THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 22


__ADS_3

        Ketika ia mendengar berita tentang seorang kakak berumur tiga puluh tahun dan seorang adik berumur dua puluh lima tahun baru saja pindah ke unit 701, Sa-ra bertanya dua kali apakah berita itu benar. Apartemen itu hanya memiliki satu kamar kecil dan satu ruang duduk dengan balkon sempit. Pasti banyak hal yang membuat kakak-adik itu tidak nyaman. Dua tahun kemudian, ketika ia mendengar berita tentang si adik, Do-kyeong, yang tinggal bersama dokter yang datang ke ManSion untuk merawat anak-anak, Sa-ra bertanya empat kali apakah berita itu benar. Warga Town tidak perlu membayar biaya rumah sakit. Sebagai gantinya, premi asuransi medis begitu tinggi sampai sulit dipercaya bahwa biaya itu termasuk biaya umum. Ada properti, properti yang disita karena pembayaran premi asuransi yang terlambat dan orang-orang yang menyatakan diri bangkrut atay melepaskan status Warga karena tidak mampu membayar biaya asuransi. Tanpa nomor asuransi, orang-orang tidak bisa menemui dokter atau menebus obat. Oleh karena itu, para penghuni Mansion pun terpaksa bertahan menghadapi segala macam penyakit dengan sedikit obat penghilang rasa sakit yang dijual di toko swalayan. Luka-luka kecil seperti tergores paku yang menyembul atau gigitan serangga bisa menjadi infeksi parah. Penyakit bagaikan takdir yang tidak bisa dihindari.


        Apalagi anak-anak kecil sering jatuh sakit. Orang-orang dari Departemen Kesehatan secara teratur mengunjungi Mansion untuk memeriksa kondisi bayi-bayi yang baru lahir dan memberi mereka suntikan imunisasi seadanya. Namun, hanya itu yang mereka lakukan. Jika tidak mengidap penyakit menular yang menuntut perhatian langsung, anak-anak itu tidak akan menerima perawatan apa pun. Para dokter datang dan meme riksa anak-anak itu dengan saksama, melakukan tes darah, dengan ramah menjelaskan kepada para orangtua penyakit ape yang diderita anak-anak mereka dan apa prognosisnya. Setelah itu para dokter tersebut pergi. Su-lah satu-satunya dokter yang memberikan perawatan kepada anak-anak yang menderita penyakit kritis.


        Sa-ra ingat ketika kedua orang itu datang ke bar untuk pertama kalinya. Orang yang mendorong pintu kaca bar yang berat dengan perlahan, namun tegas, dan melangkah masuk lebih dulu adalah Su. Ia memandang berkeliling dengan santai & tenang, lalu berjalan ke meja di samping jendela yang memang sering dipilih oleh para pelanggan lain. Seseorang dengan kepala ditundukkan mengikuti Su dari belakang. Sepatu kets yang dikenakan orang itu tidak asing. Kelihatannya terbuat dari kulit imitasi, tetapi warnanya yang alami memberikan kesan mewah. Jelas sekali itu bukan sepatu resmi atau sepatu loafer, melainkan sepatu kets bertali. Namun, sepatu itu meninggalkan kesan dalam diri Sa-ra karena sepatu itu terbuat dari kulit dan tidak terkesan aneh. Jika Sa-ra membayangkan Do-kyeong, hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah sepatu kets. Sepatu kets yang itu.

__ADS_1


        Kedua orang itu duduk berhadapan di sebuah meja kecil. Melihat Do-kyeong yang terus menunduk seperti itu, Sa-ra bertanya-tanya apakah ia sebaiknya berpura-pura tidak melihat Do-kyeong, tetapi ia juga harus mencatat pesanan mereka. Saat itu, Do-kyeong menoleh ke arah Sa-ra dan memberikan lambaian kecil tangan kirinya, seolah-olah menyiratkan, Ini aku. Sa-ra mencatat pesanan mereka dan menyajikan makanan serta minuman mereka seperti yang dilakukannya untuk para tamu lain. Do-kyeong hanya menyapa Sa-ra dengan satu anggukan, tetapi tidak menanyakan kabar Sa-ra atau memperkenalkan Sa-ra kepada Su. Su duduk dengan kepala disandarkan ke tangan kanannya yang terulur, dan Do-kyeong menggenggam tangan itu. Do-kyeong-lah yang terus berbicara, sementara Su mendengarkan dan kadang-kadang tertawa begitu keras sampai bahunya berguncang.


        Ketika mereka datang ke bar untuk yang ketiga kalinya, Su mulai menyapa Sa-ra dengan anggukan kepala. Sa-ra membiarkan pasangan itu mencoba koktail baru yang dibuatnya dan kadang-kadang duduk mengobrol sebentar bersama mereka. Suatu kali, Su mengeluh tentang mantan kekasihnya. Katanya, pria itu sama sekali tidak mempersiapkan apa pun untuk kencan mereka, tidak tahu harus pergi ke mana, apa yang harus dilakukan, dan apa yang hendak mereka makan. Terpaksa Su yang harus memikirkan semua itu sendiri. Do-kyeong berkata bahwa la bisa memahami pria itu.


        “Jadi semua itu salahku?”

__ADS_1


        “Tidak bisa dibilang kesalahan. Hari ini juga kita datang ke sini karena kau yang ingin datang ke sini.”


        “Wah, lucu sekali. Siapa yang pertama kali mengusulkan datang ke sini? Siapa yang berkata tempat ini adalah tempat paling nyaman?”


        Kedua orang itu meninggikan suara, mengabaikan Sa-ra yang duduk resah di antara mereka. Lalu Do-kyeong meminta masif, mereka kembali berpegangan tangan, dan membicarakan hal lain. Sa-ra terheran-heran melihat mereka yang membicarakan mantan kekasih, yang bertengkar walaupun ia ada di sana, yang langsung berbaikan hanya dengan sepatah kata maaf. Sungguh pasangan yang aneh, pikirnya. Aneh, tapi serasi.

__ADS_1


__ADS_2