The Last Queen

The Last Queen
TLQ #35


__ADS_3

Part 35


Ruangan keluarga dikerajaan itu benar benar ramai. Seperti yang dikatakan Ara. Anak anak mereka sudah kembali pulang karena liburan telah tiba. Membuat kerajaan yang lebih mirip mansion mewah itu begitu ramai.


Bahkan para pengawal dikerajaan ikut tersenyum melihat keharmonisan keluarga itu. Mereka baru saja tiba di kerajaan itu. Begitu juga Ayah dan ibu Xander.


"Bagaimana sekolah kalian?" Tanya paman Arthur.


"Ck. Kakek perhatian sekali sih. Sekolah kami baik. Sangat baik." Jawab Bella antusias, benar benar mirip Aileen.


Sedangkan Qian sang kakak kembar hanya mendengus melihat sikap Bella.


"Bagaimana denganmu Andara?" Tanya paman Zack.


"Baik Kakek." Jawab Andara singkat. Mirip Alvaro.


"Ayah ibu, bagaimana kabar kalian?" Tanya Xander.


"Kami baik Xander. Bagaimana denganmu?" Jawab ibu Xander -Natalie- Xander menjawab dengan anggukan dan senyuman.


"Ehem. Dan siapa dia? Kalian tidak mengenalkan pada kami?" Tanya Kenzie.


"Oh maaf. Perkenalkan dia Azura Salvador." Ucap bibi Erlyn.


Semua yang baru saja tiba melihat kearah Azura.


"Dia siapa?" Tanya Andara.


"Dia bibi kalian." Jawab Ara.


"Bibi,?!!" Teriak mereka bertiga tidak percaya.


Siapa yang akan percaya, jika dihadapan mereka ada seorang wanita muda yang benar benar cantik yang seusia mereka adalah bibi mereka.


"Ya, dia bibi kalian." Jawab bibi Karin santai.


"Wujudnya memang muda, hanya saja umurnya sudah berabad." Bisik Aileen. Yang dilirik sinis oleh Azura.


"Ck. Aku kecewa dia adalah bibiku." Decak Qian kesal.


"Apa maksudmu,?!!" Tanya Xander tajam.


"Ups. Ternyata sudah Sold Out." Ucap Qian sambil menutup mulut. Hampir semua orang tau, Putra dari Aileen dan Damian itu seorang PlayBoy.


"Yah, setidaknya aku cukup bangga mempunyai bibi secantik dia. Tidak buruk." Ucap Andara dengan senyum miring membuat Azura sedikit tersinggung. Azura membalas senyum miring Andara.


"Sepertinya bermain sedikit denganmu menyenangkan" desis Azura membuat beberapa orang merasa merinding.


Nyatanya aura Azura yang mengintimidasi masih saja ampuh.


"Ehem. Maafkan dia Azura. Dia memang sedikit ketus seperti ayahnya." Ucap Ara, sedangkan Alvaro hanya memutar mata malas.


"Valerie belum kembali?" Tanya Azura mendadak.


"Ya, entah kapan dia kembali. Tidak menentu." Jawab bibi Karin.


Azura menghela nafas, lalu mengangguk.


"Kurasa, perkenalannya sudah selesai bukan?" Azura tersenyum sebentar lalu berubah menjadi datar.


"Dan kau Andara. Hati hati dengan sikap angkuhmu. Itu akan berdampak buruk bagimu." Ucap Azura dingin lalu pergi meninggalkan ruangan.


Sedangkan Andara hanya berdecak malas.


*****


Bella, Qian, dan Andara sedang duduk memperhatikan Azura dan Xander yang sedang beradu kekuatan.


Awalnya Azura hanya ingin berlatih sendiri. Namun, Xander menawarkan diri menjadi partner nya. Dan diikuti ketiga keponakannya.


"Ck, aku tidak menyangka dia adalah seorang ratu dimasa lalu yang sejarahnya diceritakan dimana mana." Ucap Bella.


"Andai dia bukan pasangan Xander, aku sudah berjuang untuknya." Ujar Qian


"Bagiku dia biasa saja." Sambung Andara.


"Apa masalahmu dengannya Andara? Kau seperti membencinya." Ucap Qian


"Aku tidak membencinya. Hanya saja mengingat masa lalu. Aku sedikit kesal dengannya. Secara tidak langsung, dia penyebab kakek nenek dari ayahku tiada." Balas Andara.


"Harusnya kau paham bagaimana situasinya. Ceritanya sering diceritakan." Sambung Bella.


"Kau tidak merasakan apa yang kurasa." Balas Andara.


"Heh diamlah kalian! Dan kau Andara. Harusnya kau tidak bicara seperti itu. Ayahmu saja tidak seperti itu." Ketus Qian.

__ADS_1


Andara hanya memutar mata malas. Mereka pasti selalu berdebat. Entah karena masalah spele atau bukan. Tapi mereka tetap selalu bersama. Mungkin karena terbiasa dari kecil.


"Mereka cocok." Ucap Bella.


"Tidak." Ketus Andara.


"Ada apa denganmu Andara?" Kesal Bella.


