
Writer : @olinoya_
"Hey, kau bercanda kan?" tanyaku masih syok dengan perkataannya.
"Kau anggap aku bercanda? I'm seriously!!" jawab Nero Jin.
"Mana mungkin kakak ada di kota Z. Dia menghilang masih di tanah keluarga ku loh"
"Satu-satunya yang bisa masuk ke semua kediaman keluarga konglomerat adalah geng Harimau Hutan. Geng mafia terbesar di dunia" jelas Nero Jin.
Aku berpikir untuk sekolah di kota Z untuk mencari kakak.
"Di kota Z ada Akademi Pahlawan Yoes, 'kan?" tanyaku.
"Iya, kau mau masuk ke APY?" tanya Nero Jin.
"Iya. Kalau kau?"
"Akademi Pahlawan Yoes itu kan sekolahku sekarang🤣. Tapi, aku mau masuk ke Institut Teknologi Pahlawan di California," jawab Nero Jin.
"Ceritanya mau pulang kampung nih?"
"Pastinya tidak!! Aku hanya ingin masuk ke situ. Kan lumayan hebat, kalau bisa membuat teknologi pendukung quirk," jawab Nero Jin.
"Ah, entahlah. Sudah ya, aku mau mandi," ujarku.
"Oke, good bye,"
Telepon terputus..
"Oh iya, kertas hasil pemeriksaan quirk-nya harus kuambil!"
Aku pun turun ke bawah dan mengambil kertas yang ada di meja.
"Noya, kamu mau sekolah dimana? Biar papa daftarkan. Nanti papa cari kan rumah untuk kamu tempati selama sekolah," ujar papa.
"Aku mau ke Akademi Pahlawan Yoes di kota Z, pa," jawabku.
"Ah, kalau begitu, bagaimana kalau tinggal di rumah paman Jin?" tanya mama.
"Ide yang bagus! Kamu bisa satu sekolah dengan sepupu mu, Nero Jin dan Takashi Jin," komentar papa.
"Nero Jin dan Takashi Jin akan masuk Institut Teknologi Pahlawan di California. Paman Jin dan bibi An akan ikut ke California juga, dengan kata lain pulang kampung," jawabku tidak setuju.
"Lalu kamu mau sama siapa disana? Lagipula, apa itu sekolah elit? Nanti perkembangan mu bisa berantakan kalau tidak ditangani dengan baik," ujar papa.
Aku berjalan perlahan menuju ke arah tangga.
"Aku bersama Robin White. Ah, dan juga, sekolah ini bukan sekolah elit. Tetapi, sekolah ini ada di peringkat kedua setelah Akademi Pahlawan Alex, sekolah elit nomer 1," jawabku.
Aku pun masuk ke kamar dan segera mandi.
Setelah mandi, aku segera pergi ke gedung olahraga sekolah.
"Permisi, maaf telat," ujarku.
"Kamu kan raja telat, Noya!🤣," jawab Ryu To sambil tertawa
"Senpai, kamu memang keren. Nice!🤣," ujar Tanaka To sambil tertawa.
*Senpai : Kakak kelas.
"Kalian ini ... Kakak beradik memang mirip🙄," jawabku.
"Keliling 10 putaran!" teriak Misaki Jun.
"Osu!" jawab semuanya.
Setelah keliling lapangan ...
"Chen, kamu mau lanjut ke sekolah mana?" tanyaku pada Chen Shao.
"Aku akan tetap disini," jawabnya.
"Eh, kenapa?" tanyaku penasaran.
"Udah terlanjur nyaman, hihihi 🤣," jawab Chen Shao.
"Oh,"
"Kalau kamu?" tanya Chen Shao.
"Aku akan pergi ke kota Z, masuk Akademi Pahlawan Yoes," jawabku.
"Eh? Kenapa jauh sekali?" tanya Chen Shao.
"Rahasia!" jawabku sambil tersenyum.
*Sepertinya dia punya rencana lain,* pikir Chen Shao.
"Hey, Noya. Apa kamu nggak kedinginan? Sudah masuk musim dingin, loh. Kamu masih tetap pakai seragam musim panas. Diluar sudah mulai turun salju, loh," ujar Michael Way.
"Apa?! Tadi kan belum turun salju!?" ujarku kaget.
"Lihatlah keluar," suruh Xu Yi.
Aku melihat salju mulai menumpuk di luar gedung olahraga.
*Gawat, aku masih pakai pakaian musim panas! Pulangnya pasti dingin. Kalau menerobos, pasti besok bakalan sakit,* pikirku.
