THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 10 [JIN-KYEONG]


__ADS_3

        AKHIRNYA Jin-kyeong pergi ke taman. Ia harus pergi ke sana. Mungkin saat itu malam sudah larut, karena yang terlihat hanya garis polisi yang dipasang seadanya. Tidak ada petugas polisi, tidak ada penonton, dan tidak ada orang yang berjalan-jalan di sana. Bahkan mobil tempat mayat ditemukan juga tidak terlihat. Di tengah jalan, Jin-kyeong melihat sepasang anak muda yang mengenakan seragam sekolah. Pasangan itu berpelukan dan berciuman. Mereka hanya melirik Jin-kyeong sekilas, lalu terkikik sendiri. Jin-kyeong terus menaiki anak tangga yang terbentuk secara alami dari akar pohon, dan akhirnya tiba di dataran terbuka seluas 6,5 meter persegi. Ia berdiri di tepi tebing dan menunduk menatap Saha Mansion yang tepat berada di seberang jalan dari taman. Mansion jelas jauh lebih gelap dibandingkan bangunan-bangunan lain, dengan panel surya mulus di bagian atap yang memantulkan cahaya bulan, dan dengan cahaya remang-remang yang berasal dari beberapa jendela. Do-Kyeong pasti juga pernah berdiri di tebing ini dan menunduk menatap Mansion. Apa yang dipikirkannya? Di mana dia sekarang? Jin-kyeong memejamkan mata erat-erat, lalu berbalik dan berderap menuruni tangga dar tanah. Langkahnya semakin cepat dan kakinya terus tergelincir, di jalan menurun itu. Dahan-dahan pohon, yang terjulur bagai. kan tangan-tangan panjang, menggores wajahnya.

__ADS_1


        Ketika tiba di sisi jalan empat lajur itu, Jin-kyeong mengusap darah dari pipinya dengan punggung tangan. Dengan tenggorokan kering, kepala pusing, dan keadaan setengah sadar, ia melangkah ke jalan. Sebuah mobil sedan melesat secepat kilat ke arah Jin-kyeong sambil membunyikan klakson dengan keras, lalu berpindah lajur dengan mendadak untuk menghindari Jin-kyeong. Jin-kyeong terhuyung mundur dan jatuh ke trotoar. Getaran dingin menjalari tulang punggungnya. Jin-kyeong dulu sering muncul terlambat walaupun ia tahu Do-Kyeong menunggu sendirian di sekolah, di lapangan kosong, atau di tempat bermain. Ia seolah-olah bisa mendengar tangisan Do-Kyeong ketika masih kecil, memanggil kakaknya, di tengah embusan angin.

__ADS_1


        Jin-kyeong merapatkan kaki dan melompat di tempat tiga kali. Setelah berhasil menjernihkan pikiran, ia memandang ke kiri dan kanan jalan, lalu berlari menyeberangi jalan. Ia terus berlari. Ia berlari tanpa berpikir, membiarkan kakinya membawanya entah ke mana, dan akhirnya mendapati dirinya tiba kembali di Saha Mansion.

__ADS_1


        Kedua bayangan itu menyelinap masuk ke Gedung A. Beberapa saat kemudian, salah satu bayangan tadi bergerak melintasi halaman depan, tetapi kemudian berbalik dan kembali berlari ke arah Gedung A. Jin-kyeong cepat-cepat membungkuk, memadamkan rokok dengan tumit sepatu ketsnya, dan mengawasi gerakan kedua bayangan itu. Sepertinya ia bisa menebak siapa salah satu bayangan itu. Ia mendapat firasat bahwa kesehariannya yang didapatkan dengan susah payah dan kedamaiannya yang rapuh akan segera hancur berkeping-keping. Jin-kyeong berlutut di lantai. Ada retakan panjang di tembok, dari langit-langit sampai ke lantai.

__ADS_1


        Ia mendengar bunyi langkah kaki menaiki tangga. Bunyi langkah satu orang. Langkah kaki, lalu senyap, langkah kaki, lagi-lagi senyap. Setiap naik satu lantai, sosok itu akan bersandar ke palang dan melambai kepada sosok kedua yang berdiri di halaman depan. Itulah yang dilakukannya berulang kali. Bunyi langkah kaki itu pun semakin jelas, sampai akhirnya bayangan itu muncul di puncak tangga lantai tujuh. Jin-kyeong tahu siapa orang itu. Do-Kyeong.

__ADS_1


__ADS_2