
Part 28
Di tempat lain, di waktu yang sama saat Aby dan Alan pergi, mereka pun bersiap siap dengan membagi menjadi dua bagian. Bagian pertama ada paman Zack, bibi Karin, dan Valerie, sedangkan bagian dua ada bibi Claudia, Aileen, dan Ara.
Paman Zack menuju ke tempat Artur, sedangkan bibi Claudia menuju ke tempat Diandra. Mereka semua menaiki mobil yang sudah di tentukan, perlahan mereka melajukan mobil masing masing. Dan pergi jauh.
Sedangkan di tempat lain, Aby dan Alan sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang mereka tau adalah Erlyn.
"Panggil aku seperti kalian memanggil teman temanku." Ucapnya datar,
"Bibi Erlyn?" Alan berucap dengan menaikkan sebelah alis nya.
"Terlalu panjang, cukup bibi El." Alan dan Aby mengangguk paham.
Hening, tak ada yang mengeluarkan satu kata pun. Bisa di bayangkan tiga orang dengan karakter dingin dan irit bicara duduk bersama, Benar benar hening.
Akhirnya setelah sekian lama mereka berhening ria, Aby mengeluarkan suara.
"Bisa beritahu aku cara melawan sang demon dalam diriku?" Bibi El menatap Aby datar.
Lalu sedetik kemudian tersenyum miring.
"Aku suka karaktermu." Aby hanya menaikkan sebelah alisnya. Bibi El merilekskan tubuhnya, namun begitu raut wajahnya masih datar.
"Sekarang atau nanti?" Bibi El memandang lurus Aby, Aby dan bibi El saling pandang. Seakan akan mereka bicara melalui tatapan, membuat Alan mendesah kesal.
"Lebih cepat lebih baik." Lalu bibi El berdiri memberi isyarat agar Aby mengikutinya. Saat Aby berdiri, bibi El menatap Alan,
"Kau bisa istirahat." Lalu kedua wanita itu berlalu dari hadapan Alan.
Akhirnya Alan memutuskan berjalan menuju kursi panjang dan merebahkan tubuhnya. Bagaimanapun, dirinya masih membutuhkan istirahat. Dia pun memejamkan matanya. Tidur.
__ADS_1
>>>>
Bibi El membawa Aby ke sebuah ruangan, yang kosong tak ada satupun yang mengisi ruangan itu. Bahkan seluruh warna ruangan itu berwarna putih. Aby dan bibi El berhadapan, bibi El memandang Aby serius.
"Disini aku akan membimbingmu menaklukkan demon mu. Hanya membimbing, tak lebih. Selebihnya usaha dirimu sendiri." Aby hanya mengangguk samar.
Mereka berdua pun duduk berhadapan. Kemudian Aby memejamkan matanya, fokus untuk bisa masuk ke alam bawah sadarnya. Sedangkan bibi El melihat Aby dengan serius, saat Aby memejamkan matanya, bibi El pun memejamkan matanya, berusaha menggunakan kekuatannya menembus alam bawah sadar Aby.
Aby membuka matanya, di depannya terdapat tiga pintu yang sudah tak asing. Dua dari pintu itu sudah tak tersegel. Sedangkan satu pintu paling ujung masih tersegel, di dalamnya terdapat seorang wanita menggunakan gaun hitam masih dengan tatapan tajam nan dingin nya ke arah Aby. Sedangkan bibi El, tak bisa ikut masuk kedalam, hanya sanggup melihat.
"Masuklah dan temui dia Aby." Suara bibi El menggema. Aby melangkah menuju sang demon, saat di depan sang demon dia menatap sang demon lurus.
Kemudian Aby masuk kedalam, menemui sang demon.
"Aku tak ingin melawanmu." Ucap sang demon, Aby hanya menatap menunggu kelanjutan dari ucapan sang demon.
"Tapi aku punya penawaran untukmu." Senyum licik itu terlihat jelas di wajah sang demon.
"Apa penawaranmu." Sang demon semakin melebarkan senyumannya.
"Aku akan memberikan semua kekuatanku padamu, jika kau sanggup menanggung semuanya, dengan senang hati aku akan tunduk padamu. Jika sebaliknya, aku akan menguasai dirimu." Wajah Aby semakin datar, otaknya berpikir keras kemungkinan yang akan terjadi.
