The Strongest Hero

The Strongest Hero
Hari yang Penuh Aksi


__ADS_3

Writer : @olinoya_


/Keesokan harinya/


"Hoaahhmmm.... Ngantuk banget, mulai hari ini sudah masuk musim semi," ujarku mengantuk.


"Ah, benar juga. Sudah masuk bulan Maret, ya. Waktunya cari pacar, nih," balas Robin semangat.


"Hey, kau ini bangsawan. Harap ingat statusmu. Lagipula, kan dah ada tunangan mu yang cantik itu, katamu sih," aku mengkritik Robin.


"Ah, benar juga. Dia tak ada kabar," ujar Robin sedih.


"Hey, bangun hey! Semangat, hari ini masih hari pertama di asrama," ujarku menyemangati Robin.


"Apa? Asmara? Akhirnya, kamu tertarik dengan cinta, Noya," ujar Robin terharu.


"ASRAMA WOYYY... Bukan asmara," jawabku mulai kesal.


"Hehe, canda canda. Nggak beneran kok," ujarnya.


"Terserah, dah. Untung aku sabar, Robin," ujarku.


Tidak terasa, kami sudah sampai di sekolah. Kebetulan hari ini kami hampir telat sekolah. Untung saja kami lima langkah lebih awal.


Ya, sekarang sedang ada pelajaran bahasa Inggris di kelas. Tapi, aku malas mendengarnya. Lagipula, yang diajarkan hanya pelajaran dasar. Sekarang aku nggak tau mau ngapain.


Aku menoleh ke arah jendela dengan tatapan malas.


"Hey, kenapa kau melihatku begitu, Noya?" ujar Chika.


*Tuh, kan. Pasti kayak gini jadinya," pikirku kesal.


Aku langsung mencoba fokus ke pelajaran. Tetapi, tetap tidak bisa.


*Apaan ini? Pelajarannya.. mudah banget. Bodo amatlah. Ga usah diliat,* pikirku.


"Olinoya, apa jawaban dari soal nomor 2," ujar pak Kim.


Aku tersentak kaget. Tidak tahu apa soal nomor 2 itu.


*Sialan, apa-apaan ini? Soalnya.. yang mana? Mana soalnya? Aduh, halaman berapa sih?* pikirku masih kaget. Jantungku berdebar kencang, karena kaget.


"Noya, soal nomor 2, halaman 15," bisik Chika.


Aku langsung berdiri dan membaca jawabannya.


"Pamela asked the way to Lauren's house," jawabku.


"Good answer, Noya," pak Kim memuji.


Aku pun duduk kembali.


"Thanks, Chika," ujarku berbisik.


"Makanya, liat pelajarannya. Jangan liat aku terus," jawabnya pelan.


"Cih.. narsis," gumamku lirih.


Braakkk!!


Pintu bergeser dengan cepat.


Tiba-tiba, ada seseorang yang meneriakkan nama ku, "Noya!!"


Aku langsung menoleh kaget. Ternyata kak Luke.


"Kenapa?" tanyaku malas.

__ADS_1


Dia langsung menghampiri ku dan menarik lenganku.


"Ah, pak kepala sekolah. Ada apa ini?" tanya pak Kim.


"Dia kepala sekolah?"


"Semuda itu?!"


"Keren juga, nih kepala sekolah."


Murid satu kelas mulai saling berbisik-bisik.


"Saya bawa dia dulu! Perintah pemerintah pusat! Olinoya akan jadi perwakilan dari Daerah 4! Mohon kerjasamanya!" ujar kak Luke langsung meninggalkan kelas. Aku tetap ditarik olehnya.


"Hey, kak Luke! Kita mau kemana?" tanyaku sambil menuruni anak tangga dengan cepat. Rasanya seperti sedang olahraga.


"Ke tempat rahasia!" jawab kak Luke menambah kecepatan.


"Jangan terlalu cepat, kak Luke! Bisa jatuh, nih! Lantai 2, loh!" ujarku menyamakan kecepatan.


"Kita punya waktu sampai kesana hanya 20 menit!" ujar kak Luke seru.


"Ah, kalau begitu cepat! Lari lebih cepat!" ujarku melewati kak Luke.


Singkat cerita, aku dan kak Luke masuk ke mobilnya yang disiapkan di depan pintu gerbang.


Mobil berwarna biru, dengan pelek warna kuning keemasan. Sungguh, seleranya lumayan mirip denganku.


"Cepat masuk!" ujar kak Luke masuk duluan.


"Siapkan peta lokasinya!" suruh ku cepat masuk.


