The Strongest Hero

The Strongest Hero
Saksi Kecil


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Apakah anda Jaksa Jung?" tanya salah seorang perawat.


"Ya, benar. Saya sedang menunggu laporan hasilnya," jawabku.


"Ini laporannya, sudah selesai. Ternyata, Jaksa Jung orangnya pendek, ya," ujar perawat itu sambil memberikan laporannya.


"Yah, semua keluarga saya memang pendek semua," balasku sambil menerima kertas laporannya.


Aku segera mengecek laporan itu.


Aku langsung teleport ke dalam ruangan Jaksa Kim.


Disana, aku melihat ada seorang pria dewasa.


"Uakhh!! Siapa anda?" tanyaku kaget.


"Oh, saya Jaksa Kim. Anda siapa, ya?" Jaksa Kim bertanya balik.


"Sa-saya Jaksa Jung. Bukankah Anda hari ini meminta cuti?" aku mulai gugup.


"Saya tidak jadi pergi hari ini. Lalu, saya kembali ke kantor. Oh iya, ada urusan apa ya, Jaksa.. Jung?" tanya Jaksa Kim.


"Saya.. saya disuruh oleh kepala kejaksaan untuk menggantikan anda. Jadi, saya bisa menemani anda di persidangan hari ini," aku menjawab sembarangan.


"Oh, begitu. Baguslah," ujar Jaksa Kim.


"T-tapi Jaksa Kim. Jika ada orang yang bertanya, jawab saja kalau saya Jaksa yang dipilih oleh anda untuk ikut persidangan," ujarku mengingatkan.


"Baiklah, kau seperti anak kecil saja," jawab Jaksa Kim.


Aku bernafas lega.


*Kan aku memang anak kecil, Jaksa Kim!!* ujarku dalam hati.


"Ayo berangkat ke pengadilan. Kau bawa mobil?" tanya Jaksa Kim sambil merapikan barang buktinya.


"Saya tidak punya mobil. Oh iya, ini adalah bukti tambahan," jawabku.


"Kalau begitu, kita berangkat bersama. Persidangan ini sangat sulit," ujar Jaksa Kim sambil membaca bukti yang ku berikan.


Dia tampak kaget saat membacanya.


"Hey, kau tadi ke Samhyook Medical Center?" tanya Jaksa Kim sambil membaca hasilnya.


"I-iya," jawabku.


"Melakukan autopsi dan transplantasi organ secara bersamaan?" tanyanya sambil memegang kertas itu dengan kuat.


"Iya, demi bukti," jawabku sekali lagi.


"Jaksa pilihan pak kepala memang yang terbaik. Aku saja belum pasti akan membuat keputusan sebagus ini. Apalagi ini kasus besar," komentar Jaksa Kim sambil memasukkan bukti-bukti ke dalam sebuah map.


"Yah, begitulah."


*Hey, aku anak kecil tahu!!* ujarku marah di dalam hati. Rasanya amarahku ingin ku ledakkan.


Kemudian, kami berangkat ke pengadilan. Jalanan sangat sepi. Sehingga, kami bisa tiba dengan cepat.


"Baiklah, mari kita mulai sidangnya," ujar hakim Lee.


Aku mulai mengeluarkan catatan ku. Karena aku sudah meringkas semua bukti dan data tentang saksi di buku catatan ku.


Jaksa Kim melihat catatan ku, "Tulisan.. Jepang..? Apalagi, tulisannya seperti.. anak kecil."


"Yah, saya orang Jepang. Tulisan saya imut, 'kan?" jawabku sekaligus mengalihkan perhatian.


"Ya, imut seperti tingkah anda," jawab Jaksa Kim.


Persidangan dimulai.


Terdakwa menyatakan bahwa dia tidak bersalah.


"Saya bukan pembunuhnya! Dia mabuk malam itu! Saya hanya memperbaiki kabel di gedung itu!" ujar terdakwa Bae Dae Young.


Jaksa Kim langsung maju untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada Bae Dae Young. Sangat memusingkan. Sungguh, aku sudah tidak ingin mengikuti persidangan lagi di hidupku ini.


"Bagaimana anda menyatakan diri anda tidak bersalah, terdakwa Bae Dae Young? Sudah jelas, buktinya juga sudah ditampilkan di layar," ujar Jaksa Kim.