Aku pun kembali masuk ke dalam sambil meratapi nasib.
"Cerobohnya datang lagi?" tanya Misaki Jun.
"Iya😅," jawab Xu Yi.
"Latihannya kita batalkan hari ini. Karena diluar sudah turun salju, dan kita harus cepat pulang atau kita bakalan nggak bisa pulang sampai saljunya dipinggirkan," ujar Misaki Jun.
"Osu!" jawab semuanya.
Aku pun segera membereskan perlengkapan ku.
Tiba-tiba Tian Le memanggilku.
Tian Le adalah adik kelas ku. Dia berasal dari kelas 7-4.
"Kak Noya, mau pulang bareng? Aku ada jaket nih," tanya Tian Le.
"Boleh. Kalau kamu nggak keberatan, sih," jawabku.
"Nggak keberatan, kok. Malah keringanan," jawabnya.
"Permisi, kami pulang dulu!" aku dan Tian Le berpamitan.
Aku dan Tian Le segera keluar.
"Hey, Tian Le. Aku mau beli minuman dulu," ujarku saat di tengah jalan.
"Oh, oke. Aku juga," jawab Tian Le.
Aku segera menekan tombol di Vending Machine, dan aku segera mengambil kaleng yang ada dibawah itu.
"Eh, kak Noya juga suka Apple Tea?" tanya Tian Le sambil menekan tombolnya.
"Iya. Karena rasanya manis, kayak aku🤣," jawabku.
"Haha, kakak memang manis," ujar Tian Le sambil tertawa kecil.
"Ayo pulang, saljunya makin banyak," ajakku.
Aku dan Tian Le akhirnya sampai.
Oh iya, kami bertetangga, loh!
Aku segera memberikan jaketnya.
"Ini. Pasti ringan, kan? Beban kamu berkurang," ujarku sambil tersenyum.
"Sungguh, kak Noya cepat sekali paham sama kata-kata ku tadi. Kalau begitu, sampai nanti," ucap Tian Le.
"Sampai nanti," jawabku.
Aku segera masuk ke halaman rumahku.
__ADS_1
Aku melihat ada seorang anak laki-laki di taman.
*Siapa dia? Tidak biasa ada anak kecil bisa masuk ke kediaman Yuu,* pikirku.
Aku pun pergi menghampirinya.
Anak itu berambut kuning keemasan.
Memiliki mata berwarna biru yang imut.
Dia sedang melihat ikan yang ada di kolam.
*Dia sangat imut!! Lagipula, kenapa matanya nggak asing, ya? Kayak pernah lihat,* pikirku.
"Adek kecil, kamu sama siapa disini? Apa nggak dingin di luar?" tanyaku.
Dia memandangiku.
Lalu kembali melihat kolam dan menjawab, "Aku disini sama papa, mama, dan dua kakakku."
Aku pun melepaskan jas klub volly ku.
Lalu memakaikannya ke anak itu.
"Diluar dingin, loh. Apalagi kamu hanya pakai hoodie. Masuk, yuk," ajakku sambil tersenyum.
Dia pun mengikuti ku berjalan menuju ke rumahku.
"Oh iya. Papa, mama, sama kakakmu dimana?" tanyaku.
"Kata papa, nggak boleh kasih tau siapa-siapa. Jadi, aku nggak mau jawab kakak," jawab anak itu.
"Oh, begitu. Namamu siapa?" tanyaku.
"Nggak mau kasih tau!" jawab anak itu.
"Ahaha, yaudah deh. Kakak aja yang kasih tau. Nama kakak, Olinoya Yuu. Kamu bisa panggil kak Noya," ujarku sambil tertawa kecil melihat tingkah lakunya yang lucu.
"Kak Noya?" dia terlihat kaget dan bingung.
"Iya," jawabku sambil tersenyum kearahnya.
*Apa mungkin... Ini tunangan rahasia kakak? Wajahnya sama, namanya sama, rumahnya sama juga! Gapapa deh, kasih tau aja, tapi tanpa marga,* pikir anak itu.
"Mike," ujar anak itu dengan lirih.
Aku mendengarnya.
"Mike? Namamu Mike?" tanyaku sambil terus berjalan.
Dia menganggukkan kepala.
"Nama yang bagus. Sesuai sama penampilanmu," jawabku tersenyum.
Kami pun segera masuk.
Aku mengajaknya ke kamarku, karena papa dan mama sepertinya sedang ada tamu.
"Yah, ini kamarku. Kamu bisa istirahat disini sementara, Mike. Kakak mau mandi dulu, bau keringat habis latihan," ujarku.
