The Strongest Hero

The Strongest Hero
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Writer : @olinoya_


/5 hari kemudian/


"Hey, bisa-bisanya kita balik ke sekolah itu lagi. Gue maunya main game di kamar," keluh Robin. "Mau gimana lagi? Kedepannya, kita bakal ke Akademi. Setiap hari juga, kecuali hari libur, sih. Hari ini hari pertama sekolah. Dan juga, kita liat asrama kelas, ya?" ujarku ketus.


"Ya, bisa-bisanya ada asrama khusus. Setiap kelas juga. Satu anak satu kamar, 'kan? Kaya banget nih sekolah," gerutu Robin.


"Ya, begitulah. Sekolah ini punya keluarga Scheffer. Dan juga, Robin, jangan main game sambil jalan, dong. Bentar nabrak tiang listrik," ujarku.


"Ga mungkin. Aku ga bakal nab-"


Bruuukkkk!!


Robin menabrak tiang listrik. Dia terjatuh.


Aku segera membantunya berdiri.


"Tuh, 'kan. Apa kubilang barusan? Aku bilang gitu soalnya di depanmu ada tiang listrik. Dibilangin ngga percaya, sih," ujarku ketus.


"Aduh, sakit. Untung hp ku masih hidup, ga mati. Kalo nggak, kalah dah aku," ujar Robin sambil mengambil handphonenya yang jatuh.


"Dasar, pagi-pagi dah kena sial. Masih lebih mementingkan game juga. Liat jalan kek," balasku sambil lanjut berjalan menuju Akademi.


"Lah, kan kamu yang kasih tau aku game ini," ujar Robin mengingatkan.


"Tapi, 'kan.. ngga ku suruh main sambil jalan, 'kan? Untung kamu pinter, kalo nggak bentar nilaimu 0," timpal ku.


"Lah, itu mah gawat," ujarnya mulai peduli.


"Dasar, OSIS tukang main game," gumamku.


"Sekarang sudah mulai musim semi, ya?" tanyaku sambil melihat bunga-bunga mulai bermekaran.


"Ya, bunga sakura dirumah ku udah mekar juga, kok. Hari ini lumayan hangat," jawab Robin.


"Nice!" gumam ku.


Singkat cerita, aku dan Robin telah sampai di Akademi. Kami berhenti di halaman sekolah yang luas.


Aku bertanya ke Robin, "sekarang jam berapa?"


"Jam delapan. Masih pagi," jawabnya.


Tiba-tiba, ada suara lelaki yang terdengar di telinga ku, "terlalu awal datang, ya."


Aku yang kaget langsung membalikkan badan.


Aku langsung melihat wajah kak Luke begitu dekat. Aku pun sampai terjatuh karena kaget melihatnya terlalu dekat.


"Aduh, sakit. Hey, kak Luke! Jangan ngagetin orang, dong! Kan aku jadi jatuh, nih," ujarku marah.


"Ah, maaf maaf. Aku pikir, kamu nggak gampang kaget, hahaha," ujar kak Luke sambil tertawa puas.


"Malah ketawa! Huh, dasar kepala sekolah lucknut. Lagipula, kan salahmu terlalu dekat," gumamku.


"Hah? Apa kau bilang?" tanya kak Luke sambil memasang wajah mengerikan. "Tidak, bukan apa-apa," jawabku seraya mengalihkan pandangan.


"Oh iya, cepat ke kelasmu sana," suruh kak Luke.


"Ah, kelasku dimana, ya?" tanyaku.

__ADS_1


"Kelas 4-A, jurusan pahlawan, 'kan?" ujar kak Luke.


Aku mengangguk, "Ya, seperti yang kak Luke tau lah."


Aku segera berdiri dan membersihkan celana ku yang kotor karena jatuh tadi.


Aku melihat Robin, "Oi Robin, berhenti main game. Ayo liat kelas kita."


Robin memasukkan hpnya, "Ya, boleh aja. Lagipula, sedikit yang online pagi kayak gini."


Singkat cerita, aku dan Robin sudah sampai di kelas. Disana aku melihat anak yang nggak asing lagi, yaitu pangeran Zhuge Liang. Dulu, aku berteman lumayan akrab dengannya.


Dia menoleh, "Oh, Noya! Akhirnya kau datang, aku dah lama nunggu disini." "Ah, Zhuge. Tolong sem-" kata-kata ku terputus.


"Iya aku tau, kok. Gampang, tenang aja," Zhuge menyela.


Robin mendekatinya.


"Oh, ini pangeran Liang, 'kan? Wah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, pangeran. Saya Robin White," ujar Robin mengenalkan diri.


"Hey, bicaranya jangan terlalu formal. Sekarang kita juga satu sekolah, satu kelas juga," Zhuge menanggapi.


"Robin, ini pertama kalinya kamu ketemu sama pangeran paling pemalas ini, ya?" tanyaku.


