman zack.
"Masuklah Vale, dan kau Alan, keluarlah." Alan hanya mendengus mendengar usiran ayahnya. Vale berjalan dan duduk di kursi sebelah Aby.
Bagai patung hidup yang sengaja di pajang, Aby dan Vale duduk diam dengan tampang datarnya. Seperti sedang lomba taruhan, batin paman zack.
"Ehem !!! Kuharap kalian tidak kaku seperti itu." Senyum paman zack, tapi tak berubah ekspresi dua makhluk di depannya.
"Oh ya Vale, dia Azura tapi dia lebih sering di panggil Aby. Dan Aby, dia Valerie yang ku ceritakan, dia demon." Aby hanya diam mematung, demon? Wtf ! Batin Aby mengumpat.
"Lalu,? Apa yang harus aku lakukan jika sudah bertemu dengannya." Suara Aby terdengar sangat datar. Mau bagaimana pun, walau dia juga demon, tapi dia membenci makhluk itu.
"Tentu saja mencari nama nama yang di dalam daftar itu, bersama." senyum paman zack.
Aby menghela nafas, jujur saja dia sedikit trauma jika harus mempercayai demon lagi, setelah Ara. Dia bangkit dan keluar begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Pintu tertutup kembali setelah Aby keluar. Paman zack menatap valerie yang berada di depannya.
"Bisakah kau sedikit ramah dengannya?" Tanya paman zack. Bola mata Valeria bergerak menatap paman zack di depan.
"Ck, tuanku hanya ratu Adora. Biarpun dia anaknya, tapi dia bukan tuanku. Jadi, tak ada masalah jika aku tak ramah padanya. Lagi pula, dia seperti bongkahan es yang berjalan." Valerie mendengus tak suka, dan berjalan keluar ruangan paman zack.
Kurasa tak akan berjalan mulus, batin paman Zack.
"Baiklah, aku menyerah. Kuharap nanti Claudia bisa membuat kalian akur." Lirih paman Zack.
Dia melihat kembali lipatan kertas usang yang tergeletak di mejanya.
- Zack Hernandez
- Claudia
- Diandra
- Artur
- Erlyn
Paman zack menghela nafas, semoga kalian masih tetap sama.
>>>>>
Matahari sudah akan terbenam, Seorang wanita sedang berjalan di tengah tengah keramaian kota dengan santai. Jubah nya dia biarkan menjuntai menutup hampir seluruh kakinya. Tudung jubah nya dia biarkan terbuka, memperlihatkan wajahnya yang rupawan. Dia berjalan menuju sebuah penginapan, dia masuk dan memesan kamar. Di ambilnya kunci kamar yang dia dapat, kemudian berjalan menuju kamar yang ia sewa. Pintu kamar terbuka memperlihatkan isi kamar yang dia sewa. Tidak buruk, batin wanita itu.
Dia masuk dan menutup pintunya, melepas jubahnya dan merebahkan tubuhnya. Dia memejamkan matanya, mengingat* kembali yang sudah terjadi. Dia membuka matanya, menatap tajak atap kamar.
__ADS_1
"Dimana kau Aby." Desisnya tajam.
>>>>>>
Ruang makan itu begitu sunyi, hanya dentingan sendok yang saling menyahut mengisi kesunyian malam. Paman Zack menaruh peralatan makannya dengan rapi,
"Ehem,!! Mari kita berkumpul di ruanganku. Aku ingin membahas sesuatu dengan kalian." Paman Zack tersenyum dan berdiri meninggalkan ruang makan itu.
Semua telah berkumpul,
"Aileen, dimana Alan?" Tanya paman Zack saat menyadari anak nya itu tak ada.
"Dia sedang berkutat dengan berkas* bodoh di ruangannya. Biasa, selalu mengurus pack." Aileen menghela nafas jengah dengan kakaknya, yang selalu di sibukkan oleh urusan pack.
"Tidak salah aku menjadikannya alpha, yah karena memang dia anak laki* ku satu*nya." Paman Zack terkekeh,
"Bisa kau panggil kakakmu Aileen?" Aileen mengangguk dan keluar dari ruangan.
