The Strongest Hero

The Strongest Hero
Memilih Rekan


__ADS_3

Writer : @olinoya_


"Pelantikan?" ujarku heran.


"Bukankah tadi sudah kubilang, kamu dipilih menjadi salah satu Prajurit Besar," jawab kak Luke.


*Ah, Prajurit Besar milik pemerintah pusat itu? Organisasi rahasia untuk melawan para penjahat itu?* pikirku.


"Hey, kenapa kau bengong? Ayo jalan," suruh kak Luke.


"Ah, maaf!" ujarku menyamakan langkah.


"Ini adalah organisasi rahasia. Mungkin kamu akan dipanggil jika ada tugas. Diberi gaji setiap misi," jelas kak Luke.


"Oh, begitu ya. Lumayan juga, nih!" balasku.


Akhirnya, kami sampai di sebuah ruangan yang sangat besar. Ada banyak anak lain yang berbaris. Tetapi, ada sembilan anak yang berbaris di atas panggung sepertiku. Jika di total hasilnya ada sepuluh anak.


Aku mengikuti alur di acara pelantikan Prajurit Besar. Di akhir acara pelantikan, sepuluh Prajurit Besar diberi sebuah lisensi, bahwa kami adalah Prajurit Besar. Agar tidak dianggap melanggar hukum karena tidak memiliki lisensi. Aku juga termasuk salah satunya.


Sampai ketua organisasi, pak Jinsu berbicara, "Sekarang, bagi ketua tim, silahkan pilih sepuluh orang dari anak-anak yang ada dibawah untuk dijadikan bawahannya. Siapa yang mau duluan?"


*Hah, bawahan? Gila apa, ya? Aku tak akan menganggapnya seperti itu, aku akan menganggapnya sebagai temanku. Lebih baik maju duluan, biar kualitasnya bagus,* pikirku.


Aku mengangkat tanganku.


"Oh, ketua dari tim 4, Olinoya. Dia akan maju untuk memilih bawahannya. Silahkan maju ke depan," sambut pak Jinsu.


Aku segera maju ke depan tanpa persiapan.


*Aku akan cari anak dengan semangat yang tinggi! Eh, semua calonnya laki-laki?" pikirku baru menyadarinya.


"Yosha, siapa yang mau bergabung denganku!!" teriakku seru.


Tidak ada yang merespon. Tetapi, aku melihat ada beberapa anak yang bergetar seperti menahan sesuatu.


*Pasti yang ini, tidak salah lagi. Mereka mati-matian menahan semangat dari dalam diri mereka,* pikirku mulai semangat.


Aku langsung mengeluarkan jurus pamungkas ku.


"Yosha, kita menang!! Ya-" kata-kataku sengaja kupotong.


Sampai beberapa anak melompat dan bersorak, "Yahoooo!!!"


Aku langsung menoleh ke arah pak Jinsu.


"Aku mau anak-anak yang melompat dan bersorak tadi, pak," ujarku.


Anak-anak itu langsung naik ke atas panggung.


"Pas sekali, ada sepuluh anak! Kalian resmi jadi bawahan ku!" ujarku girang.


"Gitu caranya dia memilih? Huh, tim dengan kualitas paling rendah pastinya," ujar salah satu Prajurit Besar.


Aku yang mendengarnya, "Hey, awas kamu. Kalau tim ku bisa mengalahkan tim mu, kamu harus traktir tim 4 makan malam!"


"Heh, aku tunggu."


"Kalian semua, ikut aku," ajakku.


Mereka mengikuti ke ruangan tim 4.


"Nah, kita akan selalu berkumpul disini," ujarku menjelaskan.

__ADS_1


"Disini?" tanya salah satu anak.


"Ya, bisakah kalian memperkenalkan diri? Kalian bisa panggil aku Noya," ujarku.


"Aku Edward Snowden."


"Aku Tyler Ward."


"Aku Leonardo Jack Hell."


"Aku Tae Oh Kang."


"Aku Osamu Tezuka."


"Aku Louis Vuitton."


"Aku Speedy Dekker."


"Aku Alexander Markovich Hell."


"Aku Tsumu Alphard Vellfire."


"Aku Yuumei Yan."


Aku hanya tersenyum manis.


Dalam pikiranku, *Ya ampun, banyak banget sih! Susah kali namanya. Mana mungkin aku hafal! Biarin dah, nanti juga hafal sendiri. Coba ku ingat.*


"Oh iya, hari ini.. kita ngapain?" tanya Edward.


