The Last Queen

The Last Queen
TLQ #24


__ADS_3

Part 24


"Mari kita mulai dengan serius."


Ara menatap tajam Aby yang mengeluarkan Api hitamnya. Begitupun Aby, dia menatap Ara tak kalah tajam. Tanpa menunggu waktu lama, Aby melesatkan api apinya ke arah Ara dengan cepat. Dan Ara menghindar dengan cepat.


Ara adalah demon tingkat 2, untuk mengalahkannya Aby harus lebih pintar mencari celah kelemahannya. Mereka sama sama gesit, besar bersama membuat mereka saling tahu kekuatan masing masing. Saat ada celah, Aby dengan cepat membaca mantra sihir sehingga Ara terlempar dan menabrak pohon dengan kuat.


Ara terjatuh ketanah, dia menggeram marah. Ara berdiri, di tangannya keluar seperti serbuk serbuk kecil dan membentuk sebuah pedang. Aby menyipitkan matanya, pedang yang di gunakan Ara bukanlah pedang biasa. Pedang itu dibuat khusus untuk melumpuhkan lawannya dalam satu kali goresan. Dan Aby tak boleh terkena pedang itu walau hanya sedikit.


Ara melesat ke arah Aby dengan cepat, dan melayangkan pedangnya ke arah Aby, sedikit lagi, namun...


Tang !!


Pedang Ara bertemu dengan pedang Aby, pedang kakeknya, pedang para vampire.


Ara terkekeh remeh, "Apa kau ingin melawanku dengan pedang bangsa Vampire, Aby?" Aby mendorong kuat sehingga Ara mundur beberapa langkah.


Aby tersenyum remeh, "Sekarang pedang ini bukan pedang bangsa Vampire, apa kau pikir aku tak akan merubahnya? Mengingat aku memiliki 3 kekuatan kaum di dunia immortal ini." Senyum mengejek itu terlihat begitu membakar Ara.


Amarah Ara mulai meguasainya, tangannya mengepal marah menggenggam pedangnya.


Mereka kembali saling serang, namun karena emosi yang menguasai Ara, dia sedikit lengah dan itu kesempatan untuk Aby. Dengan cepat pedang Aby menyayat lengan kanan atas Ara.


Darah segar itu menempel di pedang Ara. Ara meringis menahan sakit, dia memegang lengannya yang tergores. Lukanya tak juga menutup, Sialan ! Batin Ara mengumpat. Pedang Aby memang sudah di rubah oleh Aby di bantu Qiano dan Blinda. Di rubah agar bangsa apapun yang terkena tak akan bisa disembuhkan dengan mudah. Dan ditambah mantra oleh Aby, membuat pedang itu seakan hidup. Hanya Aby yang bisa memakainya.


Ara menggeram marah, sedetik kemudian Ara telah berubah, dibelakangnya ada satu pasang sayap demon, matanya pun berubah, pedang nya di selimuti asap hitam yang mematikan. Lukanya seketika sembuh. Dan Aby harus meningkatkan kefokusannya.


Sedangkan mereka, paman Zack dan yang lainnya hanya menyaksikan dengan diam.


"Bagaimana ini Zack, hentikan ini, atau mereka tak akan pernah selesai." Bujuk bibi Karin, pamab Zack menoleh ke arah bibi Karin.


"Aku tak bisa berbuat apa apa Karin, pelindung ini sangat kuat." Ucap paman Zack.


"Aku sangat mengkhawatirkan Aby." Raut cemas Aileen terlihat jelas. Sedangkan Alan hanya menatap serius pertempuran di depannya dengan diam. Dan Valerie, dia memikirkan cara agar bisa membantu Aby agar cepat selesai. Mau bagaimana pun perintah terakhir tuannya adalah melindungi Aby. Dan mau tak mau Valerie harus melindungi Aby, yaah walaupun sebenarnya tak perlu begitu saat melihat bagaimana kuatnya Aby.

__ADS_1


Bukk !!!