"Oh iya, untuk kalian berdua, jika kalian membutuhkan asupan darah, tak perlu sungkan untuk meminta." Senyum paman Zack,
"Apa perlu ku bawa kemari? Aku tak keberatan, kebetulan tadi aku menyuruh para warior untuk berburu." Senyum bibi Karin ramah,
Valerie tersenyum ramah membalas,
"Tak perlu bibi, aku akan mengambil sendiri nanti." Sedangkan Aby hanya menampilkan raut wajah datar. Bibi Karin mengalihkan pandangannya pada Aby,
"Kuharap anda tidak tersinggung dengan sifatnya, bibi." Senyum Vale, bibi Karin hanya tersenyum memaklumi.
>>>>
Brakk..!!
Alan menatap sang adik yang berada di ambang pintu, dengan datar.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintunya?"
Aileen hanya mengedikkan bahunya acuh,
"Tinggalkan berkas* itu, Ayah menyuruhku memanggilmu untuk ke ruangannya, sekarang.!" Ucap Aileen sambil menggebrak meja kerja kakaknya. Sedangkan Alan hanya menghela nafas. "Aku akan menyusul." Aileen berdiri tegak dengan tangan di lipat di dada dengan raut wajah yang dia buat segalak mungkin.
"Sekarang!!!" Bentak Aileen, Alan meringis mendengar suara toa adiknya itu.
"Baiklah, dasar adik durhaka." Alan pun berjalan mendahului adiknya menuju ruangan ayahnya.
Aby berjalan dengan santai menuju dapur kastil ini, dia melihat kakak beradik berjalan berlawanan arah dengannya. Masih tanpa ekspresi Aby tetap berjalan lurus,
"Hallo Aby !! Kau mau kemana?" Tanya Aileen membuat Aby berhenti sejenak,
__ADS_1
"Dapur."
"Oh, baiklah, hati* ya.. aku duluan." Aby berjalan lebih dulu, saat Aileen hendak melanjutkan perjalanan, dia melihat kakaknya menatap Aby dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Ada apa denganmu, Alan?" Tanya Aileen menyelidik, Alan mengalihkan tatapannya pada Aileen, "Tidak apa apa, ayo." Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ruangan ayahnya.
Apa apaan dengan aroma itu? Apakah? Tidak mungkin, sangat samar bahkan aku sampai ragu, batin Alan.
Alan dan Aileen masuk kedalam ruangan,
"Lalu? Aby?" Tanya bibi Karin,
"Dia bilang sedang ke dapur." Aileen menjawab, tak lama kemudian Aby memasuki ruangan masih dengan tampang datar.
"Baiklah, aku akan memutuskan untuk menemani Aby dan Vale menemui Claudia dan yg lain." Ucap paman Zack,
"Waah, bisakah aku ikut ayah? Aku merindukan bibi Claudia." Cengiran Aileen dengan tatapan memohon.
"Tidak Aileen, itu berbahaya. Kau tetap di pack bersamaku." Ucap Alan tegas.
Aileen menghela nafas, "Oh ayolah kak, aku sudah besar kenap kau masih saja protektife padaku?" Aileen mendengus kesal.
"Kalian semua akan ikut Alan." Relai paman Zack,
"Ibu juga?" Tanya Aileen dengan semangat. Ibunya tersenyum dan mengangguk.
"Waahh akhirnya!! Tapi, siapa yang menjaga Pack?" Alan menatap ayahnya,
"Aku tak akan ikut ayah." Paman zack menggeleng,
"Tidak Alan, kau ikut. Biar kan Beni sebagai Beta mengambil alih tugas mu." Alan hanya menghela nafas, jika sudah begini dia tak bisa menolak.
Kembali Alan mencium aroma yang menenangkan, Alan memicingkan matanya menatap sekitarnya mencari arah datang aroma itu. Sangat samar, bahkan Alan sudah menajamkan penciumannya.
Darimana sebenarnya asal aroma ini ! Mindlink Gray, wolf Alan.
Jika aku tau, aku tak akan sebingung ini, balas Alan.
Aby berdiri dan keluar ruangan begitu saja tanpa sepatah katapun. Alan mengernyit heran,
Aroma itu hilang, apa jangan jangan, batin Alan.
Aku curiga itu dari Aby, ucap Gray
Alan menggeleng tak percaya, sangat tidak mungkin. Jika begitu kenapa dari awal dia tidak menciumnya. Paman Zack yang memperhatikan raut wajah Alan menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa denganmu Alan?" Alan menggeleng lalu berdiri dan pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
》》》》》》