
Writer : @olinoya_
Aku Noya, Olinoya Yuu.
Sekarang aku sedang berlari bersama kakakku untuk mengejar sebuah sinar yang sangat terang.
Kakakku bernama Nishi Yuu.
"Kakak! Ayo cepat kak!!"
"Iya, tunggu!"
Aku berlari bersama kakakku menuju ke arah tebing yang curam.
Karena aku dan kakakku melihat ada seperti sinar yang terang jatuh dari langit disekitar tebing. Ternyata benar.
Ada sebuah kristal besar berbentuk seperti belah ketupat. Sangat terang.
"Kak, lihat itu! Kristalnya besar banget!!" ucapku.
"Waahhh... kristal ini begitu menarik perhatian. Tapi... kenapa tidak ada orang yang kesini dan melihatnya?" tanya kakak.
"Bener juga sih... kok nggak ada yang kesini ya? Bukankah ini sangat menarik perhatian?" pikirku.
"Ayo kita lihat lebih dekat!" ajak kakak.
Aku dan kakak berjalan mendekat ke arah kristal itu.
Kristal itu berwarna putih dan hitam. Tetapi, lebih besar yang berwarna putih. Seperti... kristal yang harus dimurnikan.
"Kristalnya... punya aura aneh." ucapku.
Kakak tetap memandangi kristal itu.
Sampai kakak mengatakan, "Lihat, di dalamnya ada 2 pegasus. Yang satu hitam, yang satu putih!"
"Ah, benar!"
"Tapi, sayapnya berlawanan" ujar kakak.
"Iya! Aneh banget kak" jawabku.
Ini pertama kalinya aku melihat pegasus. Pegasus ini nampak seperti aslinya.
Tetapi, pegasus yang putih memiliki sayap hitam. Sedangkan pegasus yang hitam memiliki sayap putih.
"Sepertinya ada yang salah" pikirku.
"Jadi pengen punya pegasus yang putih..." pikirku.
"Dek, gimana kalo... kita pegang dari sisi kristal yang berbeda? Kamu mau yang mana?" tanya kakak secara tiba-tiba.
"Eh? Yang pegasus putih bersayap hitam. Kristal bagian putih aja, kak!" jawabku.
"Oke, kakak yang hitam ya"
Aku dan kakak berjalan kearah yang berbeda.
Aku sekarang berada di sisi yang berbeda dengan kakak.
"Gimana nih, kak?" tanyaku.
"Kita pegang kristal ini bersamaan yuk! Kakak kepo, nih. Pengen tau apa yang terjadi" jawab kakak.
"Oke. Tapi, kakak gapapa tuh? Belakang kakak itu jurang loh, kak!"
"Gapapa kok. Tenang aja. Kakak hitung mundur ya!"
"Padahal sekitar 10 meter dari kakak, ada jurang" pikirku.
Kakak mulai menghitung dari angka 5.
Saat kakak selesai menghitung, kita menyentuh kristal itu.
Cahaya yang sangat terang muncul, dan semakin membesar. Sangat menyilaukan.
Aku terhempas ke belakang. Aku pun membentur sebuah pohon besar.
Kristal itu menghilang.
"Akhh!!"
"Eh? Siapa itu? Suaranya.... jangan-jangan...." pikirku panik.
Aku langsung berlari ke pinggir tebing.
Aku melihat kakak terjatuh ke jurang.
"Kakaaaaaaaaaakkkkkk!!!!"
Aku segera berlari menuruni tebing. Saat kuperiksa, kakak tidak kutemukan setelah mencarinya selama 15 menit. Tetapi, aku menemukan jejak kaki.
"Sepertinya, ada yang membawa kakak pergi dari sini!" pikirku.
Aku pun pulang untuk mencari bantuan.
"Papa!! Kakak, pa!!" teriakku.
"Ada apa?" tanya papa.
"Kakak dibawa pergi paaaa!!! Pas di jurang tadiii!!"
"Coba jelasin pelan-pelan, ya"
Aku pun menceritakan kejadiannya.
Papa pun segera mengutus orang untuk menyelidikinya.
"Noya, kamu tidur dulu. Besok sekolah" perintah mama.
Aku pun naik ke lantai atas. Menuju ke kamar.
Saat aku ganti baju, aku tak sengaja melihat ada sebuah gambar sayap hitam pegasus putih yang tadi, ada di dada kiri ku.
"Eh, kok ada lambang sayap hitam pegasus?"
Aku kebingungan.
Aku pun mengabaikannya dan segera tidur.
__ADS_1
{Keesokan harinya}
Aku terbangun karena suara alarm.
Aku kaget karena sudah jam 08:27.
Aku segera bersiap-siap dan berlari menuju sekolah.
Jarak kediaman Yuu dan sekolah sekitar 10 menit.
"Selamat pagi, Noya!" sapa anak lain di tengah perjalanan.
"Selamat pagi juga" jawabku.
Aku pun sampai di gerbang sekolah.