Suara itu berasal dari Aby yang terlempar dan menabrak pelindung yang dia buat. Dan Any tersungkur tepat di depan pelindung itu, membuat paman Zack dan yang lainnya syok. Ingin membantu namun tak bisa keluar dari lingkaran ini. Aby berdiri sambil memegangi lengan kanan atasnya. Pedang itu benar benar membuatnya lemah, Aby tau pedang itu di lumuri sebuah racun, racun yang melemahkan semua organ. Aby mengucapkan mantra penyembuh untuk mempercepat pemyembuhannya. Aby melepas jubahnya dan memotongnya lalu mengikatnya pada lukanya.


Saat bersamaan dengan itu, Alan yang ada di dalam pelindung itu menegang. Dia benar benar tak percaya, bagaimana bisa?


"Mate." Lirih Alan, namun dapat di dengar oleh yang lain.


"Apa?" Tanya Aileen.


"Dia mateku." Balas Alan


"Siapa yang kau maksud?" Tanya paman Zack


"Aby." Ucap Alan datar tapi ada raut sedikit kaget.


"Apa? Bagaimana mungkin, itu tidak mungkin Alan ! Kau tau ? Kita keluarga Hernandez tak akan pernah mendapat mate yang berbeda dari kaum kita ! Dan itu sudah terjadi turun temurun." Tegas paman Zack tak percaya,


"Tapi itu yang kurasakan." Alan menatap kembali pertempuran di depannya, melihat bagaimana Aby dan Ara saling serang.


Sayap Aby yang di selimuti api hitam membentang di balik tubuhnya, matanya berubah menjadi merah hitam. Aura disekitarnya begitu kuat, membuat siapapun yang merasakannya akan berpikir untuk tidak mengusiknya. Luka nya tertutup rapat, pedangnya mengeluarkan Api hitam.


Aby benar benar terlihat seperti pencabut nyawa. Dan sekarang Ara tau, Aby benar benar tak main main. Baru kali ini Ara melihat Aby yang sesungguhnya, dengan kekuatan demonnya. Jujur saja, siapapun yang melihat wujud Aby sekarang akan merasa takut. Begitupun Ara. Mereka sama sama melesat dan saling serang. Kekuatan Aby memang tak perlu di ragukan. Susah untuk di imbangi.


Ara bangun dengan tertatih, sekujur tubuhnya ada luka. Dan Aby, dengan cepat melesat ke arah Ara, Ara hendak menghindar namun terlambat. Tangan Aby sudah berada di lehernya. Aby mengangkat Ara tinggi tinggi, mencekiknya kuat. Aby benar benar sudah tak dapat menguasai tubuhnya!


Nafas Ara tersenggal senggal, bahkan untuk berbicara pun sangan susah. Ara semakin melemah, mungkin inilah akhir hidupnya.


"Oh zack ! Bagaimana ini, sepertinya Aby lepas kendali!" Mereka semua sedang memikir kan cara agar terbenas dari pelindung Aby. Valerie yang sedari tadi mencoba membuka pelindung itu kewalahan sendiri. Dia tau ini akan terjadi, karena kekuatan sebesar itu tak akan mudah di taklukkan. Ada tiga kekuatan di dalam tubuhnya, mungkin salah satunya sudah di taklukkan tapi tidak dengan yang lain.


Sekarang Alan yakin, Aby adalah matenya. Aroma yang benar benar menguar dari Aby membuatnya yakin. Alan mengeluarkan cakar werewolf nya, lalu dalam satu kali tebas Alan memecahkan pelindungnya. Dan dengan cepat dia berlari ke arah Aby. Memisahkan Aby dan Ara, memeluk Aby erat.


"Sadarlah." Bisiknya lembut, membuat Aby sadar seketika. Matanya perlahan berubah menjadi biru abu abu. Mata itu menatap mata coklat Alan. Dia sedikit bingung, kenapa bisa? Sedangkan Qiano dan Blinda harus membuatnya pingsan dulu baru dia bisa sadar, saat latihan dulu dia pernah lepas kendali.


Aby melepas pelukan itu, dan kemudian dia terjatuh, Aby terbatuk dan mengeluarkan darah. Dia tau ini konsekuensi nya, tubuhnya belum kuat karena didalam tubuhnya mengalir tiga darah. Membuat tubuhnya sakit jika menggunakan berlebihan salah satu kekuatannya.

