
Pada awalnya, pemilik perusahaan itu tidak mengenali Do-kyeong. Do-kyeong tidak bermaksud melamar pekerjaan di sana, tetapi supaya ia bisa bertemu langsung dengan pemilik perusahaan, ia melamar pekerjaan di perusahaan jasa pindahan itu, melewati proses seleksi awal, melewati wawancara dengan karyawan jajaran menengah, dan akhirnya berhasil mendapat kesempatan melakukan wawancara langsung dengan pemilik perusahaan.
“Ibuku tidak bunuh diri.”
Hanya itu satu-satunya kalimat yang dikatakan Do-kyeong kepada si pemilik perusahaan di dalam ruangan kecil itu.
“Hah? Apa katamu? Apa maksudmu, bocah brengsek?” tanya si pemilik perusahaan berulang kali.
__ADS_1
Dan Do-kyeong berulang kali memberikan jawaban yang sama. “Ibuku tidak bunuh diri.”
Dengan ekspresi bingung, si pemilik menopangkan kedua tangan ke sudut meja kayu yang mengilap. Mendadak saja, getaran dingin menjalari dirinya. Ia mengamati mata kanan Dokyeong, lalu mata kiri, hidung, filtrum, lekukan bibir atas, sudut mulut, lalu berkata, “Ibumu bunuh diri.”
“Ibuku... tidak bunuh diri!”
“Ibumu bunuh diri. Aku tidak tahu kenapa dia harus melakukannya di balkon rumah baru klien. Kerugian yang kuderita sama sekali tidak kecil. Pagar di balkon setinggi pinggang, jadi dia tidak mungkin terjatuh tanpa sengaja ketika sedang menyusun barang-barang di rak.”
__ADS_1
Ketika melihat Do-kyeong yang gemetar dengan kedua tangan, lengan, dan pakaian bersimbah darah merah gelap, Jin-kyeong teringat pada Mansion tua itu. Mansion tua di kota negara kecil di wilayah selatan yang terbentuk puluhan tahu yang lalu. Negara yang membangun tembok tinggi yang kokoh untuk memisahkan diri dari dunia. Dan di negara itu terdapat Mansion terpencil. Tidak ada tempat persembunyian lain yang lebih sempurna daripada tempat itu. Jin-kyeong berpikir Do-kyeong tidak akan pernah ditangkap seandainya mereka bisa bersembunyi di tempat itu. Seandainya tempat itu memang benar-benar ada.
Kakak-adik itu bersembunyi di dalam kapal barang dan menyeberangi lautan. Ketika kapal itu berlabuh di dermaga Town, mereka melompat ke dalam air tahu benar bahwa mereka mungkin akan mati dan bersembunyi di dalam air sampa matahari terbenam. Mereka berenang mengarungi laut malam di awal musim semi dan berlari seperti orang gila di tengah terpaan angin fajar. Ternyata, Saha Mansion sungguh ada.
Jin-kyeong dan Do-kyeong tiba di kantor pengawas gedung dengan wajah tertutup lapisan es tipis. Do-kyeong langsung jatuh tersungkur di lantai, sementara Jin-kyeong berusaha meminta tolong, tetapi mulutnya yang beku tidak bisa digerakkan. Pria tua pengawas gedung membawa mereka berdua ke apartemennya sendiri yang menempel dengan kantor pengawas gedung ia mengisi bak dengan air hangat yang diambilnya dari ruang mesin, melepaskan pakaian Jin-kyeong dan Do-kyeong sebisanya, dan menyuruh mereka berendam di dalam bak.
Ia melilitkan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat dari bak ke kepala Jin-kyeong dan Do-kyeong, sambil berkata, “Basahi handuk ini terus supaya tidak berubah dingin, dan hangatkan wajah kalian lebih dulu. Rasanya pasti sakit. Bertahanlah. Jangan sampai pingsan. Kalian sudah jauh-jauh datang di sini, sayang sekali kalau kalian menyerah begitu saja.”
__ADS_1
Jin-kyeong terus menghangatkan wajah Do-kyeong dengan handuk panas dan mengulangi kata-kata si pria tua. “Jangan pingsan. Kita sudah jauh-jauh datang di sini, sayang sekali kalau kita menyerah begitu saja.”
Do-kyeong mengangguk dengan gigi bergemeletuk.