The Strongest Hero

The Strongest Hero
Asrama Kelas 4A


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Baiklah, ayo kita lihat asrama kelas 4A. Bagi yang rumahnya jauh, pastinya harus tinggal di asrama ini, ye kaannn?? Kalau yang dekat, nggak usah," ujar pak Kim.


"Hey, Noya. Pak Kim ini.. kok sifatnya mirip pak Akatsuki, yak?" tanya Robin sambil berbisik.


"Mereka type orang yang sama," jawabku malas.


"Ada, yang begitu rupanya," balas Robin.


Singkat cerita, kami semua sudah sampai di sebuah gedung yang besar. Aku tidak percaya kalau itu adalah sebuah asrama. Karena ini lebih dari kata 'woaaahhh' begitu.



"Ini adalah asrama kelas 4A. Setiap anak memiliki 1 kamar. Formulirnya sudah diurus oleh sekolah, masalah biaya dan lain-lain ada di dalam surat yang akan saya berikan nanti," jelas pak Kim.


Kami mulai melihat-lihat ruangan di dalam gedung itu. Sungguh, seperti rumah sendiri. Bukannya asrama. Semua anak sudah diberitahu nomor kamarnya masing-masing, dan mendapatkan surat untuk biayanya.


Aku dapat kamar nomor 4, paling pojok di lantai 2.


"Woah, kamarmu pasti penuh ketenangan, Noya!" ujar Robin iri.


"Iri bilang bos!"


"*****, bisa gitu, yak," balas Robin.


Aku masuk untuk melihat kamarku. Yah, yang ada hanya ruangan kosong. Aku segera membuka surat yang diberikan pak Kim. Ternyata, harus memindahkan barang dari rumah sendiri. Bisa diatur sesuai keinginan, karena ini kamar sendiri.


*Kok ngeselin, ya...* pikirku kesal.


Aku segera keluar dan mengunci kamarku.

__ADS_1


"Eh, ketemu lagi."


Aku menoleh. Ternyata, dia adalah Chika.


"Kok kamu lagi, sih. Jangan bilang, kalo kamu itu di kamar 3," ujarku menebak.


"Kan memang disamping mu," jawabnya.


*Sial, gawat ini. Hari-hari menyebalkan akan datang, matilah aku* pikirku.


Tidak terasa, hari sudah mulai sore.


Seharusnya, aku sudah pulang bersama Robin sekaran. Tapi tidak!


Robin the White Knight sangat populer. Aku sampai harus menunggunya, lama sekali. Salah sendiri, tidak mau menyembunyikan identitasnya sebagai the White Knight.


*Walau sudah menyembunyikan marga tetap tidak bisa, ya. Ah, tetap percuma saja! Dia sudah terkenal di Akademi, buat apa lagi menyembunyikan marga White,* pikirku stress.


Tiba-tiba, ada suara di dekat telinga ku.


Aku langsung tersentak kaget, dan tersungkur ke tanah.


"Aduh.. sakit, siapa sih?!" ujarku kesal sambil berusaha berdiri.


"Haha, maaf menunggu lama. Tadi aku sekalian daftar OSIS, jadi nggak buang-buang waktu. Aku pintar, 'kan? Cepat puji aku," ujarnya.


"Huh, iya deh iya. Kamu pintar. Tapi, lebih pintar aku!" ujarku meledeknya.


"Damn it," gerutu Robin kesal.


"Ah, ayo pulang aja. Ngantuk banget, nih," ujarku sambil menguap.

__ADS_1


"Ya, aku juga mau main game di kamar," jawab Robin.


Singkat cerita, aku sudah sampai rumah. Sekarang, sedang turun ke lantai bawah untuk menemui papa.


"Pa, ini surat untuk asramanya," ujarku memberikan suratnya.


Papa segera membaca suratnya secara detail.


"Oh, kalau barangnya, akan papa suruh antar sekarang saja. Biar besok kamu udah bisa tidur di asrama," ujar papa memutuskan.


*Segitunya ingin aku keluar dari rumah, ya?* pikirku kesal.


"Oh iya, gambarkan peta kamarnya. Nanti papa kasih ke pengawal. Biar mereka yang urus, pastikan itu detail," suruh papa.


"Ya, detail kok."


Aku segera menggambarnya.


Ranjang ada di sisi kanan. Meja belajar di sisi kiri. Nanti sisanya aku akan hias sendiri. Sesuai seleraku.


"Pengawal, tolong urus ini. Harus detail dengan yang digambar tuan muda kedua, ya. Asrama kelas 4A, kamar nomor 4, di Akademi Pahlawan Yoes," suruh papa.


"Baik, tuan Yuu."


"Tuan muda kedua, sudah waktunya tidur. Mari saya antar ke kamar," ujar Risuke.


"Oh, oke."


"Thanks, Papa," ujarku.


Papa hanya tersenyum seperti biasa.

__ADS_1


Aku segera kembali ke kamar dan tidur.


つづく ...


__ADS_2