The Last Queen

The Last Queen
TLQ #25


__ADS_3

Part 25


Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang bisa di bilang lumayan besar, dengan halaman yang luas dan di tumbuhi berbagai macam bunga. Benar benar terlihat sejuk, Paman Zack memerintahkan untuk menunggu dia keluar dari mobil dan menuju ke gerbang rumah itu.


"Maaf, aku Zack Hernandez, aku ingin menemui Claudia?" Ucap paman zack sopan, penjaga pintu itu menundukkan kepalanya.


"Anda dan yang lainnya di persilahkan masuk Tuan, Nyonya Claudia sudah menunggu kedatangan kalian." Paman zack hanya tersenyum, tak kaget. Claudia adalah fairy, dia bisa membaca masa depan sesuatu yang unik.


Paman zack kembali ke mobil, duduk dibalik kemudi, dan membawa masuk mobilnya ke dalam kawasan eumah elite itu.


Semua turun dari mobil, mereka menatap takjub sekeliling rumah, sungguh indah.


Mereka dipersilahkan masuk, Claudia memyambut mereka dengan hangat. Benar benar ramah,


"Halo Zack, apa kabar?" Tanya nya ramah, paman zack membalas tak kalah ramah.


"Hai Karin, kau semakin cantik saja." Mereka berpelukan dengan masing masing tersenyum.


"Kau juga Claudia." Claudia tersenyum,


"Aileen dan Alan? Waah kalian terlihat sangat cantik dan tampan." Claudia melihat ke arah tiga wanita yang tampang asing. Paman zack berdehem,


"Claudia, kenalkan ini, Valerie Blaire, Arabella, dan Abila." Claudia mengangguk anggukkan kepalanya dan tak lupa senyuman itu.


"Emm,, Abila? Aku seperti tak asing denganmu kau seperti.."


"Azura Salvador." Balas Aby dingin. Alan yang disebelahnya langsung menggenggam tangan Aby.


Claudia menutup mulutnya, lalu tersenyum lebar.


"Kemarilah, aku ingin memelukmu." Ucap nya haru, tak menyangka bisa bertemu dengan anak dari orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.


"Ohiya, mari silahkan duduk. Maafkan aku sampai lupa menyuruh kalian duduk." Ajak Claudia,


"Aku sudah menyuruh para pelayan untuk membersihkan beberapa kamar untuk kalian. Tunggulah sebentar setelah itu kalian bisa istirahat." Aby hanya diam, dia menahan sesuatu yang meledak ledak dalam dirinya.


Alan bisa melihat keganjalan Aby, dia menggenggam tangan Aby. Benar benar dingin, Alan seperti memegang bongkahan es.


"Apa kau baik baik saja." Tanya Alan khawatir yang melihat Aby sepertinya tak bisa menahan sesuatu itu lagi. Nafas Aby semakin memburu,


Semua yang di situ tak kalah panik dengan Alan, "Aby? Ada apa?" Claudia menampilkan raut cemas.


"Darah." Lirih Aby, rasanya seluruh tubuhnya sakit. Seperti ada perlawanan di setiap aliran darahnya. Caludia langsung memanggil salah satu pelayannya untuk segera mencari darah.


Aby terlihat semakin pucat, dan sangat dingin. "Apa tak ada yang dari kalian yang bisa memberinya darah?" Dengan cepat Ara menjawab,


"Tidak bisa nyonya, jika salah satu dari kami memberikan darah kami, itu akan semakin menyiksanya, dia butuh darah netral. Karena dalam tubuhnya ada tiga darah, dan itu sangat beresiko jika kita meminumkannya darah kami." Mereka semua cemas,


"Apa tak ada jalan lain?" Tanya Aileen cemas.


"Em.. bagaimana dengan mate?" Lanjut Aileen

__ADS_1


Ara menoleh ke arah Alan yang sibuk dengan Aby. " Aku tak tau, aku tak pernah tau soal itu, tapi mungkin bisa. Aku tak bisa ambil resiko." Claudia termenung, "Mungkin bisa, dan siapa matenya?" Semua menatap Alan,


"Alan." Ucap mereka bersamaan.


"Cobalah Alan, kau bisa?" Alan menatap Claudia dan Aby bergantian. Dia akhirnya mengangguk.


