
Part 32
Tidak. Airmata mengalir dari kedua mata Aby. Tidak mungkin. Didepannya, Alan menjadi tamengnya. Ya, pedang raja Amon tidak melesat sama sekali. Bahkan pedang itu mengenai tepat di jantung Alan. Alan melihat Aby, tangannya terulur menghapus airmata Aby.
"Tetaplah hidup Abila. Selesaikan semuanya." Ucap Alan lirih. Raja Amon langsung menarik pedangnya kembali. Alan langsung terjatuh tepat dipangkuan Aby.
"Tidak. Alan,!! Kau tidak boleh mati. Bertahanlah. Aku akan membawamu ke bibi Clau. Bertahanlah." Ucap Aby sambil memegang luka Alan dan mengucapkan mantra penyembuhan. Alan menggeleng,
"Tidak bisa Aby. Pedang itu tepat mengenai jantungku." Aby menangis dengan keras.
Tangan Alan terulur dengan gemetar, menghapus jejak airmata di pipi Aby. Yang membuat wajah Aby terdapat bercak darah. Paman Zack, bibi Karin, Claudia, Erlyn dan yang lainnya berkumpul. Peperangan terhenti sebentar, raja demon berteriak bangga karena merasa menang.
Alan tersenyum,
"Berjanjilah Aby. Kau akan terus bahagia." Pinta Alan lirih. Aby tidak sanggup untuk berkata kata. Hanya airmata yang terus mengalir deras di pipi Aby.
"Kumohon. Jangan tinggalkan aku. Kumohon." Lirih Aby sambil menggenggam tangan Alan erat. Namun, genggaman tangan Alan mengendur dan perlahan mata Alan tertutup.
"Tidak. Tidak Alan. Kumohon tetaplah hidup. Kumohon." Ucap Aby semakin pelan. Memeluk Alan erat sambil membisikkan permohonan. Namun semua sia sia. Alan telah tiada. Paman Zack dan bibi Karin dan lainnya juga meneteskan air matanya.
"Hahahahahahaha. Sungguh kelompok yang manis." Tawa raja Amon menggelegar. Membuat Aby berhenti menangis seketika. Mengangkat wajahnya menatap raja Amon dingin dan tajam. Membaringkan jasad Alan dengan pelan lalu berdiri. Mata Aby berubah menjadi hitam dengan pupil mata berwarna merah dan hijau. Bahkan langit pun mendadak gelap, seakan badai akan datang.
"Bersiaplah. Jemput kematianmu." Ucap Aby dingin. Lalu secepat kilat Aby sudah berada dibelakang raja Amon. Dan menghunuskan pedangnya tepat di perut raja Amon. Raja Amon teriak merasakan sakit. Aby kembali mencabut pedangnya lalu mengucapkan mantra yang membuat raja Amon terpental jauh. Lalu Aby melesat kearah raja Amon, tanpa menunggu raja Amon berdiri Aby kembali menyerang raja Amon. Begitu seterusnya, dan raja Amon sadar lukanya tidak bisa sembuh. Dia melihat pedang yang Aby gunakan. Sial. Pedang itu dirancang khusus untuk membunuh makhluk imortal dari bangsa apapun.
Raja Amon hendak berlari dan menyerang Aby, namun dia tidak bisa bergerak. Blood controller. Raja Amon mencoba melawan namun sia sia. Kekuatannya terkuras habis karena tidak bisa menyembuhkan lukanya yang cukup dalam di beberapa bagian. Darah keluar dari mulut raja Amon. Tidak, dia tidak boleh mati. Aby mendekat kearah raja Amon, perlahan Aby mengeluarkan asap tipis beracunnya. Sedangkan raja Amon tidak bisa bergerak sama sekali.
Namun, asap beracun itu kembali hilang. Aby melihat raja Amon datar.
"Kurasa dengan blood controller dan mantra mematikan bisa membunuhmu dengan mudah. Tapi, aku ingin melihatmu tersiksa. Hingga memohon untuk kematianmu sendiri." Desis Aby tajam. Raja Amon masih tetap tidak menyerah. Dia tetap melawan, walau dia tau akan sia sia karena seperti yang Aby bilang. Bukan hanya blood controller tapi Aby menggunakan mantra kematian untuknya.
Urat urat diwajah raja Amon semakin jelas terlihat karena raja Amon masih berusaha melawan rasa sakit nya. Namun tiba tiba raja Amon tergeletak kaku ditanah dengan mata melotot dan mulut yang terus mengeluarkan darah. Seketika raja Amon meregang nayawa dengan mengerikan. Sesaat sebelum kematian benar benar menjemputnya, Aby melepaskan blood controller nya lalu mendekat kearah raja Amon.
