
Retakan besar terlihat di tembok akibat cat yang sudah mengelupas. Palang besinya sudah berkarat parah sampai lantai tempat koridor palang ditancapkan pun ikut berkarat. Tangga darurat yang ada di sisi gedung pun sudah sangat bobrok sampai tidak bisa lagi dilewati. Semua akses ke tangga darurat ditutup. Gedung yang mulai hancur perlahan-lahan tanpa disadari. Gedung tua yang mengembuskan debu. Di gedung itulah orang-orang Saha Mansion tidur, makan, dan bertambah tua.
Ada retakan diagonal di pilar batu di pintu depan kompleks. Nama “Saha Mansion” yang diukir dan dicat hijau terpisah oleh retakan itu menjadi “Saha” dan “Mansion”. Saha Mansion. Saha, Mansion. Di belakang tulisan “Saha” terdapat kantong-kantong sampah hitam besar yang terlihat seperti bangkai hewan liar, dengan cairan kuning yang mengalir keluar.
Pemerintah daerah tidak mengangkut sampah dari Saha Mansion, jadi para penghuni terpaksa menyewa perusahaan pengangkut sampah, tetapi perusahaan itu pernah menyuarakan ketidakpuasan mereka tentang biaya yang dibayarkan kepada mereka dengan cara menempelkan imbauan di papan pengumuman yang ada di samping kantor pengawas gedung. Imbauan untuk mengurangi jumlah sampah, imbauan agar para penghuni Mansion mengunci pintu dengan baik, imbauan agar mereka menjaga kebersihan di apartemen masing-masing, imbauan agar mereka tidak membiarkan orang lain keluar masuk kompleks... Namun, para penghuni Saha Mansion tidak punya waktu dan alasan untuk menuruti imbauan-imbauan itu.
__ADS_1
Pada suatu musim semi, ketika kubis bomdong berbunga lebih cepat daripada biasanya, Nenek Konnim berjongkok seharian di kebunnya dengan satu sekop kecil di tangan dan satu sekop kecil lainnya di saku belakang. Bunga-bunga kuning yang bermekaran itu terlihat seperti bunga freesia, jadi Jin-kyeong memetik beberapa tangkai untuk membuat karangan bunga. Nenek hanya menatap Jin-kyeong tanpa berkata apa-apa. Nenek tidak pernah berkata apa-apa jika ada sayuran, bunga, atau buah yang dipetik dari kebunnya.
Buk buk buk buk buk—Tanpa menoleh pun Jin-kyeong tahu itu bunyi langkah Woo-mi. Hanya Woo-mi—dengan tubuhnya yang besar, tapi bisa bergerak dengan ringan—yang memiliki bunyi langkah seperti itu. Di antara semua orang yang pernah Jin-kyeong temui, Woo-mi adalah orang yang memiliki tubuh paling tinggi, kepala paling besar, bahu paling bidang, buku-buku jemari paling besar, dan lutut paling menonjol. Walaupun tubuhnya besar, Woo-mi selalu bergerak dengan sangat cepat.
Woo-mi menjatuhkan diri di samping Jin-kyeong yang sedang merangkai bunga. Jin-kyeong mulai berceloteh tentang bagaimana kubis bomdong yang terlalu keras untuk dimakan apabila sudah berbunga, tentang bunga kubis bomdong yang enak kalau digoreng, tentang lebah yang suka bersembunyi di balik kelopak-kelopak bunganya sehingga mereka harus berhati: hati. Tepat pada saat itu, sesuatu yang terlihat seperti sepotong kertas kuning melesat lewat dengan cepat dan mendarat di atas bunga kubis bomdong yang ada di tangan Jin-kyeong.
__ADS_1
Tangan Jin-kyeong berhenti bergerak dan ia berseru tertahan, “Oh, kupu-kupu!”
Kupu-kupu itu memiliki warna kuning yang lebih mencolok daripada bunga kubis bomdong. Di sayap kupu-kupu yang terbentang terlihat dua pola bulat berwarna hitam yang berbentuk seperti bola mata. Antenanya yang terulur rendah ke depan terlihat seperti dua helai bulu burung kecil yang menempel di kepalanya.
“Indah. Tapi, kudengar kupu-kupu yang berwarna cerah biasanya beracun,” kata Jin-kyeong.
__ADS_1
Woo-mi menggeleng. “Itu ngengat,” katanya sambil terpaku menatap kupu-kupu atau ngengat yang masih bertengger di sana dengan sayap terbentang. “Kupu-kupu melipat sayapnya ketika bertengger, sedangkan ngengat membentangkan sayap. Kupu-kupu memiliki antena yang ramping dengan ujung bulat, sedangkan antena ngengat berbulu dan berbentuk seperti daun. Sementara tentang racun—entahlah. Mungkin makhluk yang satu ini juga beracun.”