The Strongest Hero

The Strongest Hero
Belanja


__ADS_3

Writer : @olinoya_


Sepulang sekolah, aku dan Robin berjalan menuju asrama.


"Wah, aku bakal lama nggak pulang ke rumah, nih," ujar Robin.


"Ya benar juga, bagaimana perlengkapannya?" tanyaku.


"Eh, aku belum siap," jawab Robin.


"Sama, aku juga. Kalau begitu, nanti makan apa coba?" ujarku kesal.


"Makan diluar, dong!" jawab Robin seru.


Aku langsung menoleh ke arahnya.


"Bolehkah?" tanyaku.


"Untuk sementara ini, boleh sih," jawab Robin ragu.


*Yosh!* pikirku senang.


Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak ku.


Aku menoleh, ternyata Chika lagi. Aku sampai kesal dibuatnya.


"Hey, Noya versi baru. Besok kan libur, nih. Temenin aku belanja di mall, yuk!" ajak Chika.


"Aku tetap Noya versi lama. Dan juga, ngapain aku nemenin kamu belanja, males!" aku menolak.


"Ayolah, aku nggak ada yang nemenin, masa aku sendirian ke mall. Please, Noya," ujar Chika memohon.


"Nggak, aku nggak mau," jawabku.


Dia langsung memasang wajah belas kasihan.


"Please Noya.. Ayolah.." ujarnya sambil mendekatkan wajahnya.


"Ukkhhh.. .. nggak!" jawabku.


Dia pun semakin mendekatkan wajahnya, "Kumohon... Cuma kamu yang bisa."


"Ukkhhh... e-eh, ya.. yaudah deh!" jawabku sambil mengalihkan pandangan.


"Yeayy, besok jam setengah sepuluh, ya!" ujar Chika semangat.


"Ya," jawabku singkat.


"Yeayy!!" ujar Chika senang.


Dia langsung berlari ke asrama.


*Ukkhhh... gawat, dia terlalu imut. Bisa mati aku kalau begini terus!* pikirku menahan malu.


"Hah, apa-apaan itu? Ga jelas banget," komentar ku mengalihkan topik.

__ADS_1


"Hey, Noya. Wajahmu memerah," ujar Robin.


"Berisik!" teriakku sambil mengalihkan pandangan.


"Hehe, beneran loh," Robin tertawa jahil.


Aku melihat seorang anak laki-laki dengan memakai headphone melewati ku dan Robin. Dia mirip seperti Tae Oh Kang.


"Hey, Robin. Itu anak kelas kita?" tanyaku.


"Ya, mungkin. Aku nggak terlalu kenal, sih," jawab Robin.


Aku memanggilnya tanpa pikir panjang, "Tae Oh!"


Dia menoleh sambil melepas headphone-nya, "Eh, ketua tim, ya?"


"Panggil Noya saja," jawabku.


"Ternyata kita satu kelas. Aku di kamar nomor sembilan di lantai satu, gedung satu. Bye!" ujarnya sambil memasang headphone kembali.


*Singkat banget?!* pikirku kaget.


"Dia begitu tertarik dengan teknologi, dia juga misterius. Apakah dia hacker? Menurutku, dia White Hat Hacker," ujarku.


"Kau kenal dengannya? Dia sangat pendiam, susah untuk kenalan tadi. Tapi, mengapa dia absen kelas di jam yang sama denganmu?" tanya Robin heran.


Aku langsung menceritakan semuanya, dan menyuruhnya merahasiakan hal ini. Karena ini Organisasi Rahasia milik Pemerintah Pusat. Aku termasuk salah satu dari Prajurit Besar.


"Keren juga, oke deh! Jangan lupa, besok kau ada jadwal kencan dengan Chika," ujar Robin.


"Haha, iya deh iya," ujar Robin mengiyakan.


/Keesokan paginya, pukul 09:30/


"Hoaaammmm... masih ngantuk gini, pake diajak nemenin belanja segala," gumamku.


*Eh, aku jadi teringat kata-kata Robin. Hari ini, aku kencan? Tunggu, itu sangat memalukan!* pikirku.


"Hey, ngapain bengong? Pake malu-malu sendiri juga," ujar Chika tiba-tiba muncul.


"Hey, kau mengagetkanku!" ujarku terkejut.


"Ayo jalan!" ajak Chika.


"Ya."


Sesampainya di mall.


"Wah, lumayan juga mall ini," ujarku.


"Pastinya, Mall SuperStar ini," ujar Chika bangga.


*Eh, kenapa dia yang bangga? Seperti miliknya saja,* pikirku.


Aku mengikutinya berjalan dari satu toko ke toko yang lain. Dia membeli banyak barang, tidak masalah sih. Tapi, masalahnya itu, kenapa aku yang harus bawa semua belanjaannya?

__ADS_1


"Hey, Noya. Lihat, ada baju yang imut. Ayo kesana!" ajak Chika.


"Hey, berapa banyak lagi, sih? Aku saja belum beli apapun, Chika!" jawabku.


"Sudahlah, ayo kesana dulu!"


Chika langsung berlari ke arah toko itu.


"Apakah saya bisa mencoba baju ini? Ini terlihat imut," ujar Chika.


"Maaf, jika anda ingin mencobanya, harus memiliki pasangan. Karena baju ini untuk event couple," jawab pegawai tokonya.


*Kok jadi ingat pegawai toko menyebalkan di dekat rumah, ya?* pikirku kesal sambil membawa barang belanjaan.


"Noya, ayo kita couple baju ini! Kumohon.." ujar Chika merayu ku.


"Hey, kau pikir aku ini pengawal mu, huh?" ujarku sambil meletakkan barang belanjaannya.


"Tidak, tidak, kamu kan orang spesial bagiku," ujar Chika tetap merayu.


*Ukkhh... tenang... jangan terpancing...* pikirku.


"Ayolah, Noya," ujar Chika.


"Tuan, anda turuti saja kemauan nona ini. Lagipula, kalian pasangan yang serasi," ujar pegawai itu.


"Ukkhh.. baiklah.. dan juga, kami bukan pasangan" ujarku menyerah.


Aku pun segera berganti baju dan keluar dari ruang ganti.


"Woah, Noya. Kamu.. seperti pangeran!" ujar Chika heboh. Pipinya nampak memerah.


"Haha, kamu juga imut memakainya," ujarku balik memuji.


Pegawai toko membawa sebuah kamera.


"Baiklah, bersiap untuk difoto," ujarnya.


"Hey, kau tidak bilang kalau ada sesi foto. Aku kan tidak suka foto!" ujarku.


"Ayolah, untuk kenang-kenangan saja, kok!" ujar Chika membujuk.


Hufffttt....


Aku menghela nafas panjang. Aku sudah menyerah. Malas untuk melawan lagi.


"Baiklah."


"Baiklah, bersiap di tempat. Satu, dua!"


Jepreeetttt!!!



つづく ...

__ADS_1


__ADS_2