__ADS_1


Dan Ara, dia terduduk lemah sambil memegang lehernya yang sakit. Aby mengusap darah dari mulutnya. Dia berjalan tertatih, dan mengulurkan tangan pada Ara. Ara melihat Aby, menatap tak percaya. Apakah Aby memaafkannya setelah apa yang dia lakukan?


"Aku tau kau seperti ini karena ibumu, ibumu yang menanamkan benci yang tak seharusnya padamu. Dia gila derajat sehingga membuatmu terlibat. Aku tau kau tersiksa, sangat jelas dimatamu kau tersiksa melakukan ini. Aku tau kekuatanmu, kau bisa lebih dari tadi tapi kau tak melakukannya. Karena kau tak inginkan seperti ini, kemarilah ikut denganku. Aku memaafkanmu, saudariku." Ucap Aby tulus dengan senyumannya.


Dia dapat melihat dengan jelas apa yang Ara rasakan, matanya mengungkapkan semuanya. Dan Aby tau, Ara tak pandai menyembunyikan perasaannya. Ara menerima uluran tangan itu, memegangnya erat. Entahlah Ara merasa memang seharusnya dia tak memihak pada ibunya. Karena Ara merasa ibunya sangat egois dan Ara tau ibunya salah.


"Apa kau benar benar memaafkanku dan percaya padaku." Tanya Ara ragu.


"Ya. Kau saudariku." Mereka tersenyum dan berpelukan seketika. Air mata jatuh di pipi Ara, dia menangis tersedu sedu. Terharu. Namun tiba tiba pelukan mereka terlepas secara paksa. Dan pelakunya adalah Valerie.


"Apa kau bodoh ?!! Dia sudah mengkhianatimu !! Dan dia sudah mencoba membunuhmu !! Dan kau dengan mudahnya memaafkannya?! Apa kau gila ?!!" Teriak Valerie marah.


Aby menatapnya datar,


"Kau tak ada hak untuk melarangku." Valerie tak bisa menahan amarahnya, dia melayangkan tangannya pada Aby namun terhenti karena ada yang menahan tangannya kuat. Valerie melihat Alan berdiri dengan menatapnya dingin.


"Jangan sekali kali kau sentuh mate ku." Desis Alan tajam.


Aby menoleh pada Alan, "Apa maksudmu?" Alan membalas tatapan Aby, "Kau, mateku." Aby benar benar syok, benarkah ? Apa itu berhubungan saat dia dengan mudah menyadarkan aku? Batin Aby bingung.


"Sudahlah, nanti kita akan bahas jika sudah sampai di tempat tujuan. Kita harus segera bergegas, hari mulai gelap. Dan tidak seharusnya kita di sini." Lerai paman Zack, dan menyuruh semua masuk kedalam mobil.


Namun sebelum masuk paman Zack berhenti di depan pintu mobilnya.


"Dan Aby, apa pilihanmu benar?" Tanya paman Zack meyakinkan. Aby menoleh ke Ara begitupun Ara.


"Ya. Jika ada apa apa aku yang bertanggung jawab." Balas Aby mantap.


Saat hendak masuk, Alan menahan Aby.


"Kau, duduk denganku." Dan akhirnya Aby duduk dengan Alan di bangku paling belakang, sedangkan di tegah Aileen sebagai penengah antara Valerie dan Ara. Aby masih memikirkan semua, mencoba mencernanya. Dan Aby merasa itu semua benar. Buktinya Aby sama sekali tak bisa menolak Alan. Tapi, kenapa baru sekarang Alan menyadari jika dia matenya? Apa karena ramuan itu, ramuan penghilang Aroma dan auranya? Entahlah Aby bingung. Di menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. Namun dia merasakan kepalanya di miringkan oleh seseorang sehingga dia merasakan kepalanya telah bersandar pada bahu seseorang yang tak lain adalah Alan.


Aby hanya diam menurut, karena dia benar benar lelah. Untuk sesaat dia membiarkan tubuhnya beristirahat dan mempercayakan seseorang untuk menjaganya.


》》》》》

__ADS_1


__ADS_2