The Strongest Hero

The Strongest Hero
Tes dan Pengumuman


__ADS_3

Writer : @olinoya_


Aku mulai menyusuri koridor yang panjang.


*Aneh, kenapa kok tidak ada tanda-tanda adanya orang? Coba aku mengeluarkan quirk lain. Bisa nggak, ya?* pikirku.


Aku pun membayangkan bisa melihat apa pun yang ku inginkan dengan mataku.


Mataku berubah seketika.


Dari yang berwarna coklat, menjadi biru.


Aku melihat ada banyak informasi yang muncul, sesuai keinginanku.


Aku pun memutuskan untuk melihat peta gedung ini.


*Hmm... Harus ke lantai 2. Di dekat tangga ada 5 penjaga. Apa quirknya?* pikirku.


Aku berlari menuju ke tempat para penjaga.


Saat sampai disana, aku menemukan aura yang kuat.


*Eh, bukankah mereka berlima itu murid rekomendasi?! Apakah tesnya semua sama? Mereka sudah dikalahkan. Pasti penjaga ini kuat,* pikirku setelah melihat 5 murid rekomendasi tergeletak kalah.


"Hey, kamu! Pergi dari sini! Jangan berani-beraninya menaiki tangga ini 1 langkah pun! Kalau tidak, kamu akan mati ditangan ku dalam sekejap," ujar penjaga 1.


5 penjaga itu memiliki tubuh yang besar dan tinggi.


Aku yang kecil ini tidak ada apa-apanya bagi mereka.


"Oh, begitu? Kita tak akan tahu sebelum mencobanya," ujarku percaya diri.


"Entah kenapa aku sangat ingin menghancurkan mu!" ujar penjaga 1.


Penjaga itu langsung menyerang ku dengan kecepatan penuh.


Aku dengan cepat melompat mundur.


*Cepat sekali! Untungnya aku seorang libero,* pikirku.


"Hebat juga kamu bisa menghindari seranganku. Anak ini menarik!" ujar penjaga 1.


"Oh, terimakasih. Dan juga, bisa aku tahu nama mu? Agar aku lebih mudah menuliskannya," tanyaku.


"Aku Stain, dia Futa, Nayo, Ye, dan Kuchi. Memangnya kau ingin menulis apa, anak kecil?" tanya Stain.


"Cerita bagaimana aku mengalahkan kalian dalam 1 menit," ujarku bersiap menyerang.


"Ahahahha! Bisa-bisanya kamu melawak di saat seperti ini! Hahahaha!" ujar Stain tertawa terbahak-bahak.


Aku langsung menghilang ke belakang Stain.


Lalu mengeluarkan ledakan mengenai kepala belakangnya.


Dia langsung pingsan seketika.


"Apa?!" ujar Nayo kaget.


Selagi mereka kaget, aku langsung berlari dengan cepat menaiki tangga menuju lantai 2.


Saat ditengah-tengah tangga, aku berhenti.


Karena aku melihat ada 4 cewek, dan 1 cowok sedang berbincang-bincang.


Aku pun berhati-hati sambil berjalan mendekati mereka.


*Aku harus hati-hati, tenagaku tersisa 92%. Aku terlalu boros tadi,* pikirku.


Setelah kulihat, ternyata mereka adalah Robin, Chika, dan 3 temannya.


Aku pun mendekati mereka.


"Robin!" ujarku.


"Noya, bagaimana ini?!" tanya Robin ketakutan dan bingung.


"Ada apa?" tanyaku.


Robin bercerita :


"39 murid rekomendasi sudah naik ke lantai 2. Mereka semua sedang bertarung. Yang tersisa saat ini hanya 20 orang. 6 dari mereka terluka, tetapi tetap bertahan. Aku juga kurang menguasai quirk-ku."


"Loh? Bukankah quirk mu api? Kamu belum terbiasa? Kukira sudah. Lalu, mengapa Chika dan kawanannya bersama mu?" tanyaku heran.


"Kamu nggak tahu, ya? Mereka juga murid rekomendasi. Oh iya, yang ini namanya Lisa, Chelsy, dan Catherine. Asli dari kota Z," jawab Robin White.


