
Writer : @olinoya_
Aku segera mengambil formulir untuk data diriku.
*Nama.. tempat tanggal lahir.. usia.. asal sekolah.. alamat rumah.. jurusan.. masuk di kelas.. quirk..* pikirku.
"Ssttt... Noya, Noya," ujar Robin berbisik dari meja sebelah.
Aku menoleh.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
"Kamu masuk jurusan mana?" tanya Robin White.
"Pahlawan," jawabku.
"Oh, oke."
Robin kembali menulis formulirnya.
/Beberapa saat kemudian/
"Yah, akhirnya kelar juga," ujar Robin lega.
Aku berjalan menjauh dari kerumunan murid rekomendasi.
"Permisi, pak. Apakah bapak tahu siapa kepala sekolah disini?" tanyaku kepada salah satu guru.
"Oh, tuan Scheffer, eh tuan Luke ada di ruangannya. Pergilah ke lantai 3," jawab guru itu sedang sibuk.
"Baiklah, maaf mengganggu,"
Aku berjalan menuju ke lantai 3 menggunakan tangga.
Sekalian olahraga.
*Ruang kepala sekolah.. dimana.. kau..? Jauh banget, sih! Kukira bakal cepat sampai,* pikirku.
Aku segera menginjakkan kaki di lantai 3.
Terdapat koridor yang panjang.
Disana hampir seperti istana walau hanya 1 lantai.
*Tunggu dulu, bukankah tadi guru itu bilang tuan Scheffer? Scheffer.. konglomerat terbesar ke-2. Sekolah ini punya keluarga Scheffer..?* pikirku bingung.
Akhirnya aku menemukan ruang kepala sekolah.
Aku pun segera mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Terdengar suara dari dalam ruangan, "Masuklah."
Aku segera berjalan masuk.
Tapi, ruangan itu kosong.
*Loh? Kok kosong..?* pikirku heran.
Aku kebingungan.
Sampai aku merasakan hembusan nafas di belakang ku.
Aku memperkirakan dia lebih tinggi dariku.
*Ada orang!* pikirku seru.
Aku langsung membalikkan badan dan menarik lengan orang itu, lalu memutar lengannya ke arah punggungnya.
*Tepat sasaran!* pikirku senang.
"Wah, sudah kuduga. Kamu memang memiliki refleks yang luar biasa. Tebakanku benar rupanya," ujar orang itu santai.
Aku melepaskan tangannya.
Dia pun membalikkan badan.
"Eh, bapak.. tidak-tidak, kakak..? Tunggu dulu, aku harus memanggil apa..?" tanyaku.
"Kakak saja. Kalau kamu nggak keberatan," jawab kakak itu tersenyum sambil berjalan ke tempat duduk kepala sekolah.
Kakak itu memiliki rambut dan mata yang berwarna biru muda.
Cara bicaranya juga lembut.
*Dia umur.. 18..? Eh, tunggu dulu. Kenapa ini mata ku nggak hilang efek quirknya?! Tadi kan sudah warna coklat seperti biasa,* pikirku.
"Kau bisa memanggilku kak Luke, Luke Scheffer."
*Luke?* pikirku.
"Ada urusan apa datang kemari?" tanya Luke Scheffer.
"Ah, itu-"
"Biar aku tebak," ujarnya menyela.
"Kamu mau agar marga mu dirahasiakan, 'kan?" tanya kak Luke.
"Kok tahu?!" ujarku kaget.
"Hahaha, aku yang menang dong. Tadi ada suruhan dari bangsawan White juga menyuruhku merahasiakan marga White," ujar Luke Scheffer sambil tertawa.
"Memangnya kak Luke ini siapa sih? Kok bisa disini sendirian, apalagi informasi tentang murid juga tahu," tanyaku.
"Coba tebak. Kalau benar, kita seri," ujarnya tersenyum jahil.
"Kepala.. sekolah..?" jawabku ragu.
"Wah, wah, kamu pintar juga. Kamu harus jadi adikku, nih," ujarnya bercanda.
"Oh, bener ya? Eh, tunggu! Kepala sekolah?!!" teriakku kaget.
Kak Luke hanya tersenyum.
"Tunggu dulu, kepala.. sekolah..? Semuda ini?!" tanyaku.
"Memangnya kamu tahu umurku, wahai calon adik?" tanya kak Luke.
"18 'kan? Dan juga, aku bukan adikmu, wahai kepala sekolah," jawabku.
*Loh? Aku jarang muncul di publik, mengapa anak ini bisa tahu? Apakah itu quirknya..?* pikir Luke Scheffer.
"Ah, benar. Bagaimana kamu tahu? Apakah itu karena quirk mu? Quirk information atau search?" tanya kak Luke.
"Rahasia," jawabku.
"Apakah kamu datang kesini hanya untuk itu? Aku saja tak tahu marga mu," ujar kak Luke sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Yah, kakak kan kepala sekolah, apa susahnya mencari nama murid rekomendasi hari ini," ujarku.