"Saya.. saya bukan pembunuhnya! Semua bukti itu pasti dimanipulasi!" jawab Bae Dae Young bersikeras.


"Jaksa Kim, anda seharusnya tidak menuduhnya karena asumsi anda sendiri!" ujar Pengacara Kwon membela kliennya.

__ADS_1


"Pengacara Kwon, ingat ini. Ini bukan sebuah asumsi, ini adalah bukti. Lihatlah, Jaksa Jung sudah memberi bukti tambahan satu jam yang lalu. Ditemukan bekas cekikan di leher korban, nona Yoon," Jaksa Kim tidak mau kalah.


"Pasti dia memanipulasi buktinya," balas Pengacara Kwon.


"Sebaiknya, anda jangan ikut campur dulu, Pengacara Kwon. Jaksa Kim sedang menginterogasi terdakwa Bae Dae Young," ujar hakim Lee menghentikan perlawanan mereka berdua.


*Merepotkan sekali. Aku sampai di tuduh yang bukan-bukan,* pikirku kesal.


Akhirnya, terdakwa Bae Dae Young selalu bilang bukan dia yang membunuhnya. Tetapi, aku melihat jelas di wajahnya. Dia sedang menyembunyikan sesuatu dan ketakutan.


Bae Dae Young kembali ke tempat duduknya. Jaksa Kim pun kembali juga.


"Hafftt.. sangat sulit. Dia keras kepala. Apalagi Pengacara Kwon, dia sangat pintar berdebat," keluh Jaksa Kim sambil memperhatikan Pengacara Kwon yang sedang berbicara kepada Hakim Lee.


"Terdakwa hanya datang untuk memperbaiki kabel di gedung XXX. Malam itu, korban juga sedang mabuk setelah pulang dari pesta bersama teman-temannya. Untuk bukti rekaman di smartphonenya, pasti sudah direncanakan," jelas Pengacara Kwon.


"Wah, wah, tidak mau kalah ternyata. Masih bersikeras saja. Bagaimana jika tanya kepada saksi? Anak TK yang berusia 5 tahun itu.." ujarku.


"Hey, Jaksa Jung! Apa yang anda lakukan?" tegur Jaksa Kim dengan berbisik.


Pengacara Kwon tampak lebih percaya diri lagi.


"Baiklah. Yang mulia, apakah saya boleh menanyakan beberapa pertanyaan kepada satu-satunya saksi?" tanya Pengacara Kwon meminta izin.


"Izin diberikan," jawab Hakim Lee.


"Terimakasih, yang mulia," balas Pengacara Kwon sambil melirikku.


Layar mulai disambungkan dengan kamera yang disiapkan oleh Jaksa Shin. Jaksa Shin sedang berada di rumah saksi.


"Hmm.. saksinya hanya Jo Jae Ho. Benar, bukan?" gumamku.


"Benar. Apakah bisa seorang anak kecil dimintai kesaksian?" tanya Jaksa Kim berbisik.


"Entahlah."


"Saksi Jo Jae Ho, apa saja yang anda lihat malam itu?" tanya Pengacara Kwon.


Jo Jae Ho hanya sembunyi di belakang ibunya karena takut. Pengacara Kwon mengulangi pertanyaannya lagi. Tetapi, Jo Jae Ho hanya sembunyi.


"Yang mulia, saya sudah selesai bertanya kepada saksi," ujar Pengacara Kwon sambil menaruh mic di atas meja. Dia pun kembali ke mejanya


"Baiklah. Jaksa Kim dan Jaksa Jung, ada yang mau mencoba bertanya?" tanya Hakim Lee menawarkan.


*Bagaimana caranya? Dia masih kecil, pasti takut untuk berbicara. Satu-satunya cara.. itu dia!!* pikirku dalam hati.


"Baiklah, salah satu dari mereka tidak ada yang ingin menanyakan sesuatu kepada saksi," ujar Hakim Lee.


"Tunggu sebentar, Yang Mulia!" ujarku langsung berdiri.


Aku mengambil mic dan maju ke depan layar.


"Saya akan bertanya kepada saksi," ujarku.


"Silahkan," jawab Hakim Lee.


"Saya meminta izin untuk bertanya secara tidak hukum. Apakah boleh?" tanyaku meminta izin.


"Izin diberikan," jawab Hakim Lee.


"Terimakasih, Yang Mulia."


*Menyusahkan sekali, harus jaga sikap segala,* keluhku dalam hati.


Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. Aku mulai sedikit tenang. Ku keluarkan semua beban yang ada di dalam tubuhku.


Aku mulai mengangkat mic ke dekat mulutku.


"Halo, Jae Ho. Apakah kamu suka kakek Santa?" tanyaku dengan ramah. Seolah-olah temannya sendiri.


Jo Jae Ho mulai melihat ke arahku.


"Apakah kau temannya?" tanya Jo Jae Ho.


"Ya, aku temannya. Lihat, ini adalah seragam teman-teman kakek Santa," jawabku dengan ramah.


"Hey, apa-apaan kau, Jaksa Jung?" tanya Jaksa Kim berbisik.


"Haha, apa yang dia lakukan?" gumam Pengacara Kwon sambil menahan tawa.


"Apa yang dia lakukan? Apa dia sudah gila?"


"Itu benar-benar Jaksa?"

__ADS_1


"Sungguh aneh."


Semua orang berbisik-bisik membicarakan ku.


*Oi, aku mendengar kalian semua!!* pikirku kesal.


"Jae Ho, kau tidak akan berbohong pada kakek Santa dan teman-temannya, 'kan?" tanyaku dengan ramah.


"Ya," jawabnya singkat.


Aku mengambil kertas yang bergambar lukisan milik Jae Ho. Dia menggambarnya untuk seorang polisi.


"Jae Ho, apa kamu yang menggambar ini untuk polisi kemarin?" tanyaku sambil menunjukkan gambarnya.


"Ya."


"Wah, gambarnya bagus, ya," aku memujinya.


"Terimakasih," jawabnya senang.


"Apakah Jae Ho ingat apa yang dikatakan orang ini kepada kakak ini?" tanyaku sambil menunjukkan gambarnya.


"Ingat," jawab Jo Jae Ho masih takut.


Aku melirik ke arah Pengacara Kwon dan Bae Dae Young. Mereka terlihat cemas. Pengacara Kwon sepertinya berusaha mencari jalan keluar.


Tetapi, sekali anak ini berbicara sesuai dengan rekaman, maka sudah tidak ada jalan lagi.


Aku saja tidak tahu tentang rekaman, karena sudah diberikan lebih dulu daripada bukti lainnya.


"Jae Ho, kalau kamu menjawab pertanyaan kakak dengan jujur, kakak akan membawakan hadiah untukmu," ujarku.


"Benarkah?" tanya Jo Jae Ho.


"Tentu saja," jawabku.


"Baiklah, aku akan jujur!" ujar Jo Jae Ho.


"Jae Ho, apa yang dikatakan paman ini kepada kakak ini?" tanyaku sambil menunjuk gambar Bae Dae Young.


"Paman itu bilang, kalau kakak itu berani memberi ulasan buruk untuk paman itu," jawab Jo Jae Ho.


Aku langsung menunjuk salah satu petugas yang mengatur tentang rekaman suaranya.


Petugas itu langsung memutar rekamannya.


"Brengs*k! Berani-beraninya kamu memberi ulasan buruk tentang kinerja ku! Mentang-mentang kamu ini artis kebanggaan Seoul, berani sekali kamu!"


Itu yang terdengar dari rekaman itu.


"Woah, sama!"


"Hebat, bagaimana bisa?"


"Jaksa itu serius?"


Semua orang mulai saling berkomentar secara berbisik-bisik.


"Lalu, kakak ini mengatakan apa, Jae Ho?" tanyaku.


"Kakak itu menjawab, itu karena kerja paman itu buruk. Jadi, kakak itu memberi bintang satu," jawab Jo Jae Ho.


Sekali lagi, aku menunjuk petugas itu.


Dia langsung memutar rekamannya.


"Itu semua karena kinerja mu sangat buruk! Memperbaiki kabel listrik saja sampai satu jam! Sangat lambat, semuanya menunggu sangat lama. Karena itu, ku beri bintang satu!"


Itu yang terdengar dari rekaman suara itu.


"Hey, ini serius?"


"Benar-benar sama!"


"Siapa Jaksa Jung itu?"


"Gila!"


Semua orang mulai heboh.


"Wah, ini dia. Saatnya untuk bukti pembunuhan secara disengaja," gumam Jaksa Kim.


"Mari kita lihat, siapa yang akan menang, Pengacara Kwon," ujarku.

__ADS_1



__ADS_2