"Yah, aku menghargai penjelasanmu tentang teman-temannya Chika. Tetapi aku tidak bertanya namanya," ujarku.


"Memangnya kau tidak ingin kenal kami?" tanya Catherine.


"Oh, boleh aja," jawabku santai.


Aku pun lanjut menaiki tangga satu persatu.


"Noya, kamu mau kemana? Bukankah sudah kubilang kalau murid lainnya tidak bisa mengalahkan mereka?!" ujar Robin.


"Lalu?"


"Eh? Maksudnya..?" tanya Robin.


"Lalu kenapa kalau murid lainnya kalah? Namanya saja tes. Kalau mau menjadi pahlawan, kita harus bisa bekerjasama sesuai kemampuan quirk kita sendiri. Pasti mereka yang sudah kalah itu menyerang semaunya," jawabku.


"Eh? Jangan-jangan kamu..," Robin mencoba mengerti.


"Tidak perlu pikirkan yang tidak penting. Fokuslah pada sasaran di depan mu. Jadi, siapa yang ikut denganku?" tanyaku sambil membalikkan badan.


Tiba-tiba, Chika melangkah ke depan.


"Aku ikut! Mohon kerjasamanya, Noya!" ujar Chika.


"Ya... Hmm...," gumamku.


"Tuh, 'kan. Tebakanku rupanya benar, kau kesini pasti dengan tujuan lain. Terlihat dari sifatmu. Apa jangan-jangan... kamu sengaja mengejar Chika sampai ke kota Z, Noya?" ujar Robin asal menebak.


"Tebakanmu salah. Dan juga, ini bukan urusanmu,"


"Oh iya, Noya. Kenapa mata mu berubah jadi warna biru? Bukankah warna coklat?" tanya Robin White.


"Rahasia," jawabku sambil lanjut naik ke lantai 2.


Aku pun menginjakkan kaki di lantai 2.


Aku melihat semua murid rekomendasi kalah telak.


*Oh, kuat juga. Padahal hanya tes,* pikirku.


"Anak kecil, kamu adalah anak paling pendek diantara semua murid. Aku kasihan padamu. Karena pastinya kamu akan langsung kalah," ujar penjahat itu.


"Wah, Noya. Kau sudah dihina duluan. Rasanya dimana pun kamu berada, pasti begitu🤣" ujar Robin White.


Rupanya mereka berlima ikut naik ke lantai 2.


"Kamu mau liat pertunjukan, White?" tanyaku santai.


"Oh, boleh," jawab Robin White.


Aku menghilang ke belakang penjahat itu.


Aku langsung mengeluarkan ledakan yang besar.


Penjahat itu pingsan seketika.


Robin, Chika, Lisa, Chelsy, dan Catherine kaget melihatnya.


"Oh, terlalu keras, ya? Pantas saja tenagaku hilang 1%," ujarku menghitung tenaga.


Aku pun mencari informasi tentang penjahat ini menggunakan mata biru ku.


Disitu tertulis :


'Nama : Ye Han'


'Umur : 32 tahun'


'Quirk : Wind'


"Dia masih 32 tahun. Ternyata quirknya angin, ya. Maaf Ye Han, aku terlalu keras meledakkan kepala besarmu itu," ujarku.


"Kau jahat juga ternyata," komentar Lisa.


"Tidak, ini bukan jahat. Ini teknik provokasi. Karena aku ingin memprovokasi teman-temannya," ujarku berbisik sambil menunjuk ke arah penjahat lainnya.


"Haahhh.. Jeniusnya muncul lagi. Yah, wajar sih, dia kan tu-" kata-kata Robin terpotong karena aku menutup mulutnya.


*'Tu' apa?* pikir Chika.


"Tolong jangan bilang kalau aku pewaris Yuu. Kalau tidak habislah kamu nanti," ujarku berbisik di telinga Robin.


"Ah, maaf," ujar Robin ketakutan.


Aku melihat penjahat mulai melepaskan para sandera.


Mereka terlihat ketakutan.

__ADS_1


*Oh, berhasil, ya?* pikirku.


Salah satu penjahat pun mulai mendekati ku sambil membawa salah satu sandera.


"Ini, saya serahkan kepada anda, pahlawan," ujar penjahat itu.


Namanya adalah Alex.


