
Writer : @olinoya_
(◔‿◔) Mecha Noya :
Sudah Mecha peringati, ya. Ini hanya karangan Author geblek. Mecha cuma disuruh jelasin istilah yang susah, dan jadi papan pengumuman. Mecha aja nggak percaya sama nih Author geblek.
"Wah, kantor kejaksaannya tinggi juga. Dari kejauhan saja sudah terlihat," gumamku.
Aku berlari menuju kantor kejaksaan. Beruntunglah, jalanan sedang sepi karena semua orang berkumpul di depan kejaksaan.
Saat tengah berlari, smartphone di saku celanaku berdering. Aku langsung menerima teleponnya sambil terus berlari.
"Halo? Ini Olinoya. Siapa, ya?"
"Noya, aku Edward. Keadaan di depan kantor kejaksaan sangat kacau. Semua sudah berusaha menahannya. Kau lewat belakang saja! Tae Oh dan kak Alexander menunggumu disana, dia nanti akan ikut masuk ke dalam. Karena dia akan ke atap gedung!" ujar Edward.
"Ya!"
Di telepon, sepertinya di depan kantor kejaksaan memang sangat kacau. Aku sampai berpikir, memangnya kasus apa sampai hampir seluruh orang di kota ini demo.
Di dekat perempatan, orang-orang yang demo sudah terlihat. Aku berbelok ke kiri, menuju belakang kantor kejaksaan.
Rasanya melelahkan. Tenggorokan ku mulai kering. Tetapi, aku belum berkeringat sama sekali.
Aku bertemu dengan sebuah perempatan lagi, dan berbelok ke kanan. Aku melihat Tae Oh dan Alexander ada disana. Mereka melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangan mereka.
"Hah.. hah.. itu.. bagaimana masuknya..?" tanyaku dengan napas ngos-ngosan.
"Kita akan memanjat," jawab Tae Oh.
"Hah? Kau ingin jas ku kotor? Kau ingin jas ku robek? Apa-apaan kalian ini," ujarku ketus.
*Oh, iya! Aku lupa tentang quirk ku," pikirku.
Aku langsung menggandeng tangan Tae Oh dan Alexander. Aku langsung memejamkan mata.
*Teleport ke dalam kantor kejaksaan!* teriakku dalam hati.
Setelah itu, aku membuka mata.
Kami bertiga telah berada di dalam kantor kejaksaan. Tepatnya, seperti baru masuk dari pintu utama.
"Hey, dimana ruangan Jaksa Kim?" tanyaku.
"Menurut yang kulihat, ada di lantai dua. Ruangan paling pojok," jawab Tae Oh.
"Oke, ayo naik lift," ujarku.
Kami bertiga masuk ke dalam lift. Aku segera menekan tombol dua.
"Oi, nanti kalian lanjut naik ke lantai paling atas, dan naik tangga ke atap," ujarku sambil merapikan jas ku.
"Tenang saja, semua kamera CCTV sudah ku matikan. Kita bisa leluasa bergerak," ujar Tae Oh memberitahu.
"Oh, kameranya sudah di retas, ya? Cepat sekali. Hanya dalam lima menit. Jangan sampai laptop itu jatuh," ujarku.
__ADS_1
"Tenang saja, aku bawa cadangan di tas," jawab Tae Oh.
Ting!!
Pintu lift terbuka di lantai dua. Aku segera keluar, meninggalkan Tae Oh dan Alexander.
"Paling pojok.. dimana, ya?" gumamku.
*Bahasa Korea, ya?* pikirku.
Aku bertanya pada seseorang yang ku temui, "Anu, apakah benar Jaksa Kim hari ini ada sidang di pengadilan?"
"Ya, benar. Anda siapa, ya?" tanya orang itu.
"Saya Jaksa Jung, Jung Noya. Nama anda siapa, ya?" aku bertanya balik sambil menunjukkan kartu identitas ku.
"Saya Jaksa Shin. Jaksa Jung ada perlu apa, ya? Mengapa menanyakan tentang persidangan Jaksa Kim? Jaksa Kim hari ini meminta cuti secara tiba-tiba, padahal sidang dimulai jam tiga sore nanti," jawab Jaksa Shin.
"Saya.. saya pengganti yang dikirim oleh Jaksa Kim. Bisa beritahu dimana ruangannya? Ini pertama kalinya saya kesini," tanyaku.
"Ruangannya di sebelah sana. Bukti-buktinya sudah diletakkan di atas meja. Beserta data saksinya. Selamat bekerja," jawab Jaksa Shin. Dia langsung meninggalkan ku begitu saja.
*Eh, apakah aku berhasil? Kenapa dia tidak menanyakan tinggi ku? Apakah Jaksa bisa semuda itu?* pikirku.
Aku langsung berjalan dan mencari ruangan Jaksa Kim.
"Astaga, ini bukan pekerjaan pahlawan namanya," gumamku.
Aku berjalan masuk ke dalam ruangan dan melihat bukti-bukti untuk kasus ini.
