The Strongest Hero

The Strongest Hero
Restoran Yi


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Kesini..,"


"Wah, banyak sekali toko dan cafe disini. Ada restoran lain juga, kenapa kita tidak kesitu saja?" tanya Robin.


"Karena restoran lainnya tidak senyaman restoran Yi. Ah iya, aku baru ingat kalau namanya restoran Yi," ujarku.


"Yi..? Ini milik kerabatnya Xu Yi dan Xia Yi?" gumam Robin.


"Iya, mungkin."


"Gimana nih, kak Luke?" tanya Robin.


"Sudah jam 6, kereta terakhir ke Kyoto nanti jam 9, kak. Masih ada 3 jam lagi. Hari sudah mulai gelap juga," ujarku tenang.


Kak Luke membalikkan badan.


Menghadap ke arah kami.



"Hmmm.. bagaimana, ya? Pokoknya aku ingat restoran Yi ada di sekitar sini, deh," ujar kak Luke sambil memegang kacamata hitamnya.


"Ingat yang jelas, dong," komentar ku.


"Memangnya kayak gimana sih, tempatnya?" tanya Robin.


"Bagus banget, sih. Tempatnya tuh.. rapi, terus pelayanannya lumayan cepat lah. Suasananya.. tenang gitu," jawabku.


"Wah, pasti bagus, nihh," ujar Robin.


"Bukan hanya itu saja. Makanannya.. huuhh.. bikin ngiler, deh. Pokoknya terbaik," ujarku.


"Jadi pengen makan," ucap Robin sambil memegang perutnya yang lapar.


"Ah, begitu.. ayo!" ujar kak Luke tiba-tiba berlari.


Aku menoleh kebelakang. Melihat Robin yang mulai kesal dengan perjalanan ini.


"Ehh.. ayo, Robin!" ujarku sambil ikut kak Luke berlari.


Robin akhirnya mengikuti kami berlari.


Sebenarnya, aku juga mulai sedikit kesal dengan pencarian restoran Yi. Tiba-tiba, kak Luke berhenti. Dia tampak bingung.


"Percuma, aku tidak ingat lagi," ujar kak Luke menyerah.


"Tuh, 'kan," ujar Robin dengan kesal.


*Dimana restoran Yi?* pikirku.


Tiba-tiba, aku melihat peta di depan mataku. Ada sebuah layar bertuliskan,


[Lihatlah peta ini, maka tuan akan menemukan apa yang tuan cari. Mata tuan akan menjawab semua pertanyaan yang tuan tanyakan pada diri sendiri].


*Maksudnya..? Ga jelas banget. Tapi, ini beneran peta? Gimana cara nge-zoom petanya?* pikirku.


Tiba-tiba, peta itu memperjelas area yang ingin kulihat.


*Auto?* pikirku terkejut.


Robin yang melihat wajahku terkejut, langsung bertanya, "kenapa wajahmu aneh begitu?"


"Ah, tidak apa-apa," jawabku.


Aku langsung mencari restoran Yi di dalam peta itu. Ternyata, berada dekat dari sini.


"Ah, ternyata restoran Yi ada di ujung sana!" ujarku seru.


"Kamu yakin?" tanya kak Luke.


"Yang mau traktir orang kok malah nggak percaya, sih?" ujarku sedikit kesal.


"Oh ya? Ayo kita kesana," balas Robin.


Aku langsung berlari ke arah sana.


Di area tebing, tetapi ini tempat yang aman dan nyaman. Karena itu banyak orang yang akan suka tempat ini jika mereka tahu. Karena di ujung, banyak orang yang malas menuju ke area tebing.


Setidaknya, itu yang ada di pikiranku saat itu.


"Akhirnya.. kita sampai..!!" ujarku girang.


"Woah, tempatnya sekarang lumayan ramai. Ada acara apa ini?" tanya kak Luke terkejut.

__ADS_1


"Hebat, lebih dari yang kuperkirakan!!" ujar Robin terbawa suasana.


Tiba-tiba, ada anak berambut kuning datang kepada kami. Dia lebih tinggi dariku sih.


"Selamat datang, silahkan duduk di meja no 4. Karena hanya itu yang tersisa," ujar anak itu dengan tersenyum.



"Xia Yi?!" teriakku kaget.


"Lho, Xu Xia Yi ada disini? Dimana sepupumu itu, si Yo Xu Yi?" tanya Robin.


"Ah, ternyata Olinoya dan Robin, ya. Yo Xu ada disana. Dia mengurus yang lain," jawab Xia Yi.


Oh iya, aku lebih suka memanggilnya Xia Yi. Karena terdengar keren bagiku. Dia juga tidak keberatan, kok. Jadi, jangan salahkan aku, ya.


"Kalian.. saling kenal..?" tanya kak Luke.


"Kami teman sekolah. Lebih tepatnya, satu kelas," jawabku.


"Woah, baguslah kalau begitu," ujar kak Luke.


"Ah, meja 4 ada disana. Cepat duduk sebelum direbut orang," ujar Xia Yi.


"Memangnya ada acara apa sih? Sampai ramai sekali disini?" tanyaku.


"Ada peristiwa 'halo bulan' malam ini. Kalau dilihat dari sini, sangat bagus! Jadi, orang-orang sampai berebut meja. Mungkin yang lainnya masih perjalanan kemari," jawab Xu Yi.


"Xu Yi?! Sejak kapan kau datang kemari?" tanyaku terkejut.