"Oh, begitu. Kamu baik juga, Alex," jawabku.


"Wah, wah.. sampai pahlawan hafal namaku," ujar Alex sambil tersenyum.


*Tunggu, dia tahu namaku dari mana?!* pikir Alex kaget.


Aku pun ingin menarik sandera itu.


Tiba-tiba, Alex menyerang ku dengan tinju kirinya.


Untungnya aku waspada sejak tadi, jadi aku melompat menghindari tinjunya.


*Cepat sekali! Reaksi ku sedikit lambat, kaki kananku terasa sakit,* pikirku.


Alex menarik kaki kiriku.


Aku pun dilemparnya membentur dinding dengan sangat keras.


Akkkhhhh!!!!


"Gawat, kaki kiri Noya sedang cedera karena turnamen kemarin! Dan juga... Kaki kanannya.. masih sakit saat jatuh denganmu, Chika!" ujar Robin.


"Apa?!" teriak Chika kaget.


Aku memejamkan mataku menahan sakit.


Kedua kakiku rasanya sakit.


*Aduh, kenapa kayak pernah ngerasain sakit gini, ya?* pikirku.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Sakit ini seperti saat kakak mengajariku melompat setinggi mungkin.


*Kakak, aku akan menemukan mu. Tetapi, sekarang aku harus melawan orang yang menyebalkan ini dulu,* pikirku.


Saat aku membuka mata, ternyata anak-anak lainnya sedang bersama-sama melawan Alex.


Aku pun berusaha berdiri.


Aku langsung dikepung oleh 3 penjahat.


Menyebalkan sekali rasanya.


*Quirk air (Ryo), tanah (Mirio), dan gravitasi (Lonza) rupanya,* pikirku.


Lonza mengeluarkan quirk gravitasinya.


Itu menyebabkan aku jatuh ke lantai dengan keras.


Kedua temannya mulai mendekati ku.


*Eh, tidak bereaksi ke temannya?!* pikirku.


Kaki ku rasanya tidak bertenaga.


Ryo mulai menyiramku dengan air yang keluar dari tangannya.


*Dingin sekali! Dia sudah bisa mengatur suhunya!* pikirku.


Mirio mulai menyebarkan tanah yang keluar dari tangannya ke kedua tangan dan kakiku.


Dia mengubahnya menjadi tanah liat.


Rasanya seperti diborgol dengan rantai. Sangat keras.


Lonza pun melepaskan gravitasinya.


Aku tetap tak bisa bergerak bebas.


Mereka memukuli wajahku berkali-kali.


"Hahaha, dengan begini, tak akan ada yang suka denganmu, pahlawan sial*n," ujar Mirio sambil tertawa keras.


Mereka semakin menyiksaku.


Teman-temanku saja habis-habisan melawan Alex, sampai Alex kehabisan tenaga.


Mengapa aku tidak bisa? Aku merasa tidak berguna saat di situasi ini.


Saat giliran Lonza memukuli ku, aku berusaha lepas darinya.


Lalu menyemburkan api dari mulutku.


Lonza merasa kepanasan.


Ryo membantunya agar kembali dingin.


Mirio langsung mau menyerang ku.


Saat dia sudah mendekat denganku, aku langsung menyemburkan api di kakinya.


Mirio langsung kesakitan.


Aku segera melelehkan tanah liat yang membuat tangan dan kaki ku susah bergerak.


Saat aku belum sempat melepaskan kaki ku, Ryo mulai menyerang ku.


Dia melemparkan bola-bola air.


Aku mencoba melawannya dengan bola ledakanku.


Dia membuat sebuah ombak besar dari tangannya.


Aku segera melepaskan kaki ku dan segera pergi dari situ.


*Percuma, kaki ku tak memiliki tenaga! Cedera ku tambah parah,* pikirku panik.


Tiba-tiba aku teringat kata-kata kakak, "Jangan panik, maka kamu akan lebih mudah membuat keputusan."


Aku pun mencari cara lain.


*Oh iya, aku akan membayangkan pelindung,* pikirku.


Aku pun segera membayangkannya sambil memejamkan mata.


Aku bingung karena tidak ada hantaman ombak atau terkena air sekalipun.


