THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 19


__ADS_3

        Kebakaran terjadi pada awal musim semi. Musim panas itu sangat panas. Udara malam lebih menyesakkan daripada sinar matahari di siang hari. Lelah akibat malam tropis, si pria tua terlelap dengan semua pintu dan jendela kantor terbuka. Ia terbangun ketika sesekali udara sejuk berembus dari kipas angin yang sering kali hanya menghasilkan angin panas, tetapi setelah itu ia dengan cepat terlelap kembali. Di sela-sela tidurnya, ia mendengar ketukan sopan. Tok, tok, tok. Tiga kali ketukan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. Si pria tua mendengar ketukan itu, tetapi kelopak matanya terasa berat. Tok, tok, tok. Ja juga merasakan ada seseorang yang menghalangi embusan angin dari kipas, tetapi pria tua itu tetap tidak mampu bergerak


        “Anda baik-baik saja?”


        Orang yang menghalangi angin dari kipas mengguncang bahu si pria tua, membangunkannya.


        “Anda bermimpi buruk? Astaga, coba lihat keringat Anda Padahal hari ini tidak sepanas kemarin malam.”


        Si pria tua langsung merasa tidak senang pada orang itu. Pria itu bersikap ramah dan sopan dengan cara yang merendahkan. Ketika si pria tua menatapnya dengan ekspresi datar, tanpa rasa berterima kasih maupun penasaran, pria itu mengeluarkan tanda pengenal dari saku celana dan menunjukkannya kepada si pria tua. Ternyata ia polisi.

__ADS_1


        “Ada kebakaran yang terjadi kemarin malam. Di persimpangan di pusat kota. Anda sudah mendengar beritanya?”


        “Aku tidak mendengar apa-apa, brengsek.”


        Si polisi terkekeh. Lalu, ia menarik kursi yang ada di luar kantor, duduk di hadapan si pria tua, dan menatap lurus ke dalam matanya.


        “Ada yang membakar Bendera Heptagram. Orang itu berani membakar semua bendera dari pusat kota sampai ke Parlemen. Untunglah kebakarannya tidak meluas dan kami sudah berhasil memadamkannya. Namun, pelakunya masih belum tertangkap. Apakah Anda melihat orang yang mencurigakan sebelum dan setelah jam tiga pagi?” tanya si polisi.


        Si pria tua mengibaskan tangan. “Aku tidak tahu. Kenapa kau datang ke sini mencari orang yang menyulut kebakaran di pusat kota?”

__ADS_1


        Tepat pada saat itu, seorang pria berusia empat puluhan dengan rambut berminyak dan yang tinggal di lantai dua Gedung A berjalan memasuki Mansion sambil menguap panjang. Pria itu menoleh ke arah kantor pengawas gedung dengan mata setengah terbuka, menunduk untuk menyapa, dan melihat wajah asing di sana.


        Si polisi mengamati pria yang menyelinap menaiki tangga itu Selama beberapa waktu. “Orang itu baru pulang pagi-pagi begini?”


        “Dia bekerja sebagai penyapu jalan di malam hari. Orang yang kaucari tidak ada di sini. Aku jamin. Karena itu, tidak perlu membuang-buang waktu di sini setiap kali terjadi sesuatu Cari pelakunya di kota saja.”


        “Bagaimana Anda bisa tahu pekerjaan semua orang dan menjamin mereka? Orang-orang di Mansion ini punya riwayat yang beraneka ragam.”


        Perselisihan kecil sering terjadi di Mansion. Beberapa penghuni pernah ditahan karena menyerang Warga atau menyebabkan keributan, biasanya gara-gara pemilik usaha tidak menepati janji. Sering kali kasus-kasus itu ditutup dengan penghuni Mansion yang tidak mendapatkan kompensasi atau perawatan medis yang dijanjikan kepada mereka. Melakukan pekerjaan remeh yang monoton seumur hidup, seperti robot, tanpa jaminan kompensasi bagaikan berjalan mundur. Setelah melewati semua hal yang menakutkan, lama, dan sulit, mereka tiba di tempat yang lebih buruk daripada sebelumnya. Itulah sebabnya para penghuni Mansion semakin kekanak-kanakan dan berpikiran sempit.

__ADS_1


        Pria yang tinggal di lantai dua Gedung A yang pulang pagi-pagi itu, Jin-kyeong, Do-kyeong, dan dua orang penghuni lain yang berusia dua puluhan diperiksa polisi. Keesokan harinya, pelaku yang sebenarnya menyerahkan diri. Jin-kyeong dibebaskan dan pulang dengan memar besar di lengannya. Katanya, lengannya terbentur pintu bus dalam perjalanan pulang.


        “Mana mungkin memar langsung muncul begitu benturan terjadi?” Si pria tua mengeluarkan obat gosok dari laci meja sambil menggerutu tentang polisi yang tidak tahu apa-apa tentang orang-orang yang tinggal di Saha Mansion.


__ADS_2