
Part 27
Matahari sudah berada hampir di atas kepala. Mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Aby meminta tolong kepada bibi Claudia agar mengumpulkan mereka semua. Semua masih saling lihat dengan tatapan bingung. Sedangkan Aby yang menjadi alasan utama mereka di sini masih dengan tatapan kosong dan wajah datarnya.
Aby mengerjapkan matanya, lalu menatap satu persatu yang ada di ruangan itu. Dia bergerak, mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan beberapa nama.
"Aku akan menjelaskan tujuan dan alasanku sekaligus. Dan aku ingin tak ada yang memotong pembicaraanku hingga selesai." Semua memasang wajah serius saat Aby selesai berbicara.
"Beritahu aku tempat seseorang bernama Erlyn yang dimaksud dalam kertas ini. Aku akan kesana sendiri, dan kalian, datangilah Diandra dan Artur. Aku akan menyusul dan bertemu kalian di kediaman Artur. Tak ada bantahan, aku tak punya waktu banyak untuk bermain main lebih lama dengan kalian." Ucap Aby penuh penekanan.
Bibi Claudia menghela nafas, sebelum bibi Claudia mengeluarkan suara, Valerie sudah lebih dulu.
"Itu sangat beresiko, kau buronan. Dan kami disini ada untuk melindungimu. Lalu membiarkanmu sendiri ?" Ucap Vale mengejek. Aby mengangkat sebelah alisnya menatap Vale.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri, dan itu sudah terbukti selama hampir 9 tahun ini. Dan jika kita tidak membagi tugas seperti ini, itu akan menghambat langkah yang sudah ku atur. Dan aku tak punya banyak waktu." Aby menatap Vale tajam, bibi Claudia berdehem.
"Erlyn adalah demon, tapi dia tidak tinggal di wilayah demon. Dia tinggal di daerah terpencil yang tak pernah di datangi siapapun. Tempat itu di bagian Utara." Aby mengangguk,
"Aku akan berangkat setelah ini." Aby melipat kertas itu lalu menyimpannya.
"Kami tau kau tak akan mau jika kami ikut denganmu. Tapi, biarkan Alan, matemu yang menemanimu." Ucap Aileen mewakili perasaan kakaknya, sungguh adik yang peka.
Semua menatap Alan yang masih saja diam, walau matanya tak bisa berbohong jika dia sangat ingin menemani matenya itu. Semua memohon agar Alan bisa menemaninya, Aby menghela nafas.
"Baiklah, cukup Alan. Tidak ada tambahan." Semua mengangguk, Aby berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk mempersiapkan keberangkatannya.
>>>>>
Aby dan Alan sudah bersiap siap. Mereka mengantar Aby dan Alan hingga di depan rumah bibi Claudia. Setelah berpelukan singkat, mereka membiarkan Aby dan Alan masuk kedalam mobil. Alan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju arah Utara.
Sedangkan Aby masih fokus menatap peta yang tadi di berikan oleh bibi Claudia. Arah Utara, tempat terpencil? Aby mengernyit bingung, pasalnya di dalam peta tersebut hanya ada kota kota yang terkenal di Utara. Lalu dimana tempat terpencil itu. Alan menoleh kearah Aby,
"Ada apa?" Aby menghela nafas, dia bersandar dan memejamkan mata,
__ADS_1
"Aku tak menemukan tempat terpencil itu didalam peta ini." Alan mengangguk, sambil menyetir dia sedikit berpikir.
"Ikuti saja kata hatimu, aku yakin kau dengannya memiliki ikatan batin. Sama seperti kau menemukan ayahku." Aby membuka matanya, dia mencerna perkataan Alan.
Benar juga, pertama kali menemukan paman Zack, Aby hanya berjalan mengikuti kata hatinya tanpa tujuan yang pasti.
"Terimakasih." Ucap Aby pelan.
Mereka sudah sampai di kota pertama di utara. Matahari pun sudah hendak tenggelam, perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari penginapan.
Aby duduk di bangku loby penginapan, sedangkan Alan sedang memesan kamar. Tak lama, Alan kembali dengan membawa kunci kamar.
"Maaf, kamar disini hanya satu yang kosong." Aby mendongak melihat Alan. Dia mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju kamar tersebut.
Aby tidak mempermasalahkan tentang mereka yang satu kamar. Toh dia mempunyai fisik vampire, jadi dia tak butuh tidur. Lagipula, tak ada salahnya lebih dekat dengan Alan. Diakan mate nya.
Mereka masuk kedalam kamar. Aby langsung duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Kau tidurlah di kasur, aku disini. Lagipula aku tidak tidur, tidak seperti dirimu yang seorang werewolf." Ucap Aby tanpa melihat Alan, dia sibuk membuka peta lagi.