"Lalu, kamu akan pergi begitu saja?" tanya kak Luke terdiam.
"Yah, begitulah. Aku harus pulang ke Kyoto. Mungkin besok akan kembali untuk keliling sekolah," jawabku.
"Kumohon, tetaplah disini. Aku akan traktir kamu. Chicken steak, loh," ujar kak Luke.
"What?! Chicken steak?! Baiklah, kalau steak beda lagi ceritanya," ujarku terpancing.
"Yosha, ayo kita pergi," kak Luke segera melompati mejanya.
"Yosha..? Kakak orang Jepang?" tanyaku.
"Dulu pernah tinggal di Tokyo selama 7 tahun. Kemudian keluarga ku pindah ke kota Z," jawabnya.
"Ah, begitu ya..,"
Aku dan kak Luke berjalan melewati koridor.
Kak Luke menunjukkan jalan ke arah lift.
Dia segera menekan tombol liftnya.
"Males banget, sih. Pakai lift segala," gumamku.
"Coba ulangi perkataanmu itu,"
Pintu lift terbuka.
Aku segera masuk ke dalam lift.
Kak Luke pun menekan angka 1.
"Hey, kak Luke Scheffer. Kamu masih muda, kenapa kok jadi ngurusin sekolahan, sih?" tanyaku heran.
"Papaku yang suruh. Mana aku tahu rencananya. Biasanya sih, ada udang di balik batu," jawab kak Luke.
"Lagipula, nanti kita mau makan dimana sih? Aku mana tahu daerah sini," tanyaku.
"Gedung 63," jawabnya.
"Gedung.. 63..? Apa bagus?" tanyaku ragu.
"Hey, kau jangan meragukan seleraku. Aku biasa kesana dengan adik laki-laki ku tahu," jawabnya ketus.
"Hey, kakak mengatakannya seolah-olah memiliki adik perempuan saja. Apa memang punya?" tanyaku.
"Iya, memang punya. Dia mirip seperti ku. Kalau adik laki-laki ku, dia memiliki rambut pirang berwarna kuning keemasan. Matanya biru muda. Sangat lucu. Aku ingin segera menemuinya," jawab kak Luke.
"Siapa namanya?" tanyaku.
"Mike Scheffer," jawab kak Luke.
"Mike..?" gumamku.
"Ada apa?" tanya kak Luke.
"Ah, tidak. Aku hanya kenal anak kecil bernama Mike juga. Mungkin beda orang," jawabku.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 1.
Aku berjalan keluar lift.
Aku melihat Robin di dekat pintu keluar.
"Ya, boleh saja. Banyak yang ingin ku bicarakan dengan mu. Oh iya, aku tunggu di tempat parkir guru," ujar kak Luke.
Aku berjalan ke arah Robin White.
"Robin!" panggil ku dari kejauhan.
Dia menoleh dan mencari sumber suara.
Dia akhirnya melihat ku.
Robin melambaikan tangannya.
"Tuan muda White, ingin makan bersama saya?" tanyaku seolah-olah berada di undangan kelas atas.
"Tentu saja," jawab Robin White.
"Ayo, cepatlah. Nanti kalau terlalu lama, kasihan yang menunggu," ujarku sambil menarik Robin.
"Hah? Memangnya siapa yang menunggu?" tanya Robin sambil mengikuti ku berlari.
"Lihat saja nanti."
/Tempat parkir guru/
"Hey, Olinoya. Kita mau ngapain di tempat parkir guru? Kita kan hanya murid baru," tanya Robin White.
"Sudahlah, teman baruku ada disini. Tapi, aku lupa menanyakan tentang mobilnya (╥﹏╥)" jawabku.
"Apa orang berambut biru muda itu?" tanya Robin White.
"Ah, benar!"
Aku kaget melihat kak Luke dengan penampilan yang berbeda.
*Lo, sejak kapan dia ganti baju dan pakai kacamata hitam? Bukankah tadi pakai jas tanpa kacamata hitam?* pikirku bingung.
Aku segera menarik Robin dan berlari menuju kak Luke.
"Hehe, maaf. Aku lupa memberi tahu warna mobilku," ujar kak Luke menahan tawa.
"Ishh, tak baik, nih. Oh iya, ini kak Luke Sche-" kata-kata ku terputus.
"Hai, aku Luke. Panggil saja kak Luke, kepala sekolah disini" ujar kak Luke menyela.
"Robin White," ujar Robin singkat.
*Kok ngeselin ya, nih orang,* pikir ku.
"Ayo, masuk!" teriak kak Luke dari dalam mobil.
"Sejak kapan kau disitu?!" ujarku kaget.
Aku pun mengajak Robin masuk ke dalam mobil.
Mobil itu tidak terlalu besar ataupun kecil, tetapi cukup nyaman.
Mobilnya sudah jalan dengan baik.
Tetapi aku akhirnya teringat satu hal, yaitu aku tidak suka AC mobil.