Sedangkan sang demon menatap Aby dengan senyum liciknya. Sedangkan bibi El, juga sedang berpikir keras langkah apa yang harus dia ambil. Sang demon tak mungkin memberikan kekuatannya semudah itu. Bukan rahasia lagi jika kekuatan sang demon tak bisa di anggap remeh. Semua harus di pikirkan secara baik baik.
"Kau harusnya berterimakasih aku menawarkan seperti itu. Apa kau yakin bisa mengalahkanku?" Aby berpikir keras, semua jalan sama saja. Jika dia tak kuat, maka sang demon berkuasa.
Kemudia Aby mendengar suara yang bergema.
"Kurasa dia benar, lebih baik menerima tawarannya, kita akan memikirkan cara untuk mengalahkannya nanti. Tapi, jika kau yakin bisa mengalahkannya sekarang, kau bisa tidak menerimanya." Aby semakin bimbang, sedangkan sang demon masih memasang tampang menyebalkan bagi Aby.
"Baiklah."
__ADS_1
>>>>
Rombongan paman Zack, sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka turun dari mobil dan menuju ketempat Artur. Artur seorang vampire, dan penciumannya sangatlah tajam. Dia berjalan keluar, dan melihat Zack dan lainnya. Lalu dia tersenyum,
"Halo Zack, lama tak berjumpa." Mereka berpelukan, setelah melepaskan pelukannya, Artur menyalami bibi Karin dan juga Vale.
"Masuklah tamu tamu khusus ku." Mereka mengikuti Artur masuk ke dalam kastilnya.
"Karena kalian sampai saat hari sudah malam, sebaiknya kalian istirahat. Akan ku tunjukman kamar kalian." Artur membawa Mereka tepat di depan sebuah kamar,
"Zack, ini kamarmu dengan istrimu." Zack tersenyum,
"Terimakasih Artur, dan kuharap kau memperlakukan Valerie seperti putriku. Karena aku sudah menganggapnya sebagai putriku." Artur mengangguk,
"Aku mengerti Zack." Akhirnya paman Zack dan bibi Karin masuk kedalam kamar tadi,
"Vale, jika ada apa apa beritahu aku." Senyum bibi Karin sebelum menutup pintu kamarnya. Valerie tersenyum tulus.
"Ayo, akan ku tunjukkan kamarmu." Akhirnya Vale pun mengikuti Artur.
Tepat di sebelah kamar paman Zack dan bibi Karin adalah kamar yang dimaksud oleh Artur.
"Ini kamarmu, selamat beristirahat." Vale pun masuk ke kamarnya dengan senyum tipisnya.
Bagaimana tidak, seorang Vampire yang seusia paman Zack namun memiliki fisik seumuran Alan anak paman zack! Walau sedikit terlihat tua. Wajar saja, dia vampire. Jika bukan karena itu, percayalah Valerie sudah pasti takluk dalam pesona Artur. Dan demi apapun, Valerie tidak percaya jika seorang vampire seperti paman Artur itu bisa seramah itu. Berbeda dengan kebanyakan vampire yang sifat nya sesuai dengan suhu tubuhnya, dingin.
Valerie merebahkan tubuhnya di atas kasur, hari telah malam. Dia menatap langit langit kamar, mengingat masa masa dimana dia melihat bagaimana ayah dan ibunya sangat setia menjadi tangan kanan ratu Adora. Dia juga tau jika sang ratu benar benar baik dan ramah. Hingga akhirnya dia pun menjadi salah satu tangan kanan ratu Adora. Dan di latih dari kecil hingga dia cukup umur untuk mengemban tugasnya. Namun ratu Adora sudah tiada, akhirnya dia diperintahkan untuk terakhir kalinya oleh ratu Adora untuk menjaga anaknya.
Dan sekarang dialah disini. Dia kira, sosok seorang anak dari ratu Adora adalah sosok seperti ratu Adora yang ramah. Dan dia pikir, seorang yang akan dia lindungi adalah sosok yang tak bisa melakukan apa apa. Tapi nyatanya, seorang Azura Salvador mempunyai kekuatan yang bahkan melampaui dirinya yang sudah berlatih bertahun tahun.
Valerie memejamkan matanya, melupakan sejenak masalah masalah yang datang. Mengistirahatkan otaknya.
__ADS_1
》》》》》