The Strongest Hero

The Strongest Hero
Hari Yang Aneh


__ADS_3

Writer : @olinoya_


Dia menunjuk ke arah rambutku yang berantakan karena aku berlari dari lantai dua menuju ke lantai satu.


"Eh? Dari rambutku yang berantakan?" tanyaku asal menebak sambil merapikan rambutku.


"Bukan, tetapi dari warnanya," jawabnya.


"Eh, apa terlalu mencolok, ya? Mau kusemir hitam, tetapi.. rasanya..," ujarku.


"Tidak, ini cocok kok. Karena itu sudah dari lahir," ujarnya.


"Oh iya, kamu pasti mau beli minuman, 'kan?! Silahkan duluan," ujarku.


"Oh, baiklah,"


"Ah iya, kamu dari kelas mana?" tanyaku sambil menekan tombol di Vending Machine.


"Aku Kyoka Shu, dari kelas 2-4," jawabnya.


"Eh? Satu marga dengan Aikawa Shu?" ucapku bingung.


"Aku adik sepupunya," jawabnya.


"Ah, begitu rupanya! Kalau begitu, aku mau kembali ke kalas, bye!" ujarku pamit.


"Iya,"


Aku berjalan kembali ke kelas sambil memakan es krim almond white yang dingin itu.


*Enaknya.. almond white memang cocok dengan musim apa pun,* pikirku.


Aku pun menggeser pintu kelas.


"Sudah dapat es krimnya, Noya?" tanya semua anak yang di kelas.


"Eh? Apa-apaan ini?!" ujarku kaget.


"Almond white lagi, ya... Kamu ini kuat sekali. Makan es krim yang dingin di musim dingin ini. Suhunya 16°C, loh. Hati-hati nanti sakit," ujar Michael Way melanjutkan piketnya.


"Aku mengerti, tahu!" jawabku.


Tiba-tiba,


~Olinoya Yuu dan Robin White dari kelas 2-5. Harap ke ruang guru segera!~


Aku dan Robin White segera menuju ke ruang guru.


Sesampainya di ruang guru,


"Robin, Noya..." ujar pak Akatsuki lirih.


"Ada apa sih, pak? Ga jelas banget," komentar ku.


"Betul, sungguh ga jelas," dukung Robin.


"Woi, kalian beneran murid ga sih?! Kalo beneran murid, yang sopan sama gurunya kek!" ujar pak Akatsuki.


"Biasanya di kelas juga santai-santai aja," ucap Robin dengan santai.


Pak Akatsuki memberikan tatapan tajam,


"Oi, diamlah," ujar pak Akatsuki lirih sambil menutup mulut Robin White.


"Jadi, ada apa, pak?" tanyaku kembali ke topik.


"Kalian berdua... Adalah murid rekomendasi Akademi Pahlawan Yoes sekarang, tetapi terserah kalian mau atau tidak," ujar pak Akatsuki sambil menyerahkan surat dari Akademi Pahlawan Yoes.


"Aku mau," ujarku dan Robin bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu. Kalian haru latih quirk milik kalian sendiri. 3 hari lagi tes di Akademi Pahlawan Yoes. Hanya akan menerima 20 dari 50 anak," jelas pak Akatsuki.


"Sebanyak itu?!" ujarku kaget.


"Tesnya seperti apa, sensei?" tanya Robin White.


*Sensei : Guru


"Hanya tes fisik. Tapi, khusus menggunakan quirk," jawab pak Akatsuki.


*Tak ada penjelasan sama sekali..,* pikirku dan Robin.


Aku dan Robin pun kembali ke kelas.


"Robin, bolos yuk!" ajakku.


"Oi, kau mulai kehilangan akal sehat, ya?" jawab Robin White.


"Oh iya, ayo kita pulang!" dukung Michael Way.


"Hey, jalan-jalan lebih baik," usul Aikawa Shu.


"Hey, kalian apa-apaan? Akal sehatnya hilang semua, ya? Kita disini untuk sekolah," ujar Robin menentang.


"Bukannya kamu yang aneh? Sekarang kita bebas kelas sampai seminggu kedepan, loh. Pak Akatsuki aja bilang boleh pulang atau pun nggak masuk sekolah," jawabku.


"Eh, ada yang begitu, ya?" tanya Robin.


"Kan baru kemarin pak Akatsuki bilangnya!!"


"Hey, omong-omong... Sekolah ini diubah jadi Akademi Pahlawan Chidoriyama, ya?" tanya Michael Way.


"Iya. Dan juga, kalau tidak ada pekerjaan, tolong bantu aku mengurus formulir ini," ujar Misaki Jun.


"Ah, Misaki! Aku harus pulang! Lihatlah, Risuke menyuruhku pulang cepat, soalnya ada... ada... ada ikanku yang mati!" ujarku langsung kabur.


"Ikan.. mati?" Misaki Jun keheranan.


Misaki pun berbalik badan untuk meminta bantuan yang lainnya. Tetapi mereka sudah kabur duluan.