"Maaf." Lirih raja Amon yang membuat hati Aby terasa sakit.
__ADS_1
"Maaf karena membuatmu seperti ini. Harus ayah lakukan, jika tidak kau tidak akan bisa hidup sampai saat ini." Ucap raja Amon terbata.
"Tidak. Jangan katakan yang sebenarnya." Balas Aby sambil menunduk disebelah raja Amon.
"Aku harus melakukan ini. Agar kau bisa sekuat ini, dan tidak ada yang bisa menyakitimu." Raja Amon kembali terbatuk lalu melanjutkan ucapannya.
"Biarkan dirimu yang membunuhku. Agar aku dengan tenang menyusul ibumu." Aby meneteskan airmatanya kembali.
"Kenapa,?" Raja Amon menyentuh wajah Aby.
"Mereka mengincarmu. Karena kau adalah anak dari raja demon terkuat dan ratu penyihir tingkat 1 yang sudah tiada. Dan juga cucu dari Roye dan Rose. Aku sengaja ada dipihak mereka. Untuk melindungimu, mereka akan mengikuti perintahku. Jadi kau bisa tumbuh menjadi kuat dan melindungi dirimu sendiri. Kau adalah ratu demon sesungguhnya. Maaf karena ayahmu adalah seorang pengecut yang tidak bisa melindungimu. Maaf." Ucap raja Amon lirih diakhir kalimat dan menghembuskan nafas terakhir. Aby menangis. Kenapa harus seperti ini,? Kenapa takdir begitu menyakitkan.
"Sudah kuduga akhirnya akan seperti ini." Ucap seseorang wanita. Aby langsung menoleh dan betapa terkejutnya saat melihat siapa sebenarnya dalang dari semua ini. Begitupun yang lainnya, mereka terkejut.
"Hahahahaha. Tidak tidak. Aku bukan Rose. Aku Crisa. Kakak kembar Rose." Ucap wanita yang mereka sangka rose - nenek Aby -
Tapi, ada yang berbeda dari Crisa dan Rose. Jika Rose selalu dikelilingi aura putih, khas seorang penyihir putih. Crisa dikelilingi aura hitam, yang artinya dia adalah penyihir hitam. Aby berdiri menatap tajam Crisa.
"Bagaimana,? Kau suka semua ini,? Kau pasti bertanya tanya karena kau tidak tau apapun." Crisa tersenyum namun bukan senyum tulus, melainkan senyum licik.
"Akan aku ceritakan. Awal mulanya." Ucapnya santai tanpa peduli tatapan tajam dari semua orang yang dihadapannya.
"Dulu, aku dan Rose adalah saudara yang benar benar akur tanpa pertikaian. Hingga Roye datang diantar kami. Membuat kami jatuh cinta padanya, namun dia memilih Rose yang lebih unggul segalanya daripada aku. Dari situ awal pertikaian kami. Ayah dan ibu kami menyetujui mereka menikah tanpa memikirkan aku. Dan saat mereka menikah, aku mengacau dan akhirnya aku dihukum dan diasingkan. Aku belajar mantra mantra terlarang yang membuatku menjadi penyihir hitam. Saat tau itu, kedua orang tuaku semakin mengasingkanku. Memenjarakanku. Dan melupakanku. Dari situ aku tidak pernah dikenal oleh siapa pun. Akhirnya kebencian memenuhi hatiku. Dan bertekad membunuh semua orang terutama keturunan Roye dan Rose,!! Pertama aku membunuh semua bangsa ku lalu membunuh Roye dan Rose,!! Disusul ibumu,!! Saat hendak membunuhmu, ternyata ayahmu sadar. Lalu dia terus terus menyembunyikanmu,!! Tapi sekarang, aku akan membunuhmu,!!!" Ucap Crisa lantang dan dapat didengar oleh seluruh yang ada ditempat pertempuran itu.
Aby menahan amarahnya yang seakan akan ingin meledak. Jadi selama ini, dalang dari semuanya adalah dia,?
"Kau adalah keturunan terakhir yang benar benar kuat. Jadi aku harus memusnahkanmu,!!!!" Tawa Crisa menggelegar. Tanpa berlama lama, Aby maju melawan Crisa. Lalu pertempuran kembali terjadi. Aby dan Crisa saling menyerang dengan mantra.
