The Last Queen

The Last Queen
TLQ #36


__ADS_3

Part 36


Xander memanggil tangan kanan nya, Petra. Dia mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari sekutu Diandra. Sedangkan Azura, dia sedang mengamati Xander yang mengatur strategi.


Tiba tiba pintu terbuka dengan tidak sopannya. Menampilkan Qian dengan wajah pucat.


"Yang Mulia, Tahanan Diandra dan Andara. Menghilang." Lapor Qian. Kemudian sosok Bella terlihat.


"Paman Alvaro dan bibi Ara juga tidak ditemukan dimanapun."


Xander menggeram marah. Sedangkan Azura masih tetap dengan wajah datarnya.


"Sudah kuduga." Ucap Azura dingin.


"Rubah strategimu." Lanjut Azura.


"Kita akan memberi kejutan untuk mereka." Azura tersenyum licik.


"Mereka meremehkanku rupanya." Desis Xander.


Mari kita lihat apa yang akan terjadi jika Ratu demon terakhir bergabung bersama Raja Immortal.


*****


Disebuah tempat terpencil dibawah tanah. Ada beberapa orang berkumpul.


Dengan seorang lelaki di depan mereka, duduk santai.


"Ck. Crisa memang bodoh. Dia mengorbankan nyawanya sia sia. Dia terlalu meremehkan mereka. Begitu juga kalian." Ucap seorang lelaki didepan mereka.


Sedangkan Andara dan Diandra hanya menunduk ditengah tengah sepuluh orang yang duduk berkeliling.


"Untung Alvaro dan Ara begitu menyayangi putrinya yang bodoh." Kekeh orang itu.


"Dimana orangtuaku?" Tanya Andara


"Diamana,? Jelas ditempat seharusnya mereka berada Andara. Kau tentu tau bukan? aku tidak akan membiarkan siapapun selain pengikutku berada ditempatku?" Tawa seorang lelaki itu.


"Mengapa kau lakukan itu sialan,?!! Mereka tidak bersalah,!!!" Teriak Andara


"Jangan berteriak padaku, ******,!!!" Bentak lelaki tersebut. Membuat Andara terpental jauh.


"Andara,!" Ucap Diandra lalu menolong Andara.


"Jaga ucapanmu, Andara. Jika bukan karena Diandra, kau sudah kubunuh." Desis Lelaki tersebut.


"Cukup,!!" Teriak Diandra membuat sang lelaki mendengus tak suka.


"Bersiaplah, besok kita akan menyerang." Sambung lelaki tersebut lalu pergi menghilang.


*****


Sedangkan dilain tempat, Azura, Xander, Qian, Bella, Aileen, Damian, Petra dan beberapa pasukan khusus kerajaan sudah siap.


Saat mereka sudah siap hendak pergi seseorang menghentikan mereka.

__ADS_1


"Apa kau melupakanku Abila?" Tanya seorang wanita dengan seorang lelaki disebalahnya.


Valerie dan Alex.


Azura tersenyum miring.


"Aku menunggumu." Valerie terkekeh.


"Kesalahanmu Azura. Kau membiarkan seorang pengkhianat hidup selama ini." Azura menatap tajam Valerie.


"Arabella. Dia berawal dari pengkhianat bukan." Azura mendatarkan wajahnya. Membuat Valerie terkekeh.


"Tidak ada waktu Valerie." Desis Azura.


"Baiklah mari kita mulai." Ucap Valerie yang langsung bergabung bersama Alex.


"Bagaimana bisa kau tahu tempat persembunyian mereka?" Tanya Qian ditengah jalan.


"Insting Penyihirku. Bau penyihir hitam sangat tidak enak. Dan itu benar benar tajam." Ucap Azura santai.


"Mereka melupakan fakta bahwa aku ratu penyihir." Sambung Azura.


"Dan aku sang raja imortal." Lanjut Xander


Tempat itu terlihat seperti tidak berpenghuni. Terlihat menyeramkan. Xander duduk setengah berlutut.


Memejamkan mata lalu tiba tiba tanah bergemuruh, lalu retak dan mengeluarkan tiga belas orang dari dalam tanah yang sudah terikat dengan akar akar.


Diandra dan Andara ada diantara beberapa orang tersebut. Miris. Lagi lagi Azura harus merasakan pengkhianatan.


"Halo. Azura, atau bisa ku panggil Yang Mulia?" Tawa lelaki itu menggelegar.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan sang Ratu penyihir disini." Kekeh lelaki tersebut.


"Dan tertangkap dengan begitu mudahnya. Harusnya aku tidak meremehkanmu." Sambungnya.


"Siapa kau?" Tanya Azura dingin.


"Apa kau percaya jika aku bilang aku adalah kakak dari Crisa dan Rose?" Jawaban lelaki itu membuat Azura tersentak kaget. Bagaimana bisa? Apa lagi kali ini?


"Aku Tera." Lanjut lelaki itu.


"Dan Diandra, mateku." Senyum lelaki itu semakin merekah.


Lalu ikatan akar akar itu terlepas. Begitupun anak buahnya.


Xander hanya tersenyum miring. Apakah mereka lupa, bahwa Xander berkuasa penuh atas tanah Imortal? Miris.


"Selesaikan ini dengan cepat." Desis Azura lalu berubah wujud sepenuhnya. Begitupun Xander yang matanya sudah berubah menjadi merah terang. Pertempuran itupun tidak dapat dihindari.


