The Last Queen

The Last Queen
TLQ #30


__ADS_3

Part 30


Theo, salah satu orang kepercayaan Zidan. Memanggil Aby dan membungkuk hormat.


"Tuan Putri. Izinkan kami ikut dengan anda sebagai bukti kesetiaan kami." Aby menoleh pada Theo. Menatap datar.


"Baiklah. Aku akan memberikan tanda pengikat kalian. Tanda itu akan secara otomatis menyeleksi diri kalian. Jika diantara kalian yang tidak tulus, maka itu akan menyakitkan bagi kalian hingga kalian merenggang nyawa." Jelas Aby dingin. Sebagian dari mereka terbelalak kaget. Ingin kabur namun tetlambat. Perlahan dari tubuh Aby keluar kabut abu abu tipis menuju pasukan elit demon. Mengelilingi mereka. Seketika teriakan terdengar sahut menyahut didalam kabut tipis itu tanpa ada yang tahu apa yang terjadi kecuali Aby sendiri. Aby dengan wujud demonnya tersenyum sinis. Matanya berubah ubah, hijau, merah, hitam, dan biru hijau.


Saat teriakan teriakan itu reda, kabut tipis itu perlahan menghilang. Menyisakkan beberapa anggota elit itu masih ada yang menunduk dengan keadaan baik baik saja. Dan ada pula yang sudah tak bernyawa dengan luka bakar di sekujur tubuh. Semua yang melihat itu sedikit syok. Betapa kejamnya sosok demon Aby. Perlahan wujud Aby berubah seperti semula, dengan rambut perak dan mata biru hijaunya. Dia menatap semua orang yang ada disana tajam.


"Aku persilahkan pada kalian semua. Jika ada yang ingin kembali dan tidak mengikutiku lagi. Aku izinkan." Ucap Aby dingin dan tajam.


Semua tidak berkutik, aura yang Aby pancarkan sangatlah mengintimidasi. Hingga ingin melirik saja tidak sanggup.


"Diamnya kalian kuanggap semua mau mengikutiku." Aby berbalik dan berjalan terlebih dahulu. Di ikuti yang lain.


>>>>


Mereka semua berdiri menatap bingung hamparan hutan di depan mereka. Aby berjalan didepan di dampingi Alan dan yang lain. Saat hendak memasuki hutan, terlihat dua bayangan yang satu seorang wanita dan satunya seorang lelaki.


"Aku tak menyangka kau pulang dengan membawa pasukan." Ucap sang lelaki terkekeh. Sedangkan wanita disebelahnya tersenyum senang dan langsung berhambur memeluk Aby.


"Aku merindukanmu." Aby balas memeluk.


"Sudahlah Blinda. Biarkan kita sampai di dalam dulu." Ucap Qiano berwibawa. Tanpa dia sadari, Aileen sedari tadi hanya diam menatap Qiano syok.


Mate,? Batin Aileen.


"Mate." Lirih Aileen yang sanggup di dengar oleh keluarga nya dan Aby. Aby menoleh menatap Aileen bertanya.


"Dia. Mate." Ucap Aileen pelan masih dengan menatap Qiano. Sedangkan Qiano menegang menatap Aileen.


"Oh. Aileen. Dia mate mu,?" Ucap bibi Claudia. Sedangkan orang tua Aileen masih sama kagetnya dengan Aileen.


"Siapa namamu,?" Tanya bibi Clau pada Qiano.


"Rezqiano." Jawab Qiano datar. Bibi Claudia tersenyum.


"Baiklah. Bisa kita masuk ke kediamanmu dan membahas ini,?" Qiano mengangguk dan berjalan memimpin jalan.


Saat sampai di kediaman Qiano yang ternyata terdapat bangunan megah dengan pemandangan yang indah. Mereka semua berkumpul di ruangan yang lumayan besar.


"Jadi, benarkah dia mate mu Aileen,?" Tanya Paman Zack selaku ayah Aileen. Aileen mengangguk sambil menundukkan kepala. Wajah qiano memang tidak diragukan lagi. Dan sedari tadi qiano terus menatap Aileen tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun.


"Baiklah. Aku hanya bisa merestui kalian." Ucap paman Zack. Alan menatap tajam paman Zack.


"Dad,!! Kita tidak tau dia orang seperti apa,?!" Ucap Alan tajam. Aby melirik kearah Qiano dan Alan.


"Dia baik." Alan menoleh menatap Aby. Aby berdiri, menatap Alan.


"Percayalah. Dia orang yang sangat baik." Aby menatap semua orang.

