
Writer : @olinoya_
(◔‿◔) Mecha Noya :
Ini hanya kisah fiktif belaka. Jangan percaya, ya. Mecha aja tidak percaya, kok!
"Ini... misi pertama..?" gumam ku.
Aku langsung memanggil Chika, "Chika, aku absen kelas hari ini. Entah sampai kapan. Bilang saja, ada misi."
"Oke. Semangat, Noya!" ujar Chika.
Aku mengambil tas ku dan berlari ke belakang sekolah. Disana, aku bertemu Tae Oh. Dia sedang membuka penutup lubang itu.
"Hey, Tae Oh. Cepatlah. Takutnya, ada yang datang," ujarku sedikit berbisik.
Tae Oh langsung masuk dan meluncur duluan.
Aku masuk dan memegang salah satu dari lima tangga besi, untuk menahanku agar tak meluncur ke bawah dan menutup lubangnya.
"Yosha, saatnya turun," gumamku sambil melepaskan peganganku. Aku mulai meluncur ke bawah dengan cepat.
Akhirnya, aku sampai di bawah. Ku lihat, Tae Oh sepertinya menemukan secarik kertas.
"Oi oi oi, kenapa? Kertas apa itu?" tanyaku kepo.
"Bacalah," jawab Tae Oh sambil menyodorkan secarik kertas itu.
Aku langsung menerimanya.
"Maaf. Sebenarnya, Prajurit Besar dan bawahannya tidak memiliki seragam. Itu hanya akal-akalan pembimbing Dazai. Itu semua hanya untuk menyamar. Pilihlah salah satu diantaranya untuk selalu dipakai. Salam, penasehat Nam. Ini... Sebenarnya apa?" ujarku membacanya.
"Cobalah mengerti. Aku saja sudah memilih baju untukku. Lihatlah!" ujar Tae Oh.
"Etto.. jaket abu-abu berbulu dan headphone hijau tosca? Dengan celana jeans? Sungguh cocok dengan rambutmu yang berwarna perak itu," komentarku.
"Pastinya. Kalau kau..? Mau pakai yang mana? Nanti akan disediakan yang banyak, tapi hanya sejenis. Untuk penyamaran yang lain, pakai baju lainnya," ujar Tae Oh menjelaskan.
Aku melihat sesuatu yang menarik perhatian ku.
"Wah, wah. Hanya kau yang menarik perhatian ku," gumamku sambil mengambil bajunya.
Aku langsung berganti baju di ruang ganti.
"Noya, keluarlah! Aku ingin lihat baju yang menarik perhatian mu," ujar Tae Oh.
"Oke, sebentar lagi," jawabku.
Aku segera keluar dari ruang ganti.
"Hey, Tae Oh Kang. Bagaimana? Cocok tidak?" tanyaku.
"Woah, lebih dari kata cocok!!" komentar Tae Oh seru.
"Pastinya, 'kan," jawabku.
"Yosha, ayo kita berangkat!" ucapku.
"Ya!"
Aku dan Tae Oh masuk ke dalam lift dan menekan tombol 6. Anehnya, lift itu berjalan ke samping. Bukan ke atas maupun ke bawah.
"Lift apaan ini?" tanyaku kaget.
"Entahlah. Lagipula, kecepatannya sangat tinggi. Mungkin kita bisa sampai di daerah 6 dengan cepat," jawab Tae Oh.
__ADS_1
Sepuluh menit telah berlalu. Pintu lift tiba-tiba terbuka.
"Cepat sekali sampainya. Lagipula, apakah Seoul jauh dari markas daerah 6 ini?" gumamku masih pusing.
"Entahlah, rasanya ingin terjatuh di ranjang kamar saja," jawab Tae Oh sempoyongan.
"Wah, dua orang terakhir sudah datang, ya," ujar seorang anak di markas daerah 6.
Karena pusing, aku menutup mataku dan memijat kepala ku. "Siapa kamu? Aku masih tak bisa berpikir selama beberapa saat karena belum terbiasa," tanyaku.
"Oi, aku Louis Vuitton, lah!" bentak Louis kesal.
Aku mulai sadar.
"Setidaknya, berikan aku air dulu. Baru aku bisa kembali normal," ujarku.
"Aku juga. Rasanya ingin muntah," ujar Tae Oh.
Louis langsung memberi ku sebotol air. Aku langsung meminumnya dengan cepat, sampai air itu berceceran di baju ku.
"Huaaa... menyegarkan sekali! Rasanya sangat lega! Oi, Tae Oh. Sadarlah, kita sudah sampai!" ujarku lega.
Tae Oh berhenti meminum air itu, "Ternyata, sudah sampai, ya. Liftnya sangat mengejutkan. Membuatku ingin muntah saja."
Aku langsung membuang botol plastik itu di tempat sampah yang ada disitu.
"Jadi, sudah berkumpul semua?" tanyaku sambil menghadap ke arah rekan-rekanku.
"Ya, kalian berdua yang terakhir. Paling jauh dari daerah 6, sih," jawab Speedy.
"Oh, ya? Begitu ternyata," balasku.
"Bicara tentang baju, kenapa milikmu aneh sekali, Noya?" tanya Tyler.
