
Part 34
Bulan begitu indah menghiasi langit malam ditemani bintang bintang yang berhamburan di langit. Azura menatap langit malam dengan tenang. Sudah seminggu ini dia diam di dalam kamar tanpa keluar ataupun mengizinkan seseorang masuk. Tepat seminggu setelah kebangkitannya, Azura mengalami sakit kepala yang teramat sangat hingga beberapa hari hingga dia pingsan tak sadarkan diri. Dan setelah bangun, dia mengingat semuanya.
Ya, semuanya. Tepat saat dia mengingat semuanya, rasa sakit ditinggalkan begitu terasa. Bahkan dia menangis seharian. Dan sekarang disinilah dia. Menatap langit malam dengan tenang. Pikirannya melayang mengingat kejadian itu. Air matanya kembali menetes namun dengan cepat Azura menghapusnya. Menghela nafas. Bukankah dia sudah tertidur beberapa abad? Tapi kenapa rasa sakit kehilangan itu masih terasa dalam.
Dilain tempat, seseorang sedang duduk diranjang king size nya. Keadaannya terlihat sedikit berantakan. Kamar yang biasa rapi dan bersih itu pun terlihat berantakan. Bahkan penampilan yang biasa dia jaga pun sekarang terlihat tak terurus. Sudah seharian ini dia tidak keluar dari kamar pribadinya. Semalam dia seperti bermimpi namun terasa sangat nyata. Dia seperti dibawa ke masa lalu, seakan akan dia sudah pernah hidup dimasa itu.
Dan akhirnya dia sadar, dia pernah hidup dimasa itu. Dan sekarang dia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tapi, kenapa bisa. Dia yang dulu adalah seorang Alpha, dan sekarang dia hidup kembali menjadi seorang yang terkuat dengan seluruh darah makhluk imortal dalam dirinya. Apa maksudnya?
*****
Matahari pagi menampakkan dirinya dengan semangat membuat pagi itu benar benar cerah. Azura yang masih duduk di balkon kamarnya menikmati pemandangan saat sang mentari menampakkan diri.
Sejujurnya dia masih bingung apa yang akan dia lakukan. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Azura menoleh kearah samping, dan tiba tiba pintu terbuka. Menampakkan seorang Ara.
"Hai Azura. Bagaimana kabarmu?" Tanya Ara sambil tersenyum. Azura berbalik menatap Ara datar. Khas seorang Aby. Arra tersenyum canggung, dia merasa Azura telah kembali seperti dulu.
"Jadi, sepertinya kau sudah mengingat semuanya ya." Azura hanya mengangguk.
"Dimana ibumu? Disaat hidup terkahirku berabad lalu, aku tidak menemukannya." Ucap Azura datar.
Ara menghela nafasnya,
"Setelah perang itu, kami mencari secara besar besaran para pengikut Crisa Benevit yang tersisa. Dan kami memenjarakan mereka dan mengeksekusi mereka. Termasuk ibuku dan raja Aron. Ratu Liana memilih menyusul raja Aron" Jawab Ara dengan senyum paksa.
"Ohya, kau tidak bersiap? Mereka menunggumu diruang makan. Sudah beberapa hari kau tidak keluar. Mereka mengkhawatirkanmu." Ucap Ara pelan.
"Aku akan menyusul." Balas Azura, Ara mengangguk dan pergi keluar kamar Azura.
*****
Diruang makan semua telah berkumpul. Tidak biasanya seorang Xander Xaverious menampilkan wajah datar dan tatapan dingin pada keluarganya. Membuat semua bertanya tanya. Sesaat Azura muncul, dia berjalan dengan anggun menuju meja makan.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." Ucap Azura sopan. Semua tersenyum menanggapi ucapan Azura. Kecuali Xander, dia menatap Azura dalam dan tajam.
Azura yang merasa diperhatikan akhirnya menatap balik tepat di manik mata Xander. Mereka sama sama saling tatap dengan tajam dan dalam.
