
Writer : @olinoya_
/Malam hari, pukul 9/
Aku sedang merenung sambil memandangi langit-langit kamar dengan lampu yang mati.
"Singkat cerita, aku memiliki quirk yang kuat. Di sisi lain, aku punya batas tenaga seperti yang lainnya," gumamku.
*Tapi.. apakah tanda sayap hitam pegasus ini ada hubungannya dengan bintang Pegasus dan wujud asliku?* pikirku baru sadar.
Aku langsung memeriksa sayap hitam pegasus yang ada di dadaku. Warnanya berubah menjadi putih.
"Apakah ini karena aku sudah berubah menjadi wujud asliku?" gumamku.
Aku berpikir sejenak.
"Mungkin saja," aku menjawab pertanyaanku sendiri.
Drrrrttttt....
Smartphone ku bergetar. Itu membuatku kaget.
"Uakhh!! Siapa sih?!"
Aku langsung menerima teleponnya.
"Halo? Noya disini."
"Selamat malam, PraBe Noya. Maaf mengganggu, saya Dazai, pembimbing Prajurit Besar (PraBe). Apakah besok malam anda bisa pergi ke belakang sekolah?" tanya Dazai.
"Oh, bisa kok! Memangnya ada apa, ya?" ujarku langsung beranjak dari ranjang.
"Besok saya akan beritahu jalan rahasia menuju ke markas pusat. Anda dan Re-PraBe Tae Oh bisa menuju markas dari belakang sekolah. Tempatnya bersifat rahasia dan sepi, mohon dirahasiakan," jelas Dazai.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya, Pembimbing Dazai. Selamat malam," ujarku sambil menutup telepon.
"Huuaahhh... merepotkan sekali, sih! Mengapa harus aku yang jadi PraBe nomer empat?!!" keluhku sambil menjatuhkan diri di atas ranjang, dan tertidur kelelahan.
/Keesokan paginya/
"Pagi, Noya!" sapa Robin sambil menggebrak mejaku.
"Oh, pagi," jawabku dengan malas.
"Kamu ini.. kita sudah di sekolah yang berbeda, kenapa tidak berubah, sih?" gerutu Robin.
"Mana mungkin," ujarku.
Tiba-tiba, ada yang menepuk pundakku dari belakang
*Please, jangan Chika lagi!!* teriakku dalam hati.
Aku langsung menoleh ke belakang.
Ternyata, itu Tae Oh. Aku sempat merasa lega.
"Ada apa?" tanyaku santai.
Tae Oh menjawab, "Aku mau menjadi muridmu, Noya."
Aku yang mendengar itu langsung kaget.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Aku mau menjadi muridmu. Keahlian, kekuatan, kepintaran, keterampilan, dan teknikmu lebih baik dariku. Ajari aku semuanya," jelas Tae Oh.
"Wah, wah, ada yang jadi guru, nih," komentar seseorang yang ada disampingku.
Aku menjawab, "Tidak, ini.. akkhhh!! Sejak kapan kamu disini?! Kau mengagetkanku!" teriakku kaget melihat Chika.
"Baiklah, kamu diterima menjadi muridnya," ujar Chika sambil berjabat tangan dengan Tae Oh.
"Hey, aku belum memutuskan hal itu!!" teriakku.
"Yah, nasi sudah menjadi lontong," ujar Chika tidak peduli.
"Bubur, kali!!" ujar Robin membenarkan.
"Ya ampun, baiklah. Tapi, aku tak bisa menjelaskan secara detail. Semua keahlianku itu bagaikan refleks dari lahir," jelasku.
"Belajar dengan cara melihat?" tanya Tae Oh.
"Ya, gunakan metode itu saja," jawabku singkat.
*Aku tak yakin kalau dia benar-benar memikirkannya,* pikirku ragu.
/Sepulang sekolah/
"Tae Oh, ayo!" ajakku.
"Sebentar," jawabnya.
"Aku duluan, deh," ujarku.
Sesampainya di belakang sekolah, smartphone ku berdering.
