The Strongest Hero

The Strongest Hero
Chika


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Karena...,"


"Karena apaan dah. Lama banget,"


"Dasar murid lucknut, sabar dikit kek!"


"Oke, oke. Jadi, karena apa?" tanyaku.


"Karena sudah ditemukan beberapa orang yang menyalahgunakan quirknya untuk berbuat kejahatan. Karena itu pemerintah ingin mempercepat pengeluaran pahlawan," jelas pak Akatsuki.


"Gitu aja?"


"Ya. Saya tutup teleponnya," ujar pak Akatsuki.


Telepon pun terputus ...


"Penyalahgunaan, ya..," gumamku.


Aku melihat jam di dinding.


Ternyata masih jam 10 malam.


*Masih jam 10 malam, ya...,* pikirku.


Aku mengambil handphone ku dan menghidupkannya.


Aku membuka WebGram.


"Loh, pengikutku kok tambah seribu dalam semalam? Dasar," gumamku kaget.


Aku tidak sengaja menemukan sebuah foto seorang anak perempuan.


Dia memiliki rambut pirang yang indah, dengan mata birunya yang berkilauan seperti berlian.


"Kok matanya nggak asing, ya? Mirip Mike. Coba kulihat akunnya,"


Aku penasaran karena dia sangat imut.


Aku pun membuka akunnya.


Namanya adalah Chika.


1 tahun lebih muda dariku.


"Loh, ngga ada marganya?" gumamku heran.


Aku langsung mengikutinya dan mengajaknya berteman.


Dia dengan cepat langsung menerima tawaranku dan mengikuti ku balik.


*Loh? Dia aktif ternyata,* pikirku kaget.


Dia langsung memberikan nomernya.


"Eh, maksudnya apaan?" gumamku bingung.


"Coba ku simpan, deh. Habis itu langsung ku chat di YouChat. Etto,.. **3689*647*0," gumamku.


Aku langsung chat dia :


'Halo, aku @olinoya_amv04 yang ada di WebGram tadi,' (Olinoya)


'Halo juga. Aku Chika, kamu Olinoya, 'kan?' (Chika)


'Panggil aku Noya saja' (Olinoya)


'Oh, oke. Nomorku ini langka, ya. Yang kuterima tawarannya hanya orang-orang tertentu. Jadi, jangan disebarkan ke siapa pun tanpa izin ku, ya' (Chika)


'Lalu, kenapa kamu menerima tawaranku?' (Olinoya)


'Karena postingan mu hanya 1 fotomu, dan kamu kelihatannya orang baik-baik' (Chika)


'Ah, begitu ya' (Olinoya)


Aku pun segera keluar dari kamar dan ingin memberitahu papa tentang kegiatan besok.


Aku melihat papa ada di ruang keluarga sedang menonton televisi.


"Ah iya, pa. Besok aku mau ke kota Z bersama Robin," ujarku.


"Mau ngapain ke kota Z? Naik apa?" tanya papa.


"Aku salah satu murid rekomendasi, pa. Jadi, besok pagi aku dan Robin mau naik kereta ke kota Z," jawabku.


"Nggak diantar Risuke aja, nih?" tanya papa.


"Nggak perlu, pa," jawabku.


Aku pun kembali ke kamar dan tidur.


Keesokan paginya di stasiun...


/6 pagi/


"Pagi, Robin!" sapaku.


"Pagi juga. Dingin, ya?" ujar Robin White.


"Ya,"


Aku dan Robin segera menaiki kereta pertama yang berangkat ke kota Z.


Kereta pun mulai berangkat menuju kota Z.


"Hey, Robin. Kalau pagi, sedikit yang naik, ya?"


"Iya, karena rata-rata mulai sibuk jam 7. Oh iya, karena masih sepi dan ringan, mungkin kita akan sampai dalam 5 jam. Karena kereta ini sangat cepat," jelas Robin


"Eh, 5 jam?! Oh iya, tesnya dimulai jam berapa, ya?" tanyaku.


"Sekitar jam 12 siang. Kita punya waktu untuk istirahat dan bersiap selama 1 jam nanti," jawab Robin.


"Ayo kita lakukan yang terbaik!" ujar Robin semangat.


"Iya!" jawabku ikut semangat.


| 5 jam kemudian |


~Selamat datang di kota Z~


"Wah, kota yang besar," ujar Robin.


"Dari dulu tetap tak berubah. Kota Z, ya..," ujarku sambil sedikit bernostalgia.


Aku dan Robin segera keluar dari stasiun.


Kebetulan, Akademi Pahlawan Yoes lumayan dekat dengan stasiun.


Jadi, aku dan Robin memutuskan untuk berjalan kaki.

__ADS_1


"Oi, Noya. Rambutmu berantakan loh," ujar Robin.


