THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 13


__ADS_3

        Namun, polisi yang berbicara dengan si pria tua memegang serenceng kunci. Berarti si pria tua dan Woo-mi yang menyerahkan kunci itu kepada polisi. Tangan Jin-kyeong yang mencengkeram palang besi gemetar. Ia baru hendak membuka pintu apartemennya untuk berganti pakaian ketika seseorang mencengkeram bahunya dari belakang. Jin-kyeong secara naluriah mengulurkan tangan ke belakang, balas mencengkeram tangan yang mencengkeram bahunya, dan memilinnya. Pria itu menjerit, dan seorang pria muda lain yang berdiri di samping pria pertama menodongkan pistol ke kepala Jin-kyeong. Pria yang tangannya dipilin memiliki rambut yang sangat putih. Pria berambut putih itu mengacungkan tangannya yang bebas untuk menenangkan si pria muda.


            “Polisi,” katanya kepada Jin-kyeong. “Bisa tolong lepaskan tanganku?”


        Sementara Jin-kyeong melepaskan tangan pria itu dengan perlahan, pistol yang ditodongkan ke arahnya juga diturunkan dengan sama pelannya. Si polisi tersenyum ringan dan memijat-mijat bahunya yang ditekuk tadi. “Kau si kakak, bukan?” tanyanya.


        Jin-kyeong tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbicara atau bertindak gegabah sebelum ia diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.


            “Kau kenal Su?”


        Jin-kyeong menggeleng.

__ADS_1


        Polisi itu mengeluarkan sehelai foto dari dalam buku catatannya dan menunjukkannya kepada Jin-kyeong. “Kudengar dia sering datang ke sini untuk mengobati anak-anak. Oh, mungkin kau tidak mengenalnya karena kau tidak punya anak. Tapi kau pernah mendengar tentang dia, bukan? Dia dokter anak dari rumah sakit anak-anak di depan sana,"


        Jin-kyeong kembali menggeleng.


            “Kau... tidak... bisa... bicara?” tanya si polisi dengan perlahan sambil menggerak-gerakkan ibu jari dan jari telunjuknya mengikuti gerakan mulut.


            “Bukan begitu.”


        Sementara polisi berambut putih membuka lipatan dokumennya dengan perlahan, polisi yang lebih muda masuk ke apartemen mendahului Jin-kyeong. Jin-kyeong cepat-cepat menyusulnya masuk tanpa melepas sepatu. Kaki kanannya baru menginjak bagian dalam rumah ketika bahunya lagi-lagi ditahan.


            “Dokter yang tewas beberapa hari lalu di taman... Adik Anda mengganggu dan menguntitnya, bukan? Itulah yang dikatakan orang-orang. Kami punya banyak saksi mata. Konon, itulah sebabnya dokter itu berhenti bekerja di rumah sakit. Di mana adik Anda sekarang?”

__ADS_1


            “Kami tidak saling melapor tentang di mana kami berada atau ke mana kami pergi...”


        Polisi itu mengangguk. “Kapan dia meninggalkan tempat ini?”


            “Aku tidak melihatnya hari ini. Sekarang kami menjalani hidup masing-masing.”


            “Apartemen adikmu dikunci. Kau punya kunci cadangan, bukan?”


            “Tidak.”


        Walaupun Jin-kyeong sudah menjelaskan ia tidak tahu apa-apa, polisi itu terus bertanya tentang keberadaan Do-kyeong. Takut mengatakan sesuatu yang salah, Jin-kyeong berusaha meredam perasaannya dan memberikan jawaban dengan tenang. Pada saat itu, polisi yang lebih muda keluar dari apartemen sambil mendorong Jin-kyeong yang berdiri di ambang pintu. Tangan kiri polisi itu memegang sebuah kantong plastik berisi sikat gigi lama, sisir, dan pisau cukur yang dulu digunakan Do-kyeong. Jin-kyeong menggigit bibir bawahnya erat-erat. Kalau tidak, ia pasti akan menjerit. Seolah-olah ingin menghibur Jin-kyeong, polisi berambut putih tadi menepuk pundak Jin-kyeong satu kali, lalu berbalik pergi. Mereka menuduh Do-kyeong menguntit Su. Menguntit, menguntit, menguntit. Jin-kyeong menggumamkan kata jahat itu dengan lirih berulang kali dengan rasa sesak di dada.

__ADS_1


__ADS_2