
Perkiraan si pria tua benar. Pelaku kebakaran itu adalah seorang L, yang berarti Warga. Ia hanya seorang pensiunan biasa berusia enam puluh tahun. Ia sama sekali tidak mabuk ketika melakukan kejahatan itu.
Setelah bekerja sebagai pegawai negeri seumur hidupnya, pria itu melewatkan masa pesiunnya dengan melakukan pekerjaan sukarela di bagian informasi kantor wilayah. Ia terkenal suka mengatakan hal-hal yang kontroversial. Ia berkata kepada semua orang yang bersedia mendengarkan, entah staf atau pengunjung, bahwa Town bukan negara yang sebenarnya, bahwa Town memperlakukan penduduknya seperti supermarket yang menjaga inventorinya, bahwa sistem Dewan Menteri yang anonim harus sepera dihilangkan, dan bahwa Town harus diwajibkan bergabung dengan organisasi internasional dan mengikuti hukum internasional. Pria itu belum terlalu tua dan ia juga bukan orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang dunia, sehingga kata-katanya tidak bisa dianggap sebagai omong kosong orang tua. Pejabat kantor wilayah sudah memberikan peringatan berkali-kali kepadanya setelah menerima keluhan dari Warga, tetapi pria itu sama sekali tidak berubah. Ia justru semakin kasar.
Pria ini tidak pernah menginjakkan kaki ke luar Town. Ia lahir di kota kecil yang kini adalah Town, menghabiskan masa kecil di sini, lulus tes pegawai negeri di Town, mendapat pekerjaan di Town, menikah dengan seorang wanita dari Town, dan tinggal di Town. Dirinya mulai bersikap aneh tiga tahun yang lalu, tepat setelah kematian ayahnya.
Ayahnya, yang sudah hidup lama, meninggal dunia akibat kanker lever. Walaupun sudah terlalu tua dan rapuh Untuk menjalani pengobatan kanker, ayahnya tidak merasa sedih atau kebingungan. Ayahnya mengendalikan rasa sakit dengan narkotika dan mempersiapkan segalanya sebelum kematian menjelang Ia memastikan rumah, buku, dan propertinya disumbangkan. ia mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga dan teman, temannya, memasak untuk cucu-cucunya, dan menuangkan keseluruhan prosesnya dalam foto dan tulisan, yang kemudian menjadi naskah “Dapur Kakek Kanker Lever”. Mengikuti saran cucu perempuannya, ia menghapus kata-kata “kanker lever” dari judul sehingga judul akhir naskah itu adalah “Dapur Kakek” Sebelum akhirnya menutup mata, ia berterima kasih kepada menantunya, mengingatkan cucu laki-lakinya agar tidak menimbulkan masalah, dan meminta cucu perempuannya menerbitkan naskahnya.
Kepada putranya, ia berkata, “Hanya ada satu hal yang kusesali dalam hidup ini, dan karena itulah aku menyesali keseluruhan hidupku.”
Tidak seorang pun dalam keluarganya yang tahu apa satu-satunya penyesalan dalam hidupnya. Bahkan putranya, yang mengagumi ayahnya namun tidak pernah mengobrol dengan ayahnya, sama sekali tidak tahu apa-apa.
Setelah mengurus upacara pemakaman dengan tenang, pria itu tetap bekerja di bagian informasi kantor wilayah dengan si: kap ramah seperti biasa. Namun, di malam hari, ia menenggak empat atau lima gelas wiski yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Istrinya tidak mengusiknya karena mengira pria itu masih bersedih atas kematian ayahnya, sampai suatu hari ia tersungkur di kamar kecil kantor wilayah sambil mencengkeram perut. Ia langsung dilarikan ke UGD. Tiga jam kemudian, ketika ia sadar kembali, kata-kata pertama yang diucapkannya kepada dokter adalah, “Kalau dokter tidak merawat orang sakit, apakah mereka masih bisa disebut dokter?”
Skenario terbaik adalah apabila ia dituntut atas tindakan pembakaran. Jika ia terbukti bersalah melanggar Hukum Khusus, tidak ada yang tahu seberapa berat hukuman yang akan diterimanya. Hukum Khusus tidak memiliki standar, dasar, dan peluang naik banding. Keluarganya menegaskan bahwa pria itu sudah bekerja sebagai pegawai negeri untuk Town seumur hidupnya, pernah cacat di masa muda akibat kecelakaan mobil ketika sedang bekerja, mengalami guncangan hebat setelah ayahnya meninggal dunia, dan sejak saat itu ia menderita depresi. Tindakannya pun dianggap sebagai keinginan untuk mati atau hasil dari pikiran yang tidak waras.
Keesokan harinya, ketika Jin-kyeong hendak mengembalikan obat gosok, si pria tua melirik lengan Jin-kyeong. Memarnya sudah berubah menjadi warna kuning, tetapi belum sepenuhnya hilang.
“Tidak usah dikembalikan.”
__ADS_1
“Tapi ini milik Anda.”
“Kau mau aku menerima kembali obat yang sudah punya bekas keringatmu?”
“Obat ini juga sudah punya bekas keringat Anda sejak awal.”