"Aku terlalu lelah untuk merapikannya," jawabku lelah.


Aku menutup rambutku menggunakan topi.


Robin menggelengkan kepala.


"Hey, Robin. Lihat, ada toko buku. Ayo kesana! Aku mau cari komik dari kota Z!" ajakku.


"Oi, kau bukan anak kecil lagi," ujar Robin White.


"Tidak masalah!" ujarku.


Aku langsung menarik Robin agar ikut denganku masuk ke toko buku.


Robin pun mengikuti ku.


"Oi, Noya!! Kita kesini untuk tes! Bukan untuk main-main!" ujar Robin mengingatkan.


"Kalau begitu, kita beli buku tentang informasi quirk terkini. Pasti berguna, 'kan?" ucapku sambil tersenyum.


"Yah, tapi.. aku tidak bawa uang terlalu banyak seperti biasanya," ujar Robin.


"Serahkan padaku!" ujarku penuh percaya diri.


Aku dan Robin pun berkeliling di toko buku selama 5 menit. Mencari sesuatu yang menarik.


"Hey, Noya. Bukankah disini terlalu sepi untuk jam segini?" tanya Robin.


"Tidak, ini normal. Semua sedang sibuk. Ini hari Kamis, pasti pada tancap gas semua," jawabku.


"Kok kamu tahu banyak?" tanya Robin heran.


"Sepupuku tinggal disini, sebentar lagi dia kembali ke California. Dia akan sekolah disana, dan papanya sedang ada bisnis besar disana," jawabku.


"Siapa namanya?" tanya Robin White ingin tahu.


"Nero Jin dan Takashi Jin," jawabku.


Robin kaget mendengarnya.


"Keluarga Jin... Konglomerat terbesar ke-5 itu?" tanya Robin selagi shock.


"Ya,"


Robin pun membalikkan badan, "Kalau begitu, aku akan lihat-lihat buku di rak ketiga"


"Oke," jawabku singkat sambil membaca komik yang seru.


Aku tak sengaja melihat komik dengan sampul yang menarik.


Aku pun mengambil komik itu.


Setelah kubaca previewnya, ceritanya sangat keren.


"Keren!"


Aku ingin menunjukkannya kepada Robin White.


Aku langsung membalikkan badan dan berlari.


Aku pun berbelok ke kiri tanpa melihat keadaan.


Aku tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan. Tingginya tak beda jauh dariku. Mungkin 1 tahun lebih muda dariku.


Aku terjatuh.


Aku juga melihat anak itu terjatuh, minumannya tumpah.


*Gawat, anak itu terjatuh,* pikirku.


Aku langsung berdiri dan membantunya.


Aku melihat wajah anak itu mirip dengan Chika, teman baruku.


"Ah, maaf. Aku tadi nggak lihat keadaan sekitar. Apa kamu terluka? Minumannya biar aku yang menggantinya," ujarku khawatir.


"Tidak apa-apa, kok," jawab anak itu.


"Hey, kau harus membayar mahal karena tuan putri kami jadi terjatuh!" ujar salah satu temannya.


Aku kaget, "Eh?"


"Kalau nanti dia lecet bagaimana?!" ujar teman 2.


"Kamu harus mengganti rugi biaya pengobatannya!!" ujar teman 3.


Aku seketika langsung bingung.


"Eh, kan aku sudah bilang. Aku bakalan ganti," ujarku tetap tenang.


"Kau sanggup membayar sebanyak ¥200.000, hah?!" ujar teman 2.


"Pasti tidak bisa," ujar teman 1.


Anak itu hanya tersenyum melihat teman-temannya sedang membelanya.


"Eh, kenapa semahal itu biayanya?!" tanyaku kaget.


"Tuh kan! Kamu nggak bisa!" ujar teman 2.


"Sudah kuduga. Tuan putri kami ini sangat berharga, tau!" ujar teman 3.


*Haduh, perempuan berbahaya sekali, sih,* pikirku.


"Kenapa diam saja?!" ujar teman 1.


"Eh, aku bingung, lah. Kalian sama-sama menceramahi ku," ujarku.


"Singkatnya, kamu harus bayar ¥200.000," ujar teman 1.


"Tak mungkin sampai segitu. Minuman itu akan kuganti, tetapi dia tidak terluka. Jadi tidak perlu sampai ¥200.000," ujarku sambil tersenyum.


"Kamu pintar juga, ya," puji teman 3.


"Terimakasih atas pujiannya," jawabku.


Anak perempuan itu tertawa kecil melihat tingkah laku teman-temannya.


Tiba-tiba, Robin datang mengagetkanku.


"Ada apa, Noya?" tanya Robin.


"Oh, aku tidak sengaja menabraknya," jawabku.