"Wah, kakak punya banyak manga!!" ujarnya girang.
"Yah, begitu deh. Kamu kelas berapa sih, Mike?" tanyaku.
"Kelas 6, dari SD Inarizaki," jawab Mike.
*Dari kota Z?!* pikirku kaget.
"Kamu.. Dari kota Z?" tanyaku.
"Iya! Kak, apakah aku boleh rebahan di kasur kakak?" ujar Mike.
"Oh, boleh kok. Ngapain nggak boleh," jawabku.
Aku segera masuk ke kamar mandi.
Selagi mandi, aku terus memikirkan Mike. Seakan-akan dia adikku sendiri.
*Bagaimana Mike bisa ke sini? Kota Z kan jauh. Butuh sekitar 10 jam untuk kesana,* pikirku.
Aku segera menyelesaikan mandi ku, dan keluar dari kamar mandi.
Tiba-tiba, mati lampu saat aku baru keluar kamar mandi.
Aku pun kaget.
"Aaaa....!!!" teriak Mike.
Aku mendengar teriakan Mike.
Aku pun segera mencarinya.
*Tidak mungkin dirumahku akan mati lampu!!* pikirku curiga.
"Mike, dimana kamu?" tanyaku lirih.
"Aku... Disini kak Noya," jawabnya lirih.
*Eh, lemah banget suaranya?!* pikirku.
Aku menemukan dia dibalik selimut.
Dia gemetar ketakutan.
"Kamu... Nyctophobia, Mike?" tanyaku dengan pelan.
*Nyctophobia : Fobia gelap.
Mike mengangguk sambil memejamkan mata.
Aku pun menenangkannya.
Dia memelukku sangat erat.
*Mike, ayo kita ke bawah. Disana mungkin banyak orang," ucapku berbisik ke telinga Mike.
Mike tetap memelukku dengan erat sambil ikut berjalan ke lantai bawah.
"Hati-hati, ini tangga. Bukalah matamu, lihatlah. Gelap tidak terlalu menakutkan, 'kan?" ucapku pada Mike.
Mike membuka matanya walau masih takut.
Dia mencoba memberanikan diri.
"Memangnya, kenapa tidak diam di kamar saja, kak Noya?" tanya Mike.
"Lebih baik berkumpul kebawah bersama yang lainnya. Ingat itu, ya," jawabku.
Aku memandangi Mike, dia sepertinya sudah mulai terbiasa dengan gelap.
Karena dia sudah pelukannya terasa sedikit longgar.
Tiba-tiba Mike berteriak, "Papa!"
*Eh, papa? Itu papanya?* pikirku.
Mike segera memeluk papanya.
Wajahnya tidak terlalu kelihatan karena gelap.
Disana ada seorang anak perempuan, mungkin 1 tahun lebih muda dariku.
Tetapi wajah dan rambutnya tidak terlihat jelas.
"Kalau begitu, kami pulang dulu. Akiyasu, jangan lupa," papa Mike berpamitan.
"Eh, cepat sekali pulangnya?!" ujarku kaget.
"Iya, kak! Soalnya besok kakak mau ujian," jawab Mike.
"Oh iya, Mike, kamu tadi dari mana saja? Kakak mencarimu tadi," tanya kakak perempuan Mike.
__ADS_1
"Aku bermain sama kak Noya!" jawab Mike senang.
"Terimakasih sudah bermain dengan adikku," ujar kakaknya sambil malu-malu.
"Ah, tidak terlalu merepotkan kok," jawabku.
*Nggak ada lilin atau senter apa?! Kan aku jadi nggak tau wajah keluarganya kek gimana?! Oh, itu kakak laki-lakinya, 'kan? Tinggi juga,* pikirku.
Mereka berlima pun segera pulang.
Setelah mereka keluar dari halaman rumahku, lampunya kembali menyala.
*Apa?! Lampunya menyala setelah pergi?! Huhh kahh,* pikirku ketus.
"Papa, itu tadi siapa?" tanyaku.
"Sahabat papa dari kecil dulu. Dia baik banget. Namanya om Johnny," jawab papa.
"Om.. Johnny?"
*Sebaiknya ku sembunyikan marga Scheffer nya,* pikir papa.
Aku pun segera kembali ke kamar.
Aku mengeluarkan formulir pendaftaran sekolah pahlawan.
*Hmm... Akademi Pahlawan Yoes, ya?* pikirku.
Aku segera chat Nero Jin.
'Nero, apakah Akademi Pahlawan Yoes, bagus?'
