
Part 29
Sedangkan bibi Claudia, Aileen, dan Ara pun sudah tiba di tempat tujuan mereka. Diandra.
Mereka melihat sebuah rumah besar dengan di kelilingi lautan buatan. Wajar saja, Diandra adalah mermaid.
Aileen dan Ara masih menatap takjub.
"Aileen, Ara. Ayo kita masuk." Ajak bibi Claudia lalu berjalan terlebih dahulu yang di ikuti oleh Aileen dan Ara.
"Kau yakin ini rumah,? Bukan istana,?" Tanya Aileen. Bibi Claudia hanya tersenyum,
"Ini rumah Aileen. Hampir sama bukan dengan mansioon mu." Aileen mengangguk,
"Tapi, kenapa bibi bilang ini rumah,?"
"Karena Diandra lebih suka ini disebut rumah daripada mansioon atau apalah itu." Bibi Claudia terkekeh.
"Aku Claudia, teman Diandra. Dan mereka, anak anak ku. Boleh kami masuk,?" Tanya bibi Claudia, sang penjaga pintu pun mengangguk dan membuka kan pintu.
"Mari ikut saya Nyonya." Ucap sang penjaga.
Mereka pun mengikuti sang penjaga hingga sampai di sebuah kolam yang begitu besar.
Dan orang yang mereka ingin temui ada di dalam kolam tersebut.
"Haii Clau, senang sekali melihat mu kemari." Ucap sosok mermaid dengan sangat riang.
"Hai Diandra, aku juga senang melihatmu. Kau tidak berubah ya, masih suka di dalam air." Claudia tertawa bersama Diandra.
Sedangkan Ara dan Aileen mereka hanya menatap keduanya heran. Aileen benar benar syok saat melihat Diandra. Tidak, sebenarnya dia juga syok saat pertama kali melihat Claudia. Mereka ini seumuran ayahnya kan,? Tapi kenapa tampang mereka seperti seumurannya,? Apakah hanya ayahnya yang menua,?
"Halo bibi Diandra." Sapa Aileen sopan sambil tersenyum begitupun Ara.
"Hai, kau... apakah anak dari Zack,?" Aileen mengangguk, Diandra pun tersenyum semakin lebar.
"Waahhh, tak kusangka Zack berhasil membuat anak secantik dirimu. Emm... lalu, kau,?? Kau seperti tidak asing." Diandra mengerutkan alisnya, berpikir.
"Perkenalkan, aku Arabella." Ucap Ara sopan.
"Hmm... oh ya, selamat datang." Balas Diandra lalu naik kepermukaan. Dan merubah dirinya menjadi manusia seutuhnya.
"Baiklah, ayo kita mengobrol di dalam sana saja." Diandra berjalan terlebih dahulu bersama Claudia.
>>>>>
Alan, Aby, dan bibi El sedang duduk bersama menikmati makan malam dengan tenang.
Tiba tiba Alan berhenti dari kegiatan menyantap makan malamnya. Wajahnya mengeras, tatapannya menajam. Dia mengepalkan tangannya hingga sendok di gengamannya membengkok. Aby melihat Alan yang seperti itu langsung cemas.
"Ada apa,?" Ucap Aby sambil menyentuh kepalan tangan Alan. Alan menatap Aby dengan tatapan tajam bercampur khawatir dan cemas. Yang semakin membuat Aby bingung begitupun bibi El.
"Kita harus segera ketempat ayahku." Wajah Aby langsung berubah datar. Dia tau sesuatu telah terjadi disana.
"Wah, aku tak menyangka mereka bergerak sangat cepat. Diluar dugaan." Ucap bibi El dengan smirk diwajahnya.
"Kita pergi sekarang." Ucap Aby sambil berdiri dari tempatnya. Diikuti Alan dan Bibi El.
Aby berdiri ditengah tengah ruang makan, lalu merentangkan tangannya. Menatap Alan dan bibi El datar.
"Kita teleportasi." Bibi El dan Alan mengangguk dan berjalan kearah Aby. Mereka pun saling berpegangan, sekejab tubuh mereka diselimuti butiran butiran halus dan menghilang.
__ADS_1
Mereka muncul didepan sebuah bangunan, yang sudah tidak utuh.
"Biar aku dan Alan yang masuk. Kau tunggulah disini, belum saatnya mereka melihatmu. Sedikit lagi." Ucap bibi El misterius yang hanya dipahami oleh Aby. Tanpa berlama lama, mereka pun melesat masuk kedalam bangunan itu.
Mereka benar benar menyerang tempat Arthur tanpa ampun.
Alan dan bibi El berpencar mencari keberadaan Zack, Karin, Valerie, dan Arthur. Tapi tidak terlihat sama sekali.
"Dad,!! Mom,!!" Teriak Alan. Namun tak ada jawaban, dari balik tiang besar keluarlah seorang wanita. Dengan keadaan tidak baik baik saja.
"Vale,?! Apa kau baik baik saja,? Dimana ayah ibuku,?" Tanya Alan sambil mendekat ke arah Vale.
Aby muncul diantara mereka, dengan raut wajah nya yang semakin datar.