"Halo, pembimbing Dazai? Dimana anda?" tanyaku.
"Lihat penutup lubang yang ada dibawah anda," ujarnya.
Aku menemukan penutup lubang dibawah kaki ku.
"Lalu?"
"Buka tutup itu, dan masuklah. Bayangkan seperti bermain perosotan. Nanti di dalam ada seragam dan barang penyamaran lainnya. Nanti juga ada satu lift menuju ke markas manapun," jelas Dazai.
"Oh, baiklah," jawabku paham.
Aku langsung menutup teleponnya.
Saat aku mulai membuka tutup lubang air itu, Tae Oh datang.
"Tae Oh, disini tempatnya," ujarku sedikit berbisik.
"Bukalah," suruh Tae Oh.
Aku langsung membuka penutup itu.
Ternyata, disitu seperti jalan rahasia.
"Hey, jangan lupa ditutup kembali. Ini ada setidaknya lima tangga dari besi," ujarku.
"Ya, masuklah. Mulai meluncur, guru!" ujar Tae Oh seru.
__ADS_1
Aku langsung masuk dan meluncur dengan cepat menuju ke bawah.
*Uakhh!!! Bukankah ini terlalu cepat?!!* pikirku dalam hati.
Saat hampir sampai, permukaan mulai datar. Aku terjatuh di sebuah bantal udara yang besar. Sehingga, aku tidak terluka.
"Besar juga lubang itu tadi, untungnya berhasil sampai dengan selamat," gumamku.
Aku melihat sekitar. Banyak lemari berisi baju. Ada seragam Prajurit Besar, seragam pemadam kebakaran, polisi, jas, baju olahraga, baju renang, semua lengkap.
*Eh, ada kostum pangeran juga?!* pikirku.
"Huaahhh!! Kecepatannya gila!! Rambutku sampai berantakan!" keluh Tae Oh sambil merapikan rambutnya.
Kami pun melihat-lihat markas bawah tanah ini.
"Hmm.. lumayan juga, nih! Ayo kembali ke asrama," ujarku.
"Tapi, bagaimana.. bagaimana kembali ke atas?" tanya Tae Oh kebingungan.
"Ups, aku tidak tahu. Haha, mungkin kita akan terjebak disini sampai besok pagi," ujarku sedikit bercanda.
Suasana hening.
"Mana mungkin?!!" teriakku dan Tae Oh bersamaan dengan saling berhadapan. Memecahkan keheningan diantara kita.
"Ini sih namanya selamanya!!" teriak Tae Oh.
"Gila!! Aku ada janji main RPG bareng Robin!!" keluhku.
*(◔‿◔) Mecha Noya :
RPG (role-playing game) adalah adalah sebuah permainan di mana pemainnya memainkan peran karakter dalam latar fiksi.
"Masih bisa memikirkan RPG?!" teriak Tae Oh.
"Pastinya! Mana mungkin aku melupakan janjiku!" jawabku.
"Lagipula, apa kamu pernah main RPG lebih dari enam jam?!" tanya Tae Oh dengan suara keras.
"Tentu saja! Kadang aku juga main FPS!!" jawabku dengan keras.
*(◔‿◔) Mecha Noya :
FPS (First Person Shooter) adalah genre permainan video yang ciri utamanya adalah penggunaan sudut pandang orang pertama dengan tampilan layar yang mensimulasikan apa yang dilihat melalui mata karakter yang dimainkan.
"Berapa rekormu dalam menembak musuh?!" tanya Tae Oh dengan keras.
"500 musuh dalam 10 menit!!" teriakku.
Aku langsung diam dan tersadar.
"Kita kok malah bicara tentang RPG dan FPS, sih?" ujarku bingung.
"Lah, mana saya tahu. Terbawa suasana," jawab Tae Oh.
"Kamu malah tanya sampai rekor terbaikku!" balasku.
"Habisnya, sepertinya menarik," timpal Tae Oh.
Aku melihat sekitar, "Intinya.. bagaimana kita keluar dari sini?"
__ADS_1