
Writer : @olinoya_
"Sssttt.. ini tempat rahasia. Jangan terlalu berisik. Kita datang tepat waktu, ayo masuk," ujar kak Luke.
"Masuk kemana? Memangnya ada apa di dalam?" tanyaku sambil mengikuti kak Luke masuk.
"Sudahlah, hanya orang terpilih yang akan tau," jawab kak Luke.
Aku mengikuti kak Luke masuk ke dalam rumah itu. Dalamnya kosong, sangat sepi dan dingin. Aku melihat-lihat ruangan sekitar.
"Hey, Noya. Kau ngapain? Ayo sini, cepat masuk!" ujar kak Luke berbisik.
Aku segera menghampiri kak Luke.
Kak Luke membuka sebuah penutup lubang dari besi yang sangat kuat.
"Ayo masuk! Cepat!" suruh kak Luke.
"Eh, tempat apa ini?" tanyaku heran selagi masuk ke lubang besar itu.
"Cepatlah, sudah hampir dimulai nih," ujar kak Luke buru-buru.
Aku pun menuruni tangga yang ada di pinggiran lubang itu.
Lalu, aku sampai di suatu tempat yang sangat bagus.
"Kak Luke, ini apa?" tanyaku.
"Ah, kamu mendapat undangan untuk menjadi salah satu dari Pasukan Besar oleh pemerintah pusat," jawab kak Luke selesai menuruni anak tangga.
Tempat itu sangat bagus. Teknologi yang canggih.
Tiba-tiba, ada seseorang dengan mengenakan jas menghampiri kami, "Selamat datang, Tuan Muda Pertama Scheffer. Apakah ini murid dengan nilai tertinggi di daerah 4 itu?"
"Ah, Profesor Hyun. Benar, ini adalah Olinoya dari Akademi Pahlawan Yoes," jawab kak Luke.
*Eh, kak Luke masih menyembunyikan identitas ku, atau.. masih belum tau?* pikirku bingung.
"Mari kita mulai saja, ini untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya," ajak Profesor Hyun.
"Baik, Profesor."
Aku berjalan melewati lorong yang panjang. Keamanannya sangat ketat.
Lalu, aku berhenti di suatu ruangan. Pintunya terbuat dari besi, bertuliskan nomor 4.
Di dalamnya ada beberapa orang lainnya juga.
"Olinoya, ya?" tanya Profesor Hyun.
"Iya, bisa dipanggil Noya, prof," jawabku sopan.
__ADS_1
"Baiklah, Noya. Silahkan berbaring disana," suruh Profesor Hyun.
Aku segera berbaring di sebuah kasur. Lampu di ruangan ini langsung dimatikan semua. Profesor Hyun menyalakan sebuah lampu yang tidak terlalu terang, tepat di atasku.
"Noya, sekarang pejamkan mata, dan kosongkan pikiranmu," suruh Profesor Hyun.
"Hah? Maksudnya gimana profesor?" tanyaku.
"Sudahlah, pejamkan mata dan kosongkan pikiranmu. Turuti kata-kataku," jawab Profesor Hyun.
Aku langsung memejamkan mata dan mengosongkan pikiran.
"Buka mata!" teriak profesor Hyun.
Aku langsung membuka mataku. Aku melihat mata profesor Hyun tepat di depanku.
Dia langsung menyalakan korek api. Dan mengarahkan tepat di depan mataku.
"Sekarang turuti semua kata ku," suruh profesor Hyun. Aku hanya bisa mengangguk, karena aku tak bisa mengendalikan tubuhku sendiri.
"Tidur!" suruh profesor Hyun.
Aku langsung memejamkan mata dan tertidur dengan pikiran kosong.
Aku berada di ruangan yang sangat gelap. Sepertinya aku berada di dimensi lain.
Tiba-tiba, ada seseorang yang berbicara dari belakang ku, "Olinoya cucuku, kerja bagus."
Aku langsung menoleh.
Orang itu berambut biru gelap, dengan bola matanya berwarna merah cerah.
Aku merasa tidak percaya, "kakekku? Kakek kan harusnya sudah tua. Kenapa yang ini masih seumuran denganku?"
"Ini wujud kakek saat masih muda dulu," jawabnya.
"Lalu, kenapa kakek ada disini? Dan juga, ini sebenarnya dimana?" tanyaku heran.
"Kamu berada di dimensi lain. Ada sesuatu yang harus kakek urus denganmu, Noya," jawab kakek.
"Apa itu kek?" tanyaku.
"Sebenarnya, selama ini, wujud asli mu adalah yang kamu lihat sekarang," jawab kakek.
Aku tidak mengerti, "Maksudnya, wujud asliku.. yang kakek pakai ini?"
Kakek mengangguk, "Benar, ini semua karena kamu lahir disaat bintang di langit membentuk pegasus. Yang bisa melihatnya, orang itulah yang wujud aslinya keluar saat umur 12 tahun. Kakek saat itu sedang menggendong mu, Noya. Lalu, kakek melihat bintang itu, karena itu kakek sudah menduganya dan menggunakan tubuh aslimu sekarang."
"Kakek tau darimana?" tanyaku curiga.
"Kakek juga termasuk salah satunya," jawab kakek sambil tersenyum.
__ADS_1
Kemudian, kakek mengulurkan tangannya.
"Waktunya tinggal sedikit lagi. Pegang tangan kakek," ujar kakek.
"Waktu? Kenapa kek?" tanyaku.
"Ini sudah jadi adat bagi anak yang lahir di bawah bintang pegasus," jawab kakek.
Aku mengangguk dan langsung meraih tangan kakek.
"Selamat, kamu dapat wujud aslimu, cucuku Noya."
Lalu, kakek menghilang.
Aku langsung terbangun.
Nafasku terengah-engah. Semua orang memandangiku dengan kaget.
"Berhasil, ya?" tanya salah satu profesor yang ada disitu.
"Perfect!" ujar profesor Hyun sangat gembira.
"Tapi, kenapa wujudnya berubah?" tanya kak Luke.
"Entahlah. Noya, apa yang kamu lihat di dalam mimpi mu?" tanya profesor Hyun.
"Kakek dengan wujud asliku," jawabku jelas.
Semua orang disitu kaget.
"Noya, kamu ini.. anak yang lahir di bawah.. bintang Pegasus?" tanya kak Luke pelan.
Aku mengangguk, "Kata kakek begitu."
Semuanya mulai memandangi satu sama lain.
"Sebaiknya kita rahasiakan dulu," ujar profesor Hyun.
"Ya, aku serahkan pada kalian, profesor," jawab kak Luke.
"Ternyata dia yang mendapat berkat Pegasus selama 30 tahun ini, ya," ujar salah satu profesor.
"Wah, langka ini. Teman satu timnya jangan sampai ada yang tau, oke?" tanya salah satu profesor.
Aku mengangguk.
"Kamu akan lebih mudah mengeluarkan kemampuan terbaikmu jika berhasil melewati ujian mimpi itu. Good job, Noya," kak Luke memuji.
Aku pun beranjak dari kasur yang lunak itu.
"Sekarang, ayo ke lapangan pelantikan," ajak kak Luke.
__ADS_1
"Pelantikan?"
つづく ...