*Akhirnya aku hafal..* pikirku terharu.


"Ketua, hari ini kita ngapain?" tanya Edward.


Aku langsung sadar, "Jangan panggil aku ketua. Kalian nggak aku anggap sebagai bawahan, loh. Tapi, sebagai teman."


"Bagaimana kalau.. kita jadikan tim ini sebagai.. Tim Festival?" aku mengusulkan.


"Bagaimana itu?" tanya Louis.


Aku menjawab, "Kita akan menjadi tim paling tidak terduga, paling mengejutkan, dan tidak bisa diprediksi. Gaya bermain kita adalah kerja sama dan saling terhubung. Mudah 'kan? Yang paling penting adalah menikmati setiap pertarungan. Jangan lupa selalu tersenyum."


"Bagus juga idenya," ujar Louis.


"Ikut deh," jawab Tsumu.


Semuanya sedang asik mengobrol. Tetapi, Tae Oh Kang berbeda. Dia seperti hanya tertarik dengan hp-nya.


Tidak lama setelah itu, kak Luke masuk ke ruang 4.


Dia berkata, "Noya, ayo pulang. Kau sudah absen 2 jam pelajaran."


"Ah, benar juga," ujarku.


Aku bangkit dari sofa.


"Hey, aku balik ke Akademi. Nanti malam baru ku buatkan grup chatnya. Sampai jumpa lagi," ujarku berpamitan.


Aku keluar dari ruangan.


"Hey, Noya. Wujud asli mu tampan juga. Coba saja kamu jadi pacar adik perempuanku," ujar kak Luke sambil berjalan.


Aku menggeleng, "Aku belum sempat ngaca, tau! Punya kaca, nggak?"

__ADS_1


"Ada, kok," jawab kak Luke.


"Mana?" tanyaku.


"Kaca mobil maksudnya, hehehe," jawab kak Luke.


*Sial, kenapa orang ini cerdik banget sih, aku berulang kali dipermainkan olehnya. Sebelumnya, tak ada yang bisa menjahili ku kecuali kakak,* pikirku.


/30 menit kemudian/


"Yeah, akhirnya sampai juga. Bolos kelas, ah!" ujarku lega.


Kak Luke langsung mengangkatku.


"Kamu nggak boleh bolos. Sekarang kita ke kelas," ujar kak Luke.


"Huaaaaaa... turunkan aku! Hey, turunkan! Cepat turunkan!" teriakku.


"Diamlah. Kau sangat berisik, calon adik," ujar kak Luke.


"Hey, aku harus bilang berapa kali, sih? Aku bukan adikmu!!" jawabku.


"Apapun yang terjadi, kamu tetap adikku," balas kak Luke.


Sesampainya di kelas, semua anak memandangi ku. Mereka mengira aku anak baru.


Itu karena mataku yang berwarna coklat berubah menjadi merah, dan rambutku berubah menjadi hitam semua dengan gaya yang berbeda, sedikit bergelombang.


"Anu, pak kepala sekolah. Itu.. siapa, ya?" tanya pak Kim.


"Hey, pak Kim. Ini saya, Olinoya! Masa tidak kenal, sih?" ujarku ribut.


"Tidak, dia berbeda. Tapi, kenapa sifatnya sama?" ujar pak Kim heran.


Aku hanya bisa diam dengan kesal. Biar kak Luke saja yang menjelaskan.


"Ini wujud aslinya. Dia lahir di bawah bintang Pegasus. Sudah paham, 'kan?" ujar kak Luke singkat.


Dia langsung melepasku. Aku tersungkur di lantai.


"Aduh.. woyy, hati-hati dikit ngapa?!" ujarku kesal.


"Mohon dirahasiakan tentang berita ini, pak Kim," ujar kak Luke.


"Baik, pak kepala sekolah Scheffer," jawab pak Kim.


"Woy, jangan kacang!" ujarku kesal.


Aku langsung berdiri dan duduk di bangku ku.


"Huh!" gumamku kesal sambil memasukkan tanganku ke dalam saku celana.


Robin memandangi ku terus.


Aku mulai kesal, "Robin, ada apa?"


"Woah, kau benar-benar Noya," ujar Robin.


"Berisik," ujarku kesal sambil mengalihkan pandangan.


Aku tak suka menjadi pusat perhatian.


Robin melirik, "Kau makin tampan dan keren, Noya."

__ADS_1


"Ukkhh.. sialan.." gumamku menahan malu.


つづく ...


__ADS_2