"Aby, minumlah darahku." Aby menatap Alan, bola matanya berubah ubah, ini salah satu konsekuensi jika dia memakai salah satu kekuatannya terlalu berlebihan maka dalam dirinya seperti di cabik cabik. Aby menggeleng,


"Tidak, itu akan membuatku hanya bisa meminum darah mu jika aku membutuhkannya."


"Tapi kau membutuhkannya, aku siap jika setiap saat harus memberimu darahku." Aby menatap Alan, mencari kebohongan tapi tak ada, Alan jujur. Akhirnya, dengan berat Aby menggigit Alan. Sungguh dia tak ingin ini, ini akan lebih sulit, dia dan Alan akan terikat dan dia tak akan bisa bebas meminum darah lain. Dan dia harus lebih berhati hati dalam mengambil langkah.


Saat di rasa cukup, dia menjauhkan mulutnya dari lengan Alan. Dia menyandarkan tubuhnya,


"Aku ingin istirahat, sendiri." Lirih Aby,


Claudia lalu membantu Aby berjalan dan membawanya ke kamar kosong.


"Istirahatlah, komplikasimu benar benar parah." Ucap Claudia, "Dan, setelah kau cukup beristirahat aku ingin berbincang dengamu." Senyum Claudia.


"Terimakasih." Aby berbaring lalu memejamkan matanya. Benar benar lelah.


Claudia keluar dan menutup pintunya.


>>>>


Tempat ini, tempat yang pernah ia datangi. Hanya saja ini sedikit berbeda, dia di  hadapkan dengan tiga pintu yang sangat besar. Sekelilingnya hanya putih, tak ada apa apa selain tiga pintu di depannya.


Aby semakin kebingungan setelah melihat sosok di dalam pintu itu. Tapi, salah satu dari mereka pernah Aby temui.


"Halo Azura, kita bertemu lagi." Ucap salah satu sosok yang pernah Aby temui, suara nya menggema. Dia seorang wanita dengan gaun putihnya yang indah dan rambut yang berwarna perak seperti Aby. Aby memalingkan tatapannya kearah pintu yang kiri.


Di sana terdapat seorang wanita juga, sama seperti sebelumnya, hanya saja wanita ini menggunakan gaun panjang berwarna merah dengan rambut gelombang coklatnya. Dia duduk dengan tangan dan kaki di rantai. Dia menatap Aby meremehkan.


Sedangkan di paling kanan Aby, dia melihat seorang wanita lagi, yang duduk dengan anggun dan angkuh. Dia menggunakan gaun hitam dengan rambutnya yang hitam legam. Wajahnya sangat bebanding terbalik dengan seorang wanita berbaju putih. Dia benar benar datar dengan tatapan tajam nan dingin. Dia sama seperti seorang yang bergaun merah, tangan dan kakinya di rantai.


"Siapa kalian?" Tanya Aby dengan tatapan menyelidik.


"Cih, naif sekali." Ucapan wanita bergaun merah terdengar mengejek, Aby menatap nya datar. Menyebalkan !!


"Apa apaan dengan tatapanmu ha?! Kau tak akan bisa mengalahkan tatapan mematikan dari wanita dingin di ujung sana." Tunjuknya malas. Sedangkan yang di tunjuk hanya melirik tajam.


"Diamlah, Vampire !!" Tegur wanita bergaun putih sangat elegan.


"Aku adalah penyihir, dia yang bergaun merah adalah vampire dan yang bergaun hitam adalah demon. Kami adalah kekuatanmu Azura, kami adalah dirimu. Kami tak punya nama, karena kami adalah kekuatan yang ada dalam darahmu. Kami menjelma menjadi manusia agar bisa lebih santai berbincang dengamu." Penjelasan yang singkat namun dapat Aby mengerti.


Jadi, mereka kekuatanku? Batin Aby, dia  mengangguk.


"Lalu,? Kenapa kau tak terantai seperti mereka?" Aby menunjuk dua wanita yang terantai.


"Karena kau sudah membebaskanku. Kau bisa mengendalikanku, hanya saja kau tak bisa menggunakan kekuatanku 100% karena mereka berdua." Ucapnya mendekat ke Aby, namun berhenti saat di ambang pintu.

__ADS_1


"Taklukkan mereka berdua, maka kami bisa bersatu membantumu." Ucap penyihir itu.