"Teleport dari meja 8," jawab Xu Yi.


"Quirk teleportasi, ya?" tanya Robin seru.


"Yeah, begitulah," jawab Xu Yi.


Xia Yi mengantar kami ke meja 4. Lalu, kamu memesan makanan.


Aku bertanya, "Xia Yi, apakah ada chicken steak?"


Dia menjawab, "ada."


"Yosha!!" aku kegirangan.


"Aku mau sushi dan.. apakah ada teh hijau Jepang?" kata kak Luke ramah.


"Ah, tentu saja ada," jawab Xia Yi.


"Baiklah, matcha!" ujar kak Luke terlihat senang.


"Xia Yi, I ordered chicken steak and avocado juice!!" ujarku semangat.


"Serahkan padaku!" ujar Xu Xia Yi ikut semangat.


Xia Yi pun pergi kedalam restoran.


Yah, tempat duduk yang tersisa di luar hanya itu saja. Didalam juga ramai sekali.


/Beberapa saat kemudian/


Seorang pelayan dan Xia Yi keluar dari restoran, dengan membawa makanan pesanan kami.


"Pesanannya sudah datang. Pelayan," suruh Xia Yi.


"Baik, tuan Yi," jawab pelayan itu.


Pelayan pun menyajikan semua pesanan kami di atas meja. Pelayanan yang sangat baik, itu yang kupikirkan.


"Woah, hebat. Dagingnya besar bangettt!!!" ujarku kegirangan.


"Itadakimasu!" ujarku.


*Itadakimasu : selamat makan.


Aku langsung memakannya.


Rasanya sangat enak. Daging ayamnya tidak terlalu keras, sehingga mudah dipotong. Bumbunya dibuat dengan takaran yang pas. Rasanya, sangat berbeda.


Rasa chicken steak ini sangat memanjakan mulutku.


Aku sampai ketagihan karenanya.


Robin memasukkan handphonenya kedalam tas.


"Selamat makan," ujar Robin dengan penuh kesopanan.

__ADS_1


"Wah, hebat. Kelihatannya enak. Selamat makan," ujar kak Luke.


"Kenyangnyaaa....," ujarku kekenyangan.


"Hah?! Sudah habis?!" teriak kak Luke kaget.


"Tidak, belum habis kok. Tuh, masih ada jus alpukat ku," komentar ku.


"Anu, Olinoya ini bisa makan es krim almond white dalam dua gigit loh," ujar Xia Yi memberitahu.


"Eh, almond white yang besar dan dingin itu?" tanya kak Luke kaget.


Kak Luke mulai memakan sushi nya.


"Yah, Noya emang gitu. Dia jagonya telat di sekolah," ujar Robin.


"Kalau kau telat sekolah saat di Akademi, aku tak akan membiarkan mu lolos. Akan ku hukum kamu," kak Luke mengancam.


"Main ancaman nih ceritanya?" ujarku sambil meminum jus alpukat.


"Tentu saja!" ujar kak Luke dengan bangga.


"Apa yang harus dibanggakan coba?" tanya Robin santai.


"Ah, entahlah. Kau mana tahu," jawab kak Luke.


Mereka terus berbicara. Tetapi, aku tak meresponnya sama sekali. Mendengarkan saja tidak.


Lalu, aku merasa bulannya sedikit lebih terang dari tadi. Aku pun melihat ke atas.


Mataku langsung terbuka lebar.


Aku langsung tersentak berdiri.


"Halo bulan!" teriakku sambil menunjuk ke bulan.


"Wah, sudah mulai, ya," ujar Xia Yi.


"Noya, kau seperti tidak pernah melihatnya saja," ujar Robin yang diam-diam bermain game lagi.


"Hey, kau mau mati dengan metode apa, Robin? Lagipula, aku sering melihatnya," jawabku sedikit kesal.


"Oh ya?" ujar Robin.


Aku menganggukkan kepala.


*Memang sering. Tapi, kali ini ada yang berbeda, yaitu.. tidak ada kakak disini,* pikirku sedih sambil memandangi bulan.


*Dia memikirkan sesuatu? Tentang kakaknya, ya?* pikir Robin menebak.


/1 jam kemudian/


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kak Luke segera mengantar kami sampai ke stasiun.


"Yosha, untung masih sempat!" kataku lega.


"Oh, sudah sampai? Cepet pesan tiketnya gih," ujar Robin seenaknya.


"Enak saja! Kau lah yang pesen!" balas ku.


"Hey, kalian nggak pamit dulu ke aku, nih?" tanya kak Luke.


"Ya, tahun depan aja," jawab Robin.


"Bukan tahun depan, tapi satu abad lagi, Robin!" balasku.


"Oh, begitu ya," jawab Robin mulai seru.


"Kak Luke, kami akan pesan tiket dan menunggu di dalam sana. Kalau begitu, sampai jumpa besok, kepala sekolah!" ujarku langsung berlari meninggalkan kak Luke.


Robin yang malas berbicara pun bilang, "kata-kata dariku, sama sepertinya."


Robin langsung berlari mengikuti aku.


"Dasar, anak muda. Haha," gumam kak Luke sambil tertawa kecil.


"Lho, kakak?"


"Ah, Chika. Bagaimana kamu bisa disini, wahai adik kecilku. Ayo pulang," ujar Luke Scheffer.


"Aku habis dari sekitar sini."


"Dasar, anak muda."


つづく ...

__ADS_1


__ADS_2