Namun, tatapan Xander perlahan berubah menjadi lembut dan rindu. Azura tersentak melihat tatapan Xander. Dia seperti merasakan sesuatu.
"Setelah sarapan. Temui diriku diruanganku." Ucap Xander datar. Yang dibalas Azura dengan tatapan datar.
Semua dimeja makan hanya diam menyimak. Mereka seperti menonton film adu tatapan.
"Ehem. Mari makan." Ucap bibi Erlyn.
"Ohya bagaimana kabar anakmu Ara Alvaro?" Tanya paman Arthur.
"Andara baik saja paman." Jawab Alvaro.
"Tahun ini dia akan pulang. Sebentar lagi akan libur." Sambung Ara.
"Lalu bagaimana dengan Bella dan Qian?" Tanya paman Zack.
"Sudah pasti mereka juga akan pulang. Diakan seangkatan dengan Andara." Jawab Aileen dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Dia baik saja Pa." Jawab Damian sopan.
"Aku tidak sabar ingin melihat para keponakanku." Ucap Azura datar. Semua langsung menatap Azura.
Sebenarnya perkataan Azura benar. Anak anak Ara dan Aileen adalah keponakan keponakan nya. Hanya saja, seperti tidak pantas melihat wujud Azura seperti seumuran dengan anak anak mereka.
"Ehem ya. Sebentar lagi kau akan bertemu mereka. Lusa mereka pulang." Ucap Aileen bahagia.
"Ohya Azura. Bagaimana jika kau ikut sekolah bersama mereka?" Tanya bibi Erlyn. Azura menatap bibi Erlyn syok.
"Jangan bercanda bibi. Dengan usiaku yang sudah berabad ini?" Kekeh Azura.
"Kenapa? Toh fisikmu tidak menampakkan kau seumuran dengan Aileen dan Ara." Balas bibi Erlyn.
"Jika dia sekolah maka aku juga akan sekolah." Ucap Xander membuat semua tersentak kaget.
"Memangnya ada apa Xander?" Ucap bibi Clau.
"Dia milikku." Jawab Xander tenang.
Azura mengerutkan dahi bingung.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak merasakannya?" Azura semakin bingung dengan pertanyaan Xander.
"Ikut aku. Akan kujelaskan." Xander berdiri dan berlalu diikuti oleh Azura.
Semua yang tersisa dimeja makan melongo melihat mereka.
"Aku harap ada sesuatu yang menyenangkan." Ucap bibi Erlyn.
"Hm, Claudia memang yang paling tau." Kekeh bibi Diandra.
******
"Jadi, apa penjelasanmu?" Tanya Azura saat tiba diruangan Xander.
"Aku Alan." Azura menatap Xander tak percaya.
"Tidak mungkin." Xander menghela nafas.
"Ya, seharusnya tidak mungkin aku bereinkarnasi dari seorang werewolf menjadi seperti ini. Tapi ini kenyataan. Aku mengingat semuanya. Saat perang itu." Jelas Xander lirih.
Azura menatap lekat Xander. Memang Azura akui, Xander benar benar mirip dengan Alan. Hanya saja aura mereka berbeda. Mungkinkah karena Alan dulu hanya seorang werewolf?
"Kau belum percaya?" Tanya Xander yang mendapat anggukan dari Azura sebagai jawabannya.
"Aku belum memberitahu mereka. Kau yang pertama. Awalnya aku ragu pada diriku sendiri. Ini terlalu mustahil. Tapi, seakan akan kenyataan terus datang padaku. Mengatakan bahwa aku bereinkarnasi. Aku ingin menolak, dan ingin hidup sebaga Xander. Tapi aku tidak bisa. Bagaimana pun juga, aku dulu adalah Alan. Aku tidak bisa menghilangkan masa laluku." Jelas Xander panjang lebar.