"Huhh, untung aja tepat waktu. Kalo enggak, bisa gawat nih"
"Bangun kesiangan lagi?" tanya OSIS yang ada di sampingku.
"Yap" jawabku tanpa menoleh.
Aku pun menoleh.
Ternyata dia adalah Robin White. Tuan muda kedua keluarga White. Satu kelas denganku.
"Robin White, dimana Misaki? Apa dia di kelas?" tanyaku.
"Katanya sih... dia mau ke gedung olahraga 10 menit yang lalu" jawab Robin White.
"Apaa?!!!"
Aku langsung berlari ke arah gedung olahraga.
Aku pun langsung membuka pintunya.
"Maaf, aku telat!!" teriakku.
"Nyali mu besar juga ya. Berani sekali telat begini" ujar Ryu To.
"Huahahaahaa.... sial sekali kamu, Olinoya Yuu!" ujar Tanaka To.
"Maaf, kapten!"
"Oh" jawab kapten Misaki Jun.
"Kau tetap jadi libero untuk turnamen selanjutnya. Selamatkan banyak bola lagi" ujar Chen Shao.
"Oke!" jawabku.
Kriiingggg.....
Bel sekolah berbunyi.
Aku dan Misaki Jun adalah teman sekelas. Kami ada di kelas 2-5. Dia adalah ketua kelas 2-5.
/Di Kelas 2-5/
"Hey, hey, hey! Aku datang!" teriakku.
"Yo, Olinoya Yuu! Apa kau tahu kabar semalam?" tanya Aikawa Shu.
"Eh, kau tak tahu? Itu 'kan masih tanah milik keluarga Yuu. Masa tuan rumah nggak tahu" ucap Morris Yi kaget.
"Tadi malam sekitar jam 12, semua orang di dunia ini mendapatkan kekuatan misterius. Ada banyak macamnya. Disesuaikan dengan kepribadian dan kekuatan tubuh. Tapi, pemerintah tidak membolehkan kita memakainya sampai ada pemberitahuan lebih lanjut" jelas Misaki Jun.
"Lalu? Apa hubungannya sama tanah milik keluarga ku?" tanya ku.
"Begini, bakat ini muncul setelah ada sinar yang sangat terang di puncak tebing yang disampingnya ada jurang yang ada sungainya, dan itu tempat yang bagus untuk melihat bintang, dan itu masih milik keluarga Yuu, dan sekarang sedang diselidiki, dan kita tinggal menunggu, dan kamu masa tidak tahu, dan- " kata-kata Michael Way terputus.
"Hentikan bualan mu yang suka disambung-sambung dengan kata 'dan'. Kita sedang serius tau" potong Aikawa Shu.
Aku berpikir...
Berusaha mengerti apa yang dikatakan Michael Way. Karena aku yang paling paham dengan cara membual nya.
"Sinar terang... tengah malam... tebing dan jurang disertai sungai... tempat yang indah untuk melihat bintang... jangan-jangan ini, kejadian tadi malam saat kakak tiba-tiba menghilang!?" pikirku.
"Lalu, apa lagi yang terjadi?" tanyaku memperdalam informasi.
"Sekarang kita semua punya kekuatan. Begitu singkatnya. Lihatlah, kekuatan ku adalah api" ujar Robin White.
"Kekuatan ini disebut quirk, 'kan?" tanya Xiao Li.
"Benar!" jawab Robin White.
Braaakkk....
Pintu kelas bergeser.
Ternyata ada pak Akatsuki, dia adalah wali kelasku.
Semuanya pun duduk di bangku masing-masing.
Pak Akatsuki mengumumkan sesuatu.
"Anak-anak, kalian sudah dengar kabar kekuatan misterius itu 'kan? Tadi ada surat dari pemerintah bahwa kalian harus pindah sekolah!"
"Apaaaaaa?!!!!" teriak anak-anak kaget.
"Diam!" teriak Misaki Jun.
Aku pun berdiri, "Apa maksudnya pindah sekolah, pak?!"
Aku pun segera duduk kembali.
Pak Akatsuki kembali menjelaskan.
"Maksudnya, kalian akan memilih sekolah khusus untuk kalian sendiri. Pilihlah, dimana saja bisa. Kalau kalian ingin tetap disini, kalian tidak akan diberi pelajaran selama seminggu untuk sementara. Karena membutuhkan waktu untuk persiapan. Dengan kata lain, sekolah pahlawan. Ini dibuat supaya kalian tidak menyalahgunakan quirk kalian. Kalau tidak, kalian akan masuk penjara. Para polisi adalah orang yang tidak memiliki quirk, jadi disekolah ini ada kelas khusus orang biasa"
"Ah, begitu rupanya!" komentar Michael Way.
"Baiklah, aku paham. Aku akan tetap disini" ujar Misaki Jun.
"Pindah sekolah? Andai kakak ada disini... Huufftt... coba aku tanya papa nanti" pikirku.
"Ssttt, Yuu. Kau nanti mau dimana?" tanya Robin White berbisik.
