
Part 37
Semua telah selesai. Tak mereka sangka jika mengalahkan para musuh sedikit mudah. Cukup sang Raja Imortal turun tangan dan selesai. Mereka kembali dengan beberapa luka parah. Saat sampai dikerajaan, mereka disambut oleh paman Zack dan Arthur, Kenzie. Juga bibi Karin, Clau, Erlyn dan Natalie.
Bibi Clau meneteskan airmata saat melihat rombongan Xander kembali tanpa Ara dan Alvaro juga Diandra dan Andara. Bibi Karin langsung menenangkan bibi claudia.
"Kau baik saja Xander?" Tanya Natalie khawatir.
"Aku baik." Jawab Xander sambil masih menggendong Azura yang tak sadarkan diri.
"Azura?" Tanya Bibi Karin
"Dia hanya kelelehan karena tenanganya terkuras." Jawab Xander lalu pergi menuju kamar Azura.
Yang lainnya pun menyusul masuk kedalam kerajaan.
"Bagaimana keadaanmu Aileen, Bella, Qian?" Tanya paman Zack.
"Kami baik." Jawab Aileen mewakili anak anaknya.
"Bagaimana denganmu Damian." Sambung paman Zack.
"Luka kecil. Selebihnya baik." Jawab Damian
Akhirnya mereka semua masuk dan langsung keruang kesehatan kerajaan. Sedangkan Xander menatap Azura yang masih menutup matanya. Tadi dia sudah memanggil dokter kerajaan untuk memeriksa Azura. Dan hasilnya Azura baik baik saja. Hanya kelelahan dan juga kehabisan tenaga.
Wajar saja, melawan Crisa dulu saja Azura harus mengorbankan nyawanya. Apalagi harus melawan Tera? Mungkin jika tidak ada Xander, Azura harus mengorbankan nyawanya lagi. Dan entah dia akan bangkin lagi atau tidak.
Xander meghela nafas lega saat mengetahui Azura baik baik saja.
"Tuan, apa tuan tidak ingin diperiksa juga?" Tanya sang dokter.
"Aku baik saja dokter." Jawab Xander.
"Tapi, anda mengeluarkan kekuatan begitu besar tuan. Apakah anda membutuhkan sesuatu?" Xander menatap dokter pribadinya itu.
"Ya." Jawab Xander, membuat sang dokter langsung keluar.
*****
Hari sudah menjelang malam. Xander masih setia menunggu Azura membuka mata. Tak lama, Azura membuka matanya. Dia langsung melihat Xander yang sedang duduk disampingnya.
"Berhenti menatapku seperti itu Xander." Ucap Azura lalu duduk bersandar pada kepala ranjang dibantu Xander.
__ADS_1
Azura mengernyit bingung saat melihat ada sesuatu yang tertusuk di tangannya dan berwarna merah.
"Itu disebut infus. Kau membutuhkan darah sebagai energimu. Karena kau tak sadarkan diri, maka dengan ini cara untuk memberimu darah." Jelas Xander singkat
"Dan aku memberikan darahku, aku tidak tau akan berefek seperti apa pada dirimu. Tapi tidak ada yang terjadi hingga kau bangun." Sambung Xander
Azura mengangguk paham. Dulu jika dia pingsan dan butuh darah, Alan akan menggores lengannya dan meneteskan darah kedalam mulutnya. Tapi lihatlah sekarang, sudah ada cara lain. Jaman benar benar modern.
"Tunggu, kau memberikan darahmu?" Tanya Azura tak percaya. Xander hanya mengangguk.
"Tapi tidak ada yang terjadi padamu. Mungkin karena dalam darahku ada tiga darah yang kau punya. Dan mungkin karena kita mate? Aku juga kurang paham." Ujar Xander
"Aku tidak merasakan hal aneh, hanya saja aku merasa lebih kuat?." Ujar Azura
"Kalau begitu bagus." Senyum Xander.
"Kau tidak apa?" Tanya Azura, Xander mengangguk.
"Dokter sudah memberiku obat." Jawab Xander.
