
Writer : @olinoya_
Aku menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat, menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua, aku melihat Chika sedang mengeluarkan es dari telapak tangannya. Aku langsung menghampirinya
"Quirk ice?" tanyaku singkat.
"Tidak, tadi ada orang yang tidak sengaja menabrakku. Ternyata quirknya ice," jawab Chika.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyaku bingung.
"Quirkku copy. Aku bisa menyalin quirk apapun, jika menyentuh pemilik quirk itu. Walau sehelai rambut atau keringat," jelas Chika.
"Keren!" komentarku kagum.
Aku langsung mencabut sehelai rambutku, "Coba pegang ini. Aku ingin tahu akan jadi apa."
Chika langsung mengambil rambutku. Dia pun mencoba mengeluarkan quirk milikku. Keluar air dari telapak tangannya.
*Eh, itu quirk terakhir yang ku gunakan!* pikirku.
"Quirkmu akan berada di dalam tubuhku selama sepuluh menit," jelas Chika.
"Hah? Nanti aku tidak punya quirk, dong?!" ujarku kaget.
"Bukan gitu juga. Maksudnya aku hanya menyalin quirkmu, bukan mengambil quirkmu. Aku harus menyentuh orang untuk satu jenis quirk yang bertahan selama sepuluh menit," jelas Chika.
"Coba keluarkan quirkku yang lain," perintahku.
"Hey, mana bisa? Quirkmu hanya satu," tolak Chika.
"Quirkku desire," jawabku.
Wajahnya terlihat kaget. Pupil matanya yang berwarna biru cerah terlihat bersinar cerah.
__ADS_1
"De.. sire..? Maksudmu, keinginan..?" tanya Chika kaget.
"Ya. Tapi, semakin besar kekuatan yang kugunakan, semakin besar juga tenaga yang kupakai," jawabku.
"Baiklah, akan aku coba," ujar Chika.
"Cobalah," balasku tenang.
Chika langsung mencoba mengeluarkan quirk lain. Tetapi, yang keluar hanya quirk air yang kugunakan terakhir kali.
"Percuma. Hanya air yang keluar. Tenagaku sudah terkuras banyak," ujarnya.
Aku langsung mengeluarkan ledakan kecil dari tanganku, dan mencabut beberapa helai rambutku.
"Cobalah, quirk explosion," ujarku sambil memberikan beberapa helai rambutku.
Chika langsung mengambilnya dan berhasil mengeluarkan ledakan.
"Ah, mengeluarkan quirk terakhir yang kugunakan. Baiklah, aku paham," komentarku.
"Bisa menyalin dua quirk?" tanyaku kaget.
"Ya, hanya bisa dua quirk," jawabnya.
Aku langsung membawa semua belanjaan.
"Ayo kembali ke asrama," ujarku.
"Apa? Asmara?! Kau menyatakan perasaanmu?!" ujarnya kaget.
*Kok Déjà vu, ya? Sangat menyebalkan,* pikirku kesal.
"Asrama, bukan asmara. Ayo kembali ke asrama sekolah," ujarku memperjelas.
__ADS_1
"Oh, baiklah," jawabnya.
Singkat cerita, kami sudah sampai di depan kamar masing-masing.
"Thanks, Noya!" ujar Chika.
"Oh," jawabku singkat.
*Anak ini kalau jawab singkat banget, sih,* pikir Chika.
Aku menjawabnya, "Kalau kamu minta aku jawab dengan panjang, bilang dong. Jangan diam saja."
Chika memandangi ku dengan kaget.
Dia pun mengeluarkan suara, "Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan?"
Aku yang mendengar itu langsung kaget. Karena tadi aku mendengar suaranya dengan jelas. Ternyata, itu adalah isi hatinya.
*Astaga, aku lupa menonaktifkannya. Lebih baik ku rahasiakan dulu,* pikirku.
"Ah, aku hanya menebak apa yang kau pikirkan, Chika," jawabku.
"Oh, begitu," jawabnya.
*Dia sendiri balasnya singkat, bjiirrrr,* pikirku.
Aku pun merogoh saku celanaku untuk mencari kunci kamar.
Aku pun berhasil menemukannya tanpa kesulitan.
*Hufftt... untungnya tidak jatuh tadi. Kalau tidak, tamatlah riwayatku,* pikirku.
Sebelum masuk, aku pun menonaktifkan quirk mind reader milikku. Supaya tidak terganggu dengan isi hati orang lain. Tetapi, anehnya adalah... yang bisa kudengar tadi hanya isi hati orang-orang yang berjarak lima meter dariku.
__ADS_1
*Oh, kinerjanya begitu rupanya,* pikirku paham.
Aku langsung masuk ke kamar sambil membawa barang belanjaanku.