"Oi, apa maksudnya pemalas, hah?!" tanya Zhuge kesal.


"Ya, dari dulu aku ingin kenal. Tapi, nggak ada kesempatan," ujar Robin.


"Aku nggak percaya kalau ga ada kesempatan, paling kamu yang main game terus," gumamku pelan.


"Oh iya, anak jalur reguler tesnya sehari setelah anak rekomendasi, 'kan?" tanya Robin.


"Ya, begitulah. Apa anak reguler bakal dateng juga hari ini?" ujarku kepo.


Kreekkk...


Suara pintu bergeser. Aku langsung menoleh ke arah pintu.


Ada seorang anak yang masuk. Anak itu berambut hijau berantakan dan memiliki jerawat di pipinya. Dia memandangi Robin.


Seketika, dia langsung mendekat.


"Woah, are you really Robin White the White Knight?!" tanya anak itu seru.


Robin yang kebingungan sekaligus kaget langsung menjawab, "Yes, right. Aku Robin White."


*Jangan-jangan.. anak ini..* pikirku singkat.


"Wah, gak sia-sia aku masuk kesini," gumam anak itu.


*Tuh, 'kan?! Penggemar the White Knight alias si Ksatria Putih!!* pikirku.


Aku coba menyapa, "Halo, kenalin. Aku Olinoya, panggil aja Noya."


"Ah, halo," jawabnya gugup.


"Kamu dari mana? Oh iya, aku Zhuge Liang dari Inggris," ujar Zhuge. Anak itu tiba-tiba tersadar, "Ah, salam pangeran Zhuge Liang! Saya Chris John, salah satu rakyat anda."


"Hey, jangan pake bahasa formal. Ini di sekolah, ayo kita berteman. Dan juga, kamu itu anak jalur reguler, ya?" tanya Zhuge.


"Ya, benar. Quirk ku air, nggak disangka bisa masuk kelas 4A," jawabnya. "Keberuntungan mu," ujarku.

__ADS_1


Kreekkk..


Pintu kelas bergeser. Ternyata seorang guru masuk sambil membawa sesuatu.


"Bolehkah saya bertanya? Apa yang bapak bawa itu?" tanyaku heran.


"Oh, ini. Kertas yang nggak terpakai saja," jawab guru itu.


Aku heran, "Untuk apa, pak?"


"Nanti kamu akan tau dengan sendirinya," jawabnya.


Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat.


Secara tiba-tiba saja, sudah jam sembilan. Kelas sudah mulai ramai. Semua sudah saling berkenalan.


Sesuai dugaanku, Robin si Ksatria Putih dan Pangeran Zhuge Liang pasti bakal populer.


Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak ku dari belakang. Aku terkejut.


Aku langsung menoleh, "Eh, Chika? Ketemu lagi, nih."


"Pastinya, 'kan satu kelas. Habis ini pergantian tempat duduk, ya?" tanya Chika. Aku mengangguk, "Ya, semoga aku duduk di dekat jendela," ujarku.


Chika terlihat seperti tertantang.


"Mau tanding?" tanya Chika penuh semangat.


"Ya, boleh aja."


Kriiiingg...


Bel berbunyi.


Ada seorang guru yang tiba-tiba masuk sambil membawa sebuah kotak kecil dan segera menggambar meja kelas 4A lengkap dengan nomornya. Dia menggambarnya di papan tulis dengan rapi.


"Hey, kalian. Sekarang aku adalah wali kelas 4A. Namaku Kim Yeon. Terserah mau panggil siapa, bodo amatlah," ujar pak Kim.


*Guru ini.. type yang sama dengan pak Akatsuki,* pikirku.


"Cepat ambil kertas ini. Duduklah sesuai nomor yang kalian dapat. Saya juga sudah menggambar setiap meja disini. Gak pake lama, ya!" suruh pak Kim.


Aku mengambil salah satu dari beberapa kertas di kotak kecil itu. Nomor 21, itu yang tertulis.


Aku mengambil tas ku dan langsung pindah ke meja nomor 21. Aku langsung duduk disitu.


"Ya ampun, ngapa sih harus di samping anak ini lagi. Aku senang Robin di depan ku, tapi kenapa di sampingku ada anak ini lagiii," keluh ku.


"Yosha, aku menang. Kamu kalah, Noya," ujar Chika senang.


"Sial.. kenapa aku kalah, sih.." keluh ku.


"Haha, rasain tuh!" ujar Robin.


"Yah, aku deh yang dapet meja di dekat jendela," ujar Chika. Dia duduk di dekat jendela, dengan kata lain di sampingku.


"Sialan..." gerutu ku.


"Terima aja nasib mu. Kan ada aku di depan mu," ujar Robin menyemangati.


Aku menatapnya dengan kesal, "Thanks."

__ADS_1


つづく ...


__ADS_2