Ternyata aku benar-benar bisa membuat pelindung.


*Kenapa quirk ku bisa sebanyak itu?!* pikirku.


"Bagaimana mungkin?!" ucap Ryo kaget melihatku.


Aku pun berusaha berdiri.


Aku segera menghilang ke balakang Ryo.


Aku langsung melayangkan tinju ku dari belakang.


Ryo langsung pingsan seketika.


*Aduh, untungnya aku sadar tentang quirk ku. Tapi... Lebih baik ku tulis apa di formulir nanti?* pikirku.


Aku pun berjalan secara perlahan ke belakang Alex. Dia sangat kuat, quirk tipe kekuatan.


Aku langsung menepuk pundaknya.


"Ada apa, Lonza? Kamu menang, 'kan?" ujar Alex.


Alex pun membalikkan badan.


Aku langsung memberinya ledakan besar tepat di wajahnya.


Wajahnya langsung gosong.


Aku pun melepaskan tali pengikat para sandera.


*Aduh, sakit sekali!* pikirku.


Aku segera menyambung tali satu persatu.


Lalu melemparnya ke bawah, satu sisinya, ku ikat di tiang yang ada di gedung itu.


"Ayo, semuanya! Turunlah dengan tali ini!" teriakku.


Para sandera pun turun satu persatu.


Tiba-tiba, aku tersadar sedang berada di ruang tes tadi.


Kaki ku masih sakit rasanya.


*Nyata sekali,* pikirku.


Aku pun keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Aku bertemu Robin White.


Dia pun berlari ke arahku.


"Noya, kau hebat sekali tadi," ujar Robin memuji ku.


"Ah, biasa saja," jawabku.


Chika tiba-tiba muncul.


"Hey, Noya. Kenapa kau hebat sekali?!" ujar Chika kegirangan.


Teman-temannya pun datang menyusul.


"Itu karena aku 1 tahun lebih tua darimu," jawabku percaya diri.


"Kau ini, jangan memaksakan diri lagi. Huh.," ujar Robin kesal.


"Maaf kalau begitu," ujarku.


~Semuanya harap berkumpul. Saya akan umumkan murid yang diterima~


"Robin White, gendong aku," suruhku sambil tersenyum jahil.


"Apa?! Itu akan menurunkan pesona ku," ujar Robin White.


"Oh, yaudah kalau nggak mau," ujarku kesal.


Aku pun segera berjalan menuju panggung pengumuman.


~Saya akan membacakan nama murid. Mulai dari urutan ke-20~


"Buat ngeri aja, nggak sih?" tanyaku.


"Banget," jawab Catherine.


~Nomor 20. Mark Qiluo, dengan poin 2350. Masuk di kelas 2~


"Eh, poinnya banyak banget. Memangnya dia ngapain aja, sih?" tanyaku.


"Kalau tidak salah, dia tadi mengalahkan 3 penjaga di tangga, dan menyelamatkan 1 murid rekomendasi, deh," jawab Chelsy.


"Wah, hebat!" ujarku.


~Nomor 19. Stingger Na, poin 2367. Masuk di kelas 2~


"Persaingannya ketat sekali. Chika, apakah kita akan diterima?" tanya Lisa.


Chika hanya diam.


Fokus menunggu namanya dipanggil.


*Konsentrasi yang luar biasa. Pasti dia selalu bersungguh-sungguh dalam segala hal yang penting,* pikirku.


~Nomor 18. Dora Xi, dengan poin 2485. Masuk di kelas 2~


"Nilainya nggak terlalu banyak berubah, ngeri banget," ujar Chaterine.


~Nomor 17. Reyes Kenzi, dengan poin 2498. Masuk di kelas 2~


~Nomor 16. Ryan Juan, dengan poin 3046. Masuk di kelas 3~


*Selisihnya lumayan jauh!* pikirku seru.


~Nomor 15. John Mayer, dengan poin 3074. Masuk di kelas 3~


~Nomor 14. Kory Zhuo, dengan poin 3115. Masuk di kelas 3~


*Kory.. Zhuo?! Tunggu, Kory masuk ke sekolah ini?! Untung aja dia nggak pernah muncul di publik,* pikirku.


