THE TRUTH MANSION

THE TRUTH MANSION
Chapter 17


__ADS_3

        Setelah para penghuni Mansion mengadakan rapat panjang, mereka akhirnya memutuskan menerima Jin-kyeong dan Dokyeong. Kakak-adik itu bukan L2 yang kehilangan kewarganegaraan, bukan penduduk asli dan anak-anak mereka yang tidak bisa mendapatkan status L2. Kakak-adik itu adalah orang luar pertama yang muncul di Mansion sejak pria tua pengawas gedung tiba di sini sepuluh tahun lalu.


        Pria tua pengawas gedung menatap Jin-kyeong dan Do-kyeong dengan sorot menghibur, seolah-olah sedang berhadapan dengan dua orang yang ditolak. “Aku tidak bisa mengucapkan selamat datang kepada kalian.” Ia menyerahkan kunci kepada Jin-kyeong. “Jalani saja hidup apa adanya.”


        Setelah membersihkan apartemen itu sebisanya, Jin-kyeong pergi ke agensi pekerjaan seperti yang disarankan si pria tua. Katanya, itulah hal pertama yang harus dilakukan apabila mereka ingin tetap tinggal di Town. Bagaimanapun, seseorang membutuhkan uang untuk hidup dan membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan uang. Namun, para Saha tidak bisa mendapatkan pekerjaan hanya dengan cara menyerahkan CV dan menghadin wawancara pekerjaan seperti orang-orang lain.


        Agensi itu berada di gedung perkantoran yang tidak jauh dar Mansion. Banyak pekerja kantoran berpakaian rapi keluar masuk melewati pintu putar berukuran besar di depan gedung Menuruti kata-kata pria tua pengawas Mansion, Jin-kyeong berjalan ke bagian belakang gedung. Di samping rampa pelataran parkir terdapat sebuah pintu kecil tanpa tanda apa pun yang mengarah ke koridor sempit dengan langit-langit rendah, yang berakhir di sebuah pintu besi kecil lain. Jin-kyeong membuka pintu kedua yang juga tidak bertanda itu dan langsung berhadapan dengan sebuah sofa lusuh untuk dua orang. Di samping sofa juga terdapat meja besar dan kursi kayu yang terlihat tua tetapi kokoh.


        Si agen duduk di balik meja dan terlihat sedang menggunting kuku. Ada sehelai tisu di meja, tetapi potongan-potongan kuku tetap beterbangan ke segala penjuru. Agen itu adalah seorang wanita tua yang mengenakan sweter polos dan celana panjang hangat. Bibirnya dicat merah gelap dan rambutnya yang pendek dan putih dikeriting. Ia terlihat seperti seorang nenek biasa, tetapi juga terlihat seperti wanita gila. Dan bekas luka di bawah matanya sangat mencolok. Bekas luka sepanjang dua sentimeter itu terkesan seperti bekas luka akibat tikaman pisau. Sepertinya luka itu tidak diobati dengan sepantasnya ketika wanita itu pertama kali terluka, karena luka itu sembuh dengan jelek. Ada bagian-bagian yang melesak masuk, ada juga bagian-bagian yang menonjol. Kulit di sekitar bekas luka itu juga berwarna gelap.

__ADS_1


        Usianya pasti sudah delapan puluh tahun. Ia bergerak dengan pelan, berbicara dengan suara ditarik-tarik, dan tubuhnya gemetar. Ia memegang pulpen mewah dengan tangannya yang gemetar dan mengisi formulir sendiri.


        “Gedung mana dan unit nomor berapa?”


        “Gedung A, unit 701.”


        “Usiaku tiga puluh tahun. Usia adikku dua puluh lima tahun.”


        “Pengalaman kerja sebelumnya?”

__ADS_1


        “Aku pernah bekerja sebagai pelayan restoran dan semacamnya, sedangkan adikku masih bersekolah.”


        Agen itu mengamati Jin-kyeong dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengangguk pelan dan berkata bahwa ia akan menghubungi kantor pengawas Mansion apabila ada pekerjaan untuk Jin-kyeong.


        Jin-kyeong pulang ke Mansion menyusuri jalan yang diapit pohon-pohon magnolia yang berbunga lebat. Bunga-bunga berwarna gading di dahan-dahan kering terlihat selembut tisu mahal. Matahari mulai tenggelam, membuat kelopak-kelopak bunga itu berwarna kemerahan. Bendera-bendera, yang ditempatkan di antara pepohonan dengan jarak tertentu, berayunayun malas. Bendera itu memiliki lambang yang tidak pernah Jin-kyeong lihat sebelumnya. Lambang bintang bersudut tujuh. Ia tadi melihat lambang yang sama dibingkai dan digantung di depan gedung perkantoran tempat agensi pekerjaan berada.


        Jin-kyeong mampir ke kantor pengawas gedung untuk bertanya tentang bendera itu.


        Si pria tua mengerucutkan bibir, menelengkan kepala, dan balas bertanya, “Bendera negara? Aku belum pernah melihatnya. Yah, negara gila ini mungkin punya bendera nasional. Jangan, jangan, maksudmu heptagram? Kalau memang itu maksudmu itu adalah lambang Dewan Menteri."

__ADS_1


__ADS_2