"Bagus untuk menyamar, leluasa untuk bergerak, dan terlihat cukup keren," aku menjawab dengan jelas.
"Soal itu, tanyakan saja pada Alexander dan Leonardo," ujar Osamu.
"Jadi, kekacauan apa sih?" tanyaku pada Alexander dan Leonardo.
"Jaksa lawan media, hasilnya demo," jawab Alexander.
"Jadi.. kita disuruh menyelesaikan kasus?" tanya Yuumei ragu.
"Kelihatannya begitu," jawab Leonardo.
"Kita ini masih kecil, loh. Masa disuruh menyelesaikan kasus? Ada-ada aja," gumamku kecewa.
"Kita bisa belajar dari misi ini. Dan juga, gaji pertama kita.." ujar Louis.
"Ya, sepertinya begitu tujuannya. Tetapi, apakah kita boleh mengikuti penyelidikan dan persidangan nanti? Mereka tidak mengenal kita!" bentak Edward.
"Hey, tidak bisa lembut sedikit apa?" lawan Tsumu.
"Coba kalian berpikir. Keluarkan semua kartu yang pak Jinsu berikan!" suruhku.
Mereka semua menurut. Aku juga ikut mengeluarkan semua kartu yang diberikan pak Jinsu.
"Lihatlah, ada banyak kartu disini. Ada kartu anggota kepolisian, kartu identitas detektif, dokter, dan semuanya. Satu hal lagi, ini yang paling berguna. Kartu identitas jaksa. Harus selesaikan kasus ini, baru orang-orang di kota ini tenang," ujarku mengingatkan.
"Kalau begitu, yang menyamar jadi jaksa adalah Noya," ujar Louis.
"Ya, benar juga! Ketua yang menyamar jadi jaksa," jawab Leonardo setuju.
"Benar, juga! Ide bagus!" ujar Tae Oh ikut setuju.
"Oi, aku saja tidak pernah masuk ke dalam ruang pengadilan ataupun ikut persidangan sekalipun! Mana mungkin aku bisa melakukan pekerjaan berat ini?" ujarku melawan.
__ADS_1
"Nanti Edward, Osamu, Tsumu, Speedy, dan aku akan menahan orang-orang yang demo dari arah manapun," ujar Yuumei.
"Aku urus tentang teknologi. Aku adalah hacker!" ujar Tae Oh mengajukan diri.
"Aku dan Leonardo akan mencari bukti di TKP. Tae Oh, tolong cek semua kamera CCTV, oke?" ujar Tyler.
"Siap!" jawab Tae Oh.
"Aku akan mengawasi Noya. Saat dia akan mendapat masalah, aku pastikan dapat menghindarinya," ujar Alexander.
*Ampun, ga didengerin,* pikirku menyerah.
Tiba-tiba, Osamu yang melempar sebuah jas ke arahku dengan keras.
"Aduh! Ini.. untuk apa?" tanyaku.
"Jaksa harus memakai jas," jawab Osamu.
"Serius, nih? Aku yang jadi jaksanya?" tanyaku meyakinkan.
"Ya, tentu saja! Jaksa.. apa marga mu?" tanya Osamu.
*Benar juga, aku harus memakai marga!* pikirku.
"Ah, begini saja. Kan ini menyamar, jadi tak perlu memakai marga asli. Bagaimana dengan marga Jung?" tanyaku.
"Benar juga. Jaksa.. Jung?" ujar Osamu.
"Wah, cocok juga itu! Jaksa Jung!" komentar Tsumu.
"Tapi, bagaimana dengan tinggiku? Tinggiku hanya 159 cm. Bagaimana?" tanyaku.
"Itu cukup. Kalau tidak percaya, bilang saja penyakit keturunan," jawab Tyler.
"Baiklah."
Aku pergi ke ruang ganti. Aku menghembuskan nafas lega.
"Huhh.. untung saja. Terimakasih Hong Suk. Marga mu memberiku ide dan keselamatan," gumamku pelan.
Aku langsung berganti baju. Dalam sekejap, aku langsung berubah menjadi seseorang yang berbeda.
Aku melangkah keluar dari ruang ganti.
"Woah, Jaksa Jung!" ujar Louis.
"Keren juga. Cepat pergi ke kejaksaan, sana!" ujar Speedy.
"Aku diusir, nih?"
"Tidak. Hanya saja, kau harus cepat. Tae Oh sudah memeriksa ruangan yang kosong di kejaksaan. Tepat sekali, jaksa itu cuti beberapa hari. Namanya Jaksa Kim," jelas Yuumei.
"Jaksa.. Kim..?" ujarku ragu.
"Datanglah ke kejaksaan, ambil buktinya dan pergilah ke pengadilan. Kalau butuh bantuan, telepon aku," ujar Alexander.
"What? I'm.. alone?" tanyaku meyakinkan.
"Yes," jawab Alexander singkat.
"Astaga, mau bagaimana lagi. Baiklah," ujarku.
"Nah, ini baru ketua!" teriak Tae Oh.
"Semangat, Noya!" teriak semuanya bersamaan.
"Baiklah, aku berangkat!"
__ADS_1