The Last Queen

The Last Queen
TLQ #26


__ADS_3

Part 26


Alan masih terus menunggu di samping Aby dengan setia. Perlahan kelopak mata Aby terbuka, menampilkan bola mata nya berwarna merah. Namun berubah kembali menjadi abu abu biru seperti semula.


"Kau sudah bangun?" Aby menoleh ke asal suara, di sana ada Alan duduk dengan tenang. Aby duduk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Kau, menungguku?" Alan berdehem,


"Bersiaplah, aku menunggu di luar. Dan, Bibi Claudia telah menunggu. Dia ingin membicarakan sesuatu denganmu." Alan berdiri dan keluar dari kamar Aby tanpa menunggu balasan dari Aby. Aby menghela nafas, memejankan mata.


Lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang? Batin Aby.


>>>>>


Paman Zack dan bibi Karin sedang berjalan jalan kehutan sekaligus berburu. Sedangkan, Aileen sedang bersama dengan bibi Claudia melihat tanaman tanaman. Ara berada di halaman belakang memperlihatkan Aileen dan bibi Claudia. Valerie? Dia duduk melihat siaran tv dengan tenang.


Alan berjalan turun, menuju halaman belakang.


Ara menoleh dan mendapati Alan yang berdiri di sebelahnya.


"Aby sudah bangun?" Alan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ara.


"Aku tak menyangka Aby sudah mendapatkan mate nya. Terlebih sifat kalian sama." Ara terkekeh. Sedangkan Alan, hanya mendengar dengan raut datar.


"Aku tau kalian pasti masih menganggap aku jahat. Itu wajar, karena pertemuan pertama kita. Aku benar benar menyesal. Aku bodoh, karena tak bisa melawan ayah ibuku." Ara tersenyum miris pada dirinya sendiri.


Alan tersenyum tipis, sangat tipis.


"Kuharap kau tak mengulanginya. Karena jika kau mengulangi lagi, maka akan kupastikan kau mati di tanganku." Desis Alan di akhir kata kata nya. Ancaman untuk Ara. Ara hanya tersenyum maklum, walau bagaimana pun keluarga Hernandez tidak bisa diremehkan walau mereka kaum werewolf.


Aby keluar dari kamar setelah membersihkan dirinya. Sekarang dia merasa lebih baik. Rasanya tubuh nya sedikit lebih teraliri energi lebih. Tinggal satu, ya, sang demon.


Aby turun dari tangga, dan mendapati Valerie sedang asik menonton.


"Dimana yang lain?" Vale menoleh ke arah asal suara.


"Kau sudah bangun rupanya. Mereka di taman belakang." Ucap Vale acuh. Aby berjalan menuju halaman belakang. Dia melihat Ara dan Alan duduk di taman, sedangkan Aileen dan bibi Claudia sedang melihat lihat tanaman.

__ADS_1


Aby menatap Alan datar, ada rasa tidak suka saat melihat Alan bersama dengan Ara. Walau dia melihat jarak mereka duduk sangan lebar.


Alan mencium aroma yang familiar, Alan menoleh dan mendapati Aby dengan wajah datarnya.


"Kemarilah." Ajak Alan, dia berdiri menuju Aby.


Ara pun menoleh, dia tersenyum ke arah Aby.


"Hai Aby, apa kau sudah lebih baik?" Aby mengangguk, "Ya, seperti yang kau lihat." Ara berdiri, "Baguslah, em.. aku akan masuk, kalian duduklah." Ara pergi berlalu dan masuk kedalam rumah. Aby mendudukkan dirinya, begitupun Alan.


Bibi Claudia dan Aileen berjalan menuju arah Aby dan Alan. Saat sampai, bibi Claudia tersenyum hangat. Mau tak mau Aby membalas dengan senyum tipis.


"Kau sudah lebih baik?" Aby mengangguk. Aileen tersenyum lebar,


"Waahh, akhirnya kau sudah baik baik saja. Aku bahagia sekali." Senyum lebar Aileen membuat Aby terkekeh pelan. Dan itu tak terlewatkan oleh Alan dan Aileen.


"Em, bisa ku pinjam Aby nya?" Tanya bibi Claudia kepada Alan, Alan hanya mengangguk canggung. Akhirnya Aby dan bibi Claudia pergi meninggalkan Alan dan Aileen.


"Kau pasti bahagia ya kak." Aileen tersenyum.


"Tapi kau tak akan melupakanku kan setelah bertemu matemu?" Alan tertawa, adiknya itu benar benar lucu.


"Kau adik tersayangku Aileen, aku tak akan melupakanmu." Aileen tersenyum lebar.


>>>>


Aby dan bibi Claudia berada di sebuah ruangan. Bibi Claudia mempersilahkan Aby duduk.


"Apa kau ingin minum sesuatu?" Aby menatap bibi Caludia, lalu menggeleng.


"Ada apa?" Tanya Aby to the point,


Bibi Claudia terkekeh,


"Ehem, aku ingin membicarakan tentang yang kemarin kau alami. Bisa kau ceritakan detailnya?" Aby menghela nafas,


"Tiga kekuatan tak mungkin bisa ku taklukkan secara bersamaan." Bibi Caludia menghela nafas, jawaban Aby memang benar benar singkat.