"Noya? Olinoya?" ucap anak itu lirih.


"Ya, kamu Chika, 'kan?" tanyaku.


"Apa?! Kamu anak itu?!" ujar Chika kaget.

__ADS_1


"Chika, kamu kenal dia?" tanya teman 1.


"Kenal dimana? Terus kenapa dari tadi diam aja?" tanya teman 3.


"Tumben ada yang dikenal Chika duluan," ujar teman 2.


"Sebenarnya, dari tadi aku sudah menyadarinya," ujarku.


Robin tiba-tiba menarikku.


"Ayo, Noya!"


"Eh, tunggu sebentar," ujarku.


Aku mengeluarkan uang ¥500 dan membeli minuman yang baru.


"Ini, untuk ganti minumannya," ujarku sambil menyerahkan minumannya.


"Eh, tidak perlu. Lihatlah di wajahmu sendiri, coba," ujar Chika.


"Eh? Ada apa di wajahku?" tanyaku pada Robin White.


"Lo? Kok pipimu ada lukanya?" tanya Robin kaget.


"Oh, mungkin karena tergores tadi," jawabku.


Chika tertawa kecil.


Dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Bisakah kau menunduk sedikit?" suruh Chika.


"Eh, mau ngapain?" tanyaku sambil membuat menundukkan diriku.


Chika menempelkan plaster luka di wajahku.


"Nah, begini lebih aman," ujar Chika.


"Terimakasih. Kalau begitu, kami pergi dulu. Sampai ketemu lagi," ujarku pamit.


Aku membalikkan badan dan mulai berjalan keluar toko sambil meminum minuman tadi.



"Oy, Olinoya. Kau beruntung sekali menabraknya tadi. Dia imut bangett," ujar Robin White.


"Beruntung apanya coba?! Sakit tau!" jawabku.


"Lagipula, enaknya... Kamu digerumpuli 4 cewek," ujar Robin.


"Kumat lagi, ya?"


*Dia... Sangat baik,* pikir Chika.


"Hey, Chika. Rasanya... Dia berbeda," ujar teman 2.


"Iya. Dia memang beda," jawab Chika.


Sesampainya di Akademi Pahlawan Yoes ...


/11.32 siang/


Aku dan Robin segera absen murid rekomendasi dan beristirahat sejenak.


"Hey, Noya. Kamu pakai baju mana?" tanya Robin White.


"Aku pakai hoodie baruku," jawabku.


Aku segera mengeluarkan hoodienya.


"Kok jadi ingat seragam klub volly Chidoriyama, ya?" ujar Robin White.


Aku pun segera menggunakan hoodie itu.


Aku juga memakai celana olahraga panjang yang ringan.


Aku juga menggunakan pelindung lutut dan pelindung siku di tangan kiri.


"Hey, penampilanmu keren, sih. Tapi... Kamu nggak lepas topimu?" tanya Robin White.


"Tentu saja akan kulepas," jawabku.


*Aduh, kaki kananku sedikit sakit karena jatuh tadi,* pikirku sambil menahan sakit.


/12.00 siang/


"Kita akan mulai tesnya!!" teriak pembimbing yang ada di atas panggung.


~Silahkan masuk ke ruangan yang disediakan. Masuklah sesuai nomor rekomendasi kalian sendiri! Lalu, jalankan perintah yang ada! 20 orang yang bisa bertahan, akan diambil oleh Akademi Pahlawan Yoes~


Semua pun mulai masuk ke ruangannya masing-masing.


Aku masuk di ruangan 4, dan Robin masuk di ruangan 5.


~Silahkan tempel telapak tangan anda di atas bola ini~


"Eh? Oh, oke," ujarku kaget.


*Sistem robot, ya?* pikirku.


Aku pun menempelkan telapak tanganku di atas bola itu.


~Tipe langka~


Ruangan berubah seketika.


Aku tiba-tiba berada di sebuah gedung.


Saat aku mau mulai berjalan, tiba-tiba muncul sebuah layar.


Layar itu bertuliskan :


'Misimu adalah mengalahkan para penjahat dan menyelamatkan orang yang di sandera. Polisi tidak bisa masuk karena semua jalan sudah diblok ketika kamu berada di dalam. Lakukan tugasmu sebagai pahlawan. Bekerjasama lah dengan polisi. Waktumu hanya 10 menit, Nyan'


*Eh?*


*EH?!*


*EHH?!*


*Apa-apaan ini?! Berapa penjahatnya?! Aku kurang tahu apa bakatku!!!*


Aku akhirnya menerima keadaan.


*Hah..,*


*Mau bagaimana lagi,* pikirku.


"Baiklah, aku mulai!"


つづく ...

__ADS_1


__ADS_2