Sedangkan di bagian lain, Blinda berhadapan dengan Mr.Robert. Saling menyerang tanpa belas kasihan. Tapi Mr. Robert bukanlah tandingan Blinda. Blinda tersayat diperutnya membuat dia terjatuh. Qiano melihat Blinda seperti itu, langsung berlari dan melindungi Blinda. Mr. Robert yang terus menyerang langsung menebas kuku panjangnya dan tepat mengenai leher Qiano. Membuat kepala dan badan Qiano terpisah.
Aileen dan Blinda langsung syok melihat kejadian yang begitu cepat. Aileen langsung jatuh terduduk dengan airmata yang mengalir. Tidak. Qiano tidak boleh mati. Matenya tidak boleh mati. Aileen berubah menjadi wolfnya lalu menerjang Mr.Robert tanpa aba aba. Membuat Mr. Robert tidak bisa melawan. Dengan sadis Aileen menggigit leher Mr. Roberr hingga putus. Lalu membuang kepalanya kesembarang arah. Aileen langsung berlari dan berubah menjadi manusia. Memeluk Qiano dan menangis sejadi jadinya.
Tidak. Dia sudah kehilangan kakaknya. Dia tidak ingin kehilangan matenya juga. Sedangkan Blinda masih mematung melihat Qiano seperti itu dengan airmata terus mengalir. Tanpa pikir panjang, Blinda mengambil pedangnya lalu menghunuskan tepat di jantungnya. Aileen mendongak melihat yang dilakukan Blinda.
__ADS_1
"Maaf Aileen. Aku tidak bisa melepaskan Qiano. Sekarang, biarkan aku bahagia bersamanya di tempat lain tanpamu." Ucap Blinda lalu tergeletak tak bernyawa. Aileen menangis histeris. Tidak, dia tidak mau seperti ini. Dia yang harusnya bersama Qiano bukan Blinda.
Aby yang melihat semua itu langsung murka. Dia harus menyelesaikan semua ini. Jika tidak, dia akan kehilangan banyak orang terdekatnya. Aby berdiri ditengah medan perang. Lalu dengan sadis menyayat telapak tangannya yang langsung mengalir darah dengan deras memenuhi pedangnya.
"Aku Azura Salvador Ratu terakhir bangsa demon bangsa terkuat se imortal. Kukorbankan darahku, seluruh kekuatanku, dan jiwaku kepada tanah imortal untuk memusnahkan Crisa Benevit dan seluruh pengikutnya selamanya,!! Demi kedamaian tanah imortal." Ucap Aby lantang lalu menghunuskan pedang nya yang penuh darahnya ketanah.
Kemudian, awan dan langit semakin menghitam. Angin bertiup begitu kencang. Guntur dan kilat saling menyahut.
Bibi Erlyn dan yang lain melihat Aby dengan tatapan permohonan. Tapi terlambat, tanah imortal telah mengabulkan permintaan Aby.
"Aby." Lirih Erlyn pedih. Sedangkan Crisa memucat. Tidak mungkin seorang seperti Aby bisa tau hukum tanah imortal.
Perlahan tanah tanah bergetar dan tercipta retakan retakan yang melebar. Crisa dan pengikutnya mencoba kabur namun terlambat. Tanah imortal menarik mereka dan menelan mereka. Seketika area perang tenang kembali, tidak ada awan hitam serta guntur dan kilat. Tidak ada angin kencang. Tidak ada lagi Crisa dan para pengikutnya. Aby menunduk lemas, lalu dia pun terjatuh terlentang di tanah.
Bibi Erlyn dan lainnya langsung berlari menuju Aby.
"Aby,!! Sadarlah,! Semua telah usai,! Kau berhasil,!!" Ucap bibi Erlyn sambil mengguncang tubuh Aby. Aby melirik bibi Erlyn dengan sisa tenaganya.
"Sisanya kuserahkan semua pada kalian." Ucap Aby lirih lalu menutup matanya.
"Tidak,!! Aby,!! Tidak,! Kau tidak boleh mati,!! Aby,!!" Teriak bibi Erlyn. Bibi Clau maju dan memegang lengan Erlyn.
"Biarkan dia istirahat dengan tenang." Ucap bibi Clau lembut. Erlyn menggelengkan kepala tidak percaya.
"Dimana Robert,?!! Ini semua karena dia yang berkhianat,!!" Teriak Erlyn murka. Diandra menggeleng.
"Tidak Erlyn, Robert begitu sama alasannya dengan raja Amon." Ucap Diandra sambil terisak.
"Tidak." Lirih Erlyn laku kembali menangis.
Semua telah selesai. Mereka semua kembali ke kerajaan demon dengan membawa jasad jasad orang orang yang mati dalam pertempuran. Begitupun dengan jasad Aby.
》》》》
__ADS_1