__ADS_1


"Istirahatlah kalian. Hari esok akan lebih berat. Mungkin. Terutama hatimu, Blinda. Jangan berpikir untuk melakukan hal hal yang aneh." Blinda menipiskan bibirnya. Terpaksa tersenyum, lalu berdiri dan berlalu keluar dari ruangan. Setelah mengucapkan itu, Aby melihat Alan. Alan menghela nafas, berdiri lalu menggenggam tangan Aby dan berlalu bersama keluar ruangan.


Semua orang mengernyit bingung dengan ucapan Aby. Ada apa dengan Blinda,? Qiano lalu berdiri, menatap semuanya.


"Para pelayan akan mengantarkan kalian pada kamar yang sudah disiapkan. Permisi." Ucap Qiano menatap Aileen sebentar lalu pergi. Aileen menghela nafas. Entahlah, perasaannya mengatakan bahwa jalannya ini akan sedikit rumit,? Atau bahkan sangat rumit,? Entahlah.


>>>>>>


"Kau tidak apa apa jika kita sekamar lagi,?" Tanya Alan sambil menatap Aby yang berdiri disampingnya.


Aby menatap Alan, berkedip beberapa kali melepaskan topeng wajah datar dan dinginnya. Dia tersenyum.


"Justru aku akan kenapa kenapa jika jauh darimu." Aby mendekat kearah Alan, memeluknya dalam diam. Alan tersenyum, dia balas memeluk Aby. Nyaman. Alan bahagia Aby benar benar menerimanya. Hanya jika bersama Alan, Aby tidak menampakkan wajah datar dan dinginnya. Dia benar benar sangat berekspresi sesuai apa yang dia rasakan.


"Mereka akan saling menyakiti." Ucap Aby setelah melepas pelukannya. Alan menatap Aby bertanya.


"Kau tidak tau,?" Aby menghela nafas.


"Kau akan tau, nanti. Aku ingin istirahat." Aby berbalik dan masuk kedalam meninggalkan Alan di balkon kamar. Alan hanya mengernyit bingung dengan ucapan Aby.


Sedangkan diruangan lain, Blinda menatap langit yang terang dihiasi bintang dan bulan dengan nanar. Dia tersenyum miris. Menghela nafas. Menutup tirai jendela dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.


>>>>


Aileen memandang langit kamarnya datar. Dia takut. Takut apa yang dia pikirkan sedari tadi benar kenyataan. Jika memang benar dia mungkin tidak akan sanggup untuk tetap hidup. Terus terus memikirkan hal itu, Aileen menyerah dia menutup matanya dan memaksa diri untuk terjun dalam alam mimpi.


Ditempat lain suara dentingan pedang terdengar nyaring didalam ruangan yang lumayan besar itu. Yang dilengkapi semua alat bertarung. Qiano dengan gesit menggerakkan badan dan anggota tubuhnya yang lain untuk menghindar serangan ganas anak buahnya yang dia ajak berduel. Anak buahnya berhenti menyerang. Mengaku lelah melawan Qiano yang tak lelah lelah. Qiano menghela nafasnya. Melempar pedang nya dengan kasar. Membuat anak buahnya gemetar. Dia menatap tajam sebentar lalu pergi keluar dengan membanting pintu ruangan dengan keras.


>>>>


"Aby, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang,?" Tanya paman Zack.


"Persiapan." Jawab Aby datar.


"Setelah takluknya pasukan elite demon. Apa paman pikir raja demon itu akan tetap diam,?" Tanya Aby menatap paman Zack datar.


"Yang pasti dia akan lebih serius lagi. Hanya saja dia menunggu diriku siap untuk perang yang sesungguhnya." Lanjut Aby. Aby menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Maka dari itu, mulai sekarang aku akan serius mencari sekutuku. Yah, walau sepertinya sulit jika tidak dengan paksaan." Aby mengedikkan bahunya.


Dia menatap Qiano.


"Dan Qiano, aku harap pasukan yang kubawa bisa bergabung bersama pasukanmu." Ucap Aby datar, Qiano hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kurasa kita bisa membahas lebih lanjut di ruangan lain. Tidak disini." Lanjut Aby lalu berdiri. Berjalan keluar ruangan.


"Dia benar benar mewarisi sifat pemimpin ayahnya." Ucap Erlyn santai.


"Yaa. Mau bagaimana pun dia adalah anaknya." Sambung Diandra.


"Adora pasti bangga melihat anaknya tumbuh menjadi wanita kuat seperti Aby." Ucap Claudia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi tak kusangka, dibalik semua ini Mr. Robert adalah pengkhianat. Bagaimana reaksi Roye dan Rose jika mereka masih hidup,?" Arthur berucap sambil memandang satu persatu orang didalam ruangan itu.


"Pasti ada alasan dibalik sifat Mr. Robert." Jawab Ara. Vale memutar bola matanya kesal. Entahlah, dia tidak pernah suka dengan Ara.


