
Kupu-kupu—atau ngengat—kuning itu terbang pergi seperti potongan kertas berwarna. Woo-mi lahir dan besar di Saha Mansion, jadi ia tidak pernah mendapat pendidikan formal. Walaupun begitu, otaknya dipenuhi berbagai macam pengetahuan dalam berbagai bidang. Ia sangat suka membaca, ia tahu banyak tentang sejarah dan filosofi, ia juga menghafal novel dan puisi terkenal.
Walaupun tahu apa yang dikatakan Woo-mi pasti benar, Jinkyeong ingin terus berbicara dengan Woo-mi, jadi ia pun menambahkan, “Sepertinya dia terlalu cantik untuk dianggap sebagai ngengat.”
Woo-mi mengerutkan bibir dan tersenyum. “Kau membeda, kan satu spesies dengan spesies lain berdasarkan cantik atau tidaknya? Menarik sekali.” Tanpa menunggu jawaban, Woo-mi berdiri dan berjalan ke arah keran air umum.
Satu-satunya sumber air di Saha Mansion adalah delapan keran yang dipasang mengelilingi sebuah silinder dari semen kasar. Semua penghuni Saha Mansion mengambil air dari keran. keran ini untuk makan, mandi, dan mencuci. Tidak seorang pun mengeluh walaupun harus bolak-balik mengambil air, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Di dekat deretan keran itu terdapat jeriken-jeriken dan kereta dorong kecil yang selalu digunakan para penghuni dan dikembalikan ke tempat semua dalam keadaan bersih.
Woo-mi tidak sadar air sudah tumpah keluar dari jeriken. Ia menatap kosong ke depan dengan mata kiri yang dikerutkan seolah-olah ia sedang menyantap sesuatu yang asam. Setelah air yang tumpah lebih banyak daripada air yang ditampung di dalam jeriken barulah Woo-mi tersentak dan cepat-cepat memutar keran untuk menghentikan aliran air. Keran yang sudah tua dan berkarat itu berderit-derit ketika diputar. Woo-mi sering tanpa sadar memutar keran dengan begitu kuat sampai patah.
Setiap kali harus mengganti keran yang patah, pria tua pengawas gedung tidak pernah terlihat kesal. Ia justru terkekeh dan berkata kepada Woo-mi, “Tidak perlu menguras tenaga begitu. Putar dengan lembut, seperti caramu memperlakukan wanita.”
“Pak Tua, bagaimana kalau lehermu yang kuputar dengan lembut? Omong kosongmu sama sekali tidak lucu.”
__ADS_1
Woo-mi sering merusak, mengacaukan, dan memecahkan barang-barang tanpa sengaja. Namun, Woo-mi tidak pernab terlihat bingung atau menyesal. Si pria tua juga hanya tersenyum setiap kali Woo-mi mengatainya. Kerutan dalam terlihat di kedua sudut mulut pria tua itu ketika ia tersenyum. Sebelah tangan Woo-mi mendorong kereta yang memuat tiga jeriken penuh air, sementara tangannya yang lain mengangkut satu jerikan lagi. Lalu, ia berjalan ke arah pintu masuk Gedung A. Rampa, yang disemen asal-asalan di sisi kiri tangga, curam dan tidak rata. Woo-mi berderap menaiki rampa sambil berusaha menjaga keseimbangan kereta dorong yang oleng ke kiri dan ke kanan.
Jin-kyeong masih memegang bunga kubis bomdong.
Nenek Konnim menepuk pundak Jin-kyeong. “Kau tidak menyerahkan bunganya?”
Wajah Jin-kyeong memerah.
Sa-ra yang berdiri bersandar di palang lantai dua melihat semua yang terjadi di halaman depan. Ia memang tidak bisa melihat ekspresi Jin-kyeong, tetapi ia tahu pipi Jin-kyeong merah padam. Sa-ra berderap menuruni tangga. Jin-kyeong masih berdiri sambil memegang bunga kuning.
Jin-kyeong menunduk menatap bunga itu dengan ragu.
“Bunga untuk siapa?”
__ADS_1
“Bukan untuk siapa-siapa.”
Sa-ra mendongak menatap Jin-kyeong untuk waktu yang lama, tetapi Jin-kyeong hanya balas menatapnya, tidak mengerti apa maksudnya. Sa-ra tersenyum frustrasi dan bertanya, “Kalau begitu, bunga itu boleh untukku saja?”
Saat itulah Jin-kyeong baru menyodorkan bunga itu. Sa-ra Menerima karangan bunga itu dengan dua tangan, lalu mencium aromanya. Jin-kyeong mulai bergerak ke arah tangga. Otaknya hanya dipenuhi bayangan tentang kupu-kupu.
“Terima kasih, Eonni!” seru Sa-ra.
“Hm?
“Terima kasih untuk bunganya. Terima kasih karena sudah membuat karangan bunga untukku.”
Masih sambil melamun, Jin-kyeong mengangkat tangan dan melambai kepada Sa-ra. Sa-ra tersenyum cerah dan melambai-lambaikan bunganya dengan gembira.
__ADS_1
Eonni adalah Panggilan untuk wanita yang lebih tua oleh sesama wanita; Kakak.