~Nomor 13. Andy Fredly, dengan poin 3154. Masuk di kelas 3~


~Nomor 12. Yi Lin Ze, dengan poin 3189. Masuk di kelas 3~


*Orang Shandong, China..?* pikir Robin.


~Nomor 11. Kou Na, dengan poin 3227. Masuk di kelas 3~


"Lo..? Marganya sama dengan Stingger Na," ujar Chelsy bingung.


"Mereka datang bersama, mungkin memang saudara," jawabku.


~Nomor 10. Kenjirou Lu, dengan poin 3268. Masuk di kelas 3~


"Kyaaaa!!! Pangeran Lu!!" teriakan para cewek terdengar di depan.


*Kenjirou, ya?* pikir Robin.


~Nomor 9. Pao Luo, dengan poin 3319. Masuk di kelas 3~


~Nomor 8. Azusa Ken, dengan poin 3396. Masuk di kelas 3~


"Putri Azusa sangat cantik🤤" ujar Lisa.


"Sial, perbedaannya bukan main," ujar Catherine.


~Nomor 7. Yachi Ji, dengan poin 3450. Masuk di kelas 3~


"Oh, nona muda Ji, ada disini juga?" ujarku kaget.


~Nomor 6. Chelsy Su, dengan poin 3489. Masuk di kelas 3~


"Hey, Chelsy. Memangnya kau ngapain aja di tesnya? Kok bisa setinggi itu nilainya," tanya Robin White.


"Rahasia," jawab Chelsy sambil tertawa kecil.


~Nomor 5. Lisa Yoon, dengan poin 3499. Masuk di kelas 3~


"Lisa, kau kurang beruntung. Hampir saja naik di kelas 4," komentar ku.


"Nyaris, saja," ujar Catherine.


Aku pun merasa haus.


"Hey, Olinoya. Apa kau haus?" tanya Chika.


"Eh, bagaimana kamu tahu?!" ujarku kaget.


"Karena aku merasa haus. Ayo ambil air disana," ajak Chika.


Kami pun berjalan ke arah tempat minuman.


Aku dan Chika segera mengambil dan meminum airnya.


~Nomor 4. Zhuge Liang, dengan poin 4037. Masuk di kelas 4~


Aku dan Chika yang sedang minum tersentak kaget.


Sampai-sampai tersedak air bersamaan.


*Zhuge Liang, kenapa disini juga?!* pikirku kaget.


*Kakak sepupu ngapain disini?!* pikir Chika.


"Yah, aku tak menyangka bakal masuk di kelas 4. Padahal aku tidak hebat dalam quirk angin," ujar Zhuge Liang tidak menyangka.


~Nomor 3. Robin White, dengan poin 4125. Masuk di kelas 4~


"Robin White masuk. Tak heran juga," ujarku.


"Apakah mungkin Robin itu anak dari Surya White?" tanya Chika.


"Ya, begitulah," jawabku.


~Nomor 2. Chika Mika, dengan poin 4257. Masuk di kelas 4~


*Marganya.. Mika..? Bukannya tidak ada? Lagipula, siapa itu??* pikirku bingung.


"Hey, namamu belum disebutkan. Padahal kau yang mengalahkan mereka semua," ujar Chika bingung.


"Mungkin tidak akan disebutkan," jawabku santai.


Aku pun lanjut meminum air.


~Nomor 1. Olinoya, dengan poin 4350. Masuk di kelas 4!!~


Aku tersentak kaget sekali lagi.


"Uhuk.. uhuk.. hah?! Mimpi, ya?! Jarak poinnya jauh banget?!"


Robin tampak bingung.


Dia langsung mencari ku.


"Hey, Noya. Kesini sebentar," ujar Robin memanggilku.


Dia langsung menarik ku.


"Kamu nggak ngisi marga mu? Atau.. kamu suruh mereka tidak menyebutkannya?" tanya Robin White sambil berbisik.


"Yah, memang tidak ku tulis. Nanti aku akan temui kepala sekolahnya," jawabku berbisik.


~Bagi yang diterima, tolong ambil formulirnya disana. Nanti akan saya jelaskan~

__ADS_1


*Ini namanya.. makin susah untuk bertemu kepala sekolah!!* pikirku cemas.


つづく ...


__ADS_2