"Coba kau perhatikan lebih detail dalam peta ini." Alan mengalihkan tatapannya ke arah peta.
"Kota kota di utara tak sama dengan kota kota di selatan. Jika di selatan kota kota itu hanya dipisahkan oleh garis. Sedangkan di utara, mereka sedikit berjarak." Alan menjelaskan dan menunjuk di peta.
"Dan, kau bisa menebak dimana sekiranya tempat terpencil itu. Tak ada seorang pun kesana, tak ada akses kesana." Aby meneliti tempat tempat itu. Sedangkan Alan hanya menatap Aby dalam diam.
"Apa mungkin disini?." Tanya Aby menunjuk sebuah tempat yang jauh dari kota manapun dan tak ada jalan menuju kesana. Merasa tak ada jawaban dari Alan, Aby menoleh dan mendapatkan Alan sedang menatapnya dengan serius. Tatapan mereka saling beradu,
"Apa kau menganggapku matemu?" Tanya Alan dengan wajah serius.
"Menurutmu?" Aby menaikkan alis kanannya sedikit. "Apa aku bisa menolak takdir yang sudah ditetapkan?" Lanjut Aby. Alan menghela nafas, sedetik kemudian Alan tersenyum menampilkan sederet giginya yang rapi. Tanpa Alan sadari, Aby tertegun melihat senyum itu. Sungguh demi apapun, Aby jatuh dalam pesona seorang Alan.
Tanpa di aba aba, Alan menarik Aby kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Secara tidak langsung kau mengatakan bahwa kau menerimaku bukan?" Aby masih membeku dalam posisi di dekapan Alan. Tanpa menjawab, tangan Aby bergerak membalas pelukan Alan. Sambil tersenyum, Aby berkata
"Ya, aku menerimamu sebagai mateku." Alan semakin mengeratkan pelukannya, dan tak henti hentinya dia mengecup puncak kepala Aby.
Aby memejamkan mata dan menikmati aroma tubuh Alan yang menenangkan. Untuk kali ini, Aby ingin melepas semua bebannya. Entahlah, dia merasa nyaman, tenang, dan aman. Apakah ini rasanya bahagia?
>>>>>
Pagi pagi Alan dan Aby sudah siap menuju tempat yang mereka bahas tadi malam. Alan menitipkan mobilnya di tempat penginapan. Mereka berjalan berdua menyusuri hutan hutan. Bagi penduduk disana tak aneh jika melihat seseorang berkeliaran di hutan. Tentu, mereka makhluk immortal bukan manusia biasa.
Alan dan Aby terus berjalan, dengan sesekali Alan melihat peta. Aby hanya terus berjalan tanpa memperdulikan peta.
"Apa kau yakin jalannya kearah situ?" Tanya Alan, menyusul jejak Aby. Aby hanya berdehem menjawab pertanyaan Alan. Kemudian Aby berhenti, dia menoleh kearah Alan.
"Berhenti melihat peta, percaya saja padaku." Alan pun mengangguk mengiyakan, mereka pun berjalan berdampingan. Hingga akhirnya Aby berhenti di tengah tengah hutan. Salju perlahan lahan mulai turun.
Udara dingin pun mulai merasuk kedalam tubuh. Saat Alan hendak membuka jaketnya untuk diberikan pada Aby, Aby mencegahnya.
"Kau lebih membutuhkan, fisikku vampire jika kau lupa." Ucap Aby,
"Tapi darahmu, darah penyihir dan demon." Aby menoleh kearah Alan,
"Ya, itu tidak mempengaruhi. Intinya fisik vampireku kebal dengan udara dingin." Kemudian Aby menuju ke salah satu pohon, dia memejamkan matanya. Setelah selesai, Aby membuka matanya. Salju semakin lebat.
"Apa yang kau lakukan?" Aby menoleh,
"Melihat lebih jauh yang ada di sana. Dan kurasa kita semakin dekat." Ucap Aby lalu jalan terlebih dahulu.
Mereka terus berjalan, hingga mereka menemukan sebuah rumah di tengah tengah hutan tanpa jalan itu. Aby menoleh ke arah Alan, lalu kembali melihat depan. Alan berjalan dan berdiri di samping Aby. Tanpa berkata, Aby berjalan menuju rumah tersebut. Dia mengetuk tanpa ragu. Menunggu sedikit lama, dan pintu pun terbuka. Seorang wanita dengan seluruh tubuhnya ditutupi dengan jubah hitam. Hanya terlihat setengah hidung hingga mulutnya.
"Akhirnya kau datang, aku sudah menunggumu sangat lama." Ucap wanita itu,
Sedangkan Aby dan Alan hanya saling pandang.
__ADS_1
》》》》》