"Seperti sifatmu yang sekarang. Pasti ada sesuatu." Ucap Vale sinis. Semua menghela nafas. Pasti saja, jika sudah berhubungan Vale dan Ara akan beradu mulut lagi.


"Sudahlah. Lebih baik kita menyusul Aby. Mungkin dia mau membahas sesuatu." Ucap paman Zack lalu berdiri dan pergi keluar ruangan diikuti yang lainnya. Kecuali, Blinda, Qiano, dan Aileen.


"Qiano, apa kau belum menerima bahwa aku adalah mate mu,?" Tanya Aileen pelan tanpa melihat Qiano. Blinda yang duduk disebalah Qiano meremas pakaiannya. Dia ingin pergi dari ruangan itu, tapi rasanya berat.


Qiano melihat Aileen, Qiano akui Aileen mempunyai wajah yang rupawan.


"Entahlah." Jawab Qiano datar. Lalu berdiri dan pergi dari hadapan dua wanita itu.


Aileen meringis mendengar jawaban Qiano. Bagi werewolf seperti dia, mendapat jawaban seperti itu dari matenya rasanya benar benar sakit. Blinda hendak pergi, namun suara Aileen menghentikan Blinda.


"Aku tahu." Ucap Aileen.


"Aku sangat tahu. Qiano hanya mencintaimu." Blinda berbalik melihat Aileen yang hanya menundukkan kepalanya.


"Tidak." Ucap Blinda pelan. Aileen mendongak kelihat Blinda. Matanya merah menahan tangis.


"Ya, terlihat jelas dia mencintaimu. Namun dia tidak ingin menyakitimu dengan memberitahumu perasaannya. Karena dia terikat denganku." Blinda benar benar tidak bisa menahan airmatanya. Begitu pula Aileen.


"Dan aku tahu, kau juga mencintainya. Tapi kau tidak bisa. Semua karena aku. Bisakah kau menolongku,? Kau tahu jika werewolf tidak bisa hidup jika dia ditolak matenya bukan,? Aku meminta tolong dengan sangat. Biarkan Qiano bersamaku. Kau juga wanita Blinda, kau pasti mengerti perasaanku." Jelas Aileen panjang lebar. Sungguh Aileen tidak tega mengatakan hal itu pada Blinda.


Hanya saja, dia harus. Jika tidak, dia akan kehilangan matenya, belahan jiwanya. Dan Aileen tidak mau itu. Tidak apa untuk sekali ini dia egois kan,?


Blinda yang mendengar itu terisak tanpa mengeluarkan suara. Sakit. Benar benar sakit. Haruskah seperti ini,? Blinda menghapus airmatanya menatap Aileen dalam.


"Baiklah. Aku mengerti." Jawab Blinda lalu berbalik dan pergi dengan cepat. Aileen menghela nafas. Dia harus bisa egois. Harus. Dia menghapus airmatanya, lalu berjalan keluar.


>>>>>


Hari pun telah sore, setelah mereka membahas semuanya mereka langsung mengerjakan bagian masing masing. Namun Qiano tidak menemukan Blinda sedari tadi.


"Mencari Blinda,?" Tanya Aby saat melihat Qiano terlihat cemas. Qiano menoleh melihat Aby.


"Ya, aku tidak melihatnya dari pagi. Aku tidak tau dia kemana. Dia tidak pernah pergi selama ini." Qiano benar benar cemas. Aby menepuk bahu Qiano.


"Ada matemu. Aku akan mencari Blinda untukmu." Ucap Aby. Qiano hanya memandang Aileen datar. Tidak bisa. Qiano tidak bisa menerima Aileen. Qiano berjalan menuju Aileen. Tepat disamping Aileen dia berhenti. Tanpa menoleh, dia berkata.


"Aku tidak bisa Aileen. Dan karenamu, Blinda pergi entah kemana. Aku berharap, ini adalah kesalahan jika aku matemu." Lalu Qiano pergi begitu saja meninggalkan Aileen membeku. Bahkan Qiano tidak melihatnya sama sekali. Airmata menetes begitu saja. Sesakit inikah,? Aileen lalu berbalik dan berlari. Dia butuh kakaknya.


Tanpa permisi, Aileen masuk kedalam kamar kakaknya. Sedangkan Alan yang tengah berkomunikasi dengan Beta nya. Kaget karena Aileen memeluknya sambil menangis tersedu sedu. Alan memeluk adiknya sambil mengelus kepalanya.


"Tenanglah. Ada apa,?" Tanya Alan lembut. Sedangkan Aileen hanya menangis.


"Dia menolakku." Ucap Aileen serak. Alan berhenti mengelus rambut Aileen. Dia syok.


》》》》》

__ADS_1


__ADS_2