"Mereka membawa nya ke Diandra. Kita harus menyusul kesana sekarang." Ucap Aby.
"Lalu bagaimana dengan Valerie,?" Tanya Bibi El.
"Aku akan tetap ikut dengan kalian." Jawab Valerie
Mereka pun melakukan teleportasi ke tempat Diandra.
Mereka muncul di belakang kediaman Diandra. Tanpa menunggu, mereka masuk kedalam. Dan mendapati Bibi Clau, Aileen, Ara dan Diandra sedang duduk bersama sambil bercerita.
"Kalian, apa yang terjadi,? Vale, kau kenapa,?" Tanya bibi Clau khawatir, lalu mendekati Vale dan menuntunnya untuk duduk.
"Mereka sudah melancarkan serangan mereka. Dan mereka dalam perjalanan menuju kesini." Jelas Valerie sambil menahan sakit. Bibi Clau, Aileen, Ara, dan Diandra menampilkan raut wajah khawatir. Aileen berlari memeluk Alan,
"Kakak apa kau baik baik saja,? Dimana Mom Dad,?" Alan mengelus lembut rambut Aileen.
"Mereka membawanya."
"Jadi, mereka membawa Zack dan Karin,?" Tanya Diandra.
"Tak kusangka reuni kita seperti ini." Sambung bibi El.
"Diamlah El, keadaan sekarang sedang genting." Ucap Diandra.
"Kau masih sama ya Diandra." Kekeh bibi El santai.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum terlambat." Ucap Aby sambil menatap semua orang dingin.
"Lalu bagaimana dengan Mom dan Dad,?" Tanya Aileen khawatir.
"Kita akan men--"
"Egois. Kau egois Aby. Bagaimana mungkin kau bisa berpikir seperti itu,? Mereka membutuhkan kita,!!" Ucap Vale memotong pembicaraan Aby dengan nada yang sedikit tinggi. Aby menatapnya datar.
"Kau terluka, dan kita tidak punya persiapan. Mereka sengaja membawa paman Zack, Arthur dan bibi Karin. Sebagai umpan. Agar kita menyerang tanpa persiapan. Berapa tahun kau menjadi tangan kanan ratu demon,? Bahkan hal seperti ini pun tak kau pikirkan." Balas Aby dingin.
"Kita tidak punya waktu, jika kalian setuju, kita pergi sekarang. Jika tidak, terserah kalian." Lanjut Aby.
"Aku.Tidak.Setuju." Desis Vale tajam.
"Sudahlah Aby, Vale. Kita a---"
BUUUUMMM,,!!!
Sebuah ledakan datang ke arah mereka secara tiba tiba. Membuat mereka tak sempat menghindar.
BUUUUMMMM,,!!!
__ADS_1
BUUUUMMMMM,,!!!
BUUUMMMM,,!!!
Bangunan megah yang mereka tempati bergetar.
"Semua keluar dari rumah,!!" Teriak Diandra.
Mereka pun berlari keluar rumah. Tepat saat mereka menginjak halaman luar, bangunan megah itu runtuh seketika.
"Apakah semua selamat,?" Tanya Diandra sambil melihat semua orang yang ada. Dan bernafas lega saat semua lengkap.
"Tak ada jalan lain kita harus menghadapi mereka." Ucap bibi El saat banyak orang orang berjubah hitam mengepung mereka. Ara melihat semua orang berjubah itu,
Mereka semua, orang orang terpilih raja. Batin Ara.
Sedangkan Aby hanya menatap datar,
Benar benar niat, batin Aby.
Sesorang yang mereka yakini adalah ketua orang orang berjubah itu berjalan ke depan barisan yang mengepung mereka. Dia membuka tudung jubahnya. Lalu tersenyum remeh. Zidan. Batin Ara dan Aby.
Semua menatap kaget orang di depan mereka. Yang benar saja,? Seniat itukah raja demon itu,? Sampai mengerahkan secara langsung tangan kanannya yang terkenal begis itu. Pantas saja Zack, Karin, dan Arthur tertangkap. Ternyata pasukan elit kerajaan demon.
"Hallo Tuan Putri." Sapa Zidan sambil membungkuk hormat pada Aby.
"Ah, aku tak menyangka ternyata ada putri Arabella disini. Salam putri." Sambung Zidan pada Ara.
Semua mengerutkan dahinya bingung. Putri,?
"Tak perlu disembunyikan lagi putri Ara. Faktanya, kau adalah putri kedua dari raja Amon." Semua terkejut kecuali Aby dan Ara tentu saja.
"Hahahaha.. ada apa dengan wajah kalian,? Jangan tegang begitu." Zidan terkekeh lalu menatap Aby tajam.
"Aku hanya diperintahkan membawa Tuan Putri Azura kembali ke kerajaan. Tapi tidak dengan putri Arabella." Senyum licik Zidan terlihat jelas dimata mereka semua.
"Dan yang lain, emm... akan kupikirkan nanti."
Aby diam. Tidak akan dia biarkan mereka menangkap dirinya lagi. Tidak akan. Wajah Zidan berubah datar, seketika pasukannya menyerang Aby dan lainnya.