__ADS_1


"Boleh ku tahu apa kau sudah menaklukkan mereka?" Aby memejamkan mata.


"Dua, Penyihir dan Vampire." Bibi Claudia menganggukkan kepalanya,


"Jadi sisa sang demon ya." Aby hanya menampilkan raut wajah datar,


"Sepertinya kita harus cepat menemui Erlyn, sebelum semuanya terlambat." Senyum bibi Claudia tulus.


>>>>>


Malam pun tiba, Aby berada di sebuah kamar. Sendiri. Dia berdiri tepat di depan jendela besar di kamar itu. Menatap halaman luar yang hanya di terangi cahaya bulan. Termenung, memikirkan segalanya. Dan memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sudah sejauh ini, dan sudah sebanyak ini dia melibatkan orang lain. Terlebih lagi, kenapa harus sekarang dia bertemu matenya. Rasanya Aby benar benar salah langkah. Ingin menghilang dan membuat rencana baru, tapi itu mustahil karena sudah sejauh ini dia tempuh. Pikirannya melayang, dia mengingat Rezqiano dan Blinda. Aby benar benar merasa bersalah.


Dia sengaja menghindar dari mereka, bermaksud untuk melaluinya sendiri. Tapi tiba tiba dalam dirinya seperti ada yang mengingat tentang catatan dari ibunya yang dia dapat dari Mr. Robert. Hingga membuatnya di sini. Jika tau seperti ini, dia akan membawa saja Qiano dan Blinda. Tapi itu akan menambah resiko.


Merasa tidak menemukan jalan terbaik, Aby memejamkan matanya dan menghela nafas perlahan. Dia kembali membuka matanya. Sedetik kemudian dia melompat turun dari jendela. Dan mendarat dengan sempurna, lalu menghilang.


>>>>>


Dia melihat itu, dia melihat bagaimana matenya berdiri termenung dengan wajah nya yang menggambarkan betapa banyak beban yang dia sembunyikan. Ingin rasanya dia berlari menuju sang mate lalu memeluknya dan mendengar semua keluh kesahnya.


Tapi semua itu dia tahan. Tidak bisa, dia tahu sangat tahu jika matenya belum bisa menerimanya. Bukan karena tak suka, tapi dia yakin ada banyak pertimbangan. Matenya bukan makhluk biasa, yang mempunyai permasalahan hidup biasa. Matenya orang yang seharusnya paling disegani di seluruh seantero dunia immortal karena kedudukannya sebagai putri sang demon.


Tapi karena sebuah kejadian di masa lalu, matenya harus menanggung beban yang tak biasa. Dia terus menatap matenya hingga matenya itu turun lalu menghilang. Dia hanya bisa menghela nafas, dia mengikuti matenya dengan jarak yang lumayan jauh. Walau matenya bukan makhluk lemah, tapi tetap saja dia tak bisa lengah untuk melindungi matenya itu.


>>>>>


Aby sampai di tempat dimana, dia rasa bisa melampiaskan segalanya. Dia berada di sebuah bukit luas, hanya ada pepohonan di bagian belakangnya. Aby berdiri menatap jelas langit malam yang cerah, Tapi tak secerah hatinya. Walau sekuat apapun Aby menahan dan memendam apa yang dirasakannya selama ini. Dia tetap merasa lelah dan berada di titik terendah hidupnya. Wajahnya memang datar, tapi tidak dengan hatinya yang bergejolak menahan amarah, lelah, benci, sedih bercampur menjadi satu.


Dan menimbulkan rasa sesak yang mendalam di dadanya. Tanpa sadar, wajah datar itu meneteskan air mata. Tak tahan dengan rasa sesak itu, Aby memukul dadanya pelan. Dan air mata itu bertambah deras. Akhirnya, di sinilah Aby, menyerah dengan rasa sesak yang mendera dadanya. Membiarkan untuk kali ini dirinya melampiaskan dan mengeluarkan semua rasa sesak selama ini. Aby menangis sejadi jadinya, kakinya seolah olah tak mampu menahan berat badannya.


Aby terduduk dengan keadaan hancur. Airmata yang tak pernah mengalir, kali mengalir dengan derasnya. Tak ada wajah datar, hanya ada wajah yang benar benar sedih. Seakan mengerti keadaan Aby, alam pun perlahan tak secerah tadi. Awan awan bergerak menutup cerahnya langit malam. Angin angin bertiup dengan kencang, seperti ikut menangis. Seketika alam seperti dilanda badai. Aby menunduk menopang tubuhnya dengan tangannya.


Namun seketika Aby mendongakkan wajahnya saat tangan seseorang menyentuh pundaknya. Wajahnya sendu, tatapannya penuh dengan luka. Tangan itu menangkup wajah Aby, menghapus airmata Aby walau itu sia sia. Pelan, dia menarik Aby kedalam pelukannya.


"Jangan seperti ini, kumohon. Kau bisa menceritakan semua padaku agar mengurangi beban dihatimu. Jangan siksa dirimu. Dan juga diriku." Bisiknya lembut.


》》》》》

__ADS_1


__ADS_2