"Sudah kabur, ya..," gumam Misaki Jun.


Aku terus berlari sampai setengah perjalanan menuju ke rumah.

__ADS_1


Aku mampir sebentar ke taman yang dingin.


"Hah... Akhirnya bisa istirahat sebentar," gumamku.


"Oh, Noya. Kamu nggak langsung pulang? Diluar dingin, loh. Lagipula, kita kan harus latihan juga," ujar Robin White mengingatkan.


"Oh, sebentar lagi," jawabku.


"Baiklah, aku duluan, ya!" ujar Robin White.


"Ya," jawabku singkat.


"Salam sejahtera!" teriak Robin White.


"Oh," jawabku.


*Eh, barusan dia bilang 'salam sejahtera' , 'kan? Apa dia sudah mulai gaya hidup sekolah elit?!* pikirku tersadar.


Aku pun segera berjalan pulang ke rumah.


Saat perjalanan pulang, aku melihat hoodie yang sangat bagus.


Aku pun masuk ke dalam toko untuk melihatnya.


"Selamat datang!" sapa semua pegawai di toko.


"Anu, aku mau beli hoodie,"


"Paling hoodie yang paling murah. Buang-buang waktu saja," ujar pegawai 1.


"Ah, ternyata hanya anak SMP. Bonusku pasti kecil," ujar pegawai 2.


"Dia tidak sanggup membayar pastinya," ujar pegawai 3.


"Lihatlah, dia masuk ke sekolah biasa. Rambutnya juga acak-acakan dan disemir. Sepatunya saja sepatu olahraga. Pasti dia miskin," ujar pegawai 4.


"Oh, anak SD, ya? Tip ku pasti kecil nanti," ujar pegawai 5.


*Sial, baru datang sudah dihina 5 pegawai!* pikirku.


"Anu, kakak mau beli hoodie yang mana, ya?" ujar salah satu pegawai.


"Eh? Oh," aku kaget setelah melihatnya tiba-tiba muncul.


"Hey, Ichigo. Jangan layani dia, deh! Pasti bonusmu kecil," ujar pegawai 3.


*Namanya... Ichigo?* pikirku.


"Percaya, deh!" ujar pegawai 5 meyakinkan.


"Tidak, kita harusnya melayani sepenuh hati. Bukan hanya melihat bonusnya saja," jawab Ichigo membantah.


"Kamu ini... Kamu hanya kerja sambilan disini. Pengalaman kami sebagai pegawai tetap itu banyak. Percaya deh!" ujar pegawai 2.


Aku sudah kesal mendengarnya.


Aku pun melangkah maju.


"Kalian mau aku beli yang mana? Akan kubeli! Walau yang paling mahal sekali pun!" teriakku.


Pegawai lainnya juga tertawa.


Kecuali Ichigo.


Aku pun mengeluarkan ledakanku kecil-kecilan.


Sambil mengatakan, "Kalian pikir aku sedang bercanda, hah?! Aku serius!"


Semuanya pun berhenti tertawa karena merasa terancam.


"Kalau begitu, yang ini! Merek Guya! Seharga ¥31.000!!" ujar pegawai 1 mulai menantang.


"Ini, merek Litar! ¥70.000!!" pegawai 2 mulai ikut menantang.


"Merek Kachi! Harga ¥39.000!!" pegawai 3 mengajukan tantangan.


"Merek Tup! Ini edisi khusus! Seharga ¥30.000!! Bagaimana? Bagaimana?" pegawai 4 mulai ikut.


"Ini, merek Lion Star! Seharga ¥100.000!! Tidak ada diskon! Tidak ada tawar-menawar! Tidak ada keringanan! Edisi terbatas! Hanya ada 5 di dunia! Yang bisa membeli hanya pewaris keluarga konglomerat! Karena mereka memiliki kartu hitam!"


"Anu, kakak. Kamu sepertinya tidak mampu membelinya...," ujar Ichigo ingin mencegahku.


"Apa yang kau katakan? Aku bisa membelinya, kok," ujarku penuh percaya diri.


"Ahaha!! Darimana kepercayaan dirinya itu?!!" ujar pegawai 4 tertawa.


Pegawai lainnya juga ikut tertawa lagi.


"Justru itu yang tadi ingin kubeli, loh," ujarku sambil tersenyum.


Semuanya mendadak diam karena kaget.


"Terpaksa aku beli 5 deh.. padahal cuma mau beli yang merek Lion Star..," ujarku tenang.


"Hey, dia mau ngelawak, ya?!" ujar pegawai 5 memecah suasana.


Semua kembali tertawa sinis.


"Ichigo, kamu.. kelas 1-5 di SMP Chidoriyama, 'kan?" tanyaku memastikan.


"Ah, iya" jawabnya.


"Tolong hitung totalnya, Ichigo," suruhku.


"Ah, baik. Etto,.. totalnya ¥270.000!! Mahal sekali, kakak tak mampu membayarnya nanti," ujar Ichigo terkejut.


