The Strongest Hero

The Strongest Hero
Belanja (2)


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Waahhh, hasilnya sangat bagus! Ini simpanlah satu!" ujar Chika sambil menempelkan satu fotonya di jidatku.


"Aduh, sakit tau!"


Pegawai toko langsung memberikan baju itu kepada kami. Ternyata, setelah foto akan diberi secara gratis. Tapi, aku malas ganti baju. Tidak kusangka, Chika juga begitu.


Tiba-tiba aku teringat, bahwa aku belum beli perlengkapan apapun.


"Hey, gantian dong! Sekarang aku yang belanja," ujarku.


"Hmm.. boleh, tapi hanya lima belas menit," jawab Chika.


"Hah, itu apaan? Kamu belanja sampai lebih dari satu jam, masa aku cuma lima belas menit?" tanyaku ketus.


"Karena.. kamu ga bisa jauh-jauh dari aku," jawab Chika.


*Ukkhhh.. tenang Noya, dia hanya bercanda! Hanya bercanda, dia bercanda kok!* pikirku menenangkan diri.


"Baiklah, kamu diam disini. Aku akan kembali dalam lima belas menit sesuai perintah mu, tuan putri tukang ngatur," ujarku.


"Hah, siapa yang tukang ngatur?!" tanya Chika geram.


"Kamu!" jawabku sambil kabur ke salah satu toko.


Dia nampak kesal. Habisnya, selalu mempermainkan aku yang keren ini.


*Ah, aku harus beli banyak barang. Untung aku bawa catatannya. Kalo enggak, aku pasti lupa nih,* pikirku.


Aku berkunjung ke satu toko dan toko yang lain. Bahkan aku juga membeli beberapa manga terbaru.


Tidak terasa, aku sudah lima belas menit belanja keperluan ku. Aku pun segera kembali.


"Chika, maaf telat!" ujarku.


"Sebagai gantinya, kamu yang bawa semua barang belanjaan ini, ya," ujar Chika tersenyum tanpa dosa.


"What?! Are you crazy?!" ujarku kaget.


"Memangnya kenapa? Masa kamu membiarkan gadis kecil sepertiku membawa barang yang berat dan banyak?" ujar Chika merayu lagi.


Huufftt..


Aku menghela nafas panjang.


"Baiklah, tapi setidaknya kamu bawa beberapa barang, lah! Berat banget, nih," ujarku.


"Oke, lima tas saja," jawabnya.

__ADS_1


"Cih, kamu curang!" ujarku.


"Biarin, suka-suka aku lah. Kamu kan cowok."


Rasanya kesal banget, tapi entah kenapa aku tak bisa marah kepadanya.


"Hey, bisakah kita pulang saja?" tanyaku lelah.


"Tidak boleh, kita beli es krim dulu!" jawab Chika.


"Huh, baiklah," ujarku lesu.


Aku pun mengikuti Chika ke lantai dua, karena toko es krim ada disitu.


"Chika, bisa tolong belikan permen stik? Aku butuh sesuatu yang manis, nih," ujarku.


"Lihat saja aku, aku kan manis," jawabnya.


"Kamu ini.. bisa nggak sih turuti kemauan ku? Ini pertama kali aku menyuruhmu, loh," balasku.


"Okay, okay," ujar Chika.


Drrrrttttt....


Hp ku berdering di saku celana ku. Aku langsung mengambilnya. Ternyata, video call dari Robin.


Aku langsung mencari tempat duduk dan menerima telefonnya.


"Hey, Noya. Bagaimana kencan mu?" tanya Robin seru.


"Tidak ada apapun. Lagipula, aku berasa jadi pengawalnya," jawabku.


"Hahaha, tuan muda yang terhormat malah jadi pengawal," ujar Robin tertawa puas.


"Kau ini.. mengesalkan!" balasku.


Secara tiba-tiba, Chika muncul di sampingku entah darimana. Dia langsung memasukkan permen ke dalam mulutku.


"Aaa.. pangeran dan putri so sweet banget," ujar Robin meledek.


"Hey, jangan keterlaluan. Aku saja tidak tau kapan dia datang," ujarku membela diri.


Chika dengan mudahnya menyapa Robin.


"Halo, Robin! Lihat, baju kami couple!" ujar Chika memamerkan bajunya.


"Woah, kalian ini sampai tahap mana sih?!" tanya Robin.


"Hey, kami baru aja kenal. Ingat, aku nggak punya hubungan khusus dengannya," jawabku.

__ADS_1


"Bohong," ujar Robin tidak percaya.


Tiba-tiba, banyak orang di lantai satu berlari sambil teriak-teriak. Aku pun langsung melihat keadaannya dari atas. Telihat asap yang tebal, sehingga aku tak bisa melihatnya dengan jelas.


"Robin, kita sambung nanti di asrama! Bye!"


Aku langsung menutup panggilan.


Aku pun langsung menelepon Tae Oh Kang. Karena dia yang paling dekat dengan lokasi.


"Halo, ada apa, ketua?"


"Cepat datang ke Mall SuperStar!" ujarku buru-buru.


"Oh, baiklah," jawabnya tanpa basa-basi.


Dia langsung menutup telepon.


*Gerak cepat..?* pikirku.


"Chika, thanks for the candy. Diam disini, aku akan turun kebawah," ujarku.


"Jangan, bahaya!" Chika melarang ku.


Aku mendekat ke arahnya, "Ini tugasku sebagai salah satu Prajurit Besar, ada masalah seperti ini masa diam saja? Tidak bertanggung jawab, dong."


Akhirnya Chika mengerti.


Aku berlari menuruni tangga menuju lantai satu. Tae Oh Kang juga mengirimkan pesan, bahwa dia sudah di depan mall. Asapnya berasal dari dalam rupanya.


Aku langsung menelepon Tae Oh Kang.


"Tae Oh, masuk saja! Kamu white hat hacker, 'kan? Pasti kamu sudah mengetahui situasi dari kamera cctv. Cepatlah, tindakan pertama!" aku menyuruhnya masuk.


Tak disangka, Tae Oh Kang langsung menurut. Dia langsung masuk ke dalam gumpalan asap.


Aku akhirnya tiba di lantai satu. Asapnya lebih parah dari yang kubayangkan. Aku pun mencoba mengecek lisensi pahlawan. Karena kemarin saat pelantikan, setiap anggota diberi lisensi agar tidak melanggar hukum pemerintah.


Akhirnya, aku menemukannya di saku celana.


Saat aku mulai berlari untuk memasuki gumpalan asap, secara tiba-tiba ada seseorang yang terlempar keluar. Tidak lain adalah Tae Oh. Aku langsung mencoba menangkapnya, dan untungnya berhasil.


"Bagaimana bisa kamu terlempar keluar?" tanyaku khawatir.


"Di dalam sana, ada perampok! Sekitar kurang lebih lima orang! Salah satunya memiliki quirk Smoke, dan yang satunya lagi memiliki quirk tipe kekuatan. Aku tak tahu pasti tentang quirknya!" jawab Tae Oh Kang.


*Disini hanya ada satu Prajurit Besar dan satu bawahannya. Apakah bisa mengalahkan mereka berlima?* pikirku cemas.


つづく ...

__ADS_1


__ADS_2