"Kak Luke, aku punya permintaan (╥﹏╥)," ujarku.
__ADS_1
"Apa?" tanya kak Luke.
"Tolong buka jendelanya. Aku tidak suka AC mobil. Atau aku akan muntah disini (•﹏•)," jawabku.
"Ah, begitu ya."
Akhirnya, jendela mobil dibuka.
Aku sangat lega.
"Huufftt.. kalau gini kan lega," ujarku lega.
"Anu, kak Luke..? Kita mau kemana?" tanya Robin kaku.
"Robin, kamu masih nggak akrab saja. Dia sudah menjadi teman kita tahu," ujarku.
"Tapi, 'kan, kak Luke itu kepala sekolah kita," ujar Robin.
"Haha, jangan pedulikan statusku. Lagipula, aku masih muda, kok. Anggap aku teman sebaya mu saja," ujar kak Luke sambil tertawa kecil.
"Asal kau tahu, Robin. Dia ini masih umur 18. Tidak terlalu jauh perbedaannya," balasku.
"Eh, begitu ya. Berarti selisih 5 tahun denganku, dong," ujar Robin mengerti.
"5 tahun denganmu, tak terlalu jauh," ujarku.
"Lho, lebih tua Robin?" tanya kak Luke.
"Yeah, hanya beberapa bulan saja. Beda tahun, sekarang kan masih mau masuk bulan Maret," jawabku.
Suasana hening.
Kak Luke fokus menyetir.
Robin bermain game.
Dan aku, melihat pemandangan di luar mobil saja.
Aku akhirnya memecah keheningan karena teringat sesuatu.
"Ah iya, kak Luke, sejak kapan kau ganti baju menggunakan kaos? Apalagi, datang darimana kacamata hitam itu?" tanyaku heran.
"Ah, kan kita mau ke restoran. Jadi, jangan terlihat resmi, hehehe," jawab kak Luke tertawa kecil.
"Pasti itu alasan untuk melarikan diri dari pertanyaan Olinoya, 'kan?" tebak Robin selagi fokus main game.
"Iya deh iya, aku ngaku (╥﹏╥)" ujar kak Luke.
/Beberapa saat kemudian/
Mobil kak Luke berhenti di sebuah tempat parkir.
Tidak terlalu ramai.
Aku dan Robin menyadari kalau mobilnya berhenti.
"Kenapa berhenti? Apa sudah sampai?" tanyaku dan Robin bersamaan.
"Tidak, belum. Kita masih harus berjalan mencarinya. Oh iya, mulai disini kebanyakan adalah orang Jepang," jawab kak Luke.
Aku pun keluar dari mobil.
Udaranya lebih sejuk dan segar daripada di pusat kota Z.
"Kebudayaannya juga sama, dong?" tanyaku.
"Yeah, begitulah," jawab kak Luke.
Aku mulai berjalan mengikuti kak Luke.
Kami melewati banyak toko.
Rasanya sama seperti di Jepang.
/15 menit kemudian/
Kami berjalan melewati rute yang sama selama 15 menit.
Aku mulai lelah.
"Kak, capek nih. Kakak ingat nggak sih, restorannya yang mana?" tanyaku mulai kesal.
"Kita dari tadi melewati jalan yang sama terus, kak. Kakak memang lupa, atau gimana ya?" ujar Robin.
"Ah, maaf. Terakhir kali aku kesini itu satu tahun yang lalu," jawab Luke Scheffer.
"Yang benar saja," ujar Robin.
Kak Luke lanjut berjalan melewati rute yang tadi.
Aku sampai kesal dibuatnya.
Tetapi, aku merasa familiar dengan tempat ini.
"Anu, kak. Apakah restorannya kecil?" tanyaku.
"Yeah, kecil. Tapi, itu tempat yang nyaman. Makanannya juga sangat enak," jawabnya.
*Tunggu dulu, jalan ini.. aku seperti pernah melihatnya. Firasat ku mengatakan kalau lewat jalan sini.. lalu belok ke sini..,* pikirku mengingat sesuatu.
"Olinoya, ada apa?" tanya Robin.
"Aha, aku tahu jalannya! Aku ingat sekarang!" ujarku semangat.
Aku mulai menunjukkan arah.
"Memangnya kamu pernah kesini?" tanya Robin sambil mengikuti ku.
"Pernah, dulu. Sekali doang," jawabku.
/Setelah berjalan selama 5 menit/
Aku lupa rute mulai dari jalan sini.
"Gawat, aku lupa mulai dari sini!" ujarku.
"Lah, bagaimana ini, kak Luke? Hah, pulang saja, deh," ujar Robin.
"Tunggu dulu," ujar kak Luke dengan suara yang berat.
Kak Luke terlihat berpikir dengan serius.
Tiba-tiba wajahnya berbinar-binar.
"Aha! Aku ingat sekarang!" teriak kak Luke.
"Ke arah mana?" tanyaku seru.
"Kesini.."
__ADS_1
つづく ...