The Strongest Hero

The Strongest Hero
Kabar Si Bermuka Dua


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Telepon pembimbing Dazai," suruh Tae Oh.


"Ah, benar juga. Buat apa kita debat coba," ujarku sambil menelepon pembimbing Dazai.


"Kau yang mulai menyebutkan RPG dan FPS," komentar Tae Oh.


"Jangan gila, kamu yang tanya duluan. Berapa rekor terbanyak aku menembak musuhku," balasku.


Telepon terhubung.


"Halo, pembimbing Dazai disini," ujar pak Dazai.


"Jawab dengan cepat. Bagaimana cara kami keluar dari sini?"


"Apa kalian tidak punya otak? Lewat lift, dong! Nanti bakal naik ke lantai satu sekolah kalian. Tidak ada yang tahu caranya kebawah, kok," jawab pak Dazai.


"Baiklah, saya mengerti."


Aku langsung menutup telepon dari jauh.


Aku menunjuk ke arah lift.


"Naik lift ke lantai satu Akademi. Aku sudah lelah, sampai aku malas berpikir," ujarku.


"Rumit banget, sih!" keluh Tae Oh.


"Jangan tanya aku," balasku.


Kami langsung menaiki lift dan segera kembali ke asrama.


"Huaahhhh.. Robin yang kesini aja, deh. Capek mau jalan ke lantai bawah. Kenapa sih kamarnya harus di lantai satu..." keluhku.


Aku langsung menelepon Robin dan menyuruhnya ke kamarku. Karena aku terlalu lelah untuk berjalan lebih dari sepuluh langkah.


Aku langsung berganti baju.


"Hufffttt.. aku masih belum terbiasa dengan gaya rambutku yang baru. Apalagi aku lebih tinggi lima cm dari biasanya," gumamku sambil bercermin dan merapikan rambutku.


Tok.. Tok..


Robin datang. Aku langsung membuka pintu untuknya.


"RPG or FPS?" tanyaku singkat.

__ADS_1


"Tidak, kali ini kita akan mengobrol, bukan main game," jawab Robin.


"Oh, oke," aku mengiyakan.


Dia langsung membuka jendela menuju teras kamar.


"Kenapa dibuka jendelanya, sih?!" tanyaku ketus.


"Kan kita mengobrol di teras," jawab Robin


"What? Aku ga salah dengar, nih?" ujarku memastikan.


"Ya, aku ingin tahu tentang Prajurit Besar," katanya.


Aku berjalan ke teras kamar, "Jadi, mau tanya apa?"


"Pertama, kau tadi dari mana saja? Setelah sampai di kamar, langsung kehabisan tenaga," tanya Robin.


*Ughh.. kenapa tanya tentang itu, sih..* pikirku**.


"Yah, itu..." aku tidak bisa melanjutkan kata-kata ku.


"Misi pertama?" ujar Robin menebak.


Aku menggeleng pelan, "Tidak, pokoknya rahasia. Tak bisa diberitahukan kepada siapapun."


*Kenapa menatapku terus?* tanyaku dalam hati.


"Kenapa?" tanyaku.


Robin menjawab, "Aku hanya ingin tahu sesuatu. Sebagai teman dari salah satu Prajurit Besar, bagaimana perasaanmu saat menjalankan misi?


Aku yang mendengar itu langsung terdiam. Karena tidak tahu harus menjawab apa.


Aku pun memutuskan untuk menjawabnya lain kali.


"Akan ku jawab setelah misi pertama. Tapi, misinya harus yang lumayan berat. Kalau tidak.."


"Kau tidak akan merasakan perasaan spesial apapun," ujar Robin melanjutkan kata-kata ku yang belum selesai.


"Heh, mudah ditebak, ya."


"Bukan mudah lagi, malah sudah jadi kebiasaan," ujar Robin.


"Tapi, ada yang lebih penting untuk kutanyakan padamu," ujarku.

__ADS_1


"Tanyakan saja~" jawab Robin dengan santai.


Dia berdiri dan melihat ke arah matahari terbenam.


"Apa kau sudah terbiasa dengan quirk api mu?"


Dia langsung terdiam. Kemudian, tertawa kecil.


"Kenapa? Kau pikir aku bodoh? Pastinya sudah," jawab Robin.


Aku menyipitkan mata, "Terlihat dari gaya bicara mu, kamu berbohong."


Robin langsung membalikkan badan.


"Wah, wah. Sekarang aku tidak bisa menjahili mu lagi," ujarnya.


"Tidak, sebenarnya masih bisa. Kemana dirimu yang biasanya?" tanyaku heran.


"Hey, cepat sekali kau menyadari diriku yang berbeda ini?!" ujar Robin heboh.


"Sangat mudah, kok. Sifatmu terlihat berbeda. Ada masalah apa?" tanyaku.


"Pangeran kedua keluarga Rovein, Freddy Rovein. Dia kembali dari pulau Saint Helena," jawab Robin.


(◔‿◔) Mecha Noya :


Saint Helena adalah sebuah pulau di sebelah selatan Samudra Atlantik, 2.800 km sebelah barat pesisir Angola. Berikut adalah Freddy Rovein.



Aku langsung berdiri, "Apa? Freddy Rovein anak berambut putih dengan pupil mata berwarna kuning itu? Si bermuka dua itu?! Kenapa ayahnya melepaskannya setelah dua tahun?!"


"Ya, mungkin ayahnya kasihan kepadanya," jawab Robin sambil melihat ke tanah belakang asrama.


"Sial, belum jera rupanya. Padahal dia sudah beruntung, tidak kau bunuh saat perang kemarin!"


"Freddy sialan..." gumam Robin.


"Kenapa anak itu berbeda dengan kakaknya, sih? Dia itu... huh, sial!" ujarku ikut kesal.


"Akan ku telepon Harrison Rovein. Supaya adiknya tidak keterlaluan seperti saat perang kemarin. Dia malah menyerang ku, disaat tahu keluarga White dan Rovein akan kalah! Untung saja, aku berhasil melawan dan tidak membunuhnya," ujar Robin.


"Tidak, kita lihat perkembangannya dulu. Jangan langsung telepon kakaknya. Siapa yang tahu dia akan melakukan apa sekarang. Lagipula, dia juga memiliki quirk pastinya. Dan satu lagi, kecilkan suaramu," ujarku menahan Robin.


"Ya, baiklah. Tentang ini, ku serahkan padamu, Prajurit Besar!" ujar Robin sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Aku meraih tangannya dan menjawab, "Ya, pastinya! Serahkan padaku!"


__ADS_2