Terjadilah pertempuran sengit. Zidan sendiri langsung mencari Aby dan menyerangnya. Zidan menyerangnya dengan fisik tanpa kekuatannya. Zidan adalah demon tingkat 2, dia adalah panglima terbaik selama ini. Menggantikan Gabril, ayah Valerie.
Aby dan Zidan beradu fisik. Sama kuat. Bahkan Aby bisa menyeimbangkan gerakan nya dengan Zidan. Menakjubkan. Zidan mengeluarkan pedangnya setelah bermain fisik dengan Aby. Begitupun Aby, dia mengeluarkan pedang legend kakeknya. Bunyi pedang saling bersahutan. Aby fokus melawan Zidan. Begitupun yang lain, namun terkadang mereka mengalihkan fokus mereka ke Aby. Jaga jaga jika Aby terluka.
Saling menyerang dengan teknik pedang masing masing. Zidan mengeluarkan kekuatan demonnya. Aby menghindar. Saat Aby akan mengeluarkan kekuatannya tiba tiba tubuh merasakan sakit. Dia melihat Alan terlempar jauh menabrak pohon dan batuk megeluarkan darah. Pertempuran mendadak ini, benar benar sulit. Merek tidak punya persiapan. Dan merek kalah jumlah.
Zidan mengayunkan pedangnya saat fokus Aby terbagi.
"Aby,!! Fokus,!!" Teriak Alan yang melihat Aby diam di tempat. Aby tergelak sadar, langsung menangkis pedang Zidan. Menyerang balik Zidan dengan kekuatan penyihir vampire dan demonnya sekaligus. Membuat Zidan kewalahan dan terpojok. Sedikit sulit melawan seorang yang memiliki 3 kekuatan bangsa terkuat.
Zidan lengah. Tangannya terpotong dengan sadis oleh Aby. Tanpa memberi jeda, Aby terus terus menyerang Zidan. Zidan terpojok untuk pertama kalinya. Gawat. Dia tidak pernah terpojokkan. Dan sekarang seorang wanita muda berhasil memojokkannya dan memotong lengan Zidan. Zidan murka.
Dia berubah menjadi wujud demonnya. Aby mundur kebelakang. Zidan akan semakin kuat jika berubah menjadi wujud demonnya. Tapi tidak cukup kuat untuk menyambung lengannya yang putus karena pedang Aby. Tanpa menunggu lama, Aby bertransformasi. Rambut peraknya berubah menjadi hitam legam. Matanya merah dan hitam. Dia menjadi demon. Tersenyum licik. Lalu menyerang Zidan dengan membabi buta. Dia harus cepat menyelesaikan ini, demi yang lain. Mereka semua kewalahan, lawan mereka tidak sebanding.
Alan, dan Aileen berubah menjadi wolf nya. Menyerang tanpa henti. Walau mereka sadar mereka kalah jumlah. Begitupun dengan yang lainnya mereka menyerang tanpa gentar. Namun lama kelamaan mereka terpojok, pasukan Zidan tidak ada habisnya. Merek melihat disana, Paman Zack, Bibi Karin, Arthur dan Valerie terikat sesuatu seperti tali yang terbuat dari cahaya. Merek tak bisa apa apa. Tali tali itu akan semakin mengerat jika mereka melawan.
Zidan dan Aby bertarung dengan gesit. Walau kehilangan satu lengannya, Zidan tidak mudah kalah. Zidan terus menyerang Aby, Aby hanya menangkis serangan Zidan. Saat dirasa Aby kewalahan dan terpojok, Zidan mengangkat pedangnya tinggi tinggi. Lalu menebaskan kearah Aby. Aby menghindar dengan cepat dan langsung berada dibelakang tubuh Zidan. Dengan cepat dia menebas leher Zidan tanpa ampun. Kepala Zidan menggelinding ditanah dengan leher yang mengeluarkan darah begitu segar.
Berhambur kemana mana. Mengenai wajah Aby hampir seluruh wajah. Wajah Aby datar. Pertempuran itu berhenti mendadak. Semua pasukan Zidan berhenti. Tercengang. Seorang panglima elit, mati ditangan seorang putri buronan. Mereka semua menjatuhkan pedang serentak lalu jatuh berlutut dan menundukkan kepala. Salah satu bawahan Zidan berucap.
"Kami akan setia pada ketua kami siapa pun itu." Diikuti pasukan lainnya. Itulah janji para pasukan elite. Ketua mereka dibunuh. Otomatis yang membunuh ketua mereka adalah ketua baru mereka. Aby mendongak menatap remeh orang orang didepannya. Orang orang munafik. Mudah sekali memberi janji setia mereka pada orang. Aby tak ambil pusing, itu memang tradisi mereka. Aby berjalan mengambil kepala Zidan dan melemparkan pada bawahan Zidan.
__ADS_1
"Kembalikan pada raja kalian. Jika ada pertempuran kalian tau siapa ketua kalian." Ucap Aby dingin. Lalu berbalik berjalan lebih dulu dari yang lain.
》》》》》