Mereka dari dua kubu yang berbeda langsung saling serang. Azura dan Xander maju dengan semangat namun tetap terlihat santai.


Pertempuran itu benar benar tidak seimbang. Hingga akhirnya pertempuran itu menyisakan Diandra, Andara, dan Tera dari kubu lawan. Sedangkan dari kubu Xander. Yang masih terlihat baik baik saja hanya Azura dan Xander. Yang lain lumayan terluka. Mereka, walau dengan jumlah yang lebih sedikit namun kekuatannya tak bisa diremehkan.


"Dimana Arabella dan Alvaro." Tanya Azura.

__ADS_1


"Ditempat yang tenang. Tentu saja." Jawab Tera santai.


"Sialan." Desis Azura. Lalu mereka kembali maju saling melawan. Azura melawan Tera, sedangkan Xander melawan Diandra dan Andara.


"Aku tidak ingin menyakitimu Xander. Berpihaklah pada kami." Ucap Andara lembut pada Xander. Membuat Xander muak mendengarnya.


"Aku muak denganmu Andara." Ucap Xander tajam.


"Berhenti mengoceh Xander. Lawanmu kami." Ucap Diandra.


Sedangkan Azura berhadapan dengan Tera. Sama sama kuat.


"Kau bukan tandinganku Azura. Mengalahkan saudariku saja kau butuh mengorbankan dirimu." Tawa Tera menggelegar.


Xander menoleh kearah Azura saat melihat Azura terpojok. Dengan cepat Xander melesat kearah Azura. Namun dia dihalangi oleh Diandra dan Andara.


"Lawanmu adalah kami Lord." Ucap Diandra.


Namun Xander langsung berubah. Sayap Hitam legam keluar dibalik punggungnya. Tubuhnya menguarkan aura mengancam. Dan dengan cepat dia mengendalikan Diandra dan Andara.


Mereka langsung berdiri tegak dengan tatapan mata kosong. Lalu dengan cepat melesat dan membantu Azura.


"Hohohoho. Sang pangeran tiba." Ejek Tera.


"Kau tidak sepantasnya banyak bicara, Tera." Balas Xander.


Dia melihat Azura kewalahan. Tenaganya banyak terkuras.


"Cukup bermainnya. Tidak akan kubiarkan tangan kotor kalian menyentuh Azura." Xander berdiri didepan Azura lalu merentangkan tangan dan sayapnya yang lebar. Membuat Azura tertutupi dibelakangnya. Sebuah gambar pentagram dan beberapa tato seperti tulisan rumit muncul tergambar jelas diseluruh badan nya.


Azura membulatkan matanya. Kekuatan ini, benar benar kuat. Sedangkan Tera, Diandra, dan Andara syok melihat Xander. Wujud Xander mengingatkan mereka pada penyihir terkuat yang mati karena tidak dapat mengendalikan kekuatannya. Dia disebut, Dewa penyihir. Lebih hebat dari sang Ratu.


Tanpa sadar Tera gemetar melihat Xander. Begitupun Diandra dan Andara. Salah besar jika mereka menantang Raja Imortal. Mereka sama seperti menjemput kematian mereka.


Tera, Diandra, dan Andara langsung jatuh duduk berlutut. Tanpa bisa apa apa. Memang sudah hukumnya, para penyihir tidak bisa berkutik apapun jika sudah menyangkut sang dewa penyihir. Yang kekuatannya berkali kali diatas mereka.


Jika Azura adalah Ratu Penyihir, maka Xander adalah Dewa Penyihir. Xander megucapkan mantra membuat tiga orang didepan nya dikelilingi cahaya hijau terang.


Teriakan dari ketiga orang tersebut menggema disekitar mereka. Saat cahaya hijau tersebut menghilang, mereka bertiga jatuh dengan wujud seperti tengkorak tanpa daging. Hanya tulang berlapis kulit.


Membuat mereka yang melihat bergidik ngeri.


"Bakar mereka." Perintah Xander. Yang langsung dikerjakan oleh Petra dan pasukannya dengan sisa tenaga mereka.


Tiga orang didepan bahkan belum mati, tetapi Xander sang raja imortal yang kejam menyuruhnya membakar mereka hidup hidup. Semua disana menunduk tidak berani menatap sang raja yang sedang menggendong Azura yang kehabisan tenaga.


Andara melotot melihat Petra dan pasukannya mendekat dengan api ditangan mereka.


Mulutnya bergerak mengucapkan sebuah kata yang tidak ada satupun mengerti. Sedangkan Xander berhenti dan berbalik melihat Andara.


"Beristirahatlah dengan tenang, Andara. Saudariku." Lirih Xander lalu kembali melanjutkan langkah.


Dalam kobaran api, Andara menangis. Menangisi cintanya yang pergi tanpa perasaan padanya. Menangisi jalan yang ia pilih. Menangisi kesalahan yang dia perbuat. Seharusnya dia tidak seperti ini. Seharusnya dia bersyukur karena masih diberi kesempatan bersama orang yang dia cintai walau tidak di izinkan memilikinya. Namun semua terlambat.


"Ayah ibu, maafkan aku. Semoga kalian masih mau menerimaku." Ucap Andara tanpa ada yang mendengar dan menghembuskan nafas terakhir. Begitupun Diandra dan Tera.

__ADS_1


》》》》


__ADS_2