Kak Luke segera menghidupkan mobilnya dan menyalakan GPS.


"Hey, blue car! Kita ketemu lagi!" sapa ku.


"Belakang sekolah!" jawab kak Luke langsung menginjak gas mobilnya.


"Apa?! Di belakang sekolah aja pake mobil?!" ujarku kaget.


"Enggaklah, kita ke kota Friedrich!" balas kak Luke.


"Sial, masih sempat bercanda juga," timpal ku.


*Friedrich.. jaraknya.. nggak bakal sempat kalo hanya 15 menit, apa lagi lewat jalan raya!* pikirku.


"Kak Luke, lewat sini, kak! Ikuti aja, jangan banyak tanya!" suruh ku.


"Siap!!" jawab kak Luke menurut.


Kak Luke segera membanting setirnya ke kanan dengan cepat.


"Pemain rupanya kau!" komentarku seru.


"Pastinya! Kenapa jalan ini sepi?!" tanya kak Luke mulai panik.


"Jangan kurangi kecepatan! Terus tambah kecepatan! Lebih cepat lagi!" ujarku.


"Apa? Serius?! Oke!" kak Luke mengiyakan.


Mobil kak Luke semakin cepat.


Seingatku, di depan sana ada sungai kecil. Karena itu, aku menyuruhnya menambah kecepatan.


"Sekarang coba naik ke papan itu! Dengan kecepatan penuh!" ujarku seru.


"Hey, nanti kita malah terbang di udara!" komentar kak Luke.

__ADS_1


"Ikuti saja!" ujarku tetap membantah.


*Eh, bagaimana aku tahu kalau ada sungai disana? Apa aku pernah kesini sama Nero Jin?* pikirku bingung.


*Tidak, tidak pernah. Kapan, ya?* pikirku.


Tidak terasa, tiba-tiba mobil ini sudah terbang di udara. Melewati sungai kecil itu, sesuai dugaanku.


*Uwoo, ternyata benar-benar ada sungai kecil. Tapi, aku kan nggak mencari jalannya lewat kemampuan mata ku,* pikirku.


Buugghhh!!


Mobil ini terjatuh di tanah dalam keadaan seperti semula. Mobil terus melaju tanpa mengurangi kecepatan.


"Nice plan, Noya!!" ujar kak Luke memuji. Tampaknya, dia sangat bersemangat dan menikmati perjalanan ini karena satu aksi tadi.


"Syukurlah, kalau begitu cepat belok ke kiri!!" ujarku mendadak.


"Kak Luke langsung membanting setir ke kiri dengan sangat cepat.


*Kemampuan menyetir yang luar biasa! Melewati tikungan saja sangat mudah baginya!* pikirku kaget.


Jalan raya sudah terlihat. Waktu tersisa 10 menit 38 detik.


"Kak Luke, lebih cepat lagi. Aku punya ide! Jangan hiraukan kendaraan lain!" suruhku.


"Kenapa memangnya?!" tanya kak Luke seru.


"Sudahlah, aku punya ide!!" jawabku.


Kak Luke menurut.


Aku langsung mengeluarkan hp-ku dan menyambungkannya ke radio mobil.


Aku memakaikan penyumbat telinga untuk kak Luke. Kak Luke tetap fokus.


Aku pun ikut memakainya juga.


Aku langsung mengeraskan volumenya sampai 100%. Dan memutar suara ambulans dari HP-ku.


*Maaf semuanya, tetapi ide jahilku yang akan menang!* pikirku jahil.


Semua kendaraan langsung menepi untuk memberi jalan.


"Maju, kak Luke!!" ujarku seru.


"Ya!!" jawab kak Luke.


Waktu tersisa 7 menit 58 detik.


Aku dan kak Luke sudah memasuki kota Friedrich dari satu menit yang lalu.


"Wah, sudah kelihatan!! Pegangan yang erat, Noya!!" ujar kak Luke tambah semangat. Tetapi, matanya terlihat tetap tenang seperti biasa.


Dia langsung membanting setirnya ke kiri saat di perempatan.


"Nice Reflex!!" aku memujinya.


"Thanks!" jawabnya.


Akhirnya, kami sampai di suatu tempat. Tempat ini seperti sudah lama tidak diurus. Sangat sepi, hampir tidak ada orang disini.


"Nah, kita sudah sampai. Ini tempat rahasia, ya. Ini milik pemerintah pusat," ujar kak Luke.


Aku kaget.


"Apa? Tempat kosong seperti ini?"

__ADS_1


つづく ...


__ADS_2