"Entah. Aku belum memutuskan akan bagaimana" jawabku.
__ADS_1
"Oh, kalau aku... mungkin akan ke kota Z. Di Akademi Pahlawan Yoes. Disana nanti aku akan tinggal di asrama sekolah. Asramanya nggak kalah besar sama hotel bintang 5. Dan itu hanya untuk satu kelas, khusus jurusan pahlawan. Kan kita mau naik kelas 3 SMP" ujar Robin White.
"Kamu tanya pelayan pribadi mu, 'kan? Lewat HT-talkie walkie (HT-tw) pastinya. Aku tahu loh" ujarku sambil tersenyum.
"Anak-anak mohon perhatiannya!!" ujar pak Akatsuki.
Semuanya pun menghadap ke depan.
Pak Akatsuki menjelaskan kembali.
"Ini adalah formulir pilihan sekolah. Ada yang khusus punya quirk, maupun tidak. Nanti coba cek ke ahli quirk di rumah sakit. Paling lambat mengumpulkan formulir, hari terakhir tanpa pelajaran disekolah. Kalian selama seminggu besok, bebas mau masuk atau tidak. Mengerti?"
"Haik!" ucap sekelas serentak.
"Misaki, bagikan formulir ini!! Bapak mau ke ruang guru dulu. Kalian bebas ngapain aja. Jangan berbuat onar. Nanti tidak ada pelajaran, sampai seminggu kedepan. Ingat itu. Baiklah, bapak pergi dulu " perintah pak Akatsuki.
Braaakkk...
Pintu kelas ditutup oleh pak Akatsuki.
Aku bingung mau sekolah dimana.
Aku ingin mencari kakak.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Sayap hitam pegasus!! Pasti ada kaitannya!!" pikirku.
Aku pun akhirnya menerima formulir itu.
"Robin White, kau pilih yang mana?" tanyaku berbisik.
"Panggil aku Robin saja. Statusmu lebih tinggi dariku juga. Lagipula, aku akan memilih Akademi Pahlawan Yoes" jawab Robin White.
"Status kita sama-sama bangsawan tau" ucapku.
"Kau itu konglomerat. Lebih kaya dari bangsawan" ujarnya.
"Ah, sudahlah"
{Saat pulang sekolah}
"Oi, Noya. Pulang bareng?" ajak Misugi Taro, Michael Way dan Robin White.
"Oke, boleh" jawabku.
Kami berempat berjalan pulang. Kebetulan rumah kami searah, nanti kami akan berpisah di perempatan dekat rumahku.
Aku melihat ada Vending Machine di pinggir jalan.
"Hey, ayo beli minum. Aku traktir, masing-masing ¥200" ujarku.
"Yoshaaa!!!" ucap mereka girang.
Aku pun membeli jus apel kalengan.
Dengan harga ¥175.
"Sudah, 'kan?" tanyaku.
"Sudah~" jawab Michael Way.
"Ayo pulang" ajak Robin White.
"Oke" ucap Misugi Taro.
Kami bertiga pun kembali berjalan pulang.
[Kediaman Yuu]
"Olinoya Yuu, kemari sebentar!" panggil papa, Akiyasu Yuu.
"Iya, pa. Perjalanan niihh..." jawabku.
Aku pun menghadap ke papa.
"Ada apa, pa?" tanyaku.
"Papa dengar, anak-anak sekolah harus cari sekolah pahlawan ya? Kamu mau sekolah dimana?" tanya papa.
"Nggak tahu nih, pa. Aku aja belum cek quirk" jawabku.
"Nah, papa sudah manggil ahli quirk. Silahkan dicek, pak" perintah papa.
"Eh? Ahli quirk, ya. Pemeriksaannya kayak gimana ya?" pikirku.
Ahli quirk itu pun memandangi ku.
Sampai akhirnya dia mengatakan, "Quirk milik tuan muda kedua ini... langka! Saya tidak pernah melihat yang memiliki aura kuat seperti ini. Tuan muda kedua bisa masuk ke sekolah manapun, tetapi saya rekomendasikan untuk masuk ke sekolah elit"
"Kabar yang bagus! Jadi, kamu mau sekolah dimana, Noya?" tanya papa gembira.
"Entahlah, akan aku pikirkan"
Aku pun naik ke lantai atas, menuju kamarku.
Saat masuk kamar, handphone ku berdering.
Aku pun segera mengangkat teleponnya.
"Halo, ini Olinoya"
"Halo, Noya. Aku Nero Jin!"
"Ah, kak Nero rupanya. Ada apa, kak?"
"Hey, apakah Nishi pergi ke kota Z?" tanya Nero Jin.
Nero Jin adalah kakak sepupuku.
"Eh, bukannya kau sudah tahu kalau kak Nishi hilang karena diculik? Mana mungkin dia di kota Z" jawabku.
"Tentu saja! Tapi, aku melihatnya saat pulang sekolah tadi!" ujarnya.
Aku kaget mendengarnya.
"Apa?!!"
つづく ...
__ADS_1