“Aku tidak berkeringat.”
Jin-kyeong membuka tutup tabung obat gosok itu dan menggosokkannya ke lengannya sendiri. Alkohol dalam obat itu membuat kulitnya terasa dingin.
Berita tentang kebakaran sedang disiarkan di televisi, Tanpa Mengalihkan pandangan dari televisi, si pria tua menggerutu, “Dasar orang gila.” Si pelaku mengenakan masker berukuran besar dan topi bisbol untuk menutupi wajahnya, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan dagunya yang bulat. Tercukur rapi, putih, dan montok. Ia terlihat seperti orang yang menjalani hidup dengan nyaman dan berkecukupan. Jin-kyeong mengusapkan dagunya sendiri ke lengannya yang memar. Kulitnya terasa kaku dan kasar seperti handuk yang terlalu lama dijemur di bawah matahari.
Tanpa berkata apa-apa, si pria tua meraih remote control dan mematikan televisi. Setelah terdiam untuk waktu yang lama, kata-kata meluncur pelan dari mulutnya seolah-olah dengan terpaksa. “Dan aku tidak mengerti kenapa orang-orang seperti kita, yang tidak akan kehilangan apa pun, tidak melakukan sesuatu seperti itu? Revolusi Kupu-kupu adalah kejadian pertama dan terakhir.”
Pada masa awal kemerdekaan Town, banyak protes yang terjadi di kalangan L2 dan para Saha dalam usaha melawan pemerintah baru. Orang-orang menyebutnya protes, kerusuhan, dan revolusi, tetapi hanya si pria tua yang menyebutnya “Revolusi Kupu-kupu”. Entah kenapa Jin-kyeong merasa si pria tua juga ikut terlibat pada saat itu, tetapi Jin-kyeong tidak bertanya. Lalu ia berpikir sendiri, Sungguh, kenapa kami tidak melakukan sesuatu seperti itu?
Mereka kembali menggeledah seluruh apartemen yang ada, dan satu hari berlalu lagi. Para polisi yang sedang menyama! mulai bersikap santai dan berkeliaran di Saha Mansion dengan gaya bosan. Jin-kyeong mencengkeram palang besi dan menunduk menatap kosong ke halaman depan. Sepasang kaki ramping dengan cat kuku biru langit di ibu jari muncul tertangkap oleh sudut mata Jin-kyeong. Ternyata Sa-ra. Jemari Sa-ra yang panjang dan halus menggenggam tangan Jin-kyeong. Jin-kyeong berjengit dan menarik kembali tangannya. Setiap kali ia melihat Sa-ra, hati Jin-kyeong terasa berat. Bagian putih mata Sa-ra seputih gletser dan pupilnya yang biru berkilau lembut. Mata yang indah, tetapi hanya sebelah. Jin-kyeong tidak berjengit gara-gara mata Sa-ra, tetapi sepertinya Sa-ra menganggap begitu.
Sa-ra kembali menggenggam tangan Jin-kyeong dan berkata, “Do-kyeong Oppa ada di rumahku.”
__ADS_1
“Apa?”
Sa-ra membungkuk dan memandang berkeliling satu kali. “Mungkin karena aku wanita lajang yang tinggal sendirian, mereka tidak menggeledah tempatku dengan teliti. Do-kyeong Oppa bersembunyi di dalam kulkas.”
“Dia baik-baik saja?”
“Ya dan tidak. Aku tahu. Do-kyeong Oppa dan dokter itu pernah datang ke barku.”
Jin-kyeong, yang sudah sempat tenang, kembali merasa gugup. Apa yang dipikirkan Do-kyeong sampai harus bersembunyi di dalam kulkas? Jin-kyeong meremas tangan Sa-ra. “Jangan menemuiku lagi sekarang.”
Sa-ra menatap mata Jin-kyeong. “Tapi, Eonni, aku juga takut.”
Jin-kyeong menarik Sa-ra ke tangga yang tidak terlihat oleh siapa pun di halaman depan dan memeluknya. “Aku mohon,” kata Jin-kyeong.
Oppa Adalah Panggilan oleh wanita untuk pria yang lebih tua; Kakak.
Sa-ra mengangguk beberapa kali, lalu berlari menuruni tangga. Sa-ra terlahir tanpa mata kanan. Ia mulai mengenakan penutup mata sejak usianya enam tahun dan tidak pernah melepaskannya. Ketika ibunya meninggal dunia, di saat upacara kematian, ketika ia menandatangani formulir untuk menyatakan persetujuannya menyerahkan jenazah ibunya ke pusat riset karena ia tidak mampu membayar biaya pemakaman, Sa-ra sama sekali tidak menangis supaya penutup matanya tidak basah.
Banyak orang yang bersimpati pada Sa-ra, baik di dalam maupun di luar Mansion, tetapi Sa-ra menolak mereka semua, Karena Jin-kyeong. Namun, Jin-kyeong tidak menyadari perasaan Sa-ra, juga perasaannya sendiri, ketika ia memeluk Sa-ra dan meminta Sa-ra menjaga Do-kyeong.
__ADS_1