Mata Azura berkaca kaca. Ya, sebenarnya Azura sudah merasakan sesuatu yang familiar saat tadi menatap Xander. Tanpa aba aba, Xander maju dan memeluk Azura erat. Begitupun Azura membalas pelukan Xander, tanpa henti airmatanya terus mengalir.
"Kau kembali." Isak Azura.
"Ya, aku diizinkan kembali untuk melindungimu. Akan aku lindungi dirimu dengan nyawaku." Bisik Xander.
__ADS_1
"Aku merindukanmu. Alan." Xander tersenyum bahagia.
"Aku juga Ab." Balas Xander.
Dia tidak menyangka, akan sebahagia ini rasanya.
"Tidak akan kubiarkan seorang pun melukai mu, My Queen." Bisik Xander lalu mencium kening Azura lama.
*****
Semuanya terkejut. Seakan akan rahang mereka akan berjatuhan dilantai saat mendengar berita ini.
Bibi Karin bahkan sudah menangis, begitupun Aileen. Sedangkan paman Zack, mencoba tegar.
"Aku tidak menyangka, jika kakak kembali. Tak apa, jika kakak kembali kedunia ini dengan menjadi anak bibi Erlyn. Asalkan kau kembali. Aku bahagia." Isak Aileen masih sambil memeluk Xander.
"Sudahlah Aileen. Kau sudah menjadi sosok ibu. Berhenti merengek seperti ini." Balas Xander.
Ya, Xander adalah reinkarnasi Alan. Semenjak kebangkitan Azura, Xander sering bermimpi tentang Alan. Yang tidak lain adalah dirinya dimasa lalu. Awalnya dia tidak mengerti mengapa bermimpi seperti itu. Namun, semakin lama dia paham. Setelah dia mengingat semuanya, rasa rindu yang teramat sangat begitu mendera dadanya. Membuatnya ingin mememui Azura saat itu juga. Hanya saja, dia tidak ingin gegabah.
Semua bahagia saat mengetahui bahwa Xander adalah reinkarnasi Alan. Terutama Azura. Dia benar benar tidak menyangka akan diberi kesempatan untuk bersama Alan lagi.
"Aku akan mencari guru private untuk Azura. Jadi dia tidak perlu ke sekolah bersama anak anak kalian." Ujar Xander.
"Ya, sudah kuduga." Balas bibi Erlyn sinis.
"Aku tidak menyangka jika kau adalah Alan." Senyum bibi Diandra.
"Aku juga tidak menyangka jika kau adalah Alan, anakku." Ucap bibi Karin terharu.
"Aku juga tidak menyangka mom." Senyum Xander.
"Dan, nenek. Kapan orang tua akan kembali?" Tanya Xander.
"Hmm.. kemungkinan besok mereka akan tiba disini." Balas bibi Erlyn.
"Jadi, siapa nama ibu dan ayahmu dimasa ini?" Tanya Azura. Xander menoleh kearah Azura.
"Kenzie dan Natalie." Azura mengangguk.
"Sungguh dunia ini tidak adil. Azura hidup berabad abad lamanya dan fisiknya tidak menua sama sekali." Ucap Aileen kesal.
"Aku berharap, aku bereinkarnasi seperti Xander." Balas Azura.
"Seperti ini membuatku seperti wanita tua yang menyukai lelaki yang jauh lebih muda dariku." Lanjut Azura.
"Istilah sekarang, pedofil Azura." Kekeh Xander. Begitupun semua orang yang ada disitu.
"Sepertinya kau harus segera mencari guru privat Xander." Ucap bibi Clau tertawa anggun.
"Bibi Erlyn sudah menikah, bagaimana dengan bibi Diandra dan bibi Clau?" Tanya Azura spontan membuat mereka diam.
"Ehem. Bisa kita tidak membahas kearah itu?" Tanya bibi Diandra risih.
"Ya, benar kata Diandra." Sambung bibi Clau.
__ADS_1
Membuat semua kembali tertawa.
》》》》