"Obat? Obat apa?" Xander tersenyum.
"Mungkin semacam obat yang bisa menstabilkan tubuhku setelah mengeluarkan kekuatan besar." Ucap Xander kurang yakin.
"Kenapa begitu?" Xander terkekeh.
"Entah, aku tidak bisa sembarangan menerima darah orang lain. Dan dokter pribadiku membuatkan obat itu." Azura mengangguk. Paham.
"Diamana yang lain?"
"Dikamar masing masing."
"Bagaimana Aileen?"
"Baik, mereka semua baik." Xander mendekat kearah Azura. Menatapnya dalam.
"Kau tau,? Betapa takutnya diriku saat kau tidak sadarkan diri beberapa hari ini. Aku takut kau meninggalkanku." Ucap Xander lembut. Azura tersenyum hingga tertawa.
"Kau takut?"
"Menurutmu?"
Tawa Azura menggelegar memenuhi ruangan itu. Dan Xander pun tersenyum melihat Azura tertawa lepas. Sudah sangat lama rasanya tidak melihat Azura tertawa begitu.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi Alan." Ucap Azura. Xander berdecak.
"Panggil aku Xander Azura. Aku merasa lemah jika kau memanggilku Alan. Karena aku tidak bisa melindungimu." Ujar Xander
"Baiklah. Bagaimana ibu dan ayahmu?"
"Mereka baik."
Azura mengangguk.
"Bagaimana bibi Clau?" Xander mengedikkan bahu.
"Dia terpukul. Tentu saja. Nenek Clau yang paling lembut hatinya." Jawa Xander. Azura hanya mengangguk mengerti.
"Azura, setelah ini semua selesai. Maukah kau meresmikan hubungan kita ini?" Tanya Xander, Azura menengok kearah Xander.
"Kau yakin?"
"Mengapa tidak?"
"Kau masih dibawah umur." Tawa Azura lagi lagi memenuhi ruangan tersebut. Membuat Xander kesal.
*****
Semua kembali normal. 1 minggu telah berlalu setelah peristiwa itu. Azura berharap, ini semua telah berakhir. Rasanya lelah terus menerus menghadapi masalah. Yah, walau hidup pasti selalu ada rintangan. Setidaknya Azura berharap diberi sedikit waktu untuk menikmati hidup dengan bahagia.
Sebenarnya, Azura berharap ayah dan ibunya juga ber reinkarnasi seperti dirinya. Tapi, sepertinya Azura tidak mendapat kesempatan bertemu orang tuanya lagi. Tapi tak apa, lebih baik mereka tenang dan bahagia disana. Tanpa memikirkan apapun lagi.
Hari ini dikerajaan semua melakukan rutinitas seperti biasa. Hanya saja bibi Clau masih sedikit berduka. Terlihat dari wajah nya yang murung saat dimeja makan. Bahkan dia lebih sering diam dan menunduk. Membuat yang lain harus berpikir keras apa yang harus mereka lakukan.
Seperti saat ini, bibi Clau sedang duduk menyendiri ditamannya dihalaman belakang kerajaan. Azura berjalan menghampiri bibi Clau. Lalu duduk disebelahnya tanpa meminta izin.
Sedangkan bibi Clau hanya menatap datar taman bunga didepannya. Azura menatap kedepan.
"Terkadang kita harus bisa merelakan semua yang sudah terjadi. Meratapi sesuatu seperti ini pun tidak bisa merubah apapun." Ujar Azura panjang.
"Azura. Aku tidak sekuat dirimu." Azura menghela nafas.
"Aku juga tidak sekuat yang kau lihat bibi." Azura menoleh melihat bibi Clau.
"Kau lebih tua dariku bibi harusnya kau tidak mau kalah denganku. Diusiaku yang masih muda dulu, aku harus menerima kenyataan dikhianati bertubi tubi tapi aku bisa bertahan. Bagaimana menurutmu?" Bibi Clau menoleh menatap Azura dalam.
Azura tersenyum. "Kau bisa bibi Clau." Bibi Clau langsung memeluk Azura erat.
__ADS_1
》》》》