"Oh, hanya ¥270.000?" ujarku tenang.


Semuanya tersentak kaget.


Aku pun mengeluarkan kartu hitam dari saku celanaku.


Karena aku adalah pewaris keluarga konglomerat Yuu.

__ADS_1


"Ini, silahkan. Ambil ¥30.000 untukmu, Ichigo," ujarku tenang.


"Apa?! Dia pewaris keluarga konglomerat mana?!" ucap pegawai 3 kaget.


"Ichigo, apa marganya?!" tanya pegawai 1.


"Disini tertulis... Olinoya Yuu. Eh? Kak Olinoya yang terkenal disekolah itu?!" ujar Ichigo kaget.


"Apa?! Ternyata dia pewaris keluarga konglomerat terbesar ke-1?!" ujar pegawai 4 kaget.


"Sudah, 'kan? Berikan hoodie dan kartu ku," suruhku pada Ichigo.


"Ini, kak," ujar Ichigo.


"Hey, panggil dia tuan muda Yuu!!" ujar pegawai 2 kepada Ichigo.


"Ah, maaf, tuan muda Yuu," ujar Ichigo lirih.


"Tidak apa-apa. Lagipula, aku sedikit tidak suka dipanggil begitu. Panggil aku seperti disekolah saja," ujarku sambil memasukkan kartu hitam ku kedalam kantong celana.


"Terimakasih atas penawaran hoodie terbaiknya. Sampai nanti," ujarku keluar dari toko itu.


"Dia.. baik," ujar pegawai 5.


Pegawai lainnya mengangguk.


"Hufftt... Jadinya malah beli 5," gumamku.


Saat sampai di rumah...


"Aku pulang," ujarku.


"Selamat datang, tuan muda kedua,"


"Noya, apa itu?" tanya mama.


Ah, ini. Hoodie yang baru kubeli, ma," jawabku.


"Oh, yaudah. Mandi sana," suruh mama.


Aku pun berjalan menaiki tangga.


*Toko, kalian semua beruntung. Karena aku tidak menceritakan tentang penghinaan kalian ke aku. Untung aku baik,* pikirku.


Aku pun masuk ke kamar dan mandi.


Kemudian, aku mencoba hoodie yang baru kubeli tadi.


Beberapa saat kemudian...


"Hmm... Sepertinya yang ini cocok untuk tes rekomendasi. Sangat ringan, suhunya sedang, kainnya lembut, bagus juga nih hoodie. Nggak sia-sia aku beli ¥100.000," gumamku.


*Tapi.. kok jadi inget sama seragam klub volly sekolah, ya? Kan warna dan nomernya mirip,* pikirku.


"Bagaimana kalau... pakai kacamata," gumamku.



"Udah ah, ganti baju aja,"


5 menit kemudian...


Aku bengong sambil melihat ke arah televisi.


*Kok nggak ada kerjaan, ya? Bosen,* pikirku.


Aku pun mulai mencari kegiatan.


Membaca manga, menonton anime, menggambar, makan camilan, sampai menjahili teman lewat chat.


"Sungguh kebosanan yang tak ada duanya. Huhh..," gumamku.


*Coba aja ada Mike disini. Oh iya, aku kemarin lupa minta nomornya Mike! Sial, bagaimana aku bisa lupa sih?!* pikirku.


"Ah iya, latihan rekomendasi!!"


Aku pun diam-diam lompat keluar lewat teras kamarku di lantai 2.


*Untungnya aku sering diajarin melompat sama kakak dulu,* pikirku.


Aku pun menanamkan papan-papan kayu di tumpukan salju.


Aku membuat lingkaran dari jari dan telapak tangan kiriku, lalu kutempelkan di tengah telapak tangan kanan.


Lalu, kukeluarkan ledakan dari lingkaran itu satu persatu.


*Keren! Keluar seperti pistol dan peluru!* pikirku.


Papan kayunya pun habis kubuat latihan menembak.


Aku pun ingin kembali ke kamar, tetapi aku tak bisa melompat setinggi 7 meter. Rekorku hanyalah 4 meter.


*Apakah aku bisa teleportasi? Apa bisa lebih dari satu quirk? Coba aja deh,* pikirku.


Aku menyebarkan bebanku ke seluruh tubuh dan membayangkan teras kamarku.


Tiba-tiba, aku berada di teras kamarku.


*Wah, teleport! Quirk ku ada 2!* pikirku senang.


"Jadi, quirk ku yang sebenarnya ada berapa sih? Quirk Teleport ini menghabiskan 1% tenagaku. Aku tak boleh berlebihan memakainya," gumamku.


Tiba-tiba, handphone ku berdering.


Ternyata, pak Akatsuki menelepon.


"Halo, pak. Ada apa?" tanyaku.


"Jadwal ujian rekomendasi dipercepat jadi besok pagi!" jawab pak Akatsuki.


"Apa?! Kenapa dipercepat jadi besok pagi?!" tanyaku kaget.


"Karena...,"

__ADS_1


つづく ...


__ADS_2