Andara mendengus lalu pergi meninggalkan mereka.


"Apa kau merasa Andara terlalu berlebihan?" Tanya Bella.


"Hm. Aku juga merasa seperti itu." Jawab Qian.


"Aku merasa dia seperti, tidak menyukai jika Xander bersama Azura." Jelas Bella


"Bibi Azura, Bella." Dengus Qian. Bella hanya memutar mata malas.


"Apa kau tidak tau? Andara itu menyukai Xander." Ucap Qian santai. Bella langsung melihat kearah Qian.


"Yang benar saja. Kitakan saudara." Qian mengangkat bahu acuh.


"Ya, saudara angkat asal kau tau. Orang tua kita dan orang tua dia hanya saudara angkat." Jelas Qian.


"Iyasih. Tapikan, kita besar bersama."


"Berdoa saja semoga dia tidak melakukan hal aneh."


Sedangkan Azura dan Xander sudah selesai berlatih dan berjalan menuju Bella dan Qian.


"Bibi Azura, bisakah kau mengajarkan aku beberapa jurusmu? Kau benar benar hebat." Ucap Bella semangat.


"Panggil aku Azura, tanpa embel embel bibi. Aku risih." Balas Azura malas. Sedangkan Bella hanya tertawa mendengarnya.


"Dimana Andara?" Tanya Xander.


"Dia sudah pergi duluan." Jawab Qian.


"Aku merasa dia seperti, tidak menyukaiku." Ucap Azura tiba tiba.


"Maksudmu?" Tanya Xander. Sedangkan Azura hanya mengedikkan bahu acuh lalu pergi.


"Ck. Sungguh malang dirimu Xander. Kau mendapat belahan jiwa seperti dia. Dingin." Ejek Qian. Xander hanya melirik tanpa minat lalu pergi.


"Aku merasa seperti..." ucap Bella menggantung saat Qian menoleh kearahnya. Lalu Bella hanya mengedikkan bahu dan pergi. Qian hanya mendengus kesal.


*****


Tiba tiba angin meniup wajahnya halus. Xander sudah berada di sebelah Azura.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Xander menghadap Azura.


"Kita." Jawab Azura singkat.


"Ada apa?" Azura menghela nafas.


"Kau mempunyai seluruh kekuatan makhluk imortal. Tapi kenapa kau tidak bisa merasakan segala sesuatu?" Tanya Azura kesal.


"Entah."


"Andara. Dia mempunyai perasaan lebih padamu." Jelas Azura, Xander terkekeh mendengarnya.


"Mana mungkin Azura."


"Kita liat saja. Apa yang akan dia lakukan." Ucap Azura tajam membuat Xander berhenti terkekeh.


"Aku tetap milikmu, Abs." Ucap Xander sambil menarik Azura kedalam pelukannya. Azura membalas pelukan Xander.


Semoga saja, semoga dikehidupan ini mereka tidak lagi terpisahkan. Batin Azura memohon.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memandang mereka dengan tatapan benci. Dan Azura menyadari itu. Lalu seseorang itu pergi berlalu begitu saja.


Tidak akan kubiarkan kau membuatku terpisah dari Alan lagi, Batin Azura


"Aku ingin istirahat." Ucap Azura melepas pelukan mereka.


Xander memandang Azura dalam.


"Aku tau semua Azura. Hanya saja, aku tidak ingin menampakkan semuanya." Ucap Xander tiba tiba lalu tersenyum.


"Istirahatlah." Xander mengecup dahi Azura lama.


"Selamat Istirahat. Aku menyayangimu." Azura tersenyum


"Aku juga."

__ADS_1


*****


Pagi itu mereka semua dikejutkan dengan berita bahwa Azura dan Andara bertarung di halaman kerajaan. Mereka semua berlari terburu buru menuju halaman kerajaan. Tidak ada yang berani memisahkan mereka. Terlihat Azura dan Andara bertarung begitu brutal. Bahkan Andara sudah berubah kewujud Demonnya.


Sedangkan Azura, dia sudah sedikit berubah.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia bersama Xander." Desis Andara. Azura tersenyum sinis.


"Kau salah memilih lawan, Nona." Ucap Azura tajam.


Kembali mereka saling serang. Walau Andara sadar, levelnya kalah jauh dibawah Azura.


Bagaimana pun Azura seorang ratu demon. Mereka semua sudah berkumpul menyaksikan perkelahian dua wanita itu. Namun tak ada satupun yang bisa melerai mereka. Ternyata arena pertarungan dadakan mereka sudah dibuat tabir transparan agar tidak ada yang bisa melerai mereka.


Xander yang melihat dua wanita itu saling serang membuatnya emosi. Dia tidak menyangka Andara akan melakukan hal seperti ini. Ini diluar pikirannya. Saat Xander hendak masuk merusak tabir transparan yang mereka buat, Azura menatap Xander tajam.


"Biarkan aku menyelesaikan ini." Desis Azura tajam.


Akhirnya Xander mengurungkan niatnya dan tetap melihat walau dia menahan emosinya susah payah.