"Membantunya katamu !! Aku tidak sudi membantu makhluk lemah seperti dia." Ucap Vampire itu dengan sombong.


"Berhenti menyombongkan dirimu ! Kau berada jauh di bawahku!!" Ucap penyihir sedikit keras.


"Kau mungkin bisa mengalahkanku, tapi aku tak yakin jika kau sanggup mengalahkan wanita dingin itu." Ucap sang Vampire sambil melipat tangan di dada.


"Kau pasti bisa Azura, aku terkuat tapi kau bisa taklukkan aku." Sedangkan sang Vampire hanya melengos tak suka melihat sang Penyihir terus membela Azura.


"Baiklah, kurasa kita bisa lakukan sekarang?" Ucap Aby pada sang Vampire. Sedangkan sang vampire menatap Aby remeh dan mencemooh.


Aby masuk kedalam ruangan itu, dan berhadapan dengan sang Vampire. Dan pertempuran itu terjadi.


>>>>


Pagi sudah tiba, dan Aby belum juga bangun dari tidur tenangnya dari kemarin sore. Semua terlihat sedikit khawatir, tak terkecuali Alan. Wajah nya benar benar tidak bisa di bilang baik saat Aby tak bangun bangun. Hingga Claudia memeriksa Aby dan menyampaikan bahwa Aby baik baik saja, dia hanya tidur.


Akhirnya semua merasa lega, dan melakukan kegiatan masing masing. Kecuali Alan, dia dengan setia menunggu Aby bangun. Dia duduk di samping Aby dengan diam sambil memandangi wajah damai Aby. Sangat menyenangkan memandang wajah Aby.


Sedangkan di alam lain, Aby sedang berjuang melawan sang Vampire. Terlihat keduanya benar benar lelah. Aby memutar otaknya mencari cara untuk mengalahkan sang vampire ini. Melawannya tak semudah melawan sang Penyihir. Karena sang penyihir lebih punya perasaan dibanding sang vampire dihadapannya. Dia benar benar angkuh, lalu bagaimana dengan sang demon yang dingin?


"Apa kau tau kenapa kau bisa ada dalam diriku?" Tanya Aby di sela sela pertarungannya.


"Apa kau bodoh ?!! Karena darah kakekmu !!"


"Ya, apa kau tak berfikir kenapa hanya diriku yang mendapat darahnya? bahkan ibuku yang anak nya tidak mewarisi darahnya dan kekuatannya. Ibuku hanya mewarisi kekuatan penyihir, bukan vampire." Sang vampire itu menggeretakkan giginya.


"Karena itu takdir bodoh !!!" Teriaknya.


Aby berhenti menyerang dan hanya menghindar.


"Ya, takdir. Dan apa kau tak berfikir jika itu ada arti dan tujuannya?" Sang vampire terdiam. Dia berhenti menyerang, mereka saling tatap.


"Karena aku terpilih untuk menjadi penengah, penengah para kaum. Maka dari itu takdirku seperti ini. Tiga darah dari kaum terkuat. Apa kau tak berfikir sampai di situ, vampire?" Aby tersenyum remeh saat melihat sang vampire terdiam.


"Bodoh!!" Desis Aby tajam.


"Kalahkan aku, maka aku akan tunduk padamu."


Mereka kembali bertempur, dan Aby hanya bisa melawannya dengan kekuatan penyihirnya dan insting. Hingga akhirnya Aby mengucapkan mantra mematikan. Dan seketika membuat sang vampire bertekuk lutut.


"Aku...me..nye..rah." ucap sang vampire menahan rasa sakit yang menghujam tubuhnya bertubi tubi. Itu adalah salah satu mantra mematikan. Lalu Aby menggumamkan mantra, kemudian rasa sakit itu hilang.


Sang vampire berjalan ke arah Aby, lalu memegang tangan Aby.


"Aku menyerahkan seluruh kekuatanku padamu, Azura Salvador." Lalu rantai rantai itu terlepas, menghilang.


Tiba tiba, seluruh tubuh Aby perlahan berubah tak kasat mata.


"Sampai jumpa Azura, kau akan kembali untuk mengalahkan sang demon." Aby melihat sang penyihir lalu beralih ke arah sang demon. Tatapannya masih seperti diawal, tajam dan dingin.

__ADS_1


》》》》》


__ADS_2