'Tentu saja' (Nero Jin)
'Sangat besar, tapi sederhana!' (Nero Jin)
'Eh, sekolah elit?'
'Bukan! Hanya sekolah biasa saja' (Nero Jin)
'Oh, begitu ya'
"Hufftt... Aku belum pernah menggunakan quirk ku. Kira-kira apa ya? Gimana cara Robin mengeluarkan quirk apinya, ya?" Gumamku.
Aku berpikir, *quirk memiliki batasan, 'kan?*
Aku pun mencoba mengeluarkan quirk ku. Tetapi tidak berhasil.
"Huhh... Kenapa nggak bisa ya," ujarku.
Aku mencoba meluruskan tanganku ke depan, dan membentuk cengkraman mengarah ke botol plastik yang berisi air.
Aku langsung mengeluarkan beban yang ada di tubuhku menuju ke telapak tanganku, sambil membayangkan sebuah ledakan.
Ada sesuatu yang mengalir di sepanjang tubuhku, terutama tanganku.
Tiba-tiba, keluarlah ledakan yang membuat botol plastik itu pecah dan gosong. Airnya tumpah.
*Apa?! Gawat, airnya tumpah! Aku tidak tahu kalau bakal beneran keluar!* pikirku.
Seisi rumah langsung datang ke kamarku setelah mendengar suara ledakan.
Penjaga, pelayan, dan koki juga datang.
Risuke juga datang. (Risuke adalah pengawal pribadi keluarga Yuu)
"Ada apa, tuan muda?!" tanya Risuke khawatir.
"Yah.. aku.. barusan ingin mengeluarkan quirk ku. Dan.. tiba-tiba, yang keluar ternyata ledakan. Hehehe," jawabku sambil tertawa kecil.
"Quirk Explosion?" tanya papa.
"Kuat sekali!" seru mama.
"Selamat, tuan muda kedua!" ujar Risuke senang.
"Pelayan, cepat pel lantainya!" suruh papa.
Pelayan segera mengepel lantainya.
Papa dan mama pun kembali ke kamar.
Risuke dan penjaga pergi untuk berjaga diluar.
*Tenagaku langsung terkuras 0,1%. Kalau begini, lumayan menghemat tenaga. Aku harus lebih terbiasa,* pikirku.
"Tuan muda kedua, saya turun kebawah dulu," ujar pelayan.
"Oh, iya," jawabku.
Pelayan pun menutup pintu kamarku.
Aku pun melompat ke kasur.
"Tanganku masih panas.." ujarku.
*Berarti, memang butuh pemanasan lebih dulu,* pikirku.
Aku pun tertidur lelap.
Keesokan harinya...
Aku sudah selesai mandi dan bersiap untuk sarapan.
"Yah, ini masih jam 8. Aku bangun terlalu awal," gumamku.
Aku pun turun kebawah sambil membawa tas ku.
"Pagi, tuan muda kedua. Hari ini bangun lebih awal, ya?" sapa Risuke.
"Ya, aku terlalu cepat tidur semalam," jawabku.
Aku pun segera sarapan.
Aku tak melihat papa dan mama di meja makan.
"Ano... Risuke. Papa dan mama dimana?" tanyaku heran.
"Tuan dan nyonya belum turun, tuan muda," jawab Risuke.
"Oh, begitu,"
Aku segera pergi ke sekolah.
Hari ini, suhu di Kyoto mencapai 16°C.
"Dinginnya..," gumamku.
Aku pun sampai di gerbang sekolah dan tidak sengaja berpapasan dengan Robin White.
"Pagi, Robin," sapa ku.
"Pagi juga, Noya. Tumben pagi-pagi dah muncul nih anak," jawab Robin White.
"Kau pikir aku apa?"
Saat sampai di kelas, kelasku sudah ada sekitar 12 anak yang datang.
Aku pun segera duduk di kursi ku.
Sambil melihat ke arah luar jendela.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan berteriak, "Oh tidak, aku lupa es krim almond white!!"
Aku segera berlari ke luar kelas dan menuju lantai satu.
"Hah.. hah.. es krim almond white-nya masih ada," ujarku sambil melihat Vending Machine, dengan nafas yang terengah-engah.
Tiba-tiba aku sadar, disampingmu ada anak perempuan yang melihat ku.
Aku kaget.
*Apa dia melihatku?! Memalukan sekali!* pikirku.
__ADS_1
Dia tertawa kecil dan berkata, "Ternyata Olinoya dari kelas 2-5 benar-benar seperti yang dikabarkan, ya!"
"Apa? Bagaimana kamu mengenaliku?" tanyaku.