Tiba tiba semua orang dikagetkan dengan apa yang Andara lakukan. Dia mengeluarkan sihir hitam.


Semua syok, terlebih lagi Ara dan Alvaro.


"Kau, mempelajari sihir hitam." Desis Azura murka.


Mempelajri sihir hitam sama saja pengkhianat. Mengingatkan Azura pada Crisa Benevit. Bagaimana bisa masih ada yang menyimpan sihir hitam.


Tanpa dapat dicegah Azura berubah sepenuhnya. Rambut hitam legam dengan tanduk yang mencuat dan mata hitam dengan pupil berwarna Hijau zamrud dan titik merah darah. Aura yang dikeluarkan bisa membuat seluruh makhluk yang menyaksikan tertekan.


"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang mempelajari sihir hitam. Kau sama saja dengan Crisa Benevit!" Ucap Azura tajam dengan kabut hitam bercampur hijau menguar dari tubuhnya.


"Andara,!!! Apa yang kau lakukan,!!!" Teriak Ara dengan airmata yang sudah luruh di pipinya.


Andara benar benar membangkitkan sisi kelam Azura.


"Hentikan Andara!!!!" Teriak Alvaro.


Namun Andara tidak mendengarnya, justru Andara tersenyum sinis.


"Kau pikir, tidak ada yang meneruskan jalan seorang Crisa Benevit. Azura?" Ujar Andara sinis.


"Harusnya tidak ada, Andara. Kecuali, jika ada salah satu orang berpengaruh disini berkhianat." Jawab Azura tajam.


"Dan kupastikan setelah ini. Orang itu akan meregang nyawa dengan menyedihkan." Lanjut Azura.


Sedangkan Xander menggeram marah. Marah pada dirinya sendiri yang sengaja membiarkan orang itu bebas. Lebih tepatnya, sudah memberikan orang itu kesempatan.


Sedangkan orang yang dimaksud sudah keringat dingin. Saat dia mencari celah melarikan diri, tiba tiba dia tercekat karena Xander sudah mencekik dan mengangkatnya tinggi tinggi.


"Apa ini balasanmu nenek Diandra?" Desis Xander tajam. Membangunkan queen demon dan king imortal sama saja bunuh diri. Sedangkan Diandra yang berada didalam cekikan Xander hanya tersenyum remeh.


"Kau naif Xander." Desis Diandra. Lalu mengucapkan mantra. Namun tidak semudah itu, dia melupakan fakta bahwa Xander mempunyai kekuatan seluruh makhluk imortal.


Diandra terpental lalu terbatuk mengeluarkan darah. Lalu tiba tiba badannya menegang matanya melotot seperti diremas tangan raksasa. Urat urat diwajahnya terlihat jelas seperti akan keluar. Bukan Xander yang melakukannya, tapi Azura.


Lalu tiba tiba Diandra tergeletak masih dengan badan yang menegang. Saat Andara hendak menolong untuk melarikan diri. Terlambat, Xander lebih dulu turun tangan. Andara terdiam dengan tubuh yang terikat sebuah cahaya seperti tali.


Dan mereka berdua tidak sadarkan diri setelah Azura mengucapkan mantra. Dia menatap Xander marah. Lalu menerjang Xander dengan tiba tiba membuat Xander terpental dan membentur dinding.


"Aku tidak peduli kau adalah mateku dan rajaku Xander. Kau sudah melakukan kesalahan. Kau memberikan kesempatan untuk para pengkhianat." Desis Azura masih dengan wujudnya yang seperti tadi.


Dia benar benar murka.


"Aku sebagai ratu terakhir dimasa lalu, kecewa dengan dirimu Xander Xaverious!!! Dan akan kupastikan mereka akan menerima konsekuensinya. Tanpa seizinmu." Ucap Azura lantang dan tajam sambil melihat Xander lalu mengarah pada Ara, Alvaro, dan lainnya.


"Azura, kumohon berikan kesempatan pada Andara." Tangis Ara sambil memohon.


"Memohon untuk seorang pengkhianat, Arabella Beryl?" Tanya Azura sadis.


"Dia anak kami Azura. Kau tidak akan mengerti." Sambung Alvaro. Azura tersenyum sinis.


"Kau pikir bagaimana masa laluku Alvaro? Dikhianti oleh begitu banyaknya orang yang kupercaya. Keluargaku. Hm?" Ucap Azura sinis.


Dia menatap para paman dan bibi yang selama ini dia percaya.


"Aku tidak yakin jika kalian tidak terlibat." Ucap Azura dingin.


"Aku benci pengkhianatan. Aku sendiri yang akan turun tangan untuk membasmi makhluk tak tau diri seperti kalian." Sambung Azura.


Sedangkan Xander hanya melihat. Dia sadar, dia belum pantas menjadi raja.


"Dan kau Xander. Tidak seharusnya kau lemah lembut kepada mereka walau mereka keluargamu. Inilah akibatnya." Lalu dalam sekejab Azura menghilang.


Semua hening, mereka masih syok dengan apa yang mereka lihat. Inikah sosok sang ratu demon terdahulu? Mengerikan.

__ADS_1


》》》》》


__ADS_2