THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 24


__ADS_3

        Yeon-hwa tidak mengangguk, walaupun memang berniat pergi ke agensi itu. Sejak saat itu, Yeon-hwa melakukan pekerjaan pekerjaan yang berhasil didapatkan agen wanita itu untuknya. Kadang-kadang ia bisa bertahan sehari, sering kalinya seminggu, dan sesekali selama beberapa bulan. Sebagian besar pekerjaan yang dilakukannya adalah menghitung stok barang, membungkus barang, membuka bungkusan barang, merapikan, membersihkan, dan membuang berbagai macam barang. Sesekali, ia bisa mengenakan pakaian indah dan berdiri di pintu masuk gedung yang sedang mengadakan acara untuk menarik pelanggan. Pekerjaan itu lebih mudah dan upah per jamnya lebih baik, tetapi pekerjaan seperti itu hanya pekerjaan satu kali dan hanya berlangsung selama beberapa jam, jadi total upah yang diterimanya tidak seberapa.


        Pekerjaannya semakin berat seiring waktu berlalu, dan sepertinya ia tidak akan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya karena tidak sanggup menabung cukup banyak uang. Yeon-hwa berencana bekerja keras agar bisa menjadi seseorang yang mampu secara finansial, mempelajari keahlian tertentu dan mendapat sertifikat, dan akhirnya bisa menjadi Warga. Ia berencana pergi mencari ayahnya dan membawa pulang adik-adiknya dari panti asuhan. Namun, bekerja siang dan malam tetap tidak menambah jumlah tabungannya di bank, dan pekerjaan yang berhasil didapatkannya hanyalah pekerjaan remeh dan tidak membutuhkan kualifikasi atau keahlian. Ia terperangkap dalam kehidupan yang sama sementara ia memperpanjang status L2-nya. Jangankan bermimpi menjadi Warga, Yeon-hwa bahkan mungkin bisa kehilangan statusnya sebagai L2.


        Bayangan tentang keluarganya tidak lagi membuatnya gembira, Kebencian pada ayahnya, tekanan akibat menjaga adik-adiknya, dan perasaan bersalah karena terpaksa mengirim mereka ke panti asuhan justru semakin besar. Ia memang bukan orang yang luar biasa dan ia tidak bekerja mati-matian, tetapi ia sudah menjalani hidup setulus mungkin. Tidakkah ia panta mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada berdiri di tepj jurang seperti ini? Yeon-hwa muak menghadapi segalanya.


        Malam itu adalah beberapa hari sebelum Natal. Musim dingin kali itu sangat dingin dan langit sudah mendung sejak pagi, seolah-olah salju akan segera turun. Yeon-hwa pulang ke rumah setelah berdiri gemetar dalam balutan rok pendek selama dua jam di depan restoran yang baru dibuka dan berusaha menarik pelanggan. Ia bertanya-tanya apakah Natal ini akan turun salju. Lalu ia memutuskan bahwa ia sama sekali tidak peduli dan segera membungkus diri dengan selimut. Ia menghangatkan tubuhnya yang nyaris beku dan nyaris terlelap ketika seseorang menggedor pintunya. Ternyata pria pengawas gedung. Tanpa keluar dari balik selimut dan tanpa membuka pintu, Yeon-hwa berteriak, “Ada apa?"

__ADS_1


        Pria itu menjawab, "Ada telepon dari agensi pekerjaan. Sepertinya penting, jadi cepatlah turun.”


        Di telepon, si agen berkata bahwa ada lowongan pekerjaan di dapur untuk acara pesta Natal besar-besaran. Yeon-hwa pernah bekerja untuk perusahaan penyelenggara pesta itu dan mereka juga meminta Yeon-hwa secara khusus.


        “Kenapa aku?” tanya Yeon-hwa.


        Tiba-tiba saja Yeon-hwa ingin melupakan segalanya. Jadi, ia menolak pekerjaan itu. Ia berkata bahwa ia tidak mau melakukan pekerjaan itu, atau pekerjaan apa pun, jadi jangan pernah menghubunginya lagi.

__ADS_1


        Si agen mendengus tertawa. “Jadi kau mau mati kelaparan?”


        “Aku lebih memilih mati kelaparan. Semua pekerjaan yang Anda berikan kepadaku tidak pernah membuat perbedaan apa pun, hanya membuat tubuhku semakin rusak. Jadi, jangan menghubungiku lagi kecuali Anda punya pekerjaan yang bisa mengubah hidupku.”


        Yeon-hwa menutup telepon, keluar dari kantor pengawas gedung, dan menaiki tangga. Menurutnya, mati kelaparan dan mati kelelahan sama saja. Ketika sudah meringkuk kembali di balik selimut dan menghangatkan diri, pada satu saat singkat itu, ia merasa seolah-olah sedang berada di surga.


        Beberapa lama kemudian, si agen sungguh menawarkan sesuatu yang mengubah hidupnya. Pernikahan. Menikah dengan seorang Warga Town. Wanita yang menikah dengan Warga bisa ikut menjadi Warga atas jaminan suaminya. Itu jalan terakhir yang diambil para pria Town yang ingin menikah tetapi tidak bisa. Sebagai Warga, para pria itu sama sekali tidak memiliki kekurangan dalam hal finansial atau kedudukan sosial. Hanya saja, sebagian besar dari mereka sudah terlalu tua, memiliki cacat fisik parah, sakit-sakitan, atau menginginkan budaya keluarga, kondisi tempat tinggal, dan bentuk perkawinan yang sama sekali tidak masuk akal. Pihak agensi beralasan bahwa para pria itu terlalu sibuk bekerja, atau terlalu pemalu mengajak wanita berkencan, atau alasan-alasan semacamnya, tetapi pada kenyataannya tidak seorang pun yang seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2