
Jin-kyeong dan Do-kyeong tiba di Saha Mansion tiga tahun lalu.
Dalam perjalanan pulang ke rumah—mabuk, seperti biasa ayah Jin-kyeong dirampok, dipukuli hingga nyaris tewas, dan berakhir dalam keadaan lumpuh total. Ibu Jin-kyeong, yang pernah kabur dari suaminya dua kali, merawat suaminya dan berperan sebagai tulang punggung keluarga dengan penuh pengabdian.
Setiap rumah memiliki atmosfer unik yang terbentuk dari keluarga yang tinggal di dalamnya. Rumah Jin-kyeong memiliki atmosfer yang terbentuk dari ayahnya yang tergeletak seperti mayat, paku yang menonjol dan tertekuk, lampu neon yang berkedip-kedip, sarang laba-laba di sudut kamar, dan udara dingin dari kulkas yang kosong melompong. Suatu hari, tidak tahan lagi dengan suasana yang suram dan muram itu, Jin-kyeong yang masih kecil berkata kepada ibunya bahwa ia berharap ayahnya mati saja. Ibunya tidak terkejut dan tidak marah, hanya menanyakan alasannya dengan suara datar.
__ADS_1
“Memangnya Ibu sendiri tidak pernah berpikir seperti itu?” Jin-kyeong balas bertanya.
“Tidak pernah. Aku justru berharap ayahmu tetap hidup seperti ini.”
“Kenapa?”
__ADS_1
Setiap kali slang diselipkan ke dalam lubang kecil yang ada di lehernya, ayah Jin-kyeong, yang selama ini terbaring kaku, akan terbelalak dan tersentak, seolah-olah ingin membuktikan bahwa ia masih hidup. Ibu Jin-kyeong kemudian bergumam pelan, “Akulah yang berdosa. Karena itu aku berlutut di hadapan Tuhan dan memohon ampun, memohon diselamatkan.” Ibu Jinkyeong bukan orang yang religius, tetapi ia pernah mendengar banyak himne karena dulu bersekolah di sekolah Katolik. Melihat ibunya yang membantu ayahnya bangkit duduk, menepuk-nepuk punggung ayahnya, membersihkan tubuh ayahnya, dan membersihkan peralatan medis yang terhubung ke berbagai bagian tubuh ayahnya, Jin-kyeong ingin bertanya, Memangnya apa dosa Ibu? Kenapa Ibu harus berlutut? Kenapa Ibu harus memohon maaf?
Ayah Jin-kyeong hidup seperti itu selama enam tahun, sampai ia meninggal dunia pada musim semi ketika Jin-kyeong berusia tujuh belas tahun.
Saat itu, ibu Jin-kyeong bekerja di perusahaan pindahan dan bertugas membungkus perlengkapan dapur, seperti piring, panci, dan sebagainya, serta pakaian dan mainan anak-anak. Sehari setelah upacara pemakaman ayah Jin-kyeong, ibunya tetap berangkat bekerja pada jam tujuh pagi seperti biasa untuk mengemasi barang-barang milik sebuah keluarga yang punya banyak buku dan mainan, lalu memindahkannya ke rumah dengan pekarangan besar. Ia membungkus setiap barang pecah belah dengan bubble wrap, memasukkannya dengan hati-hati ke kotak, memasukkan kotak-kotak itu ke truk, menempuh perjalanan selama dua jam ke rumah baru, membongkar barang-barang tadi, meletakkannya di tempat yang benar, membersihkan rumah baru, dan baru pulang ke rumah setelah anak-anaknya sendiri makan mi instan. Keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi, ibu Jin-kyeong menyuruh Jin-kyeong menjaga adiknya sebelum berangkat kerja di pagi hari.
__ADS_1
Hari itu juga sama. Ibu menyentuh bahu Jin-kyeong dengan lembut dan berkata, “Ibu pergi dulu.” Hanya itu yang dikatakannya. Ekspresinya sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia tidak terlihat ragu atau menoleh ke belakang. Rekan-rekan kerjanya di perusahaan jasa pindahan, yang datang menyampaikan belasungkawa, juga mengatakan hal yang sama. Bahwa ibu Jin-kyeong terlihat biasa-biasa saja. Ia hanya minum kopi segelas lagi di tengah hari sambil mengeluh lelah, bersenandung pelan sepanjang hari, dan menghabiskan makan siangnya. Lalu, ketika ia sedang merapikan keranjang cucian dan deterjen di balkon apartemen klien di lantai sepuluh, ibu Jin-kyeong mendadak terjatuh ke bedeng bunga di lantai dasar.