THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 4


__ADS_3

        Jin-kyeong menggeleng, tetapi si pria tua tetap membuka tutup botol itu. Televisi kecil di meja menayangkan iklan apartemen, iklan sabun cuci piring, iklan vitamin, dan trailer film, disusul oleh berita terakhir. Jin-kyeong duduk di atas meja dan menyesap jusnya. Rasanya hangat dan asam, tetapi ia tidak tahu apakah hal itu dikarenakan jus itu sudah basi atau apakah rasanya memang seperti itu. Si pria tua duduk di kursi yang digoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang, sambil menenggak jus seolah-olah ia sedang menenggak minuman keras yang menyegarkan.


        Pria tua itu tidak pernah minum air dari keran umum. Kulkasnya selalu penuh air mineral dalam botol dan ia juga menggunakan air mineral yang mahal untuk memasak. Pada suatu musim panas, ia menatap Jin-kyeong, yang minum air langsung dari keran, dengan sorot kasihan. Suatu hari, pria itu mematikan keran saat Jin-kyeong sedang minum, dan mengatakan sesuatu yang aneh.


            “Kau tahu kenapa orang-orang Mansion begitu gampang mati? Kenapa banyak sekali bayi yang terlahir dalam keadaan sakit-sakitan? Kau pikir semua itu karena mereka tidak bisa pergi ke rumah sakit?”


        Di layar televisi terlihat seorang pembaca berita wanita menyampaikan berita tentang kecelakaan dengan seulas senyum lembut yang tersungging di bibirnya.

__ADS_1


            “Sesosok mayat ditemukan di dalam mobil yang diparkir di jalan masuk taman dan polisi telah memulai penyelidikan. Pada jam sepuluh kemarin malam, mayat itu ditemukan oleh seorang Warga yang sedang berjalan-jalan di taman umum di Cheongsa-ro 3-gil di dekat Saha Mansion. Warga tersebut kemudian melapor kepada polisi. Mayat wanita tersebut berhasil diidentifikasi sebagai dokter anak berusia pertengahan tiga puluhan dan berinisial S. Wanita tersebut dilaporkan hilang oleh keluarganya setelah tidak pulang selama dua hari. Dalam konferensi pers, polisi menegaskan bahwa mobil tersebut adalah milik korban dan bahwa korban mengalami pelecehan seksual sebelum akhirnya dibunuh.”


        Jin-kyeong menurunkan botol jus yang dipegangnya ke meja dengan begitu cepat dan keras sampai jusnya muncrat ke atas meja si pria tua. Su. Su sudah mati. Su sudah mati dan Do-kyeong tidak terlihat selama beberapa hari terakhir. Jin-kyeong harus mencari Do-kyeong, tetapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana ia harus mencari seseorang yang tidak punya ponsel, tidak punya teman, dan tidak punya pekerjaan apa pun akhir-akhir ini selain menggambar. Jin-kyeong berdiri, memutuskan pergi ke taman itu sendiri.


            “Kau mau ke mana?” tanya si pria tua.


            Jin-kyeong berhenti sesaat, lalu kembali melangkah ke pintu.

__ADS_1


        Ini pertama kalinya si pria tua berteriak sekeras itu. Selama ini, ia selalu bersikap acuh tak acuh. Ia tinggal dan bekerja sebagai pengawas gedung di Saha Mansion. Ia selalu memandang rendah para penghuni Saha Mansion walaupun merekalah yang menggajinya. Seolah-olah ia berpikir, Aku berbeda dengan kalian, aku tidak ada hubungannya dengan kalian, aku tidak tertarik pada kalian. Namun, pria tua ini kini berderap mendekat dan mencengkeram lengan Jin-kyeong.


            "Jangan pergi."


        Jin-kyeong menatap mata pria itu lurus-lurus. Matanya yang Cokelat terlihat lebih muda daripada sebelumnya. Keadaan di sekeliling mereka gelap, tetapi pupil pria itu tidak membesar, Benak Jin-kyeong dibanjiri pertanyaan saat ia menatap pupil tua yang mengingatkannya pada usia tua dan lingkaran usia itu, tetapi ia tidak menyuarakannya.


            “Jin-kyeong, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi melakukan sesuatu ketika sedang panik tidak akan membantu sama sekali,” kata pria tua itu, seolah-olah bisa membaca jalan pikiran Jin-kyeong.

__ADS_1


        Jin-kyeong bisa merasakan kekuatan dalam cengkeraman pria itu. Konon, pria itu pernah menyeberangi perbatasan lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Hidupnya sebelum tiba di Mansion pastilah semengerikan hidup Jin-kyeong. Apakah pria itu punya keluarga? Ada sesuatu dalam mata tua itu yang tidak terlihat di mata orang-orang yang masih muda.


Pria tua itu menjauhkan tangannya yang besar dari lengan Jin-kyeong dan berkata, “Terima kasih untuk jusnya.”


__ADS_2