
Do-kyeong kehilangan kesadaran, lalu tersentak bangun, lalu kehilangan kesadaran, lalu tersentak bangun lagi. Berulang kali. Ia terbangun ketika tangan Su terlepas dengan perlahan dari genggamannya dan ketika ia mendengar bunyi samar langkah hewan. Begitu ia terbangun, kantuk kembali menyeretnya ke alam bawah sadar. Mimpi terus menghantuinya bagaikan pasir yang berjatuhan di dalam jam pasir. Ia tidak tahu apakah ia sedang bermimpi, baru terbangun dari tidur, atau sudah mati. Ia berusaha melepas kendali, tetapi kemudian kembali berusaha mengendalikan diri.
__ADS_1
Malam semakin larut. Ketika malam nyaris berakhir, sesuatu mendesak naik di kerongkongan Do-kyeong. Cairan pahit mendadak memenuhi mulutnya dan menetes keluar dari lubang hidungnya. Ia membekap mulut dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menggapai pegangan pintu mobil. Pintu mobil berayun terbuka dan Do-kyeong langsung muntah. Muntahannya menyembur tanpa henti. Walaupun kubangan kecil sudah terbentuk di tanah, ia masih terus muntah. Ia memukul-mukul dada dan akhirnya berhasil meredakan rasa mualnya, tetapi mendadak rasa panas yang bagaikan api timbul dalam perutnya dan langsung melesat ke tenggorokannya.
__ADS_1
Sementara cairan lengket dan bau mengucur dari mulut, hidung, dan matanya, Do-kyeong memegang lehernya sendiri dan menoleh ke arah Su. Su berbaring sangat lurus. Kulitnya pucat kebiruan, kedua tangannya ditangkupkan dengan sopan, dan seulas senyum kikuk tersungging di bibirnya. Ia terlihat seperti boneka lilin. Do-kyeong mengulurkan tangan ke dada Su dengan hati-hati. Jantung Su tidak berdetak. Do-kyeong menempatkan jari di bawah hidung Su, tetapi tidak merasakan embusan napas.
__ADS_1
Pelataran parkir di taman terpencil, mobil sedan mewah yang diparkir miring, dan wanita di dalam mobil yang entah sudah mati atau hanya sedang terlelap. Semua itu jelas adalah pemandangan yang mencurigakan bagi siapa pun yang melihatnya. Otak Do-kyeong langsung menyuruhnya kabur, tetapi tubuhnya tidak mampu meninggalkan mobil. Ia mengulurkan tangan ke arah Su, tetapi kemudian berjengit dan menarik tangannya kembali. Ia tidak bisa meninggalkan Su di sini, tapi ia juga tidak bisa membawa Su pergi dari sini. Do-kyeong menekan tombol untuk mengunci pintu, keluar dari mobil, menutup pintu, lalu menarik-narik pegangan pintu untuk memastikan pintu tidak bisa terbuka. Berbeda dengan Do-kyeong, Su tetap berbaring diam seperti boneka di dalam peti kaca, seperti ilusi, yang tidak bisa didekati Do-kyeong lagi.
__ADS_1
Di atasnya adalah daerah menanjak yang tidak bisa dilalui, sedangkan di bawahnya adalah jalan menurun yang sangat curam. Dua-duanya bukan pilihan yang baik. Di daerah menanjak itu terdapat banyak batu, dahan, dan akar pohon yang mencuat ke segala arah, sedangkan daerah yang menurun merupakan jalan berlumpur yang bisa membuat orang-orang tergelincir, bahkan ketika hujan tidak turun. Do-kyeong memilih jalan menurun. Dalam sekejap mata, kakinya bergerak semakin cepat.
__ADS_1