Aku melihat gambar barang bukti. Ada seutas tali yang tebal dan sebuah gambar. Sepertinya, gambar itu dibuat oleh anak kecil.
"Hah, bukti apaan ini? Kalau buktinya seperti ini, aku harus bicara apa nanti? Apalagi, ini ternyata kasus pembunuhan. Artis kebanggaan Seoul, Yoon Lan Suzy," gumamku kesal.
Aku langsung duduk di kursi Jaksa Kim. Aku mulai memikirkan rencana.
"Terdakwa.. Bae Dae Young. Korban.. Yoon Lan Suzy. Saksi.. Jo Jae Ho, seorang anak kecil.. yang masih berumur lima tahun..? Pengacara dari pihak terdakwa Bae Dae Young.. Kwon Jun Ji. Kenapa.. pihak korban kurang diuntungkan, sih?! Lagipula, persidangan dimulai jam tiga sore. Sekarang jam sepuluh pagi," ujarku kesal. Aku merasa stress dengan pernyataan ini.
Aku segera menelepon Tyler.
"Halo, Tyler. Ini Noya, bagaimana dengan buktinya? Bukti dan saksi yang tercatat membuatku stress," ujarku.
"Tidak ada bukti lain. Hanya pintu lift yang rusak karena setelah korban dicekik, korban di dorong ke pintu lift. Padahal liftnya belum sampai di atas. Kemungkinan.. jatuh dari ketinggian sekitar 200 meter..?" jawab Tyler.
"Ya ampun, pasti ada pendarahan di kepala. Baiklah, aku akan ke Samhyook Medical Center," ujarku langsung menutup teleponnya.
"Teleport ke Samhyook Medical Center."
Aku langsung berada di salah satu tempat duduk ruang tunggu Samhyook Medical Center. Apakah ini benar Samhyook Medical Center? Mungkin iya.
Aku berkeliling untuk mencari kamar pasien Yoon Lan Suzy.
Kebetulan, ada dokter yang datang untuk mengecek keadaan Yoon Lan Suzy.
"Apakah anda Jaksa yang menangani kasus ini?" tanya dokter itu kepadaku.
__ADS_1
Aku gugup setengah mati. Aku hanya ingin sekolah saja, tidak mau jadi jaksa!!
"Ah, iya. Saya pengganti Jaksa Kim, nama saya Jaksa Jung," jawabku berbohong.
"Bagaimana? Apakah anda setuju untuk memberi izin melakukan transplantasi organ untuk pasien lainnya?" tanya dokter itu.
*What? Kenapa yang lain nggak bilang, sih?!* pikirku kaget.
"Tapi, penyebab kematiannya belum pasti, bukan?" tanyaku.
"Apakah harus melakukan autopsi? Tetapi, ini satu-satunya harapan pasien lain," jawab dokter itu.
Aku berpikir keras. Sampai aku teringat kata-kata sepupu ku, Nero Jin.
"Apakah bisa melakukan autopsi dan transplantasi organ secara bersamaan?" tanyaku.
"Bisa, tapi sangat jarang melakukannya," jawab dokter itu.
Kali ini, keputusan ku mantap, "Lakukan bersamaan!"
"Ta.. tapi.." dokter itu bicara terbata-bata.
"Lakukan secara bersamaan!!" ujarku mantap.
"Ba-baiklah," dokter itu mengiyakan.
"Lakukan dengan cepat. Tak banyak waktu yang ku punya saat ini," ujarku memperingatkan.
Lalu, dokter itu pergi dan menyuruh perawat menyiapkan ruang operasi.
Aku langsung menelepon Alexander.
"Oi, kamu ini apa-apaan? Tidak bilang jika ada masalah antara autopsi dan transplantasi organ, bisa-bisanya kau membuatku bingung," keluhku.
"Eh, aku juga baru tahu. Jangan salahkan aku! Lihat, kau bahkan bisa membuat keputusan yang tepat disaat seperti ini. Itulah mengapa semua rekanmu ini memercayai mu!" jawab Alexander membela diri.
"Ah, ya sudahlah!" ujarku langsung menutup telepon.
/4 jam kemudian/
"Astaga, sudah empat jam. Persidangan dimulai satu jam lagi! Kenapa belum selesai, sih?!" gumamku stress.
Tiba-tiba, dokter itu keluar dari ruang operasi dan menyuruh salah satu perawat untuk menulis hasilnya di sebuah kertas. Dokter itu juga menyerahkan sebuah foto kepada perawat itu.
Aku langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana, dokter?" tanyaku terburu-buru.
"Hasilnya.. Yoon Lan Suzy tewas akibat.. dicekik oleh pelakunya. Dan di dorong ke arah pintu lift. Kemungkinan.." kata-kata dokter itu belum selesai.
Aku langsung menyela, "Yosha! Pasti dia jatuh karena di dorong. Sementara itu, liftnya belum sampai! Dengan begini, bukti lumayan banyak!"
Aku merasa sedikit lega.
Tetapi, aku mulai memikirkan tentang saksi. Bagaimana anak umur 5 tahun 4 bulan 2 hari bisa bersaksi di persidangan?
__ADS_1